Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Pagi ini, ruang rapat utama Mahesa Group kembali dipenuhi oleh orang-orang yang sama. Suasana disana terasa berbeda dari biasanya, lebih dingin, lebih tegang, dan penuh ketidakseimbangan yang nyata.
Aruna dengan tenang di kursi utamanya, mengenakan blazer berwarna krem lembut yang pas di tubuhnya, membalut sosoknya dengan kesan elegan dan tegas. Di samping kanannya, Zeffrano duduk bersandar santai namun aura kekuasaannya memenuhi seluruh ruangan, sorot matanya tajam dan dingin, seolah sedang menatap mangsa yang sudah terperangkap rapat.
Di seberang mereka, duduk Tuan Hendrawan dan Rafael. Keduanya tampak bersemangat, wajah mereka bersinar penuh ambisi dan rasa percaya diri yang meluap-luap. Di atas meja, tepat di depan mereka, terhampar tumpukan berkas tebal yang sudah disiapkan rapi.
"Selamat pagi, Nona Aruna, Tuan Zeffrano," sapa Tuan Hendrawan dengan suara lantang dan ramah yang dibuat-buat, sambil tersenyum lebar. "Seperti yang kami janjikan kemarin... kami membawa semuanya. Semua rincian, semua data, semua perhitungan keuntungan. Kami sudah menyusunnya sejelas mungkin supaya kalian berdua bisa melihat betapa besarnya kemajuan dan hasil yang sudah kita capai bersama."
Rafael mengangguk cepat, matanya berbinar saat menatap Aruna. Baginya, momen ini adalah puncak dari semua rencana liciknya. Dia yakin, dalam waktu singkat lagi, persetujuan akan diberikan, tanda tangan akan dibubuhkan, dan kekayaan besar akan berpindah ke tangan mereka.
"Benar sekali, Aruna," sambung Rafael lembut, nadanya dibuat sehalus sutra. "Semua sudah kami urus dengan sangat teliti dan aman. Mulai dari pemasok bahan baku, proses pengiriman, hingga perhitungan laba rugi... semuanya transparan dan menguntungkan. Disini juga sudah ada draf perjanjian lanjutan, begitu kamu setuju dan menandatanganinya, langkah besar kita selanjutnya bisa segera dimulai."
Aruna hanya diam sejenak, menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kalian yakin... semua yang tertulis disini benar?" tanya Aruna pelan namun tegas, suaranya bergema jelas di ruangan yang hening itu. "Kalian yakin tidak ada satu pun angka yang dimanipulasi, tidak ada satu pun data yang diubah, dan tidak ada satu pun hal yang disembunyikan dariku?"
Tuan Hendrawan tertawa kecil, tawa yang terdengar sombong dan penuh kepastian.
"Tentu saja, Nona Aruna. Kami berani bertanggungjawab penuh atas setiap kata dan angka yang ada di kertas ini. Kami bekerja dengan kejujuran dan dedikasi tinggi demi kemajuan perusahaan ini, dan demi keuntungan kita semua."
Rafael pun ikut tersenyum lebar, menimpali dengan lancar tanpa keraguan sedikit pun.
"Aku bersumpah, Aruna. Semuanya asli, semuanya benar. Kamu bisa periksa halaman demi halaman. Tidak ada yang kami sembunyikan. Kami ini mitra kerjamu, kami orang-orang yang paling bisa kamu percayai. Bukankah aku sudah membuktikannya selama ini? Lihatlah keuntungan yang tercatat disini... nilainya jauh melampaui ekspektasi awalmu, kan?"
Aruna mengangguk pelan, lalu perlahan menarik tangannya kembali dari atas berkas-berkas itu. Dia bersandar di kursinya, menyatukan kedua tangannya di atas meja, dan saat itulah, senyum di bibirnya berubah. Senyum ragu dan sopan itu lenyap seketika, berganti menjadi senyum dingin dan tajam.
"Memang benar..." ucap Aruna pelan, suaranya rendah namun jelas, "Keuntungannya sangat besar. Hanya saja... bukan keuntungan untuk perusahaan ataupun keuntungan untuk Mahesa Group,"
Dia menjeda sejenak, menatap wajah mereka yang mulai berubah bingung.
"Keuntungan besar itu... kalian nikmati sendiri, bukan?"
Wajah Rafael memucat seketika. Senyum di bibirnya membeku, digantikan oleh rasa was-was yang mulai menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Tuan Hendrawan pun mulai merasa ada yang tidak beres, namun dia berusaha tetap tenang dan mempertahankan topengnya.
"Apa... apa maksudmu, Nona Aruna? Kami tidak mengerti... Semuanya ada catatannya, semuanya sah..." cicit Tuan Hendrawan, berusaha bicara namun suaranya terdengar bergetar halus.
Aruna tidak menjawab langsung. Dia mengangkat tangan kanannya sedikit, memberi isyarat singkat ke arah samping ruangan. Pintu ruang rapat yang tertutup itu perlahan terbuka, dan masuklah beberapa orang - tim hukum Mahesa Group, tim audit internal, serta dua orang petugas berwenang yang berdiri tegap di dekat pintu. Di belakang mereka, Alvin berjalan masuk membawa tumpukan berkas lain yang jauh lebih tebal, lebih berantakan, dan jauh lebih menakutkan dari berkas yang ada di depan Rafael dan Tuan Hendrawan.
Alvin meletakkan tumpukan berkas itu di atas meja, tepat di tengah-tengah dokumen palsu yang mereka bawa.
"Kalian bilang semuanya ada catatannya, kan?" ucap Aruna kembali, kali ini suaranya meninggi sedikit, berwibawa dan menggelegar di ruangan itu. Dia menunjuk berkas-berkas baru itu dengan ujung jarinya. "Kalau begitu, coba baca dan jelaskan padaku... apa ini?"
"Disini tertulis jelas, nama pemasok asli yang sebenarnya kalian gunakan. Bahan baku sampah, kualitas terendah di pasaran yang kalian beli sepuluh kali lipat lebih murah dari harga pasar. Tapi di dokumen ini," Aruna menunjuk berkas buatan mereka, "Kalian tulis sebagai barang kualitas premium berstandar internasional dengan harga selangit. Selisih harga miliaran rupiah itu, masuk ke rekening siapa, Tuan Hendrawan? Masuk ke kantong siapa, Rafael?"
Napas Rafael tersendat hebat, tubuhnya terasa lemas seolah ditarik ke dasar bumi. Tangannya gemetar hebat saat jemarinya menyentuh ujung salah satu berkas itu, melihat foto salinan transaksi bank yang jelas tertulis nama penerimanya, yaitu nama Tuan Hendrawan. Semuanya ada disana, tertulis hitam di atas putih, tak bisa disangkal lagi.
"Ini... ini rekayasa... ini tidak benar!"
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍