Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Pukul sepuluh pagi, suasana apartemen Erlan masih terasa santai—terlalu santai untuk ukuran seorang direktur perusahaan besar yang seharusnya sedang duduk di ruang rapat bersama para petinggi. Pintu apartemen terbuka setelah beberapa kali diketuk, dan Adi masuk dengan langkah cepat, wajahnya jelas menunjukkan kegelisahan yang sejak tadi ia tahan.
“Pak Erlan,” panggilnya, mencoba tetap sopan meskipun napasnya sedikit terengah. “Rapat penting sudah hampir dimulai. Semua orang menunggu.”
Di ruang tengah, Erlan duduk di lantai, sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang dikejar tanggung jawab besar. Ia memegang boneka kecil, menggoyangkannya pelan di depan Kirana yang duduk sambil tertawa riang. Dunia Erlan saat itu seolah hanya sebatas ruang kecil itu—dan putrinya.
“Pak?” ulang Adi, kali ini dengan nada lebih tegas.
Erlan melirik sekilas, lalu kembali fokus pada Kirana. “Biarkan mereka menunggu.”
Adi terdiam beberapa detik, mencoba mencerna jawaban itu. “Ini bukan rapat biasa, Pak. Ini dengan para pemegang saham dan direktur utama. Kalau dibatalkan mendadak—”
“Aku tidak bilang dibatalkan,” potong Erlan santai. “Aku hanya tidak datang.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, seolah tidak ada beban di baliknya. Adi menatap Erlan dengan ekspresi campuran antara tidak percaya dan putus asa.
“Pak, dengan segala hormat… itu sama saja.”
Kirana tertawa kecil ketika Erlan menggelitik perutnya. Tawa itu ringan, jernih, dan anehnya terasa jauh lebih penting bagi Erlan dibandingkan semua rapat di dunia.
“Ayah,” ucap Kirana dengan suara masih belum sempurna.
Erlan tersenyum lebar. “Iya, Ayah di sini.”
Adi menghela napas panjang. Ia tahu bosnya keras kepala, tetapi ini sudah di luar batas. “Pak Erlan, saya dan Rama memang membantu pekerjaan Anda, tapi kami tidak bisa menggantikan posisi Anda dalam mengambil keputusan. Kami bukan Anda.”
Erlan akhirnya berhenti bermain. Ia mengangkat pandangannya, menatap Adi dengan dingin.
“Aku mempekerjakan kalian untuk mengurus pekerjaanku,” katanya datar. “Kalau hal seperti ini saja masih harus membuatku turun tangan, untuk apa kalian ada?”
Adi terdiam, tetapi ia tidak mundur. “Karena ada hal yang hanya bisa diputuskan oleh Anda, Pak.”
Beberapa detik hening.
Erlan berdiri perlahan, masih menggendong Kirana. “Kalau begitu, hari ini tidak ada keputusan penting.”
“Pak—”
“Batalkan rapatnya.”
Nada suara Erlan berubah tegas, tidak memberi ruang untuk bantahan. Adi mengatupkan rahangnya, mencoba menahan emosi yang mulai muncul.
“Pak Erlan, ini bisa berdampak besar pada perusahaan.”
“Perusahaan tidak akan runtuh hanya karena satu rapat dibatalkan,” jawab Erlan tanpa ekspresi.
“Ini bukan soal satu rapat—”
“Cukup, Adi.”
Suasana langsung membeku. Erlan menatapnya tajam.
“Aku sedang bersama putriku. Kalau itu masih belum jelas, aku akan jelaskan lagi… aku tidak ingin diganggu.”
Adi terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Dari arah dapur, Linda yang sejak tadi mendengar percakapan mereka akhirnya keluar. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia tidak setuju dengan apa yang terjadi.
“Erlan.”
Suara Linda membuat Erlan sedikit menoleh. Ekspresinya berubah—tidak lagi sedingin tadi.
“Kamu harus bekerja.”
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Adi menahan napas. Ia tahu, hanya Linda yang bisa berbicara seperti itu tanpa dimarahi.
Namun kali ini, Erlan tidak langsung mengalah.
“Aku tidak membutuhkan semua itu lagi,” katanya pelan.
Linda mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Erlan menatap Kirana sejenak sebelum kembali ke Linda. “Duniaku sekarang ini.” Ia mengusap kepala kecil putrinya. “Kirana.”
Hening sejenak.
“Aku tidak tertarik lagi menjadi perwakilan ayahku,” lanjutnya. “Aku akan hidup bersama kalian… meskipun tanpa restu keluarga.”
Adi membeku di tempat. Kalimat itu terlalu serius untuk dianggap sekadar emosi sesaat.
Linda juga terlihat terkejut, tetapi ia tidak kehilangan ketenangannya.
“Aku tidak mau,” jawabnya tegas.
Erlan mengangkat alis. “Tidak mau?”
“Aku tidak akan hidup dengan pria yang lari dari tanggung jawabnya.”
Suasana berubah drastis.
“Bagiku,” lanjut Linda, “pria yang bisa membahagiakan keluarganya adalah pria yang bertanggung jawab. Bukan yang meninggalkan semuanya begitu saja.”
Kirana yang tadi tertawa kini diam, seolah merasakan perubahan suasana.
Erlan menatap Linda cukup lama. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada juga ekspresi dingin seperti sebelumnya.
Yang muncul justru… senyum.
Senyum tipis, tetapi jelas.
“Jadi itu syaratnya?” tanyanya pelan.
Linda sedikit bingung. “Apa?”
“Aku bekerja… lalu kamu hidup bersamaku?”
Adi hampir tersedak mendengar itu.
“Erlan, itu bukan—”
“Aku akan mempertimbangkannya,” potong Linda cepat, wajahnya sedikit panik.
Erlan tertawa kecil, jelas menikmati reaksinya. “Baik. Aku anggap itu sebagai jawaban sementara.”
Tanpa menunggu balasan, ia berjalan menuju kamar.
Adi masih berdiri terpaku. Ia baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya—Erlan… mengalah.
Beberapa menit kemudian, Erlan keluar dengan pakaian rapi. Aura santainya berubah menjadi sosok profesional yang biasa dikenal banyak orang.
Ia mendekati Kirana, menggendongnya, lalu mencium pipinya.
“Ayah pergi kerja dulu, ya.”
Kirana tersenyum lebar. “Ayah.”
Ucapan itu lebih jelas dari sebelumnya.
Erlan terdiam sejenak, matanya berbinar. “Pintar sekali.”
Ia mencium Kirana lagi, kali ini lebih lama. “Ayah janji akan cepat pulang. Kita main lagi.”
Kirana mengangguk kecil, meskipun mungkin belum sepenuhnya mengerti.
“Ayah akan belikan mainan… dan makanan enak.”
Kirana tertawa.
Erlan tersenyum puas, lalu menyerahkan Kirana kembali ke Linda.
Adi akhirnya menghela napas lega. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa situasi mulai terkendali.
“Terima kasih, Bu Linda,” ucapnya tulus.
Linda menatapnya sedikit heran. “Untuk apa?”
“Karena sudah berhasil membuat Pak Erlan mau bekerja.”
Linda terlihat tidak nyaman. “Aku tidak melakukan apa-apa.”
Adi menggeleng. “Justru itu. Anda tidak sadar seberapa besar pengaruh Anda.”
Erlan yang mendengar itu langsung menoleh tajam.
“Adi.”
Nada suaranya berubah dingin lagi.
“Jangan pernah berpikir untuk memanfaatkan Linda.”
Adi langsung tegak. “Saya tidak—”
“Kalau sampai aku tahu kamu mencoba menggunakannya untuk mengaturku,” lanjut Erlan, “kamu tidak perlu kembali ke kantor.”
Sunyi.
Ancaman itu tidak terdengar keras, tetapi cukup jelas.
Linda segera menengahi. “Sudah. Tidak perlu seperti itu.”
Erlan menatapnya, lalu menghela napas pelan.
“Pergilah kerja,” lanjut Linda. “Jangan menyulitkan bawahanmu.”
Beberapa detik Erlan terdiam, lalu akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Ia mengambil kunci mobil, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi ke arah Kirana dan melambaikan tangan.
“Dadah.”
Kirana ikut melambaikan tangan kecilnya.
Pintu tertutup.
Hening.
Adi berdiri beberapa detik sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang, seolah baru saja lolos dari tekanan besar.
“Luar biasa,” gumamnya pelan.
Linda menatapnya. “Apa?”
Adi tersenyum tipis. “Saya sudah lama bekerja dengan Pak Erlan… tapi baru kali ini melihat dia seperti itu.”
Linda tidak menjawab.
Adi melanjutkan, lebih pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Mungkin… ini awal yang baik.”
Namun di balik itu, pikirannya mulai berjalan lebih jauh.
Jika Linda bisa membuat Erlan berubah… maka ini bisa menjadi solusi untuk masalah yang selama ini ia hadapi.
Selama ini, Adi sering menjadi korban kemarahan Erlan. Perintah mendadak, perubahan keputusan, dan sikap keras kepala yang sulit dikendalikan—semua itu sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.
Tetapi sekarang…
Ada cara untuk menghadapinya.
“Sepertinya,” gumam Adi dalam hati, “aku akhirnya menemukan ‘pawang’ yang tepat.”
Ia melirik Linda sekilas, lalu tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, ia merasa pekerjaannya mungkin akan sedikit… lebih ringan.
Dan di sisi lain, tanpa ia sadari, ia baru saja membuka awal dari dinamika baru yang jauh lebih rumit daripada sekadar urusan pekerjaan.