NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

"Lo tuh—"

Fabian menghentikan ucapannya, mengacak rambutnya dengan kasar.

"Lo tau nggak betapa bahayanya tuh nikotin bagi tubuh Lo. Kalau terlambat sedikit aja Lo bisa mati gegara mengonsumsi tuh barang. Lo tau, gue sama Ian jaga Lo mati-matian karena nggak mau Lo kenapa-napa. Dan sekarang? Kenapa dengan beraninya Lo nyentuh barang itu. Lo mau ninggalin kami berdua gitu aja setelah apa yang udah kita lewatin selama ini? Gue kecewa sama Lo," ujar Nathan melanjutkan ucapan tertahan Fabian.

"Nggak gitu, gue cuma—"

"APA, LO CUMA APA!" bentak Fabian.

"G-gue cuma butuh ketenangan," lirihnya.

"Lo bisa cerita ke kita tanpa harus menyakiti tubuh Lo sendiri. Apa gue sama Nathan masih kurang buat Lo ngerasa aman!?" marah Fabian.

"Gue minta maaf. Gue akuin kalau gue salah. Jangan kayak gini, gue takut," ucap Natalie dengan suara serak, menahan tangis yang hampir keluar.

"Bagus kalau Lo sadar," ketus Nathan.

"Udah-udah, kenapa jadi berantem gini sih. Dan kamu juga Nata, sekali-kali nurut napa jangan bandel. Lebih baik sekarang kamu lakuin apa yang dokter Rani suruh, jangan membantah!" ucap Dewi saat keponakannya itu sudah membuka mulutnya hendak membantah.

"Tapi Tan, aku nggak mau," rengek Natalie.

Brak!

Fabian membanting pintu dengan keras—diikuti Nathan di belakangnya. Membuat Natalie dan Dewi refleks memejamkan mata akibat bantingan pintu yang lumayan keras.

Oke, sepertinya keduanya benar-benar marah padanya sekarang, pikir Natalie.

"Tuh lihat, ngamuk kan mereka berdua."

"Tapi Tan, aku nggak mau kalau di tusuk-tusuk tangan aku. Sakit tau," rengek Natalie.

"Udah deh jangan banyak protes. Kamu diam di sini, jangan ke mana-mana. Tante mau panggil dokter Rani."

Setelah kepergian Dewi, Natalie cemberut di atas ranjang.

"Kenapa sih maksa banget. Nggak tau apa kalau di suntik itu sakit," kesalnya.

"Tau gitu tadi nggak usah nemuin Ian di taman kalau kayak gini jadinya. Nyesel gue."

Natalie menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut dengan kaki yang di hentakkan dengan brutal di atas ranjang.

......................

Beberapa jam kemudian. Kini waktu sudah menunjukkan sore hari. Natalie sudah melakukan segala pemeriksaan, kini dirinya sudah tertidur lelap akibat kelelahan.

Ceklek.

"Kalian dari mana?" tanya Dewi melihat kedatangan Fabian dan Nathan.

"Kita dari …." Nathan menyenggol bahu Fabian, mengkode untuk menjawab pertanyaan Dewi.

Tapi Fabian tak peduli, ia justru duduk tepat di samping Natalie. Meletakkan kepalanya di lipatan kedua tangannya.

"Dari …?" tanya Dewi sekali lagi.

"Em, Tante nggak laper? Aku laper nih, Tan. Aku mau ke kantin dulu ya, permisi Tan," pamitnya lari dari pertanyaan Dewi.

"Dasar anak muda jaman sekarang," heran Dewi sambil menggelengkan kepalanya.

Ceklek.

Dokter Rani masuk ke dalm ruangan lengkap dengan map di tangannya, di mana sudah di pastikan itu adalah hasil dari pemeriksaan Natalie.

Keduanya memilih untuk duduk di sofa, sembari memantau Natalie.

"Jadi gimana dok, hasil pemeriksaannya?"

"Menurut hasil pemeriksaan, gejala yang di alami oleh Natalie merupakan gejala awal di mana ginjalnya rusak akibat pola hidupnya yang tidak seimbang. Kita hanya perlu membuat Natalie untuk berhenti dari segala aktivitasnya—baik bekerja ataupun merokok. Dengan begitu keadaan Natalie bisa menjadi lebih baik, dan apabila masih terus di lakukan—kemungkinan akan bertambah sangat parah atau memasuki tahap kedua," jelas dokter Rani.

"Syukurlah."

"Dan untuk luka yang ada di tangannya cukup di obati dengan salep agar sembuh. Nanti saya akan kasih resepnya agar anda bisa menebusnya di apotek," lanjut dokter Rani yang membuat Dewi kaget.

"Luka apa dok?" tanya Dewi bingung.

Mendengar pertanyaan Dewi justru membuat dokter Rani ikutan bingung.

"Tadi saat sedang melakukan pemeriksaan saya melihat ada banyak sekali bekas luka di lengan Natalie. Di mana luka itu memang udah ada, bahkan dengan di sengaja. Saya pikir ibuk udah tau mengenai luka yang di tangan Natalie," ucap dokter Rani.

"Saya nggak tau, dok. Bahkan saya baru tahu sekarang ini kalau bukan dokter yang bilang," sanggahnya.

Dokter Rani terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkata. "Saya sarankan kalau bisa ibuk jangan pernah tinggalin Natalie sendirian. Karena saya khawatir luka itu ada di sebabkan karena Natalie melampiaskan amarahnya dengan cara menyakiti dirinya sendiri, atau yang biasa di sebut dengan self harm."

"Apakah itu berbahaya, dok?"

"Tentu saja bisa berbahaya apabila dilakukan scara terus-menerus. Meskipun tingkat bahayanya bisa berbeda-beda pada setiap orang. Yang sering membuatnya sulit terlihat adalah kadang orang melakukannya bukan karena ingin meninggal, tapi karena merasa sangat kewalahan, ingin melampiaskan rasa sakit batin, mati rasa, marah pada diri sendiri, atau ingin mengalihkan rasa emosional."

"Begitu ya, dok."

"Iya, buk. Apakah ada yang ingin di tanyakan lagi perihal Natalie?"

"Nggak, dok. Saya sudah cukup paham."

"Baik, kalau begitu saya permisi dulu."

Dewi berjalan ke arah sisi ranjang, mengusap surai keponakannya. Tatapannya menyendu kala menatap wajah Natalie yang tenang saat tertidur lelap.

"Apa yang udah mereka lakukan terhadap kamu, Nata," lirihnya.

"Tan, Nata nggak akan kenapa-napa, kan?" tanya Fabian dengan suara serak.

Sedari tadi Fabian tidak benar-benar tidur. Ia mendengar semua percakapan antara Dewi dan dokter Rani.

"Ian …," kaget Dewi.

Fabian mendongak, melihat wajah Dewi dengan mata sembab. Terlihat jejak-jejak air mata yang masih basah di kedua pipinya. Serta ruam keunguan yang tercetak jelas di pipi kanannya.

"Ya ampun, Ian. Itu pipi kamu kenapa bisa kayak gitu?"

"Tan, jawab pertanyaan aku. Nata bakalan baik-baik aja kan? Dia nggak akan ninggalin aku kan, Tan," tanya Fabian sekali lagi, mengabaikan pertanyaan Dewi.

Fabian terus-terusan meracau, membuat Dewi langsung sigap menenangkan sahabat ponakannya itu.

"Hey, tenang. Natalie baik-baik aja kok, dia nggak kenapa-napa. Kamu dengar sendiri kan apa yang dokter bilang tadi," ucap Dewi.

Dewi mengusap-usap punggung Fabian, saat anak itu kesulitan untuk mengambil napas. Bahkan kini napasnya terdengar sangat berat dan pelan.

"Ian, dengar Tante." Dewi meraih wajah Fabian agar noleh ke arahnya. "Napas pelan-pelan. Ambil napas, lalu buang."

Dewi dengan sabar memberi instruksi pada Fabian agar napasnya stabil. Dan ya, usahanya membuahkan hasil. Kini Fabian sudah lebih tenang daripada tadi.

"Mending sekarang kamu istirahat. Kamu pasti capek, kan rawat Natalie dari tadi."

Fabian menggelengkan kepalanya, menolak perintah Dewi. Tak ada cara lain, Dewi mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Nathan.

Tak lama kemudian, Nathan datang membawa cemilan di tangannya. Dewi mengkode Nathan dengan lirikan matanya, yang membuat Nathan langsung paham.

"Ian, ayo pulang. Jam besuk bentar lagi hampir habis. Gue capek mau tidur," bujuk Nathan.

"Nggak. Gue masih mau di sini. Kalau Lo mau pulang, pulang aja sendiri," tolak Fabian.

"Hah, nggak ada cara lain. Gue harus lakuin ini, kalau nggak nih anak nggak bakal mau balik. Dasar keras kepala," batin Nathan.

Dengan sekali tarikan, Nathan berhasil membawa Fabian keluar. Ya meskipun harus menggunakan tenaga yang cukup ekstra untuk menggeret tubuh Fabian yang lumayan berat

Tapi mampu membuatnya tak berkutik lagi. Bahkan kini hanya pasrah di belakangnya.

.

.

.

1
Adiknya Hyunjin
Huwaaa, aku baru sadar nama bundanya Nathan sama kayak tantenya Natalie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!