Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24 Terjadi
Max menatap lekat sepasang mata Aurora. ia menyentuh lembut wajah Rora dengan jemarinya mengagumi setiap lekuk wajah itu. Aurora gadis yang sudah berhasil membuat Max hampir gila. memendam perasaan cinta selama bertahun-tahun kini Aurora ada di hadapan Max hampir tidak berjarak, rasanya seperti mimpi bagi Maxime.
Aurora tersenyum manis sekali, semanis anggur impor dari Itali yang biasa Max reguk. bibir ranum yang sungguh menggoda menggelitik naluri Max sebagai lelaki dewasa untuk mencicipinya. Max menarik napas perlahan yang terasa tercekat.
"Apa kau yakin Rora?" bisik Max menempelkan ujung bibirnya di telinga Rora.
Wajah Rora seketika memerah ia juga terlihat gugup dan malu. bahkan jantung Rora sekarang berdebar hebat ia seperti sedang berada di puncak roller coaster yang siap membawanya melaju kencang turun ke bawah dan menikung tajam.
"Aku tidak menyesal" ucap Rora setengah berbisik.
Max tersenyum memamerkan ketampanannya. Max menurunkan wajahnya dalam hitungan detik bibirnya menyambar bibir Rora yang ranum, hangat dan kenyal. Dulu Max hanya bisa memandang bibir itu saat bicara dengannya kini ia telah memilikinya. Max melepaskan perlahan ciumannya, Ia mengulangi lagi mencium bibir Rora dengan lebih lembut.
Max menatap mata Rora seolah meminta izin apakah akan di lanjutkan permainan malam itu atau akan terhenti di ciuman saja. Aurora mengangguk perlahan sembari memejamkan matanya.
Max membenamkan wajahnya di leher Aurora. menyesap kulit leher yang putih mulus nan lembut itu meninggalkan sedikit bekas kemerahan. sebelah tangan Max meraba piama bagian atas menyingkapnya perlahan dan hati-hati ia masih ragu apakah Rora akan mengizinkan atau tidak. Max memandang Rora meminta persetujuan, Rora mengangguk samar sembari mencengkram lengan Max.
Pemandangan indah terpampang di depan mata Max. sesuatu yang tidak terpikirkan untuk ia lihat kini justru nampak menantang di depan matanya. bulat kencang, ranum dan berwarna merah muda di bagian intinya. Jantung Max seolah mau meledak ketika perlahan ia menyentuh salah satu aset berharga milik Rora. jemarinya dengan hati-hati meraba lembut seolah takut akan menyakiti Rora. ujung jemarinya menyentuh bagian merah muda itu, memutar perlahan dan mempermainkannya. Rora menggerakkan tubuhnya karena menerima sensasi aneh. Max mendekatkan bibirnya perlahan mengecup ujung dada Rora lalu menyesapnya seperti bayi. suara erangan dari bibir Rora tidak dapat di kendalikan lagi. Rora sampai menutup bibirnya sendiri karena merasa malu pada Max.
"Max..." Rora mencengkram rambut tebal Max lalu meremasnya.
Setelah puas bermain di area dada Max menjelajah turun ke pinggang ramping Rora. ia juga meninggalkan bekas disana.
"Apa kau siap?" tanya Max meyakinkan sekali lagi sembari menggenggam lembut tangan Rora. ia tahu Rora belum mencintainya dan mungkin setelah ini Rora bisa menyesali perbuatan mereka. Max tidak mau itu terjadi.
Setelah pemanasan yang menggebu-gebu tubuh Rora tidak tahan juga. ia ingin menolak tapi tubuhnya bereaksi lain. Rora mengangguk perlahan. Max tersenyum samar lalu kembali mencium bibir Rora kali ini lebih lepas.
Max melepas pakaiannya dan piama seksi yang di kenakan Rora. ia membuka kedua kaki Rora bermain-main di antara paha mulus nan menggoda itu. Desahan demi desahan lolos dari bibir Rora tanpa bisa ia cegah. Ini saatnya, Max menatap wajah Rora sekali lagi, hasratnya sudah di ubun-ubun dan sulit untuk mundur. Max mulai menyentuh area intim Rora yang sudah siap untuk di sentuh.
Perlahan Max memasukkan miliknya. jeritan kecil terdengar dari bibir Rora. Max sedikit memaksa tapi tetap mencoba dengan gerakan lembut. ia menekan dan sekali lagi Rora menutup bibir nya rapat-rapat. rasa sakit luar biasa menjalari tubuh Rora sampai air mata keluar dari sudut matanya. wajah Rora memerah menahan sakit. Max yang melihat itu tidak tega rasanya. ini pertama kali untuk Rora dan Max. tapi sebagai pria Max tentu lebih paham meski ia belum pernah berpengalaman melakukan dengan wanita manapun selain Rora, istrinya.
"Max" kata Rora dengan mata berkaca-kaca.
Max kembali melakukan pemanasan sebelum ia mendesak kembali masuk.
"Tenang sayang" Max tersenyum. ia juga hampir frustasi melihat Rora kesakitan.
Max menghentakkan pinggulnya sedikit keras dan yang terjadi adalah Rora refleks menendang perut datar Max karena rasa sakit yang teramat sangat. untung Max tidak terjatuh dari ranjang. keduanya sama-sama terkejut dan saling memandang. Max menghentikan gerakannya ia menatap Rora yang gugup dan kesakitan.
"Maafkan aku Max aku tidak bermaksud menolak..."
"Tidak apa-apa sayang coba lain kali lagi ya, sekarang tenanglah" Max tersenyum masam sungguh tanggung sekali hampir saja goal tapi gagal. Max jadi tertawa geli ia meraih Rora kedalam pelukannya mendekapnya perlahan dengan cinta dan rasa sayang yang mendalam.