Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
[19] Pernikahan Ini Rahasia
Langit berdiri mematung di pintu ruangan rawat ibu Bumi. Saat baru masuk fokusnya pada wanita yang terbaring lemah dengan berbagai alat yang memompa kehidupan.
Ezhar dan Orlin berdiri di samping Brankar. Di sisi lainnya Bumi. Membayangkan kehidupan Bumi. Tanpa sosok ayah dalam hidupnya dan keluarga satu-satunya hanya ibu. Itu pun sedang koma tiga tahun lamanya.
Perasaannya ikut terasa sesak.
Namun luar biasanya, Bumi tidak pernah memperlihatkan kesulitannya. Tidak ada luka yang ia tampakkan dari pedihnya kehidupan seroang remaja yang sudah menanggung beban berat di pundaknya. Tapi sejak obrolan di rumah tadi dan juga di ruangan ini, ia melihat langsung sosok Bumi.
Tatapan Langit jatuh pada tangan Bumi yang mengusap lembut rambut ibunya.
Bagaimana senyum cowok itu tercetak namun
Tatapannya penuh luka.
Mereka tengah berbincang. Bumi memperkenalkan siapa yang datang.
Memperkenalkan mertuanya.
"Langit, sini sayang."
Perhatian Langit beralih pada Orlin yang menyuruhnya mendekat. Langit melangkah perlahan.
"Salim ya sama mertuanya." Dia mengangguk. Mengambil tangan yang tampak kurus dan terasa dingin. Menciumnya lama, air mata Langit tak terbendung.
"Assalamu'alaikum Ibu?" ucapnya. "Ini Langit."
Bumi mengulas senyum melihat hal itu.
Ezhar membelai lembut puncak kepala putrinya. Orlin dan Ezhar kemudian menanyai Bumi perihal sakit ibunya. Biaya rumah sakitnya dan bagaimana selama ini Bumi menutupinya.
Langit tidak terlalu mendengarkan. Fokusnya hanya pada wajah Bumi. Menatap lama wajah laki-laki berstatus suaminya itu.
Hari ini banyak hal baru yang dia ketahui perilal Ghabumi.
***
Langit memandang langit biru dari atas rooftop rumah sakit. Dia berdiri di pembatas pagar beton. Setelah dari ruangan tadi, Langit izin sebentar meninggalkan dulu mereka yang mengobrol.
Dibanding kehidupannya yang alhamdulillah serba ada, kasih sayang yang cukup, dikelilingi orang tersayang. Melihat posisi Bumi membuatnya merasa tidak bersyukur.
Selama ini sudah berar bagi Bumi menjalani hidupnya. Bukannya dengan dia yang diam saja dan tidak bersikap biasa pada Bumi, akan menambah beban pria itu akan rasa bersalah?
Langit merasa dirinya egois saat ini.
Mereka sama-sama sulit menerima hal baru akan akad dadakan ini, tapi seharusnya bukan berarti dia tengelam akan ketidaksukaan jalan yang Tuhan beri.
Seharusnya Langit mulai menerima ini takdirnya. Menerima Bumi sebagai suaminya dan juga keduanya sama-sama menguatkan diri atas apa yang terjadi.
Bukankah dia sudah bilang tadi ia akan menjalankan amanah mamanya. Pernikahan yang seriuss. Tidak main-main. Lantas bagaimana bisa dia jalankan dengan baik jika setelah akad dia dan bumi bagai orang tidak kenal sama sekali.
"Kenapa di sini?" Suara yang tidak asing itu. Suara milik Bumi. Langit berbalik badan. Cowok yang saat ini memakai kaus putih dibalut kemeja yang tidak kancing. Memakai jeans Hitam berdiri di hadapannya.
Menatapnya lurus.
Langit memberi gelengan.
Ia menatap lama wajah tampan Bumi.
Dibalik wajah itu ada banyak hal yang berhasil Bumi sembunyikan.
"Bum?"
"Hm?"
"Gue... minta maaf." Angin yang terasa
Kencang di atas ketinggian itu menerbangkan gamis putih yang saat ini Langit gunakan.
"Kenapa lo yang minta maaf?"
Langit memberi gelengan. "Gue merasa bersalah."
"Gue yang bersalah Langit. Gue yang buat kita terjebak di pernikahan ini. Padahal gue bukan sosok yang lo harapkan."
"Enggak. Gue nerima apa yang terjadi Bumi. Awalnya berat, tapi sekarang gue udah bisa nerima."
"Apa karena setelah lo tahu tentang gue?"
Langit bergeming.
"Langit. Hidup gue memang seberantakan ini. Tapi jangan pernah kasihani gue karena ini hm?"
"Sama sekali enggak Bum. Lihat lo gue merasa kurang bersyukur. Bumi... tadi kita udah janjikan sama mama papa. Kalau kita akan jalani pernikahan ini dan akan mempertahankan?"
Bumi memberi anggukan.
"Menerima adalah cara kita agar bisa jalani semua dengan baik. Gue... gak mau kalau sejak awal kita sama-sama gak terima. Karena akhirnya gak akan baik kan?"
"Papa benar. Kita belum dewasa. Kita masih anak sekolah yang udah menikah. Tapi gue akan berusaha menjadi istri yang baik di usia segini."
"Sekarang lo suami gue. Jadi gue akan nurut dan menghormati lo. Gue nggak sempurna. Lo tahu gue gimana Bumi. Gue masih banyak salahnya. Maaf kalau gue belum bisa menjadi yang terbaik.. Tapi gue akan berusaha."
"Bilang kalau gue salah. Bantu gue untuk menjalani peran baru ini. Karena gue masih perlu arahan dan bimbingan."
Bumi menarik kedua sudut bibirnya mendengar penuturan Langit. Perasaannya menghangat. Gadis seperti Langit, Senakal-nakalnya tapi paham akan apa yang dia lakukan.
Bumi maju tiga langkah hingga jarak mereka tersisa satu langkah. Dia memberi
Anggukkan. "Lo juga tahu gue Langit. Peran baru ini akan gue jalankan sebaik mungkin. Gue akan berusaha untuk gak ngecewain keluarga lo. Gue akan brusaha gak ngecewain lo. Gue juga masih belajar, jadi kita sama-sama mulai hm?"
"Sejak akad udah gue ucapkan. Gue udah siap untuk membimbing lo dan menjadi imam buat lo Qanita Langit Zoe."
"Gue masih bandel. Lo harus siap Bumi."
"Gue juga masih bad boy yang suka buat lo marah. Lo harus siap Langit."
Langit tersenyum. Bumi juga tersenyum.
"Oke. Gue tahu. Akan asing bagi kita untuk bersikap beda. Jadi gak masalah kan tetap jadi diri kita yang biasa?"
"Gak masalah. Lagipula kalau enggak gitu. Bakal aneh kan?"
"Hm. Lagian pernikahan ini kita rahasiakan."
"Lo tetap musuh gue Langit."
"Lo juga musuh gue Bumi."
Mereka saling menatap dan tertawa bersama. Di atas rooftop ini keduanya sudah sama-sama menerima jalan takdir mereka. Ikatan baru yang hadir di antara rival yang tidak pernah akur sejak kelas satu SMA.
***
Satu hari setelah akad. Kedua pengantin baru itu kembali masuk sekolah. Hari pertama mereka tidak satu rumah. Seperti kesepakatan. Tinggal di rumah masing-masing.
Langit juga seperti biasa. Pergi sekolah diantar papanya. Sekilas seperti tidak ada yang terjadi kemarin. Hidupnya masih sama, hanya statusnya yang sudah berbeda.
"Bukunya udah semua kak Langit?"
"Udah kok Pa." Ia mendongak pada Ezhar yang sudah duduk di belakang setir setelah melihat isi tasnya.
"Kak Langit kenapa gak bareng kak Bumi aja?" Gea bertanya. Ah iya kedua adik kembarnya tentu tahu dia sudah menikah. Tapi tidak tahu alasan sebenarnya.
Orlin dan Ezhar memberi pemahaman pada keduanya.
"Kak langit gak bisa jauh-jauh dari Papa." Itu jawaban yang dia ucapkan. Sebenarnya bisa saja dia bareng Bumi. Tapi sekolah akan gempar jika mereka bersama.
Mobil melaju meninggalkan kawasan rumah. Berbaur ke jalan raya bersama kendaraan lain. Seperti biasa Gara dan Gea akan diantar duluan. Baru giliran Langit terakhir.
"Kak Langit."
Langit yang sudah pindah duduk di depan menoleh. Saat ini perjalanan menuju sekolahnya.
"Kak Langit udah tahu gimana kehidupan Bumi kan?"
Dia mengangguk.
ya?" "Bantu Bumi. Sebisa mungkin bantu dia
"Iya Papa."
"Kak Langit udah dewasa sekarang.
Apapun yang mau dilakukan ingat dampak jangka panjangnya. Ingat statusnya."
"Untuk hal kecil izin sama Bumi. Gimana biasanya mama sering izin sama papa kalau mau pergi atau kemanapun." Sepanjang jalan sekolah Langit terus dinasehati Ezhar. Karena status barunya yang di usia dini. Ilmu tentang pernikahan sebisa mungkin Ezhar tanamkan pelan-pelan pada putrinya.
Bagaimanapun dia ingin kehidupannya rumah tangga putrinya baik-baik saja. Ezhar juga paham Langit sebenarnya juga mengerti beberapa hal yang dia sampaikan. tentang peran barunya. Bagaimana kewajiban dan hak yang harus langit penuhi. Karena sudah belajar hal itu. Dia juga membaca buku-buku yang juga banyak tentang nikah muda dari novel ataupun buku khusus.
Novel banyak mengajarkan apa yang juga sebaiknya kita lakukan dari peran tokoh di dalamnya.
Semalam Orlin juga menyuruh Langit membaca buku-buku pernikahan dengan tujuan agar ilmu putrinya semakin dalam
Tentang pernikahan. Karena sesungguhnya yang paling penting dalam pernikahan adalah ilmu. Dengan ilmu kita tahu bagaimana bersikap. Bagaimana menjalani peran yang baik dan bagaimana islam mengatur kehidupan pernikahan agar sakinah mawadah dan warahmah.
Apalagi mereka saat ini masih tinggal terpisah. Juga saat yang bagus untuk sama-sama memahami ilmu dulu.
Mobil menepi di gerbang sekolahnya beberapa saat kemudian. Langit mengambil tangan Ezhar untuk salim. Satu hal yang Langit syukuri. Papanya tidak semarah hari pertama dan kedua. Papanya kembali bersikap biasa walau dia tahu ada kecewa berat dan malu yang masih ditanggung keduanya.
Karena itu Langit berjanji cukup hari itu dia mencoreng nama baik mereka. Cukup hari itu kecewa mendalam dia berikan pada orang tua yang dia sayang.
Dia tidak akan mengecewakan mereka dan berusaha menjalankan peran barunya dengan baik. Langit akan menjadi anak
Berbakti dan menoreh prestasi. Dia akan berjuang untuk membayar luka yang sudah dia torehkan.
Mobil papanya mengklason usia dia turun dan melambaikan tangan. Langit lalu berbalik badan dan menatap gerbang sekolahnya. Hah sudah lama sekali rasanya tidak masuk sekolah walau baru tiga hari.
Dia jadi rindu teman-temannya.
Rindu bangkunya
Rindu Pak Ego juga.
Kakinya melangkah melewati gerbang. Langit menatap teman-teman sekolahnya. Ada yang sedang bercengkrama dan bercanda sambil berjalan, ada yang tengah berjalan sambil pegang buku, ada yang sedang sibuk dengar musik dan juga ada yang tampak lesu.
Tin!
Suara klakson membuat Langit menepi dan menoleh. Dia menaikkan kedua alisnya melihat Alden yang membuka kaca helmnya.
"Eh Alden. Hai!" Langit melambai senang.
"Bareng ke kelas. Tunggu di koridor ya?"
Walaupun bingung Langit mengangguk saja. Dia melangkah duluan seraya memegang tali tasnya. Tidak lama berdiri di koridor, Alden datang dengan setengah berlari.
"Udah sehat?"
"Hm. Udah kok."
"Miss lady heran tiga hari lo gak les."
"Gue banyak ketinggalannya ya?"
Keduanya melangkah beriringan di Koridor menuju lantai atas. "Masih 15 menit sebelum masuk. Mau gue bantu biar nanti nyesuain sama materi?"
"Boleh bangett. Cukup 15 menit Alden?"
"Entar sambung istirahat sambil makan. Mau?"
Langit tersenyum dengan anggukan. "Makasih ya udah bantu gue."
"Gak usah bilang makasih. Lo kan sakit." Alden balas tersenyum hingga matanya menyipit. Keduanya yang berjalan menjadi
Perhatian para siswa-siswa. Karena Alden dan Langit yang biasanya tidak dekat tanpa akrab. Apalagi langit sekelas primadona sekolah dan Alden, cowok berprestasi dengan wajan tampannya.
Menjadi bahan gibah siswa.
"Langit!!"
Teriakan disertai tangan yang melingkar di lehernya membuat Langit kaget dan hampir terjungkal. Ia menoleh dan mendelik kesal pada si pelaku.
"Binaaa. Gue hampir kecekek!"
"Haa senang banget bestie gue masuk lagi. Cium dulu dong cium." Bina akan mencium pipinya. Sontak Langit mendorong sahabatnya itu. Geli.
"Hih gak mau."
"Ish jahat lo. Gue kangen Langit." Bina merengek. Langit mendengus.
"Gak cium juga kali."
"Lagian. Lo gue bilang kemarinn mau mampir ke rumah ya dilarang. Kan ngeselin.
Orang mau nengok teman sakit gak dikasih."
Bina mengerucutkan bibirnya.
Langit meringis. Bina memang chat dia mau datang. Langit sih langsung bilang gak usah. Alasannya karena kemarin akadnya dengan Bumi. Akan jadi bencana jika ketauan.
"Lagian kan gue udah bilang. Gue bakal masuk hari ini. Gue gak sakit parah kok."
"Tetap aja ya gue itu teman yang baik."
Bina melipat tangannya. Dia yang menyadari ada Alden tersenyum lebar.
"Eh Alden. Lo di sana ya dari tadi? Pagi Aldeen ...," sapanya semangat.
"Hm." Alden hanya berdehem cool dan memberikan anggukan.
"Ayo kita masuk kelaaas!"
Bina menarik Langit semangat. Keduanya berjalan beriringan. Sementara Alden ngekor saja di belakang.
"Pak Ego tuh sibuk banget nanyain. Langit belum masuk juga? Sepi Pak ego tanpa lo Ngit."
Langit tertawa. "Iya ya? Rindu tuh Pak Ego karena gue gak masuk BK lagi. Eh, mampir dulu kali ya kita ke ruangan BK. Nyapa Pak Ego?" sarannya mendapat anggukan Bina.
"Gak jadi belajar?" Alden di belakang nyeletuk. Kedua gadis itu menoleh. Langit menepuk jidat.
"Iya gue lupa hehe."
"Belajar apa sih? Belum juga bel." Kening Bina mengernyit.
"Gue kan udah tiga hari gak masuk les.
Jadi banyak ketinggalan juga. Jadi Alden tuh mau ajarin biar entar les bisa sesuaikan."
Bina membulatkan bibirnya paham.
Keduanya tetap melanjutkan langkah ke kelas.
Langit usai taruh tas dan mengambil buku lesnya, bergabung ke meja Alden dan Hugo.
Ia juga melihat sesaat meja Bumi yang masih kosong sama tas.
"Lo gak berangkat bareng Bumi, Hugo sama Liam?" tanyanya. Kepo saja mana Bumi. Padahal Langit sih tahu ya Bumi kalau gak di detik bel masuknya atau telat. Sebenarnya bisa
Aja Langit chat Bumi. Tidak ada masalah lagipula jika menanyai suami sendiri. Tapi aneh saja rasanya. Biasanya Langit tidak pernah tanya Bumi lagi di mana?
"Mereka telat," Alden mengeluarkan buku dan penanya.
Langit mengangguk. Ia juga membuka bukunya. Siap diajarin Alden untuk materi les. Alden mengajarinya dengan lembut dan sabar. Menjelaskan setiap materi dan mengulang jika Langit tidak paham.
"Widi Langit udah sehat. Masuk-masuk rajin benar." Beberapa temannya yang baru masuk kelas menggodanya.
Langit melambaikan tangan. "Iya tahu kok kalian kangen gue kan?"
"Ada oleh-oleh gak Ngit?"
"Heh gue sakit. Gak liburan." Dia melotot kesal. Mereka tertawa.
"Ih udah sana. Jangan ganggu gue. Gue lagi diajarin Alden nih. Biar otak pintarnya pindah."
"Jangan kerajinan Ngit. Lo kalau gak berulah sepi juga." Yang lain menyelutuk.
"Tenang. Jiwa bandel gue masih belum hilang. Ntar kalau mau gue beraksi. Ini nahan diri aja nih," kekehnya.
"Gue gak terima ya Ngit lo nyaingin gue." kelakar Minda, si juara dua setelah Alden. Langit hanya menanggapi dengan tawa. Ia melanjutkan belajar bersama Alden sebelum bel.
Dua menit menjelang bel. Bumi, Hugo dan Liam masuk kelas lewat pintu belakang. Bumi dengan jaket bombernya dan satu tali tas digantung di pundak kanan. Sedang satu tangan lainn menyelip di saku celana. Menarik perhatian teman-temannya.
Di belakang Bumi. Ada Hugo dengan bandana merah di kepalanya dan Liam dengan kemeja tidak dikancing dan dalamnya kaus hitam. Di telingganya ada earphone.
"Assalamu'alaikum ahli kubur." salam Hugo mendapat pelototan. Kelas sedikit riuh di pagi hari.
Perhatian Bumi awalnya pada meja Langit yang sudah ada tas. Tidak menemukan orangnya dia mengedarkan pandang hingga melihat Langit duduk bersebelahan dengan Alden.
Ia memperhatikan keduanya yang jelas tampak sedang belajar. Bumi juga tahu soal Langit yang memang minta diajarin sama Alden. Tapi melihat keduanya saat ini kenapa ada ketidaknyamanan di hatinya?
Di pagi hari yang masih sejuk ini dia merasa panas.
Ada apa dengannya?