"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"
#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARIAN IBLIS DI LORONG SUNYI
Keheningan di koridor lantai dua kediaman Tuan Yan mendadak berubah menjadi sesuatu yang padat dan menyesakkan. Lampu-lampu padam serentak, menyisakan keremangan dari sisa cahaya bulan yang membelah kegelapan melalui jendela kaca besar. Di sana, Arka berdiri. Tegak, tak bergeming, seperti patung kuno yang baru saja terbangun dari tidur ribuan tahun.
Ia tidak perlu melihat dengan mata lahirnya. Di balik kelopak mata yang kini berpijar emas redup, dunia Arka berubah menjadi pemetaan energi. Ia melihat enam siluet merah—dingin dan tajam—bergerak di langit-langit dan sudut-sudut mati ruangan.
"Kalian terlalu berisik untuk menyebut diri kalian 'bayangan'," suara Arka bergema, rendah namun tajam, memotong desis angin malam.
Tanpa peringatan, udara di sebelah kanan Arka terbelah. Sebuah pedang tipis berbahan karbon hitam meluncur menuju lehernya dengan kecepatan yang sanggup melampaui kedipan mata. Itu bukan serangan manusia biasa; itu adalah eksekusi yang presisi.
Arka tidak menghindar. Ia hanya memiringkan kepalanya dua sentimeter.
SRING!
Ujung pedang itu hanya membelah udara kosong. Sebelum sang Shadow Guard sempat menarik senjatanya, tangan Arka sudah bergerak. Bukan sebuah pukulan kuat, melainkan sentuhan dua jari yang dialiri energi panas tepat di pangkal pedang lawan.
KLAK!
Pedang yang diklaim tak bisa hancur itu patah seperti biskuit kering. Wajah sang pembunuh di balik topeng hitam itu membeku. Namun, Arka tidak memberinya waktu untuk terkejut. Satu hentakan telapak tangan mendarat di dada pria itu, mengirimnya melayang menembus dinding beton hingga hancur berkeping-keping.
Satu jatuh. Lima tersisa.
"Majulah bersamaan. Aku tidak punya banyak waktu untuk tikus yang bermain petak umpet," tantang Arka.
Kalimat itu memicu kemarahan kolektif. Lima bayangan lainnya muncul dari kegelapan dengan sinkronisasi yang mengerikan. Mereka menyerang dari lima arah berbeda—atas, bawah, dan samping—menciptakan jaring kematian yang mustahil ditembus.
Mata Sakti Arka berdenyut. Waktu seolah melambat. Di matanya, setiap gerakan pedang mereka meninggalkan jejak cahaya yang bisa ia prediksi. Ia melihat celah di antara ayunan pedang ketiga dan tusukan dari arah belakang.
Arka berputar. Gerakannya tidak lagi kaku seperti petarung jalanan; ia bergerak seperti air yang mengalir di antara sela-sela bebatuan. Ia menangkap pergelangan tangan penyerang kedua, memuntirnya hingga tulang terdengar retak bersahut-sahutan, lalu menggunakan tubuh pria itu sebagai perisai untuk menangkis tiga pedang lainnya.
JLEB! JLEB! JLEB!
Shadow Guard kedua mati oleh pedang rekan-rekannya sendiri.
"Kalian membunuh teman sendiri? Konsorsium memang tidak pernah mengajarkan moral," ejek Arka dingin.
Tiga dari mereka mundur, membentuk formasi segitiga. Mereka sadar, target kali ini bukan sekadar 'Anomali'. Ini adalah monster yang mengenakan kulit manusia. Salah satu dari mereka merogoh kantong, mengeluarkan jarum perak berisi cairan hitam—stimulan terlarang yang mampu melipatgandakan kekuatan fisik dengan bayaran umur.
Melihat itu, Arka hanya mendengus. "Sampah tetaplah sampah, meski kau bungkus dengan emas."
Energi di sekitar Arka meledak. Aura emas yang awalnya hanya samar kini menyelimuti seluruh tubuhnya, membentuk tekanan gravitasi yang membuat lantai marmer di bawah kakinya retak dan ambles. Arka melesat. Kali ini, ia yang menjadi pemburu.
Ia muncul di depan Shadow Guard terdekat. Pria itu mencoba menebas, tapi Arka menangkap bilah pedangnya dengan tangan kosong. Tangannya tidak berdarah; kulitnya sekeras baja karena perlindungan energi Segel Langit.
"Lihat mataku," bisik Arka.
Pria itu terpaksa menatap mata emas Arka. Dalam sekejap, kesadarannya tersedot ke dalam Dimensi Ilusi. Di mata pria itu, Arka berubah menjadi raksasa dengan ribuan pedang di punggungnya. Ketakutan yang amat sangat membuat jantungnya berhenti berdetak seketika sebelum tangan Arka sempat menyentuhnya.
Dua menit berlalu. Koridor yang tadinya megah kini hancur layaknya medan perang purba. Lima mayat bergelimpangan dengan posisi yang tidak wajar. Hanya tersisa satu—pemimpin tim, yang kini gemetar di ujung lorong dengan tangan yang tidak lagi mampu menggenggam pedang.
Arka berjalan perlahan, suara langkah kakinya seperti detak jam kematian.
"Siapa yang mengirim kalian? Gideon? Atau si tua bangka Wijaya?" tanya Arka sembari mencengkeram leher pria terakhir itu, mengangkatnya hingga kaki sang pembunuh menggantung di udara.
Pria itu terbatuk darah, namun ia memaksakan sebuah seringai di balik topengnya yang robek. "Kau... kau pikir kau sudah menang? Kami hanyalah... umpan. Tiga Tetua Gunung... sudah berada di sini, Arka. Kau tidak akan bisa keluar dari Jakarta hidup-hidup."
Arka menyipitkan mata. Tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri. Sebuah firasat buruk menghantam instingnya.
BOOM!
Bukan serangan dari dalam rumah, melainkan sebuah ledakan energi dari jarak jauh yang menghantam taman depan. Tekanannya begitu dahsyat hingga kaca-kaca di seluruh gedung pecah berkeping-keping. Arka melemparkan tubuh Shadow Guard itu ke samping dan segera menoleh ke arah jendela.
Di bawah sinar bulan, di tengah taman yang hancur, berdiri seorang kakek berbaju putih dengan rambut panjang yang berkibar meski tak ada angin. Ia memegang tongkat kayu sederhana, namun setiap kali tongkat itu menyentuh tanah, bumi seolah bergetar hebat.
Itu bukan manusia. Itu adalah tekanan dari seseorang yang sudah menyentuh ranah Kultivasi sejati.
"Arka... Nak," suara kakek itu terdengar jelas di telinga Arka meski jarak mereka seratus meter. "Serahkan Mata Sakti itu, dan aku akan membiarkan ibumu mati dengan tenang."
Rahang Arka mengeras. Amarah yang sedari tadi ia tekan kini meluap, membuat iris emas di matanya berubah menjadi merah darah di bagian tepinya—sebuah tanda awal dari evolusi paksa yang berbahaya.
"Kau bicara soal membiarkan ibuku mati?" Arka melompat keluar dari jendela lantai dua, mendarat dengan dentuman keras di depan sang kakek misterius itu.
Tanah di sekitar mereka retak. Arka berdiri tegak, menatap langsung ke mata sang Tetua Gunung. "Tadi aku hanya menyapu halaman. Sekarang, sepertinya aku harus menebang pohon tua yang sudah lapuk."
Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Di atas langit Jakarta, awan hitam mulai berputar membentuk pusaran, seolah alam semesta sendiri tahu bahwa malam ini, tatanan dunia bawah tidak akan pernah sama lagi.
Arka baru saja menyadari bahwa Mata Saktinya mulai bereaksi aneh terhadap kehadiran sang Tetua. Bukan rasa takut, melainkan rasa lapar yang amat sangat. Seolah-olah Mata itu ingin 'memakan' energi kakek di depannya. Namun, di tengah ketegangan itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya yang terjatuh di lantai atas: "Arka, jangan lawan dia! Dia bukan manusia, dia adalah..."
semangat kak👍