Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Menjahit Topeng Baru
Tubuh manusia adalah mesin biologis yang mengagumkan, namun ia memiliki mekanisme penagihan utang yang sangat kejam. Kau bisa meminjam tenaga dari adrenalin untuk berlari dari maut, menembus kobaran api, atau melawan belasan pembunuh bayaran. Tapi begitu ancaman itu mereda, tubuhmu akan menagih semua kelelahan itu secara tunai, tanpa keringanan sedikit pun.
Sepanjang perjalanan dari rawa-rawa Marunda menuju kawasan Kota Tua, keheningan di dalam kabin mobil tua milik Arlan terasa sangat mencekik.
Aku duduk di kursi penumpang, memeluk tubuhku sendiri yang masih menggigil kedinginan. Bau lumpur laut dan asap yang menempel di pakaian kami memenuhi udara sempit di dalam mobil. Namun, perhatianku tidak tertuju pada jalanan Jakarta yang lengang, melainkan pada pria yang memegang kemudi di sebelahku.
Arlan tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan pantai. Kedua tangannya mencengkeram setir dengan kekuatan yang tidak wajar, hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya terdengar berat dan pendek-pendek, menyerupai bunyi mesin yang kehabisan oli. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir menuruni pelipisnya yang pucat pasi, bercampur dengan sisa-sisa darah dari luka sayatan di tulang pipinya.
Ia sedang sekarat di balik kemudi ini, bertarung melawan tubuhnya sendiri hanya untuk memastikan kami sampai di tempat yang aman.
"Arlan, menepilah. Biar aku yang menyetir," ujarku untuk ketiga kalinya, suaraku dipenuhi kepanikan yang sulit kusembunyikan.
"Kita... hampir sampai," gumamnya dengan rahang terkatup rapat. Suaranya nyaris hanya berupa embusan angin.
Mobil sedan perak itu membelok masuk ke sebuah gang sempit di belakang deretan museum tua yang catnya sudah mengelupas. Area ini mati saat malam hari. Tidak ada pedagang kaki lima, tidak ada kamera pengawas lalu lintas kota. Arlan memarkirkan kendaraannya di dalam sebuah garasi berkarat yang menyatu dengan ruko dua lantai yang tampak terbengkalai.
Begitu mesin mobil dimatikan, pertahanan terakhir Arlan runtuh.
Kepalanya langsung terkulai membentur sandaran kemudi. Napasnya yang tadi tertahan kini terlepas dalam satu embusan panjang yang diwarnai erangan tertahan.
"Arlan!" Aku buru-buru membuka sabuk pengamanku dan mencondongkan tubuh ke arahnya. Kubuka pintu kemudinya dari dalam.
Ia mencoba mengangkat kepalanya, tapi matanya terlihat tidak fokus. "Pintu... lantai dua. Kuncinya ada di saku kiriku," bisiknya sebelum tubuhnya merosot miring ke arahku.
Aku menahan bahunya yang berat. Rasa panas langsung menyengat telapak tanganku menembus kain mantelnya. Tubuhnya demam tinggi. Infeksi dari air got yang kotor dan luka-luka terbukanya menyebar dengan kecepatan yang mengerikan.
Mengabaikan rasa sakit dan lelah di sekujur tubuhku sendiri, aku memapahnya keluar dari mobil. Arlan bukan pria bertubuh kecil, dan berat badannya yang kini tidak lagi ditopang oleh kesadaran penuh membuatku nyaris terjatuh. Aku merangkulkan lengan kanannya ke bahuku, memegang pinggangnya erat-erat, dan menyeretnya menaiki tangga kayu curam yang berderit memprotes beban kami.
Aku merogoh saku mantelnya, menemukan kunci bergerigi kasar, lalu membuka pintu kayu tebal di ujung tangga.
Kami masuk ke dalam sebuah ruangan luas yang berbau debu, kertas usang, dan kayu pinus. Tempat ini dulunya mungkin sebuah gudang penyimpanan arsip peninggalan Belanda. Tidak ada perabotan mewah. Hanya ada sebuah sofa kulit besar yang sudah retak-retak di tengah ruangan, sebuah meja kayu, dan deretan rak besi kosong.
Aku membaringkan Arlan di atas sofa tersebut. Ia langsung kehilangan kesadaran begitu punggungnya menyentuh bantalan sofa. Kepalanya terkulai ke samping, napasnya tersengal-sengal menahan rasa sakit dari alam bawah sadar.
"Bertahanlah, bodoh. Kau tidak boleh mati setelah menyelamatkanku," gerutuku dengan suara bergetar, lebih ditujukan untuk menenangkan kepanikanku sendiri.
Sebagai detektif divisi pembunuhan, aku sudah sering melihat mayat dan orang sekarat. Tapi melihat pria ini—pria yang kuanggap sebagai monster tak terkalahkan—terbaring tak berdaya dengan napas yang semakin menipis, membuat otot jantungku seolah diremas tangan raksasa.
Aku berlari ke arah sebuah lemari besi kecil di sudut ruangan. Instingku mengatakan tempat ini memiliki persediaan darurat. Benar saja, di rak terbawah, aku menemukan sebuah kotak P3K militer berwarna hijau olive, beberapa botol air bersih galonan, dan handuk kering.
Aku membawa semuanya kembali ke sisi sofa.
Hal pertama yang harus kulakukan adalah menyingkirkan pakaiannya yang basah oleh air got beracun. Aku melepaskan mantel panjangnya yang berat dan sobek dengan hati-hati.
Saat aku mencoba membuka kemeja hitamnya, kain itu menempel lengket di kulitnya akibat darah yang mengering. Aku mengambil gunting medis dari kotak P3K, menggunting kemeja itu dari bagian bawah ke atas, lalu menariknya ke samping.
Napas di tenggorokanku tercekat. Gunting di tanganku nyaris terjatuh ke lantai.
Dada dan perut Arlan dipenuhi oleh memar berwarna ungu kehitaman, beberapa di antaranya memiliki ukuran sebesar kepalan tangan. Luka-luka dari pertarungan brutal yang ia jalani sendirian malam ini. Di lengan kanannya, jahitan kasar yang ia buat sendiri telah robek kembali, mengeluarkan darah segar bercampur nanah tipis akibat bakteri air limbah.
Namun, bukan luka-luka baru itu yang membuat mataku membelalak ngeri.
Di seluruh area bahu kirinya, menjalar hingga ke pangkal leher dan sebagian punggung atasnya, terhampar bekas luka bakar yang sangat luas. Kulit di area itu mengerut, tertarik, dan kehilangan pigmen warna aslinya, membentuk pola jaringan parut yang tebal dan kasar.
Tanganku bergetar hebat. Aku perlahan menyentuh tepian bekas luka bakar itu dengan ujung jariku.
Ini bukan luka dari pertarungan. Ini adalah sisa-sisa neraka dari sepuluh tahun yang lalu. Sisa dari api yang merenggut nyawa ibu dan ayahnya di dasar jurang, atas perintah ayahku. Selama satu dekade, Arlan membawa bukti kekejaman Darmawan Salim ini menempel di kulitnya, tersembunyi dengan rapi di balik kemeja berkerah tinggi dan jas mahalnya.
Dulu, saat aku melihat foto mobil yang hangus itu di berkas kepolisian, aku hanya melihatnya sebagai sebuah kasus. Angka statistik di atas kertas. Tapi melihat bekas luka ini secara langsung di tubuh pria yang memelukku... rasanya seperti disayat hidup-hidup.
Setiap hari, setiap kali ia bercermin atau mandi, ia dipaksa untuk melihat luka ini dan mengingat suara jeritan ibunya.
Air mata kembali menetes dari pelupuk mataku, jatuh mengenai dada Arlan. Aku buru-buru mengusap wajahku dengan punggung tangan. Ini bukan waktunya untuk menangis. Aku harus menolongnya.
Aku menuangkan air bersih ke atas handuk, lalu mulai membersihkan sisa-sisa lumpur dan darah yang mengering dari seluruh wajah dan tubuh bagian atasnya. Hawa panas dari tubuhnya terasa membakar telapak tanganku, menandakan demamnya semakin memburuk.
Setelah tubuhnya cukup bersih, aku membuka botol alkohol antiseptik berkadar tinggi.
"Maaf, ini akan sangat sakit," bisikku padanya yang masih tidak sadarkan diri.
Aku menekan kapas yang telah dibasahi alkohol itu langsung ke luka robek di lengan kanannya yang membengkak.
Arlan tersentak hebat. Matanya tidak terbuka, namun tubuhnya melengkung ke atas, otot-otot di rahang dan lehernya menegang ekstrem menahan rasa perih yang membutakan. Ia mengerang keras, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.
Aku menahan lengannya dengan berat badanku, memaksa luka itu tetap diam sementara aku membersihkan setiap inci daging yang terbuka untuk membunuh bakteri pembusuk dari air got. Setelah lukanya bersih, aku mengambil jarum bedah melengkung dan benang nilon dari kotak P3K.
Tanganku yang tadinya dilatih untuk menembakkan pistol dan memborgol penjahat, kini harus melakukan tugas yang berlawanan. Aku harus menjahit tubuh yang hancur ini agar tidak terurai.
Aku menusukkan jarum ke tepi kulitnya, menariknya ke seberang, dan mengikat simpul pertama. Arlan kembali mengerang, keringat dingin membanjiri wajahnya. Aku terus mengulangi proses itu dengan ritme yang cepat dan presisi. Enam jahitan. Rapi dan rapat. Aku menutupnya dengan perban kasa steril dan merekatkannya kuat-kuat dengan selotip medis.
Selesai dengan lengannya, aku beralih ke luka memar di rusuk dan pelipisnya, mengoleskan salep pereda bengkak.
Selama hampir dua jam aku bekerja dalam diam di bawah cahaya lampu kuning yang redup. Ketika aku akhirnya memotong sisa perban terakhir, seluruh energiku terasa terkuras habis. Punggungku terasa kaku.
Aku merosot duduk di lantai kayu di samping sofa, menyandarkan kepalaku ke tepi bantal sofa, tepat di dekat lengan Arlan.
Dadanya kini naik turun dengan ritme yang lebih tenang. Napasnya tidak lagi seberat sebelumnya. Demamnya perlahan mulai turun berkat obat antibiotik dan pereda nyeri dosis tinggi yang kupaksa masuk ke mulutnya beberapa waktu lalu. Ia telah melewati masa kritisnya. Binatang buas ini menolak untuk mati malam ini.
Ruangan itu kembali hening, hanya diisi oleh suara detak jarum jam dinding kuno dan rintik sisa badai hujan yang menabrak kaca jendela berdebu.
Aku menatap langit-langit kayu ruangan itu dengan pandangan kosong.
Duniaku telah dijungkirbalikkan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Kemarin pagi, aku adalah Detektif Elara Salim, bintang muda di kepolisian yang berambisi menegakkan keadilan dan membanggakan nama ayahnya.
Sekarang?
Elara Salim sudah mati. Media nasional telah mencetak berita kematiannya dengan huruf tebal. Lencananya telah kehilangan makna. Nama keluarganya adalah racun yang membunuh orang-orang tak bersalah.
Aku perlahan menoleh, menatap wajah Arlan yang tertidur pulas. Tanpa topeng porselen yang menutupi wajahnya, tanpa jas mahal dan senyum sinisnya, pria ini terlihat begitu rapuh. Ia hanyalah seorang anak laki-laki yang mencoba mencari jalan pulang setelah tersesat di dalam kegelapan selama sepuluh tahun.
Dan selama sepuluh tahun itu, ia berjuang sendirian.
Ia menciptakan identitas sang Joker bukan karena ia menikmati pembunuhan, melainkan karena keadilan konvensional telah menutup pintu di depan wajahnya. Ketika hukum dibeli oleh orang kaya, satu-satunya cara untuk membunuh monster adalah dengan memanggil monster yang lebih menakutkan dari kedalaman neraka.
Tiba-tiba, jari-jari tangan Arlan yang tergeletak di dekat wajahku bergerak pelan.
Kelopak matanya bergetar, lalu perlahan terbuka. Matanya yang merah menatap langit-langit selama beberapa detik, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kesadarannya, sebelum akhirnya menoleh ke arahku yang duduk di lantai.
Ia menatapku dalam diam. Matanya turun ke lengannya yang sudah dibalut perban rapi, lalu kembali ke wajahku yang masih kotor oleh sisa jelaga.
"Kau tidak lari," suaranya serak dan sangat lemah, nyaris seperti bisikan angin.
"Di dunia yang menganggapku sudah menjadi abu, ke mana lagi hantu sepertiku bisa lari?" jawabku pelan. Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman lelah yang tidak memiliki kepura-puraan sedikit pun.
Arlan perlahan mengangkat tangannya yang tidak terluka. Ujung jari telunjuknya menyentuh pinggiran lencana kepolisian berbahan kuningan yang menyembul dari saku jaket kulitku yang tergeletak di lantai.
"Kau masih memegang benda ini," gumamnya, matanya menatap tajam ke arahku. "Setelah semua yang kau lihat malam ini... setelah ayahmu membakar ayah angkatmu dan mencoba membakarmu... kau masih percaya pada hukum negara ini?"
Pertanyaan itu terasa seperti timah panas yang dituangkan ke dalam tenggorokanku.
Aku menunduk, menatap lencana berlambang negara itu. Lambang keadilan yang selama ini menjadi kompas moral dalam hidupku. Aku mengambil lencana itu, menggenggamnya di telapak tanganku. Benda itu terasa dingin. Tidak ada kebanggaan yang tersisa saat aku menyentuhnya, hanya ada rasa muak yang mendalam.
"Hukum tidak menyelamatkanku malam ini, Arlan," bisikku, mengangkat pandanganku untuk menatap lurus ke dalam matanya. "Hukum justru disuap untuk mengunciku di dalam oven beton itu."
Aku berdiri perlahan dari lantai. Melangkah menuju sebuah meja kayu kecil di sudut ruangan yang memajang sebuah tempat sampah berbahan kaleng.
Aku mengangkat lencana kuningan itu di atas tempat sampah.
Selama beberapa detik, memori tentang ayah angkatku yang berseragam melintas di kepalaku. Ia mengabdi pada institusi ini, dan institusi ini menjual nyawanya kepada Darmawan Salim. Jika aku ingin membalaskan dendamnya, jika aku ingin memastikan ayah kandungku tidak pernah bisa menyakiti siapa pun lagi, aku tidak bisa melakukannya dengan seragam ini.
Aku membuka genggamanku.
Klontang.
Lencana itu jatuh membentur dasar kaleng tempat sampah, teronggok bersama debu dan sampah kertas.
Aku berbalik, kembali menghampiri sofa tempat Arlan terbaring. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan, hanya ada sebuah pemahaman yang sunyi melihat keputusanku.
"Elara Salim, sang detektif, telah tewas di Gudang 14 Marunda," kataku dengan suara yang jauh lebih stabil dan tegas dari sebelumnya. Tidak ada lagi keraguan di sana. Rasa takutku telah terbakar habis, menyisakan sebuah tekad yang telah mengeras seperti baja.
Aku berlutut di sampingnya, mengambil tangan kirinya, dan menautkan jari-jariku di sela-sela jarinya. Aku meremas tangannya yang masih terasa panas oleh sisa demam.
"Darmawan Salim dan Pilar Vanguard yang tersisa mengira mereka telah menang. Mereka mengira mereka telah mengubur masa lalu dan menyingkirkan kelemahanmu," bisikku, mencondongkan wajahku lebih dekat ke wajahnya.
Arlan menatap mataku, napasnya tertahan. Ia bisa melihat perubahan di dalam diriku. Ia bisa melihat bahwa wanita di hadapannya bukan lagi seorang polisi yang kebingungan, melainkan seorang penyintas yang siap untuk berperang.
"Bawa aku masuk ke dalam rencanamu, Arlan," mintaku, suaraku mengalun dingin, memancarkan aura kegelapan yang sama dengan yang selalu ia miliki. "Mulai malam ini, sang Joker tidak akan lagi bermain sendirian."