NovelToon NovelToon
Fy Unig

Fy Unig

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.

Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.

Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.

Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.

Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33

Keheningan kembali menyergap kamar luas itu, namun atmosfernya kini telah berubah total. Callista berusaha keras menata napasnya yang masih sedikit tersengal. Ia membelakangi Jagad, berpura-pura sibuk merapikan kembali tumpukan kain di meja desainnya, padahal jemarinya gemetar hebat.

Pikirannya carut-marut. Soal Jagad yang datang tiba-tiba bak jelangkung—bahkan sempat-sempatnya ikut "menonton" tontonan terlarangnya—akan ia urus nanti. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana jantungnya tidak meledak di tempat.

Sementara itu, di atas kasur king size yang empuk, Jagad Emerson sedang bergelut dengan dunianya sendiri. Ia memejamkan mata, namun bukan ketenangan yang ia dapat. Bayangan wajah Daddy Kingsley yang dingin saat marah mulai menghantui. Alasan apa yang harus ia pakai besok untuk menjelaskan motornya yang hangus? Apa ia harus bilang motor itu meledak sendiri karena cuaca Los Angeles yang panas? Konyol. Mommy Faelynn mungkin bisa ia luluhkan dengan kata-kata manis, tapi Daddy? Itu urusan lain.

"Sial sekali," umpat Jagad lirih.

Rasa sakit di pergelangan kakinya mulai berdenyut makin hebat. Nyeri itu menjalar, menusuk-nusuk sarafnya setiap kali ia mencoba menggeser posisi. Namun, ada hal lain yang lebih mengganggunya. Di tengah rasa sakit dan ancaman tertangkap geng motor, kenapa pikirannya malah menjadi liar?

Shitt! Jagad memaki dalam hati.

Matanya tak bisa berhenti mencuri pandang pada punggung Callista. Dari jarak sedekat ini, dengan pencahayaan lampu kamar yang temaram, Callista terlihat sangat berbeda dari foto mading sekolah yang kaku. Rambutnya yang sedikit berantakan, leher jenjangnya yang terekspos, dan aura polos yang terpancar membuat naluri kelaki-lakian Jagad bergejolak. Callista tampak seperti gadis manis yang tidak tahu apa-apa, dan Jagad sangat yakin gadis itu tidak menyadari bahwa sekarang otak pria di kasurnya ini sedang bekerja dengan sangat tidak sopan.

Jagad menelan ludahnya susah payah. Kegilaannya datang di saat yang benar-benar tidak tepat. Adrenalin pasca tawuran bercampur dengan hormon remaja pria yang baru saja dipicu oleh adegan film biru benar-benar kombinasi yang berbahaya.

"Kamu kenapa? Nggak enak badan?"

Suara Callista memecah lamunan kotor Jagad. Gadis itu sudah berbalik, menatapnya dengan raut khawatir yang tulus. Callista ternyata memperhatikannya sejak tadi. Ia melihat Jagad yang mendesis kesakitan, lalu tiba-tiba raut wajah pria itu berubah menjadi aneh—seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa sakit.

Jagad berdehem, berusaha mengusir pikiran-pikiran yang seharusnya tidak ada di sana. Ia kemudian mendudukkan diri dan mulai menggulung celana abu-abunya. Celana High School yang sangat dikenal Callista karena ia pun pernah memakai seragam dengan warna serupa meski beda angkatan.

"Kaki gue terkilir," ucap Jagad sambil meringis, menunjuk pergelangan kakinya yang mulai membengkak kebiruan.

Callista melangkah mendekat, rasa takutnya perlahan terkikis oleh rasa kemanusiaan. "Mana?" ia berlutut di samping ranjang untuk melihat lebih jelas. "Wah..."

Jagad mengernyitkan dahi. "Kok respons lo begitu? Ngejek atau gimana?"

"Ehh, sorry! Aku kaget, memang respons asliku begitu kalau melihat luka," Callista membela diri, wajahnya kini berada hanya beberapa sentimeter dari kaki Jagad. "Kamu habis maling di mansion depan itu, ya? Makanya lari-lari sampai terkilir?"

"Nggak, gue bukan maling. Berapa kali harus gue bilang?" Jagad mendengus. "Ini terkilir karena lompat pagar mansion lo yang tinggi banget. Dan gue bukan habis rampok, gue baru saja tawuran."

Mata Callista melebar. "Oh, jadi kalian yang sok jagoan di depan sore tadi? Itu bahaya tahu! Kenapa sih harus tawuran? Memangnya nggak ada hobi lain yang lebih berguna?"

Jagad menatap Callista datar. "Ya terserah gue, kenapa lo yang ngatur? Hidup-hidup gue."

"Aku penasaran, sorry," jawab Callista cepat, ia merasa sedikit bersalah karena sudah menceramahi tamu tak diundangnya.

Melihat kaki Jagad yang semakin membengkak, Callista merasa kasihan. Ia mencoba menyentuh perlahan area di sekitar memar itu dengan jemarinya yang lembut. Sentuhan itu membuat Jagad tersentak pelan, bukan karena sakit, tapi karena sensasi dingin dari tangan Callista yang terasa kontras dengan suhu tubuhnya yang panas.

"Mau ku panggilkan pelayan? Biar diurut atau dikasih es batu?" tanya Callista menawarkan.

"Kau gila!" potong Jagad cepat. "Satu orang luar tahu gue di sini, urusannya bakal panjang. Lo mau satu rumah ini heboh karena ada cowok SMA masuk kamar lo?"

Callista terdiam. Benar juga. Ia kembali menarik tangannya.

Jagad kemudian mengalihkan pandangannya, mencoba mencari pengalihan agar otaknya tidak kembali "liar". Ia menatap deretan rak buku yang memenuhi salah satu sisi kamar Callista. Buku-buku desain, sejarah seni, hingga novel-novel tebal tersusun rapi.

Betapa membosankan menghabiskan waktu membaca semua buku itu, ucap Jagad dalam hati. Hidupnya penuh dengan aksi lapangan, sangat berbeda dengan dunia Callista yang sunyi dan penuh teori.

Namun, saat ia kembali menatap Callista yang masih berlutut di sampingnya, Jagad terpaku. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat kecantikan Callista yang begitu alami. Bulu matanya yang lentik, hidungnya yang kecil, dan bibirnya yang tampak merah alami tanpa gincu berlebihan. Kulitnya yang putih bersih tampak bercahaya terkena lampu meja.

Sialan, ni orang cantik banget, batin Jagad frustrasi.

Ada semacam ketertarikan magnetis yang membuat Jagad sulit memalingkan wajah. Callista, dengan segala kepolosan dan kecerdasannya, adalah tipe tantangan yang belum pernah Jagad hadapi. Dan Jagad Emerson, persis seperti ayahnya, tidak pernah mundur dari sebuah tantangan—terutama yang terlihat semenarik ini.

"Cal," panggil Jagad lirih, suaranya tiba-tiba berubah menjadi lebih dalam.

"Ya?" Callista mendongak, matanya bertemu dengan mata tajam Jagad.

Di detik itu, Callista bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari tatapan pria di depannya. Bukan lagi tatapan buronan yang ketakutan, melainkan tatapan seorang pemburu yang telah menemukan sasarannya. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Callista menyadari bahwa bahaya yang sesungguhnya bukan berasal dari geng motor di luar sana, melainkan dari pria yang kini sedang menguasai tempat tidurnya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
ren_iren
kembalikan king dan faelynn😂
Ros 🍂: maafkan author Buntu 😭🤣🙏🏼
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
ren_iren
dan tetiba king and faelyn berubah jd gadis angkat jemuran... dirimu kak, ada2 aja.... 😂😂😂
Ros 🍂: Nanti saya revisi kak, biar masuk cerita nya, Makasih Kak 🫶🙏🥰
total 3 replies
winpar
lnjut thorrr
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍
Ros 🍂: ma'aciww kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!