Warning!!
***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.
Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.
Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.
Pernikahannya bukan tentang cinta.
Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.
Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.
Suaminya.
Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.
Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.
***
“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.
Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”
Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.
Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Masa lalu Mawar
0o0__0o0
Di depan pintu kamar mertua-nya yang tertutup rapat, Mawar masih berdiri diam. Ujung bibirnya melengkung tipis, senyum yang lebih menyerupai racun daripada kehangatan seorang menantu.
Sorot matanya tajam menatap daun pintu di hadapan-nya.
"Ini baru awal dari kehancuran kalian…" bisiknya lirih, hampir seperti hembusan angin yang tak terdengar.
Ia menurunkan sedikit pandangan-nya, jemarinya menyentuh gagang pintu tanpa benar-benar membuka-nya.
"Aku berdiri di sini bukan sekadar sebagai menantu…" lanjutnya pelan, suaranya penuh kebencian yang di pendam bertahun-tahun. "Tapi juga sebagai badai yang akan menghancurkan keluarga Black."
Senyum-nya semakin lebar.
Namun sesaat kemudian—
Langkah kaki terdengar dari ujung lorong.
Tak… tak… tak…
Mawar langsung menegakkan tubuhnya. Wajah dingin penuh kebencian itu berubah seketika. Dalam hitungan detik, ekspresi-nya kembali lembut seperti menantu sempurna.
Dari ujung lorong, Dresto Vincen Black berjalan mendekat.
Pria itu terlihat lelah, namun tatapan-nya langsung menajam ketika melihat adik iparnya berdiri di depan kamar orang tuanya.
"Mawar ? Kenapa berdiri di sini, Hem ?" tanyanya heran.
Mawar menunduk sedikit, seolah gugup. "A-aku hanya ingin memastikan Mama dan Papa sudah istirahat," jawabnya pelan dengan nada lembut.
Dresto menghela napas pelan lalu mendekat. Tangan-nya tanpa sadar meraih bahu Mawar dengan penuh perhatian tersembunyi.
Namun Mawar langsung menepis tangan kakak iparnya itu. Dan menjaga jarak aman.
Dresto terdiam. Mengangkat tangan-nya ke atas. Tanda menyerah. Namun bibir-nya menyeringai tipis.
"Kamu terlalu baik," ucapnya tulus. "Tidak perlu terlalu memikirkan keluarga ku sampai seperti ini."
Kalimat itu membuat Mawar menatap wajah Dresto.
Untuk sepersekian detik…
Ada sesuatu yang berbeda di dalam sorot mata keduanya.
Namun hanya sebentar.
Karena bayangan masa lalu langsung muncul kembali di kepala Mawar. Tangan-nya perlahan mengepal.
"Memikirkan keluarga mu ?" gumam-nya dalam hati.
Tatapan matanya kembali menajam, meski wajahnya masih terlihat lembut di depan Dresto.
"Justru keluarga mu lah yang akan ku hancurkan… satu per satu." Sambung'nya dalam hati. Penuh kebencian.
Namun Dresto tidak menyadari apa pun. Ia malah menarik tangan Mawar dengan kuat, namun masih lembut.
"Ayo, ikut dengan ku."
Mawar mengikuti langkah Dresto masuk ke kamar.
Klek.
Pintu tertutup perlahan.
Dan di balik senyum lembut yang wanita itu tunjukkan pada Dresto—
Kebencian Mawar masih hidup.
Diam.
Menunggu.
Seperti racun yang perlahan menyebar di dalam keluarga Black.
0o0__0o0
0o0__0o0
"Jangan pura-pura tidak kenal, Mawar." Kata Dresto. Mendorong pundah adik iparnya ke pintu kamarnya. Ia meletakkan tangan-nya di kedua sisi wajah'nya.
Mawar mendengus malas, menatap mata mantan kekasih brengseknya itu. "Kamu mau aku bersikap seperti apa, Kakak ipar ?" Seringainya mengejek. "Sekarang aku istri sah dari adik kandung mu."
Dresto terkekeh miring, "Lantas kenapa jika status mu sekarang menjadi istri adik ku, Hem ?" ia mendekatkan wajahnya. Hingga hidup keduanya hampir bersentuhan.
"Sampai saat ini aku masih menginginkan mu, Mawar liarku." Sambung'nya berbisik. Tepat di depan bibir mantan kekasihnya.
Atau lebih tepatnya Dresto masih menganggap Mawar menjadi miliknya. Karena dia tidak pernah menyetujui ajakan putus dari wanita itu.
Mawar tidak mundur sedikit pun. Ia justru menatap lurus ke dalam mata Dresto yang penuh obsesi itu. Tatapan dingin. Tanpa rasa gentar.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Aku tidak ingat pernah menjadi milik siapa pun," ucap Mawar pelan namun tajam.
Suaranya begitu tenang, seolah bisikan itu mampu melukai lebih dalam dari teriakan.
Tangan'nya perlahan terangkat, lalu mendorong dada Dresto agar jarak di antara mereka kembali terbuka.
"Kamu yang tidak pernah bisa menerima kenyataan," lanjutnya dingin. "Aku yang meninggalkan mu. Bukan sebaliknya."
Mawar mencondongkan wajahnya sedikit. Kali ini justru ia yang berbisik di dekat telinga pria itu.
"Dan sekarang aku adalah adik mu." Ada jeda sesaat. Nafas hangatnya menyentuh telinga Dresto.
"Tidak peduli seberapa besar kamu masih menginginkan ku… aku bukan lagi sesuatu yang bisa kamu sentuh sesuka mu."
Ia mundur satu langkah. Menatap Dresto dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Jadi kendalikan dirimu, Kakak ipar."
Dresto tidak bergerak meski Mawar mendorong dadanya. Justru senyum miring kembali muncul di wajah pria itu. Matanya menelusuri wajah Mawar dengan tatapan yang terlalu dalam… terlalu penuh keinginan.
Tangan'nya terangkat, lalu menahan pergelangan tangan Mawar sebelum wanita itu benar-benar menjauh.
"Kendalikan diri ?" Dresto terkekeh pelan. Suaranya rendah dan berat. "Sejak kapan aku pernah bisa mengendalikan diri kalau itu menyangkut kamu, Rose ?"
Ia menarik Mawar sedikit lebih dekat. Tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk menunjukkan bahwa ia tidak berniat melepasnya.
Tatapan matanya turun sejenak ke bibir Mawar, lalu kembali ke mata wanita itu.
"Kamu boleh bilang kamu meninggalkan ku," gumam-nya pelan. "Tapi dalam kepalaku… kamu tidak pernah benar-benar pergi."
Jari-jarinya mengerat di pergelangan tangan Mawar.
"Kamu terlalu indah untuk di lupakan. Terlalu menggoda untuk di abaikan." Nafasnya terdengar berat. "Dan yang paling menyebalkan… kamu tahu persis itu."
Dresto mendekat lagi, hampir menyentuh kening Mawar.
"Jadi jangan berharap aku tiba-tiba berubah jadi pria baik yang menghormati batas." Senyum-nya menipis, namun matanya justru semakin tajam.
"Aku tidak peduli kamu sekarang memakai nama marga keluarga ku." Ia berbisik tepat di dekat bibir Mawar. "Bagiku… kamu tetap Mawar yang sama. Mawar liar yang dulu selalu kembali ke pelukan ku."
Mawar terdiam beberapa detik. Namun bukan karena goyah. Justru tatapan-nya berubah semakin dingin.
Tatapan seorang wanita yang sudah terlalu lama melihat sisi buruk seorang pria… sampai akhirnya muak.
Perlahan Mawar menarik pergelangan tangan'nya dari genggaman Dresto.
"Kamu masih sama saja, Dresto," ucapnya datar.
Ia menatap pria itu dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum tipis. Senyum yang penuh sindiran.
"Masih percaya semua wanita akan jatuh di bawah kakimu hanya karena sedikit rayuan murahan."
Mawar melangkah mendekat satu langkah. Kini justru ia yang menatap Dresto dengan tajam.
"Kamu tahu kenapa aku meninggalkan mu dulu ?" Ia tidak menunggu jawaban.
"Karena aku muak." Satu kata itu keluar begitu tegas.
"Mual melihat kamu berpindah dari satu wanita ke wanita lain seperti itu hal yang normal."
Nafas Mawar sedikit berat, namun suaranya tetap tajam. "Hari ini dengan sekretaris mu… besok dengan model yang kamu temui di klub… lalu lusa dengan wanita lain lagi."
Tatapan-nya menusuk tepat ke mata Dresto.
"Dan kamu masih punya keberanian berdiri di depanku… lalu berkata aku adalah milikmu ?"
Mawar terkekeh pelan. Namun tidak ada kehangatan di sana.
"Kamu bahkan tidak pernah bisa setia pada satu wanita." Ia mendekat sedikit, berbisik rendah namun begitu menohok. "Jadi jangan pernah menyebut aku Mawar liar mu lagi."
Jeda sejenak.
"Karena satu-satunya yang liar di hubungan kita dulu… adalah kebiasaan kotormu mengoleksi wanita."
Dresto terdiam sesaat setelah kata-kata Mawar menghantam-nya tanpa ampun.
Rahangnya mengeras. Tatapan matanya yang tadi di penuhi hasrat kini berubah gelap… tersinggung.
Namun bukannya mundur, pria itu justru tertawa rendah.
Terkekeh.
"Muak ?" ulangnya pelan, seolah kata itu terasa asing baginya.
Dalam satu langkah cepat, Dresto kembali mendekat. Tangan-nya mencengkeram lengan Mawar sebelum wanita itu sempat menjauh.
"Jadi itu alasan mu meninggalkan ku ?" gumam-nya dengan nada tajam. "Karena kamu tidak tahan melihat wanita lain di sekitarku ?"
Matanya menyapu wajah Mawar dengan intens.
"Padahal kamu tahu…" suaranya menurun, lebih berat. "Dari semua wanita itu, cuma kamu yang selalu kembali ke pikiran dan hati ku."
Mawar mencoba menarik tangan-nya, tetapi cengkeraman Dresto semakin kuat.
"Kamu boleh membenci ku," lanjutnya pelan, nafasnya mulai tidak stabil. "Boleh memanggil ku brengsek, bajingan, apa pun yang kamu mau."
Ia menundukkan wajahnya sedikit, menatap bibir Mawar yang sejak dulu selalu membuat-nya kehilangan kendali.
"Tapi jangan pernah berpikir aku bisa melepaskan mu begitu saja, Rose."
Sebelum Mawar sempat bereaksi—
Dresto tiba-tiba menarik tubuh wanita itu dan mencium bibirnya dengan paksa.
Bukan ciuman lembut.
Bukan juga penuh keraguan.
Melainkan ciuman keras yang di penuhi emosi, amarah, obsesi, dan keinginan yang selama ini ia tahan.
Beberapa detik kemudian ia melepaskan Mawar, nafasnya terdengar berat. Matanya menatap wanita itu dengan sorot liar.
"Kamu bisa menikah dengan siapa saja," ucapnya rendah. "Tapi jangan pernah berharap aku berhenti menginginkan mu, Baby Rose."
Plak!
Suara tamparan Mawar menggema di ruangan itu.
Kepala Dresto sedikit terlempar ke samping akibat pukulan keras dari tangan wanita itu. Bekas merah langsung muncul di pipinya.
Mawar menatap-nya dengan napas memburu. Matanya menyala oleh amarah dan rasa jijik.
"Jangan pernah menyentuhku lagi!" desisnya tajam.
Namun bukannya marah atau mundur… Dresto justru tertawa pelan. Ia perlahan memutar kembali wajahnya menghadap Mawar.
Lidahnya menyapu sudut bibirnya yang sedikit perih. Tatapan-nya kini jauh lebih gelap.
"Lihat ?" gumam-nya serak. "Aku bahkan lebih menyukai kamu saat seperti ini, Baby Rose."
Sebelum Mawar sempat menjauh, Dresto tiba-tiba menarik pinggang wanita itu dengan kasar.
Mawar terkejut.
"Dresto—!"
Namun kalimatnya terputus ketika pria itu kembali membungkam bibirnya dengan ciuman paksa.
Kali ini jauh lebih dalam. Lebih liar.
Dresto menahan tubuh Mawar erat di pelukan-nya, seolah tidak memberi ruang bagi wanita itu untuk melarikan diri.
Ciuman-nya penuh emosi yang bergejolak—amarah, obsesi, dan keinginan yang tidak pernah benar-benar padam.
Mawar berusaha mendorong dada pria itu, namun Dresto semakin mengeratkan pelukan-nya.
Napasnya berat saat akhirnya ia sedikit menjauh dari bibir Mawar. Dahi mereka hampir bersentuhan.
Matanya menatap wanita itu dengan sorot yang nyaris gila.
"Kamu bisa membenciku sebanyak yang kamu mau," bisiknya rendah. "Tapi kamu tidak bisa menghapus apa yang pernah terjadi di antara kita."
Tangan-nya masih menahan pinggang Mawar. "Dan aku juga tidak akan pernah berhenti menginginkan mu."
0o0__0o0
Hari raya tinggal beberapa hari lagi, Rek !! Sudahkah kalian menyiapkan ampou ??
Jangan lupa meninggalkan jejak.
Xixi 🥰🥰🥰🥰🥰
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣