NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

****

Matahari pagi menyelinap malu-malu melalui jendela kaca antipeluru di penthouse Mega Kuningan, namun cahayanya tak mampu mengusir hawa kaku yang menyelimuti ruangan itu. Lima bulan telah berlalu sejak malam persalinan berdarah di lantai marmer tersebut. Kehidupan Mayang Puspita Sari kini telah berputar seratus delapan puluh derajat. Nyonya M yang dulu menggenggam Jakarta dengan kuku-kuku berliannya, kini tampak seperti bayangan dari dirinya yang dulu.

Di luar sana, publik memuja Mayang sebagai ikon kesetiaan dan kesederhanaan.

Berita-berita di media sosial mengelu-elukan keputusannya untuk mundur dari dunia bisnis demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya bagi Baskara sang investor yang kini mendominasi pasar setelah kejatuhan Aris dan Gunawan. Namun, kenyataan di dalam penthouse itu adalah sebuah neraka yang rapi.

Baskara telah memecat seluruh asisten rumah tangga, pelayan, dan pengawal pribadi Mayang. Ia tidak ingin ada mata-mata, tidak ingin ada penyusup di dalam istananya. Mayang harus mencuci, memasak, dan merawat anak perempuan mereka, Aira, dengan tangannya sendiri.

Mayang duduk di kursi goyang di sudut kamar bayi, menyusui Laras yang mungil. Matanya menatap wajah bayi itu dengan kelembutan yang menyakitkan. Dulu, ia membuang dua anaknya tanpa menoleh, menganggap mereka hanyalah beban dari sebuah transaksi. Namun Aira.... Aira adalah caranya menebus dosa. Ia merawat Aira dengan dedikasi seorang martir, seolah setiap popok yang ia ganti dan setiap tangisan yang ia redam bisa menghapus jejak-jejak masa lalunya yang kelam.

"Sayang, maafkan Mamah," bisik Mayang pelan, mencium kening Aira. "Mamah tidak akan membiarkanmu dibuang seperti kakak-kakakmu."

Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu pantofel yang berat menggema di lorong. Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Baskara berdiri di sana, mengenakan setelan jas mewah seharga satu rumah di pinggiran kota. Ia menatap Mayang dan bayi itu dengan pandangan dingin, tanpa sedikit pun binar kasih sayang seorang ayah.

"Masih asyik dengan mainanmu, Mayang?" suara Baskara berat dan menuntut.

Mayang tidak menoleh, ia terus menepuk-nepuk punggung Laras agar bersendawa. "Dia bukan mainan, Baskara. Dia anakmu."

"Anak yang salah," potong Baskara cepat. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Mayang sehingga bayangannya menutupi seluruh tubuh wanita itu. "Sudah lima bulan. Tubuhmu sudah pulih sepenuhnya. Aku sudah memberimu waktu untuk 'bermain ibu-ibuan', tapi kesabaranku ada batasnya."

Baskara mencengkeram dagu Mayang, memaksanya mendongak. Mayang bisa mencium aroma wiski dan kekuasaan dari pria itu.

"Aku sudah memeriksa kalendermu. Harusnya bulan ini kau sudah menunjukkan tanda-tanda," desis Baskara. "Kenapa rahimmu masih kosong? Apakah kau sengaja meminum sesuatu di belakangku?"

Mayang menepis tangan Baskara dengan lemah. "Aku menyusui, Baskara. Hormonku belum stabil. Tubuh manusia bukan mesin cetak yang bisa kau atur tombolnya."

Baskara tertawa sinis, ia duduk di pinggir ranjang bayi, jarinya mengetuk-ngetuk kayu pagar boks bayi dengan irama yang mengintimidasi. "Jangan gunakan alasan medis padaku. Aris dan Gunawan bisa membuatmu hamil dalam hitungan bulan. Apakah kau sengaja tidak memberikan yang terbaik untukku karena kau merasa aku lebih rendah dari mereka?"

"Demi Tuhan, Baskara! Aku melakukan semua pekerjaan rumah ini sendiri! Aku lelah!" teriak Mayang, suaranya pecah.

Baskara berdiri secara mendadak, membuat Laras tersentak dan mulai menangis kencang. Baskara tidak peduli pada tangisan bayinya. Ia justru menarik Mayang berdiri, menjepitnya di antara tubuhnya dan dinding.

"Kau lelah? Di luar sana, ribuan wanita ingin berada di posisimu! Memakai perhiasan ini, tinggal di sini!" Baskara menyentak kalung berlian yang masih melingkar di leher Mayang. "Kau menuruti kegilaanku karena kau haus harta, bukan? Sekarang bayar harganya! Aku butuh pewaris laki-laki untuk mengamankan saham-saham yang kurebut. Aira tidak ada gunanya bagiku."

**

Malam itu, setelah sesi pelayanan yang lebih terasa seperti hukuman daripada hubungan suami istri, Mayang terbaring kaku di ranjang utama. Tubuhnya terasa remuk, rahimnya berdenyut nyeri sebuah pengingat akan luka parut persalinan lima bulan lalu yang dipaksa bekerja kembali.

Baskara sedang berdiri di balkon, menatap lampu-lampu Jakarta dengan angkuh. Ia merasa telah menang segalanya. Ia memiliki harta Mayang, ia memiliki tubuh Mayang, dan ia memiliki citra sebagai pria keluarga yang sempurna di mata publik.

"Bukankah sekarang waktu yang tepat untuk hamil lagi, Mayang?" suara Baskara memecah keheningan malam, ia tidak menoleh ke arah tempat tidur. "Aku ingin saat Aira berumur satu tahun, dia sudah punya adik laki-laki. Jika tidak... mungkin asrama di Eropa Timur itu masih punya satu slot kosong untuk bayi perempuan."

Darah Mayang terasa membeku. Ia bangkit dengan sisa kekuatannya, menatap punggung suaminya dengan amarah yang membara di balik matanya yang sayu.

"Kau mengancam akan membuang Anakmu, ?" tanya Mayang, suaranya bergetar hebat.

Baskara berbalik, tersenyum tenang yang mengerikan. "Itu bukan ancaman, itu pilihan bisnis. Aku investor, Mayang. Aku tidak suka memelihara aset yang tidak produktif. Kau tahu betul bagaimana permainannya."

Mayang menunduk, tangannya mencengkeram sprei. Ia merasa kalah. Benar-benar kalah. Semua kekuasaan yang ia bangun sebagai Nyonya M telah lumat oleh pria yang menggunakan kelemahannya—ibunya dan kini, Laras.

"Tentu... Tuan Baskara," bisik Mayang parau. "Aku akan memberikan apa yang kau mau. Aku akan hamil lagi. Tapi ingat satu hal..."

Mayang mendongak, menatap Baskara dengan tatapan paling tajam yang pernah ia miliki. "Setiap tetes keringat dan rasa sakit yang kurasakan mulai detik ini, akan kutambahkan ke dalam tagihanmu. Kau mungkin merasa memiliki rahimku, tapi kau tidak akan pernah memiliki jiwaku. Dan suatu saat, tagihan itu akan datang menghancurkanmu."

Baskara hanya tertawa, ia berjalan keluar kamar tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Mayang sendirian dalam kegelapan. Mayang berjalan menuju boks bayi, menggendong Laras yang terbangun. Ia menyusui bayi itu kembali, air matanya jatuh mengenai pipi Aira.

"Satu kali lagi, Sayang," bisik Mayang dalam tangisnya yang sunyi. "Mamah akan berjuang satu kali lagi. Bukan untuk harta, bukan untuk takhta... tapi untuk memastikan kau tetap di sini, di dekapan Mamah."

Di puncak menara Mega Kuningan, Nyonya M telah mati. Yang tersisa hanyalah seorang ibu yang terjepit di antara ambisi dan cinta, bersiap untuk menjalani siklus rasa sakit yang baru demi sebuah penebusan yang tak pasti. Mayang Puspita Sari sadar, ini adalah perjuangan terakhirnya—perjuangan di mana ia harus mempertaruhkan rahim dan nyawanya sekali lagi, di bawah kendali monster yang ia ciptakan dari masa lalunya sendiri.

****

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!