Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu Hutan
Fajar merayap lambat di Pegunungan Sepuluh Ribu Buas. Cahaya matahari pagi yang pucat berusaha keras menembus atap dedaunan raksasa, hanya mampu menyisakan garis-garis cahaya redup yang membelah kabut tebal bersuhu dingin. Aroma tanah basah dan dedaunan busuk bercampur dengan bau amis darah yang masih tersisa dari malam sebelumnya.
Tinggi di atas dahan sebuah pohon purba, sesosok bayangan berjongkok dalam keheningan mutlak.
Chu Chen telah menutupi seluruh tubuhnya dengan lumpur basah dan lumut yang ia keruk dari dasar rawa di dekat sana. Ini adalah trik kuno para pemburu fana di desanya untuk menyembunyikan bau tubuh dan panas dari binatang buas, sekaligus berfungsi sebagai penyamaran sempurna di lingkungan hutan yang gelap. Matanya yang kini bisa berubah menjadi celah vertikal keemasan menatap tajam ke bawah, membelah kabut tebal tanpa halangan.
Kres... Kres...
Suara langkah kaki yang menginjak ranting kering terdengar dari arah selatan. Chu Chen menahan napasnya, menekan detak jantungnya hingga pada titik terendah.
Dari balik kabut, muncul tiga sosok berjubah merah darah. Mereka melangkah dengan pedang terhunus, memancarkan aura kesombongan yang kental. Di dada mereka, lambang serigala melolong tampak mencolok—mereka adalah murid Sekte Serigala Darah.
"Sialan. Tempat ini bau sekali," keluh salah satu murid bertubuh kurus. Ia menebas semak berduri di depannya dengan kesal. "Kenapa Penatua memaksa kita menyisir wilayah terluar ini? Semut cacat itu pasti sudah mati dimakan binatang buas semalam. Mana mungkin dia bisa bertahan hidup di sini?"
"Tutup mulutmu, Liu," tegur pria di depan yang memimpin kelompok itu. Tubuhnya tinggi tegap, dengan bekas luka sayatan melintang di lehernya. Otot-ototnya menonjol, memancarkan gejolak energi yang jauh lebih kuat dari kedua rekannya. "Penatua sangat menginginkan Pusaka Kuno itu. Jika kita bisa menemukan mayatnya dan membawa pusaka itu kembali, Penatua berjanji akan memberi kita Pil Pengumpul Qi. Kita bisa langsung mencoba menembus Alam Lautan Qi!"
Chu Chen, yang berada dua puluh meter di atas mereka, mengamati tingkat kekuatan ketiganya dengan tatapan pemburu.
Dua murid biasa, aura mereka tidak lebih kuat dari murid yang kubunuh semalam. Mungkin Lapis Keempat atau Kelima Penempaan Raga, batin Chu Chen menganalisis. Tetapi pemimpin mereka... auranya sangat padat. Setiap langkahnya meninggalkan jejak yang dalam di tanah lumpur. Lapis Ketujuh Penempaan Raga.
Perbedaan tiga lapisan di Alam Penempaan Raga adalah perbedaan antara batu kerikil dan batu karang. Jika Chu Chen diserang bersamaan oleh mereka bertiga, ia pasti akan hancur lebur dalam hitungan detik.
Namun, di hutan ini, Chu Chen bukanlah mangsa yang menunggu untuk dihabisi.
"Kita berpencar di area ini," perintah pemimpin berbekas luka itu, menghentikan langkahnya di dekat sebuah formasi batu berlumut. "Liu, kau periksa ke arah timur menuju rawa. Wang, kau ke barat dekat tebing. Aku akan menyisir lurus ke utara. Jangan terlalu jauh. Jika kalian menemukan jejak darah atau sisa pakaian, tembakkan suar sinyal. Mengerti?"
"Baik, Kakak Zhao!" jawab kedua murid itu serempak.
Ketiganya berpisah. Murid bernama Liu berjalan ke arah timur, menggerutu pelan sambil menendang dedaunan basah. Ia berjalan menjauhi kelompoknya, semakin dalam memasuki area rawa yang ditumbuhi pohon-pohon berakar gantung raksasa.
Chu Chen tersenyum dingin. Matanya terkunci pada Liu bagaikan elang yang membidik mangsanya. Dengan kelincahan yang diperkuat oleh fisik Lapis Keempat, Chu Chen berayun dari dahan ke dahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, membayangi langkah murid malang itu dari atas.
Setelah berjarak sekitar dua ratus meter dari titik kumpul mereka, kabut di sekitar rawa menjadi sangat tebal hingga jarak pandang tidak lebih dari tiga meter. Liu berhenti, menggosok lengannya yang merinding kedinginan.
"Terkutuklah anak desa itu. Gara-gara dia, aku harus berendam di lumpur bau ini," gerutunya, lalu bersiap untuk berbalik arah.
Pada detik itulah, kematian turun dari langit.
Bagaikan kelelawar malam, Chu Chen menjatuhkan dirinya langsung ke arah belakang punggung Liu. Tidak ada teriakan. Tidak ada suara senjata yang ditarik.
Tep! Tangan kiri Chu Chen menutup mulut Liu dengan kekuatan cengkeraman baja, sementara tangan kanannya yang keras menyambar bagian belakang leher murid itu. Sebelum Liu sempat bereaksi atau meronta, Chu Chen memutar pergelangan tangannya dengan sentakan brutal.
KRAK!
Suara patahan tulang leher bergema pelan, tertelan oleh rimbunnya hutan. Tubuh Liu mengejang hebat. Matanya membelalak lebar dalam ketakutan yang tak terucapkan, namun suara jeritannya tertahan di telapak tangan Chu Chen.
Seketika itu juga, Chu Chen tidak menyia-nyiakan waktu. Ia mengaktifkan Seni Kaisar Naga: Pusaran Ketiadaan.
Daya hisap mengerikan meledak dari telapak tangannya yang menempel di leher Liu. Esensi darah, vitalitas, dan sisa-sisa energi spiritual yang merembes di otot Liu langsung tersedot keluar seperti pusaran air yang menelan kapal kecil. Karena Liu masih berada di ambang kematian, energinya berada di puncaknya.
Hanya dalam lima tarikan napas, tubuh Liu menyusut menjadi mayat keriput yang bobotnya tidak lebih dari sepotong kayu kering.
Chu Chen menurunkan sekam kering itu perlahan ke tanah berlumpur agar tidak menimbulkan suara. Darah naga di jantungnya berdetak kencang, memurnikan energi kotor milik Liu. Chu Chen bisa merasakan otot-ototnya semakin padat, tulangnya semakin keras, dan kekuatan fisiknya mendekati puncak Lapis Keempat.
Satu mati. Dua tersisa, batin Chu Chen. Ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Wajah penduduk desanya yang dibantai terus berputar di benaknya, mengubah hatinya menjadi sedingin es abadi.
Tanpa membuang waktu, ia mengambil pedang baja milik Liu, mengikatkannya di pinggang, lalu kembali melesat ke atas pepohonan, menyatu kembali dengan bayangan.
Sepuluh menit kemudian, di sisi barat.
Murid bernama Wang sedang menggaruk lehernya yang digigit serangga berbisa. Ia merasa ada yang tidak beres. Hutan ini terlalu sunyi. Bahkan suara kicauan burung pemakan bangkai yang sedari tadi terdengar kini menghilang sepenuhnya.
"Liu? Kakak Zhao?" panggil Wang dengan suara tertahan. Tidak ada jawaban selain gema suaranya sendiri.
Tiba-tiba, dari arah semak-semak lebat di sebelah kanannya, terdengar suara gemerisik yang aneh.
Srak... Srak...
Wang tersentak, mencengkeram gagang pedangnya erat-erat. "Siapa di sana?! Keluar!"
Ia mengangkat pedangnya, bersiap membela diri jika seekor binatang buas melompat keluar. Perlahan, ia melangkah maju, menebas semak-semak itu dengan ujung pedangnya. Namun, di baliknya tidak ada apa-apa selain seekor tikus hutan yang lari ketakutan.
Wang menghela napas lega, menurunkan kewaspadaannya untuk sepersekian detik.
Itu adalah kesalahan paling fatal dalam hidupnya.
Saat Wang menoleh ke arah depan, sebilah pedang baja menembus dari celah pepohonan yang gelap, melesat maju dengan kecepatan kilat, dan menancap lurus... menembus tenggorokannya dari depan hingga menembus ke belakang lehernya.
Wang tidak bisa mengeluarkan suara. Darah menyembur dari mulut dan lehernya. Di ujung pangkal pedang itu, dari balik bayangan pohon, berdirilah sosok pemuda berlumuran lumpur dengan sepasang mata naga yang menyala dingin.
"Kalian merampas segalanya dariku," bisik Chu Chen tepat di telinga Wang yang sedang sekarat. "Sekarang, aku akan merampas nyawa kalian."
Chu Chen menarik pedangnya dengan kejam, lalu mencengkeram wajah Wang. Sekali lagi, Pusaran Ketiadaan diaktifkan. Esensi kehidupan Wang tersedot habis, mengubah murid yang sombong itu menjadi sekam kering sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
BUM!
Suara retakan terdengar dari dalam tubuh Chu Chen. Gelombang tenaga panas menyapu seluruh meridiannya. Dengan melahap esensi dua murid Lapis Keempat dan Kelima secara berurutan, batas fisik yang menahannya akhirnya hancur.
Alam Penempaan Raga Lapis Kelima!
Chu Chen mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan bahwa jika ia memukul batu cadas sebesar kerbau saat ini, ia bisa menghancurkannya berkeping-keping hanya dengan tenaga fisik murni. Ketahanan kulitnya kini mampu menahan tebasan pedang besi biasa tanpa meninggalkan luka.
"Luar biasa," gumam Chu Chen pelan. Namun insting berburunya segera memperingatkannya.
"SIAPA DI SANA?!"
Sebuah auman penuh amarah yang dilambari energi Qi meledak dari arah utara. Itu adalah suara Zhao Meng, sang pemimpin kelompok. Jelas, ledakan energi halus saat Chu Chen menembus lapisan kelima tertangkap oleh indra Zhao Meng yang berada di Lapis Ketujuh.
Suara langkah kaki yang berat dan cepat terdengar menerjang ke arah lokasi Chu Chen berada.
Bukannya melarikan diri, Chu Chen justru berdiri tegak di tengah area terbuka, membiarkan pedangnya yang berlumuran darah menetes ke tanah. Ia menatap ke arah datangnya suara dengan ketenangan seorang algojo yang menunggu giliran mangsanya.
Beberapa detik kemudian, Zhao Meng menembus semak-semak, memegang sebilah pedang besar yang memancarkan pendaran Qi berwarna merah. Namun, langkah pria tegap itu terhenti saat matanya menangkap pemandangan di depannya.
Di tanah, tergeletak mayat kering Wang, dengan pedang milik Liu berada di tangan seorang pemuda berlumpur yang kini menatapnya seolah ia adalah mayat berjalan.
"K-Kau... Chu Chen?" Zhao Meng terbata, antara terkejut dan marah. Ia mengenali wajah anak cacat dari desa itu. Namun, aura menekan yang dipancarkan pemuda ini sama sekali bukan fana biasa. "Sihir iblis apa yang kau gunakan pada saudara seperguruanku?!"
"Sihir?" Chu Chen menyeringai miring, memperlihatkan gigi-giginya. "Ini bukan sihir iblis. Ini adalah karma dari darah yang kalian tumpahkan semalam."
"Keparat sombong! Mati kau!"
Zhao Meng meraung buas. Ia tahu ada yang tidak beres, tetapi harga dirinya sebagai ahli Lapis Ketujuh tidak mengizinkannya mundur dari seorang remaja desa. Ia melesat maju, mengangkat pedang besarnya tinggi-tinggi. Qi darah meledak dari tubuhnya, melapisi bilah pedang dengan kekuatan yang bisa membelah seekor gajah menjadi dua.
Tebasan Pemutus Sungai!
Angin pedang melolong keras, menebas udara dengan kekuatan mematikan.
Alih-alih menghindar, Chu Chen mengangkat pedang bajanya, memusatkan seluruh tenaga fisik Lapis Kelimanya, dan menyambut tebasan itu secara langsung.
TRAAANG!!!
Suara benturan logam bergema hingga memekakkan telinga. Percikan api menyala terang. Kekuatan tebasan Zhao Meng memang sangat dahsyat, membuat kaki Chu Chen merosot sedalam beberapa cun ke dalam tanah lumpur, dan pedang baja biasa di tangan Chu Chen retak seketika.
"Mati!" teriak Zhao Meng, mencoba menekan pedangnya lebih dalam. Ia berharap bisa melihat pemuda ini hancur.
Namun, Zhao Meng dikejutkan oleh sepasang mata emas vertikal yang menatapnya dari balik bilah pedang.
"Hanya segini kekuatan Lapis Ketujuhmu?" ejek Chu Chen.
Dengan letupan otot yang mengerikan, Chu Chen membelokkan pedang besar Zhao Meng ke samping. Di saat pedang Zhao Meng meleset ke tanah, Chu Chen membuang pedang bajanya yang retak, lalu meninju dada Zhao Meng dengan tangan kosong yang dilapisi aura naga.
BUGH!
Suara tulang dada retak terdengar jelas. Zhao Meng memuntahkan darah, terlempar mundur beberapa langkah. Matanya membelalak tak percaya.
"B-Bagaimana mungkin... fisikmu... kau seharusnya tidak memiliki Qi!" Zhao Meng tergagap, menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.
"Aku tidak butuh Qi untuk membunuhmu," balas Chu Chen dingin. Dalam sekejap, sosok Chu Chen melesat memangkas jarak. Sebelum Zhao Meng sempat mengangkat pedang besarnya kembali, tangan kanan Chu Chen telah mencengkeram kuat leher sang pemimpin kelompok tersebut, mengangkatnya dari tanah.
"Sekarang... jadilah makananku."
Pusaran Ketiadaan berputar dengan kecepatan penuh. Zhao Meng menjerit histeris saat merasakan sumber Qi di dantiannya dan darah di nadinya ditarik paksa. Berbeda dengan dua murid sebelumnya, energi Lapis Ketujuh sangat padat dan kuat.
Chu Chen merasakan tubuhnya terbakar, namun sensasi kekuatan yang mengalir masuk membuatnya mengaum dalam kepuasan brutal. Dalam hitungan detik, ahli yang arogan itu layu, mengering, dan mati menyedihkan di kedalaman hutan, menjadi batu pijakan pertama bagi jalan penaklukan Sang Naga Pemakan Langit.