Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Dansa yang Penuh Jebakan
Sisilia menyambut mereka dengan aroma jeruk yang manis bercampur bau garam laut yang tajam, namun di balik keindahan Mediterania itu, maut sedang bersolek. Villa d’Este, sebuah istana kuno yang bertengger di tebing terjal menghadap Laut Ionia, menjadi lokasi perjamuan yang dijanjikan oleh The Crimson Fang. Malam ini bukan tentang baku hantam di hutan atau kejar-kejaran mobil; malam ini adalah tentang topeng, gaun sutra, dan belati yang disembunyikan di balik senyuman.
Aiden Volkov berdiri di depan cermin besar di kamar suite mereka. Ia mengenakan tuksedo hitam pekat dengan potongan sempurna yang menyembunyikan holster senjata di balik pinggangnya. Wajahnya kembali menjadi topeng marmer yang dingin, namun matanya terus melirik ke arah pintu kamar mandi tempat Ziva sedang bersiap.
"Ziva, kau sudah siap? Kita tidak bisa datang terlambat ke sarang serigala," suara Aiden berat, bergema di ruangan yang dipenuhi furnitur Barok itu.
Pintu terbuka, dan Aiden merasakan jantungnya berhenti berdetak sejenak. Ziva keluar mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang menjuntai indah, kontras dengan kulitnya yang bersih. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya. Di lehernya melingkar kalung permata pemberian Aiden—perhiasan yang bukan hanya simbol kemewahan, tapi juga alat pelacak dan pertahanan terakhir.
"Bang... gue ngerasa kayak bungkusan kado mahal. Lu yakin gue nggak bakal keserimpung gaun sendiri pas lagi lari nanti?" Ziva meringis sambil mencoba berjalan dengan sepatu hak tinggi yang membuatnya tampak lebih anggun namun tetap merasa tersiksa.
Aiden menghampirinya, memegang kedua bahu Ziva. "Kau tidak akan lari, Ziva. Kau akan berdansa. Tetaplah di dekatku, jangan minum apa pun yang tidak dituangkan oleh Marco, dan jangan lepaskan pandanganmu dari pintu keluar."
Villa d’Este bermandikan cahaya lilin dan lampu kristal saat limusin hitam Aiden tiba. Musik klasik mengalun lembut, bercampur dengan denting gelas sampanye. Ratusan tamu dari kalangan elit dunia bawah tanah Eropa hadir, masing-masing dengan agenda tersembunyi.
Saat Aiden masuk dengan Ziva di lengannya, suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada Sang Naga Hitam dan "Bunga Matahari"-nya. Aiden berjalan dengan dagu terangkat, memancarkan aura dominasi yang membuat orang-orang secara tidak sadar memberikan jalan.
Di ujung aula, berdiri seorang pria paruh baya dengan rambut putih klimis dan setelan jas abu-abu perak. Don Lorenzo, pemimpin tertinggi The Crimson Fang yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang.
"Volkov," Lorenzo merentangkan tangannya seolah menyambut saudara lama. "Senang melihatmu masih utuh setelah insiden Alpen yang... malang itu."
"Lorenzo," Aiden menjabat tangan pria itu dengan cengkeraman yang cukup kuat untuk mematahkan tulang jika ia mau. "Terima kasih atas undangannya. Aku tidak tahu kau punya selera bagus dalam memilih tempat untuk menyerah."
Lorenzo tertawa kecil, matanya beralih ke Ziva. "Dan ini adalah alasan kegilaanmu belakangan ini? Cantik sekali. Seperti mawar yang mekar di tengah medan perang."
Ziva hanya memberikan senyum kaku yang bermakna 'jangan-macem-macem-sama-gue'.
Musik berganti menjadi waltz yang dramatis. Lorenzo memberi isyarat agar pasangan-pasangan mulai turun ke lantai dansa. "Bagaimana kalau kita merayakan 'perdamaian' ini dengan sebuah tarian, Volkov?"
Aiden menarik Ziva ke tengah aula. Saat mereka mulai bergerak mengikuti irama musik, Aiden berbisik sangat pelan di telinga Ziva. "Marco melaporkan ada penembak jitu di balkon lantai dua. Di arah jam dua dan jam sepuluh. Jangan menoleh."
Ziva menelan ludah, mencoba tetap mengikuti langkah dansa Aiden yang sempurna. "Bang, kaki gue gemeter. Ini dansa apa mau eksekusi mati?"
"Tersenyumlah, Ziva. Dunia sedang menonton kita," Aiden memutar tubuh Ziva dengan lembut. "Lihat pria di sebelah kananmu, yang mengenakan topeng emas? Dia membawa pemicu ledakan di saku jasnya. Dan wanita di sebelah kiri? Dia ahli racun dari Marseille."
"Gila... ini pesta apa perkumpulan psikopat?" Ziva mencoba tetap tenang, meski ia bisa merasakan ketegangan yang merambat dari tangan Aiden.
Setiap putaran dansa terasa seperti navigasi di medan ranjau. Aiden menggunakan tubuhnya untuk selalu menutupi Ziva dari sudut pandang penembak jitu. Mereka berdansa di atas lantai marmer yang mengkilap, yang di mata Aiden, sudah tampak seperti genangan darah yang menunggu untuk tumpah.
Tepat saat musik mencapai puncaknya, lampu aula mendadak padam. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan selama dua detik sebelum suara tembakan pertama merobek udara.
BANG!
Aiden langsung menarik Ziva jatuh ke lantai, melindunginya dengan tubuhnya saat pecahan lampu kristal menghujani mereka seperti hujan meteor.
"Marco! Sekarang!" raung Aiden melalui mikropun tersembunyi di kerah bajunya.
Dalam kegelapan, cahaya laser merah mulai berpendar dari arah balkon. Namun, sebelum para penembak jitu bisa menarik pelatuk, tim elit Volkov yang sudah menyusup sebagai pelayan mulai beraksi. Suara baku hantam dan rintihan kesakitan terdengar di sela-sela kegelapan.
Lampu darurat berwarna merah menyala, menciptakan atmosfer neraka di dalam villa mewah itu. Lorenzo sudah menghilang dari posisinya, namun para pengawalnya mulai mengepung Aiden dan Ziva di tengah lantai dansa.
"Ziva, pegang ini!" Aiden memberikan sebuah pistol kecil yang ia sembunyikan di balik betisnya kepada Ziva. "Lari ke arah dapur, Marco menunggumu di sana!"
"Lu gimana, Bang?!"
"Aku punya janji yang harus kuselesaikan dengan Lorenzo. Pergi!"
Ziva berlari menembus kekacauan. Gaun merahnya yang indah kini tersingkap saat ia melompati meja prasmanan. Seorang pengawal mencoba menangkapnya, namun Ziva tidak menggunakan pistolnya. Ia meraih botol sampanye besar dari meja dan menghantamkannya ke kepala pria itu.
BYARRR!
"Rasain tuh alkohol mahal!" teriak Ziva sambil terus berlari.
Sementara itu, Aiden mengejar Lorenzo hingga ke balkon luar yang menghadap langsung ke jurang laut yang gelap. Angin kencang menerbangkan jas Aiden, memperlihatkan aura keganasan yang selama ini ia tekan demi Ziva.
"Kau tidak bisa menang, Volkov! Sisilia adalah tanahku!" teriak Lorenzo sambil menodongkan senjata.
"Tanahmu akan menjadi makammu, Lorenzo," Aiden berjalan maju tanpa rasa takut. "Kau melakukan kesalahan terbesar dengan melibatkan Ziva. Kau tidak menyerang bisnisku; kau menyerang jiwaku."
Lorenzo melepaskan tembakan, namun Aiden berguling di balik pilar marmer, membalas dengan dua tembakan akurat yang mengenai bahu dan kaki Lorenzo. Pria tua itu jatuh terduduk di tepi pagar balkon.
Aiden menghampirinya, mencengkeram leher Lorenzo dan menekannya ke arah jurang. "Di mana gudang dokumen yang kau curi?"
Lorenzo meludah darah, tersenyum sinis. "Sudah terlambat... gadis itu... dia menuju jebakan yang sebenarnya."
Mata Aiden melebar. Ia segera menoleh ke arah dapur dan melihat sebuah ledakan kecil menghancurkan pintu keluar yang seharusnya menjadi jalur evakuasi Ziva.
Aiden tidak membuang waktu untuk menghabisi Lorenzo; ia membiarkan pria itu merintih dan langsung berlari menuju arah ledakan. Di tengah asap yang mengepul, ia melihat Ziva terpojok oleh tiga orang pembunuh bayaran yang menggunakan topeng gas.
Ziva tampak terbatuk-batuk karena asap, namun ia masih memegang pistolnya dengan tangan gemetar. "Jangan... jangan deket-deket! Gue jago nembak burung puyuh ya kalau di kampung!"
Aiden menerjang dari balik asap seperti bayangan maut. Dengan gerakan yang brutal dan efisien, ia mematahkan leher orang pertama dan menembak dua lainnya tepat di dada sebelum mereka sempat bereaksi.
"Ziva!" Aiden menarik Ziva ke dalam pelukannya, memeriksa setiap jengkal tubuh gadis itu. "Kau terluka?"
"Gue... gue nggak apa-apa, Bang. Cuma gaun gue sobek," Ziva terengah-engah, air mata mulai mengalir karena sisa rasa takut dan asap yang pedih. "Bang, tempat ini mau meledak katanya! Tadi gue denger mereka bilang ada bom di bawah lantai dansa!"
Aiden segera menggendong Ziva. "Marco, jemput kami di dermaga bawah! Sekarang!"
Mereka berlari menuruni tangga rahasia yang menuju ke dermaga pribadi di bawah tebing. Di belakang mereka, Villa d’Este mulai bergetar saat serangkaian ledakan menghancurkan fondasi bangunan tersebut. Istana megah itu perlahan runtuh ke arah laut, menelan segala intrik dan musuh di dalamnya.
Sebuah kapal cepat (speedboat) hitam sudah menunggu di dermaga. Marco memegang senapan mesin, memberikan tembakan perlindungan saat Aiden dan Ziva melompat ke dalam kapal.
Kapal itu melesat membelah ombak malam Mediterania tepat saat bagian utama villa meledak hebat, menciptakan kembang api maut di atas langit Sisilia. Cahaya ledakan itu memantul di wajah Aiden yang kini dipenuhi jelaga dan darah, namun matanya tetap tertuju pada Ziva yang meringkuk di kursi penumpang.
"Kita aman," bisik Aiden sambil menyelimuti Ziva dengan jasnya yang robek.
Ziva menatap ke arah villa yang kini tinggal puing-puing di atas tebing. "Pesta dansanya... buruk banget, Bang. Lain kali kalau mau dansa, di ruang tamu lu aja yang nggak ada bomnya."
Aiden tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kelegaan dan kepedihan yang mendalam. Ia menyadari bahwa setiap detik di dunia ini adalah jebakan, namun selama ia memiliki Ziva, ia punya alasan untuk terus menghancurkan jebakan-jebakan itu.
"Bang Don," panggil Ziva pelan.
"Ya?"
"Makasih udah dansa sama gue. Meskipun berakhir baku hantam, itu dansa paling keren dalam hidup gue."
Aiden menarik Ziva ke dalam dekapan hangatnya di tengah deru mesin kapal dan deburan ombak. Di kejauhan, lampu-lampu Sisilia mulai menjauh, namun perang mereka belum benar-benar berakhir. Mereka telah selamat dari pesta dansa yang penuh jebakan, namun mereka tahu, di dunia mafia, setiap kemenangan adalah awal dari perburuan yang baru.
Malam itu, di bawah langit Sisilia yang kelam, Sang Naga Hitam berjanji dalam hati: ia tidak akan membiarkan Bunga Mataharinya layu di tangan siapa pun, bahkan jika ia harus menenggelamkan seluruh Italia ke dasar laut.