Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13: Diantara Tekad dan Rintangan
Suara dering ponsel itu masih menggema, tajam dan menyayat hati, memecah keheningan yang menyakitkan di teras rumah sederhana itu. Arkan sama sekali tidak bergerak. Ia bahkan tidak berusaha meraih benda pipih yang terus bergetar di dalam saku jasnya. Baginya, suara dering itu bukan lagi panggilan cinta dari masa lalu, melainkan alarm keras yang mengingatkannya pada kesalahan terbesar dalam hidupnya—kesalahan karena terlalu lama membiarkan bayang-bayang Kirana menguasai pikirannya, hingga ia hampir kehilangan satu-satunya cahaya yang benar-benar menerangi hidupnya.
Di hadapannya, pintu kayu tempat Nara menghilang tadi masih tertutup rapat, seolah menjadi tembok tinggi yang tak bisa ditembus oleh kata-kata penyesalan apa pun. Pak Haris berdiri tegak di ambang pintu itu, wajahnya tegas dan dingin, menatap Arkan yang kini terlihat begitu hancur dan tak berdaya. Di mata ayah Nara itu, Arkan bukan lagi sosok menantu yang dibanggakan karena kekayaan dan statusnya, melainkan seorang pria yang telah gagal menjaga hati putrinya, seorang pria yang datang terlambat hanya saat semuanya sudah hancur berantakan.
"Pulanglah, Mas Arkan," ucap Pak Haris pelan namun tegas, memecah kebisuan. Ia menunjuk samar ke arah saku jas Arkan tempat ponsel itu masih berbunyi. "Orang itu terus memanggilmu. Dia butuh kamu. Dan sepertinya... di sana, di rumah besarmu itulah tempatmu berada, bukan di sini. Di sini tidak ada lagi apa pun yang bisa kamu cari atau dapatkan."
Arkan menggeleng lemah, perlahan ia bangkit dari posisinya yang terduduk di kursi kayu tua itu. Kakinya masih terasa lemas, dadanya sesak, tapi sorot matanya kini berubah. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi kebingungan yang sempat menghantuinya selama ini. Yang ada hanyalah satu tekad yang bulat dan kuat—tekad untuk menebus segala kesalahannya, tekad untuk membuktikan bahwa cintanya pada Nara bukan sekadar penyesalan sesaat, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan abadi.
"Ayah..." panggil Arkan, menggunakan panggilan itu untuk pertama kalinya dengan tulus, bukan sekadar formalitas. Ia menatap lurus ke mata Pak Haris, berusaha menembus tembok pertahanan pria tua itu. "Saya mengerti kenapa Ayah marah. Saya mengerti kenapa Ayah kecewa dan benci pada saya. Saya pantas mendapatkan semua ini. Saya bodoh, saya buta, saya terlalu kaku dan keras kepala dalam memahami perasaan, sampai saya menyakiti Nara berkali-kali tanpa sadar. Tapi percayalah... baru hari ini, detik ini juga, saya benar-benar sadar siapa yang saya cintai. Baru sekarang saya paham bahwa kehadiran Kirana hanyalah kenangan, sementara keberadaan Nara adalah kenyataan hidup saya. Wanita yang ada di balik pintu itu... dialah istri saya. Dialah wanita yang telah mengisi rumah saya dengan ketenangan, yang telah menerima kekurangan saya, yang telah bertahan sabar meski diperlakukan tidak adil. Dan saya... saya tidak akan menyerah. Saya tidak akan pulang tanpa membawa dia kembali, atau setidaknya... saya tidak akan pergi dari sini sampai dia mau mendengarkan penjelasan saya."
Ponsel di saku Arkan akhirnya berhenti berdering, digantikan oleh keheningan kembali. Namun tak lama kemudian, dering itu terdengar lagi, lebih panjang dan lebih keras kali ini. Arkan sama sekali tidak peduli. Ia bahkan tidak menyentuhnya.
Pak Haris menghela napas panjang, menatap Arkan dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa kasihan, rasa marah, dan sedikit rasa terenyuh melihat keteguhan hati pemuda itu.
"Kata-kata itu indah, Mas Arkan. Sangat indah. Tapi sayangnya, kata-kata tidak bisa menyembuhkan luka hati anak saya. Luka itu sudah terlalu dalam. Dan ketahuilah... Nara itu anak yang keras kepala, sama keras kepalanya seperti dia sabar. Kalau dia sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya. Termasuk kamu." Pak Haris berbalik badan, hendak masuk ke dalam rumah. "Saya tidak akan mengusirmu dengan kasar. Kamu boleh duduk di situ seharian, semalaman, atau berhari-hari kalau mau. Tapi saya pastikan... Nara tidak akan keluar, dan tidak akan mau menemuimu. Sampai kapan pun."
Pintu rumah kemudian ditutup, meninggalkan Arkan seorang diri di teras sempit itu, ditemani sinar matahari pagi yang mulai terasa menyengat kulit. Arkan tidak beranjak. Ia duduk kembali di kursi kayu itu, menatap pintu tertutup itu dengan tatapan yang tidak pernah beralih. Ia sudah membuat keputusannya. Ia akan menunggu. Selama apa pun. Sampai Nara mau mendengarnya.
Sementara itu, jauh di rumah besar keluarga Arkan, suasana terasa jauh lebih dingin dan penuh ancaman. Kirana mondar-mandir di ruang tamu yang luas itu, wajahnya merah padam menahan amarah yang meluap-luap. Di tangannya, ponselnya sudah hampir diremasnya hancur. Sudah belasan kali ia menelepon Arkan, namun tidak pernah ada jawaban. Hanya nada sambung berulang kali, hingga akhirnya panggilan itu dialihkan ke pesan suara.
"Brengsek!" umpat Kirana keras, suaranya menggema di ruangan kosong itu. "Demi wanita itu... dia berani mengabaikanku? Demi gadis desa yang tidak punya apa-apa itu, dia berani membuang aku yang sudah menunggunya bertahun-tahun?"
Kirana berhenti melangkah, matanya menatap tajam ke luar jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Di matanya kini bersinar kilat kebencian yang pekat. Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Ia sudah berjuang begitu keras, merencanakan kepulangannya dengan matang, berusaha kembali merebut tempatnya di hati Arkan dan di keluarga besar itu. Ia tidak akan membiarkan semuanya hancur hanya karena keberadaan Nara.
Langkah Kirana terhenti saat Bu Inah melintas di lorong, hendak membersihkan sudut ruangan. Wanita tua itu berjalan menunduk, wajahnya terlihat sedih dan cemas, jelas sekali ia tahu betul apa yang sedang terjadi di antara majikannya dan Nara.
"Hei, Ibu tua!" panggil Kirana ketus, nada bicaranya yang manis dan lembut tadi pagi sudah hilang sama sekali, berganti menjadi nada penuh perintah dan penghinaan.
Bu Inah berhenti, menoleh dengan hati-hati. "Ada apa, Nona Kirana?"
"Di mana Arkan pergi? Kamu pasti tahu, kan? Kamu pasti yang kasih tahu dia ke mana Nara lari, bukan?" tuduh Kirana berjalan mendekat, menatap tajam ke wajah Bu Inah. "Kamu selalu memihak wanita itu, kan? Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu dan Nara... sama saja. Sama-sama mau merebut apa yang menjadi milikku."
Bu Inah menunduk lebih dalam, berusaha tetap tenang meski merasa terancam. "Saya hanya melakukan tugas saya, Nona. Dan Nyonya Nara... dia istri sah Tuan Arkan. Keberadaannya di sini adalah haknya."
Plak!
Tangan Kirana bergerak cepat, menampar pipi keriput Bu Inah dengan keras. Suara tamparan itu terdengar nyaring dan mengerikan. Bu Inah terhuyung mundur, memegang pipinya yang langsung memerah, matanya berkaca-kaca menahan sakit dan kaget.
"Jangan ajari aku soal hak, Ibu tua!" bentak Kirana marah, napasnya memburu. "Dengar baik-baik. Arkan itu milikku. Selama lima tahun aku bertahan, menunggu, dan menjaga kepercayaan. Tidak ada wanita lain yang berhak di sisinya, apalagi wanita rendahan seperti Nara. Sekarang dengar perintahku... kalau kamu masih mau bekerja di sini, masih mau makan dari keluargaku... kamu harus bantu aku. Kamu harus pastikan Nara tidak pernah bisa kembali ke rumah ini. Kamu harus bantu aku pisahkan mereka berdua selamanya. Kalau tidak... aku pastikan kamu akan diusir dengan cara yang paling memalukan, dan kamu tidak akan dapat sepeser pun uang pesangon. Paham?!"
Bu Inah mengusap pipinya yang terasa perih. Ia menatap Kirana dengan pandangan sedih namun tidak lagi takut. Wanita itu sudah menampakkan aslinya—bukan wanita lembut yang dicintai Arkan dulu, melainkan wanita yang angkuh, egois, dan kejam demi ambisinya sendiri.
"Baiklah, Nona," jawab Bu Inah pelan, menyembunyikan kemarahannya. "Saya mengerti."
Kirana tersenyum puas, kembali merapikan pakaiannya seolah tidak baru saja melakukan kekejaman. "Bagus. Sekarang pergi. Dan ingat... satu kata pun bocor ke Arkan, kamu tahu akibatnya."
Bu Inah berjalan pergi dengan langkah gontai. Di dalam hatinya, ia semakin yakin bahwa Nara adalah wanita yang tepat untuk Arkan, dan Kirana-lah yang sebenarnya tidak pantas ada di sana. Namun untuk saat ini, ia harus bersabar. Ia harus mencari waktu yang tepat untuk memberi tahu Arkan tentang sifat asli wanita yang dulu ia puja itu.
Sementara itu, di pinggiran kota, matahari sudah bergeser ke tengah langit. Panasnya semakin terik, membakar kulit dan membuat tenggorokan terasa kering. Namun Arkan masih duduk di tempatnya, di kursi kayu tua itu. Ia tidak makan, tidak minum, tidak bergerak. Tubuhnya terasa lelah, tapi tekadnya jauh lebih kuat dari rasa lelah itu.
Sesekali pintu jendela di atas rumah terbuka sedikit, sepasang mata mengintip dari balik tirai jendela yang lusuh. Itu Nara. Gadis itu diam-diam mengawasi Arkan dari jauh. Ia melihat betapa keringat membasahi seluruh tubuh Arkan, betapa wajah pria itu terlihat lelah namun matanya tak pernah beralih dari pintu kamarnya. Hati Nara terasa perih, sangat perih. Ia ingin sekali berlari keluar, ingin sekali memeluk pria itu, ingin sekali menangis di dada Arkan dan membiarkan segalanya berlalu. Tapi rasa sakit yang ditimbulkan selama ini masih terlalu nyata. Bayangan wajah Kirana, keakraban mereka, kata-kata Arkan yang dulu menyuruhnya bersabar dan mengerti... semua itu masih terukir jelas di ingatannya.
Kalau dia benar-benar mencintaiku... kenapa baru sekarang? batin Nara bertanya pada dirinya sendiri, air matanya kembali menetes. Kenapa harus setelah aku pergi? Kenapa harus setelah hatiku hancur lebur?
Di bawah sana, Arkan perlahan menyadari keberadaan Nara di jendela itu. Ia mendongak, menatap lurus ke arah celah tirai itu. Meski hanya samar, ia tahu Nara ada di sana. Ia tahu Nara melihatnya.
Arkan berdiri perlahan, meski kakinya sempat terhuyung karena terlalu lama duduk dan kurang cairan. Ia menatap ke arah jendela itu, lalu berbicara dengan suara yang cukup lantang agar bisa terdengar ke atas sana.
"Nara... aku tahu kamu melihatku," ucap Arkan, suaranya serak namun penuh perasaan. "Aku tahu kamu sedih, aku tahu kamu marah, aku tahu kamu kecewa dan sakit hati. Dan aku berhak menerima semua itu. Biarkan aku menebusnya, Nara. Biarkan aku membuktikan bahwa rasa sayangku ini bukan sekadar penyesalan sesaat. Aku akan menunggu di sini. Sampai kapan pun. Sampai kamu percaya lagi padaku."
Celah tirai itu perlahan tertutup kembali. Nara menjauh dari jendela, bersandar di dinding kamar sambil menangis dalam diam. Ia bingung. Ia sangat bingung. Di satu sisi, kehadiran Arkan di sana membuat hatinya terasa sedikit lega dan bahagia—karena itu artinya Arkan memang mencarinya, Arkan memang menginginkannya. Tapi di sisi lain, rasa takut menghantuinya. Takut kalau ini hanya sementara. Takut kalau nanti Kirana datang memanggil, Arkan akan kembali lari seperti dulu.
Waktu terus berlalu. Siang berganti sore, sore berganti senja, dan senja perlahan berubah menjadi malam. Lampu-lampu jalan di sekitar rumah itu mulai menyala remang-remang. Angin malam yang dingin kembali berhembus kencang, membawa serta kabut tipis.
Pak Haris keluar membawa sebotol air minum dan sepotong roti. Ia meletakkannya di meja kecil di samping Arkan tanpa banyak bicara.
"Malam semakin dingin," ucap Pak Haris singkat, matanya melirik Arkan yang kini tampak kacau dan lelah sekali. "Kamu tidak akan bisa apa-apa kalau kamu sakit. Minumlah, makanlah sedikit. Kalau kamu jatuh sakit di sini, Nara akan makin sedih dan merasa bersalah."
Arkan menatap Pak Haris, sedikit tersenyum tipis—senyum pertama yang keluar dari bibirnya sejak pagi tadi. "Terima kasih, Ayah."
Pak Haris hendak masuk kembali, tapi langkahnya terhenti saat suara kendaraan mewah terdengar mendekat, memecah keheningan malam di daerah yang sepi itu. Suara mesin yang berat dan lampu sorot yang terang benderang mendekat, hingga akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah kecil itu.
Jantung Arkan berdegup kencang. Ia kenal betul mobil itu. Itu mobil Kirana.
Pintu mobil terbuka, dan Kirana turun dengan wajah yang tidak kalah lelahnya, namun dipenuhi amarah yang meledak-ledak. Ia berjalan cepat menuju pagar, lalu masuk tanpa menunggu dipersilakan, menatap tajam ke arah Arkan yang duduk di teras. Di belakangnya, ada dua orang pria berbadan besar yang ikut turun, seolah pengawal atau orang suruhan yang disewanya.
"Jadi di sini kamu ternyata?!" seru Kirana keras, suaranya melengking penuh kemarahan. Ia berhenti tepat di hadapan Arkan, menunjuk dada pemuda itu dengan jari gemetar. "Kamu lari ke sini, mengejar wanita ini, membiarkan aku sendirian di rumah besar itu, membiarkan aku khawatir setengah mati... hanya demi dia? Demi wanita yang sudah kamu usir sendiri kemarin?!"
Arkan berdiri tegak, menatap Kirana dengan tatapan dingin dan penuh kekecewaan. Ia sama sekali tidak terkejut. Ia tahu Kirana pasti akan mencari, pasti akan datang, dan pasti akan membuat keributan.
"Aku tidak mengusir Nara, Kirana. Kamu yang mengusirnya dengan sikap dan perlakuanmu. Aku yang membiarkan hal itu terjadi karena kebodohanku. Dan sekarang aku sedang memperbaikinya," jawab Arkan tenang namun tegas. "Pulanglah, Kirana. Ini bukan tempatmu. Dan berhenti membuat keributan di sini. Ini rumah orang tua istriku."
Kata istriku itu meluncur begitu saja dari mulut Arkan, jelas dan tegas, menusuk tepat ke jantung Kirana. Wajah wanita itu berubah pucat lalu menjadi merah padam lagi karena marah. Ia menoleh ke arah Pak Haris yang berdiri kaku di ambang pintu, lalu berteriak sekeras-kerasnya.
"Paman! Dengar ya! Arkan itu milikku! Kami sudah saling mencintai bertahun-tahun sebelum wanita ini ada! Pernikahan mereka itu cuma akal-akalan bisnis! Cuma kontrak! Dan kontrak itu sudah selesai! Arkan sudah membatalkannya kemarin saat aku datang! Tidak ada lagi hubungan di antara mereka berdua! Kalian jangan harap bisa mengikat Arkan di sini!"
Kirana kembali menatap Arkan, matanya berkilat jahat.
"Kalau kamu tidak mau pulang dengan baik... kalau kamu masih keras kepala mau di sini demi dia... jangan salahkan aku kalau aku bawa masalah ini ke depan umum. Aku akan beritahu semua orang, semua kerabat besar keluarga kita, semua rekan bisnis Ayahmu... bahwa kamu meninggalkan masa depanmu, meninggalkan cinta sejatimu, demi wanita pengganggu dan tidak tahu diri ini. Aku akan hancurkan nama baiknya, Arkan. Aku akan pastikan dia tidak punya tempat lagi di kota ini. Aku akan pastikan dia dan keluargamu diusir dan dihina di mana pun mereka pergi!"
Ancaman itu terucap begitu mudahnya dari mulut Kirana, dingin dan penuh kebencian. Arkan tertegun. Ia tidak menyangka Kirana akan sejauh ini. Ia tidak menyangka wanita yang dulu ia kenal begitu lembut ternyata bisa berubah menjadi begitu kejam dan mematikan demi egonya sendiri.
Namun, sebelum Arkan sempat menjawab atau menangkis ancaman itu, pintu kayu di belakang Pak Haris terbuka perlahan.
Nara muncul.
Gadis itu berdiri di ambang pintu, di samping ayahnya, wajahnya pucat namun matanya kini terbuka lebar dan menatap lurus ke arah Kirana. Di belakangnya, Ibu Nara tampak ketakutan, tapi Nara menggenggam tangan ibunya erat, memberi kekuatan.
Nara melangkah maju, berdiri di samping Arkan, tepat di sebelah pria itu. Untuk pertama kalinya sejak kejadian kemarin, ia berani berdiri di samping Arkan, berani menatap Kirana, dan berani berbicara dengan suara yang jelas dan tegas.
"Cukup, Mbak Kirana," ucap Nara pelan namun terdengar oleh semua orang. "Tidak perlu mengancam siapa-siapa. Tidak perlu menghancurkan nama baik siapa-siapa. Saya sudah bilang, kan? Saya sudah pergi. Saya sudah mengundurkan diri."
Nara menoleh menatap Arkan, matanya berkaca-kaca, penuh rasa sakit namun juga penuh ketegaran.
"Mas Arkan... Mas sudah membuktikan semuanya. Mas sudah membuktikan kalau Mas peduli, kalau Mas menyesal, kalau Mas mencintai saya. Saya sudah dengar, saya sudah lihat. Dan itu sudah cukup bagi saya. Saya tidak butuh lebih dari itu."
Nara kembali menatap Kirana, lalu berbicara lagi, suaranya sedikit bergetar namun tegas.
"Mas Arkan boleh pulang sama Mbak Kirana. Mulai hari ini, besok, dan seterusnya... saya tidak akan pernah lagi mengganggu kebahagiaan kalian berdua. Saya akan pergi jauh. Saya akan pastikan kalian tidak akan pernah melihat wajah saya lagi. Tapi tolong... berjanjilah, jangan pernah menyakiti orang tua saya, jangan pernah menjelekkan nama baik keluarga saya. Kami hanya orang kecil, kami hanya ingin hidup tenang."
"Nara, tidak!!" Arkan langsung memegang bahu Nara, memutar tubuh gadis itu agar menatapnya. Matanya membelalak kaget dan panik. "Kamu bicara apa?! Aku tidak mau pulang sama dia! Aku tidak mau kamu pergi jauh! Aku baru saja menemukanmu, Nara! Aku baru saja sadar! Jangan lakukan ini lagi... jangan korbankan dirimu lagi demi kebahagiaan orang lain, apalagi demi kebahagiaanku yang palsu ini!"
Nara tersenyum sedih, air matanya akhirnya jatuh juga. Ia menyeka air matanya, lalu menatap Arkan dengan pandangan yang penuh perpisahan.
"Mas... kalau Mas benar-benar mencintai saya... kalau Mas benar-benar ingin saya bahagia... maka biarkan saya pergi. Kehadiran Mas di sini, pertengkaran ini, ancaman Mbak Kirana... semuanya ini hanya akan membawa masalah dan bahaya bagi saya dan orang tua saya. Saya tidak kuat, Mas. Saya bukan wanita yang kuat seperti Mbak Kirana. Saya cuma wanita biasa yang hanya ingin hidup damai. Biarkan saya pergi... itu satu-satunya cara supaya saya merasa aman dan tenang."
Nara melepaskan genggaman tangan Arkan perlahan namun pasti. Ia mundur selangkah, lalu berbalik menghadap orang tuanya.
"Ayah, Ibu... maafkan Nara. Tapi besok pagi, Nara akan pergi. Nara akan pergi ke tempat di mana tidak ada siapa-siapa yang kenal Nara. Di mana tidak ada Mas Arkan, tidak ada Mbak Kirana, tidak ada rumah besar, tidak ada kemewahan... dan tidak ada rasa sakit lagi."
"NARA!!" Arkan ingin memeluknya, ingin menahannya, tapi dua orang pengawal Kirana langsung melangkah maju dan menahan tubuh Arkan dengan kuat, mencegahnya mendekat.
Kirana tersenyum puas, kemenangan mutlak terlukis jelas di wajahnya. Ia mendekat, berdiri di samping Arkan yang berjuang melepaskan diri namun tertahan.
"Kamu dengar itu sendiri, kan, Arkan? Dia yang meminta pergi. Dia yang menyerah. Bukan aku yang mengusirnya. Sekarang... ayo pulang. Atau kamu mau dilihat orang-orang sekitar berkelahi dan mempermalukan dirimu sendiri di sini?"
Arkan menatap Nara yang perlahan masuk kembali ke dalam rumah, menutup pintu itu untuk terakhir kalinya malam itu. Arkan berteriak memanggil nama Nara, berjuang sekuat tenaga melepaskan diri, tapi kekuatannya kalah oleh orang-orang yang disewa Kirana. Ia hanya bisa melihat pintu itu tertutup, melihat bayangan Nara yang hilang di balik kaca jendela, dan merasakan bagaimana kebahagiaannya yang baru saja ia temukan... kembali direnggut paksa dari tangannya, kali ini bahkan lebih jauh dan lebih mustahil untuk dijangkau.
Di dalam rumah, Nara bersandar di balik pintu, lututnya lemas hingga ia jatuh berlutut di lantai dingin, menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya, sementara Pak Haris menatap pintu dengan amarah dan kesedihan yang mendalam.
Di luar sana, Arkan akhirnya berhenti berjuang. Ia terkulai lemas di antara cengkeraman pengawal itu, menatap pintu tertutup itu dengan mata kosong, hatinya hancur berkeping-keping lebih parah dari sebelumnya. Ia sadar sekarang... perjuangannya baru saja dimulai, tapi rintangannya ternyata jauh lebih besar dan berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan. Kirana tidak hanya memegang masa lalunya, tapi kini Kirana juga memegang kendali atas masa depan Nara, dan itu membuat wanita itu menjadi musuh yang paling mengerikan sekaligus paling berbahaya.
Malam itu berakhir dengan kepahitan yang luar biasa. Arkan dibawa paksa pulang oleh Kirana, kembali ke rumah besar yang kini terasa seperti penjara neraka baginya, sementara Nara bersiap untuk pergi menjauh, membawa patah hati yang mendalam, dan Kirana duduk di kursi penumpang dengan senyum kemenangan yang menakutkan.
Bersambung...