Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-24
Satu minggu telah berlalu begitu saja setelah kejadian itu...kini Nara dan Arkan kembali beraktifitas seperti biasa..
Suasana kantor kembali berjalan normal. Nara kembali menjadi sekretaris yang tangguh dan efisien, sementara Arkan kembali menjadi CEO yang wibawa. Namun, siapa sangka di balik profesionalisme itu, terselip kebahagiaan yang luar biasa. Mereka merasa aman, merasa damai, dan seolah semua badai sudah berlalu pergi.
jam makan siang..
Nara beserta dua temannya duduk menikmati makan siang di kantin kantor yang cukup sepi.
"Nah gini kan enak! Akhirnya bisa makan tenang tanpa ada gangguan!" seru Mona sambil menyantap makanannya dengan lahap. "Gak ada si Raka, gak ada si Sarah yang suka nyinyir. Dunia jadi indah banget ya kan Nar?"
Nara tersenyum lebar, wajahnya terlihat lebih cerah dan glowing. "Iya... aku juga berharap begini terus. Rasanya kayak mimpi banget bisa tenang kayak gini."
"Eh tapi beneran lho Nar," celetuk Ayu sambil menatap Nara lekat-lekat. "Kamu tuh sekarang beda banget. Rasa bahagia itu keliatan banget dari mata kamu. Arkan emang beneran obat paling ampuh buat kamu ya?"
Nara tertawa kecil, pipinya sedikit merona. "Iya lah... dia itu kan pahlawanku. Udah gitu sekarang perhatiannya luar biasa banget. Sampe kadang aku malu sendiri, masa bos muda ganteng banget begitu rela ngelayanin aku terus."
"Yaudah syukurin aja! Emang kalian jodoh!" sahut Mona semangat.
Mereka bertiga tertawa lepas, menikmati momen kebersamaan itu. Nara benar-benar merasa semua ketakutannya hilang. Ia merasa dirinya wanita paling beruntung di dunia.
Namun... kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba...
BRAAKK!!
Pintu kantin itu ditendang terbuka dengan kasar!
Semua orang yang sedang makan langsung terdiam dan menoleh kaget. Datanglah beberapa pria bertato berbadan besar dengan wajah garang, dan di belakang mereka... berdiri Sarah dengan senyum miring yang sangat menyeramkan.
"Permisi...maaf ya ganggu kalian sebentar,soalnya ada yang mau aku bawa pulang nih," ucap Sarah lantang, matanya langsung menatap tajam ke arah Nara.
Nara langsung berdiri kaget, jantungnya mencelos. "Sarah?! Kamu ngapain disini?! Dan siapa mereka?!"
"Mereka? Mereka teman-teman baru aku," jawab Sarah sinis. Ia memberi isyarat tangan, dan langsung dua pria besar itu maju menyerbu ke arah meja Nara.
"TANGKAP DIA!! BAWA DIA KEMARI!!" perintah Sarah.
Mona dan Ayu langsung berdiri menghalangi, "JANGAN SEMBARANGAN! INI KANTOR! KALIAN GILA YA?!" teriak mereka berani.
Tapi apa daya, satu pukulan cepat dari pria itu membuat Mona dan Ayu terpelanting jatuh, tak berdaya.
"MONA!! AYU!!" teriak Nara histeris.
"Jangan berisik! Kalian berdua diam di situ!" hardik salah satu pria itu.
Nara mencoba lari, tapi ia terlalu lambat. Tangan kasar langsung mencengkeram lengannya kuat-kuat, menariknya paksa.
"LEPAS! LAPASKAN AKU!!" teriak Nara sekuat tenaga, berjuang melepaskan diri tapi tak berdaya.
Sarah mendekat ke wajah Nara yang menangis ketakutan.
"Kau pikir semuanya selesai ya Janda?! Kau pikir setelah Raka hilang kau bisa hidup tenang?!" bisik Sarah penuh dendam. "Salah! Aku belum selesai sama kamu! Kali ini aku akan bawa kamu ke tempat yang bahkan Arkan pun tidak akan bisa menemukan mayatmu!"
"BAWA DIA PERGI!!"
Pria-pria itu pun menyeret Nara keluar kantin dengan paksa, meninggalkan karyawan lain yang pada panik dan meringkuk ketakutan, serta Mona dan Ayu yang tergeletak tak berdaya di lantai.
_________
Arkan yang baru saja kembali kekantor setelah meeting dengan beberapa investor di luar kantor,mengernyit bingung saat melihat ada beberapa petugas kepolisian..
ia mendekat dan bertanya..
"Maaf Pak, ada kejadian apa ini? Kenapa kantor saya didatangi polisi?" tanya Arkan dengan wajah datar namun tatapannya mulai waspada.
Salah satu petugas menoleh, "Anda pemilik kantor ini? Kami mendapat laporan adanya pengeroyokan dan penculikan di area kantin tadi siang, Pak."
Deg!
Darah di tubuh Arkan seakan berhenti mengalir. Penculikan?!
"Siapa yang diculik?! Cepat katakan!!" desak Arkan dengan nada tinggi, tangannya mencengkeram bahu petugas itu kuat-kuat.
"Kami belum tahu identitas pastinya, tapi saksi mata menyebutkan korbannya adalah wanita yang bekerja disini, dan pelakunya membawa wanita itu dengan paksa," jawab petugas itu.
Tanpa menunggu lagi, Arkan langsung berlari menuju lift dengan napas memburu. Kakinya terasa lembek, pikirannya langsung tertuju pada satu nama.
Nara!!
Saat pintu lift terbuka di lantai kerjanya, pemandangan yang membuat darah Arkan mendidih langsung terlihat. Mona dan Ayu sedang duduk dibantu rekan kerja lain dengan wajah memar dan menangis.
"MONA!! AYU!!" teriak Arkan.
Melihat kedatangan Bos mereka, kedua wanita itu langsung menangis lebih keras.
"PAK ARKAN!! NARA DICULIK!! DICULIK SAMA SARAH!!" teriak Mona histeris.
"Sarah datang bawa preman-preman besar Pak! Mereka mukul kami, terus mereka bawa Nara secara paksa! Kami nggak bisa nahan!" cerita Ayu terbata-bata sambil menunjukkan luka lebam di lengannya.
Arkan berdiri kaku di tengah lorong. Matanya membelalak lebar, memancarkan api neraka yang siap melahap segalanya. Wajahnya yang biasanya pucat kini berubah merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
"Sarah... SARAH?!" geramnya pelan, suaranya terdengar serak dan berat bagaikan gemuruh di dalam gua. "Berani sekali kau menyentuh apa yang paling aku sayangi... BERANI SEKALI!!"
Pria itu tidak menangis, tidak juga berteriak kencang. Tapi justru keheningannya itu yang jauh lebih menakutkan. Aura mematikan itu begitu pekat hingga membuat semua orang di sekitarnya mundur perlahan ketakutan.
Arkan mengeluarkan ponselnya, jari-jarinya bergerak cepat memencet tombol panggilan.
"Halo... kumpulkan semua orang. Siapkan senjata. Kita ada perang besar hari ini," ucap Arkan dingin tanpa emosi. "Dan temukan lokasi Sarah. Hidup atau mati, aku mau mereka berdua ada di depanku dalam waktu satu jam!"
Arkan menutup teleponnya, lalu menatap tajam ke arah pintu keluar.
"Kau minta mati Sarah... dan aku akan mengabulkan permintaanmu dengan senang hati," bisiknya penuh dendam.
________
Di sebuah gudang tua yang terletak di pinggiran kota, jauh dari keramaian...
Nara terikat kuat di sebuah tiang besi. Tangannya terikat di belakang punggung, mulutnya disumpal, dan air matanya terus mengalir membasahi pipi.
Di hadapannya, Sarah berdiri dengan wajah yang sudah tidak waras. Matanya merah, rambutnya berantakan, dan ia tertawa-tawa kecil dengan nada histeris.
"Gimana rasanya jadi tawanan, Tante? Enak gak?" cibir Sarah sambil memutar-mutar pisau tajam di tangannya. "Kau pikir kau bisa menang terus? Kau pikir karena Arkan sayang sama kamu, kamu jadi kebal ya?!"
Nara menggeleng-gelengkan kepala, matanya memohon. "Lepasin aku... tolong..." isaknya dalam hati.
"Kamu tahu gak? Aku benci banget liat muka kamu! Muka sok anggun, muka sok dewasa! Padahal kan cuma janda sialan!" Sarah menampar pipi Nara dengan keras.
Plaak!
BERSAMBUNG...