Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19: Sangkar Emas dan Rahasia Phoenix
Keheningan di dalam Maybach hitam itu terasa lebih mencekam daripada riuh rendah pesta yang baru saja mereka tinggalkan. Aroma sampanye dan parfum mahal masih tertinggal, namun bagi Araya, udara di sekitarnya terasa beracun. Siska dan Suryo memang sudah tumbang, tapi kata-kata Arkanza tentang "membakar dokumen asli" terus berdenyut di kepalanya seperti alarm bahaya.
Arkanza duduk di sampingnya, melepaskan kancing kemeja teratasnya dengan kasar. Wajahnya yang terpahat sempurna tampak kaku di bawah siraman lampu jalan yang berlarian.
"Kau melampaui batas, Araya," suara Arkanza rendah, namun penuh penekanan yang bisa menggetarkan nyali siapa pun. "Menyerang menteri di depan publik adalah satu hal. Tapi membawa-bawa nama kakekku di hadapan media... itu adalah deklarasi perang terhadap seluruh klan Aditama."
Araya menoleh, menatap Arkanza dengan berani. "Bukankah itu tujuan kita? Menghancurkan siapa pun yang terlibat dalam darah orang tuaku? Atau kau mendadak jadi cucu yang berbakti karena takut warisanmu terancam?"
Mobil tiba-tiba mengerem mendadak, membuat tubuh Araya terdorong ke depan. Arkanza mencengkeram dagu Araya, memaksanya menatap mata elang yang kini berkilat penuh obsesi gelap.
"Dengarkan aku, Gadis Kecil," desis Arkanza. "Dunia yang kau masuki ini bukan sekadar permainan kode di layar monitormu. Kakekku, Bramantyo Aditama, bukan orang yang bisa kau hancurkan dengan satu klik enter. Dia adalah orang yang membangun sistem ini. Jika kau menyentuhnya sekarang, bahkan aku pun tidak akan bisa menjamin kau akan melihat matahari esok pagi."
Arkanza melepaskan cengkeramannya dan memberi perintah pada sopir melalui interkom. "Jangan ke Mansion Pusat. Bawa kami ke Vila Bukit."
Vila Tersembunyi
Alih-alih kembali ke kemewahan pusat kota, Araya dibawa ke sebuah bangunan modern minimalis yang tersembunyi di balik hutan pinus. Tempat itu dijaga oleh pasukan keamanan pribadi yang jauh lebih ketat. Ini bukan sekadar rumah; ini adalah benteng.
"Kau akan tinggal di sini sampai situasi tenang," ucap Arkanza sambil menarik Araya masuk ke kamar utama.
"Ini namanya pengasingan, Arkanza! Kau mengurungku!" protes Araya.
"Aku mengamankan asetku," Arkanza berbalik di ambang pintu, menatap Araya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tidurlah. Semua akses internet di sini dipantau secara manual oleh Leon. Jangan mencoba menjadi 'Z' malam ini, atau aku akan menyita ponsel tuamu itu selamanya."
Pintu tertutup dengan bunyi kunci elektronik yang berat. Araya terjerembap di atas kasur, merasa sesak. Namun, Arkanza meremehkan satu hal: Seorang hacker tidak butuh kabel untuk terhubung dengan dunia.
Araya melepaskan kalung liontin peraknya. Di dalamnya tersembunyi sebuah micro-chip yang ia kembangkan sendiri. Ia memasukkan chip itu ke dalam port pengisian daya lampu tidur pintar di samping kasurnya.
[Memasuki Jaringan Bayangan... Mem-bypass Protokol Aditama-7... Akses Diterima.]
Jari-jari Araya menari di atas layar ponselnya yang kini memiliki antarmuka hitam-merah. Ia masuk ke dalam arsip terdalam yang bahkan Arkanza sendiri mungkin tidak tahu keberadaannya. Matanya membelalak saat menemukan sebuah folder terenkripsi berjudul 'Project Phoenix 1998'.
Ia membukanya. Sebuah rekaman suara lama diputar dengan suara statis yang mengganggu.
..."Bram, Keluarga Lin mulai curiga. Mereka tahu aku menyembunyikan kunci akses teknologi itu. Jika terjadi sesuatu padaku, pastikan putriku aman. Jangan biarkan dia tahu kebenarannya sampai dia siap."...
Itu suara ayahnya. Radit Lin.
Dunia Araya seolah runtuh. Ayahnya tidak sedang bermusuhan dengan kakek Arkanza. Mereka... mereka adalah rekan kerja? Lalu siapa yang membunuh orang tuanya jika bukan Aditama?
Sebuah pesan muncul secara otomatis di layar ponselnya tepat setelah rekaman itu berakhir. Pesan dari pengirim anonim dengan kode sandi yang hanya diketahui oleh keluarga Lin yang asli.
"Z, kau mencari di tempat yang salah. Musuhmu bukan Arkanza. Musuhmu adalah orang yang mengirim Kuncoro ke Pelabuhan. Cari Ruang Rahasia di bawah Perpustakaan Aditama. Kuncinya adalah tanggal lahirmu."
Araya menggigit bibir bawahnya. Napasnya memburu. Ia menatap pintu kamarnya yang terkunci. Arkanza melindunginya karena rasa bersalah, atau karena ayahnya yang memintanya?
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Araya segera mencabut chip-nya dan berbaring, berpura-pura tidur saat pintu terbuka perlahan. Arkanza masuk, berdiri di tepi tempat tidur cukup lama, hanya memperhatikan Araya dalam kegelapan.
"Kau adalah teka-teki yang paling ingin aku pecahkan, Araya," bisik Arkanza lirih, suaranya terdengar sangat rapuh, sangat berbeda dari CEO kejam yang biasanya. "Tapi aku takut... jika teka-teki ini terpecahkan, kau adalah orang pertama yang akan meninggalkanku."
Arkanza menarik selimut hingga ke bahu Araya, lalu keluar dengan langkah berat. Di bawah bantal, tangan Araya mengepal. Kini ia tahu, ia tidak bisa lagi memercayai siapa pun—termasuk pria yang baru saja menyelimutinya.