NovelToon NovelToon
Penyesalan Seorang Suami

Penyesalan Seorang Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19.

Mas Ivan pun datang dengan Reyhan yang berada digendongannya, Reyhan terlihat menangis tersedu sedu. Sebisa mungkin aku mendongakkan wajahku, tapi ntah kemana hilangnya tenagaku ini, aku merasa benar benar tidak berdaya.

"Nih anakmu nangis!" ucap Mas Ivan ketus, sembari menyerahkan Reyhan kepadaku.

Tangisan Reyhan langsung terhenti kala dia menatap wajahku, 'apa wajah ibu semenyedihkan itu Nak, sampai balita seperti mu bisa mengerti.' batinku.

Melihat tubuhku yang lemas dan tidak berdaya, Mas Ivan menarik lengan tanganku. Agar aku bisa berdiri, tapi wajahnya terlihat kesal, saat aku tidak punya lagi tenaga untuk berdiri.

Dia pun menyeret tubuhku ke atas kasur usang milikku, kasur yang aku bawa dari rumah lamaku 10 tahun yang lalu.

Dengan kasar, dia membalikkan tubuhku dengan Reyhan yang masih berada dalam gendongannya.

"Dasar wanita lemah, gak berguna. Hanya bisa menyusahkan saja!" bentak Mas Ivan dengan suara meninggi.

"Nih buruan Reyhan susui, sepertinya dia itu haus," ucapnya lagi dengan nada kasar.

Aku melirik ke arah jendela sembari memberikan kode untuk Rihana dan suaminya agar segera pergi dari sini.

Tapi sepertinya mereka tidak mengerti dengan kode yang aku berikan.

"Lihat apa sih! Fokus itu sama anakmu. Di bukalah kacamata dadanya, kalau begini mana bisa anakmu itu nyusu," bentak Mas Ivan untuk kesekian kalinya.

Aku hanya menahan perih di dada saat dia membuka paksa kacamata dadaku, hingga kain kacamata dadaku itu mengenai kulit dadaku yang terluka akibat sabetan sabuk Mas Ivan.

Reyhan melihat ku dengan bola mata berkaca kaca, 'Ibu mohon Nak, jangan nangis. Kalau kamu yang nangis, air mata yang sedari tadi ibu tahan, bisa tumpah Nak,' batinku.

Aku melihat Mas Ivan yang berjalan pelan ke arah jendela kaca kamarku, Mas Ivan terlihat jalan dengan langkah kaki pelan dan juga mengendap endap.

Ya Allah semoga saja, Rihana dan suaminya sudah pergi menjauh dari kamarku.

Mas Ivan terlihat menutup jendela kamarku dengan kasar, dia memasang wajah bingung. Mungkin karena seingatnya, tadi jendela kamarku memang dalam tertutup.

Aku memilih untuk kembali menatap Reyhan yang sekarang ini sedang menyusu dengan anteng. Reyhan biasanya memainkan kulit dadaku, tapi sekarang Reyhan tidak melakukannya mungkin anak itu tahu. Jika ibunya memang dalam keadaan yang tidak baik baik saja.

Mas Ivan pun keluar dari kamarku, air mataku pun luruh. Aku menangis tersedu sedu dalam diam, padahal saat ini pikiran ku sedang kosong. Aku sengaja tidak memikirkan apapun, untuk menghilangkan rasa sakit di tubuhku yang sekarang benar benar menyiksaku.

Tak berselang lama, Mas Ivan pun masuk kembali ke dalam kamar.

Aku mencoba melihat ke arah lain, agar tidak melihat ke arah Mas Ivan sekarang ini.

"Hmm, Reyhan sepertinya sudah tidur Dek. Biar Mas bawa dia masuk ke dalam kamar," ucapnya sembari menggendong Reyhan pergi meninggalkan kamarku.

Tiba tiba air mataku pun berhenti luruh, setelah mendengar nada suaranya mulai tenang. Dan dia kembali memanggil ku dengan sebutan Dek, sama sepertiku yang selalu menyebutnya dengan panggilan sayang, yaitu Mas Ivan.

Tiba tiba Mas Ivan pun datang kembali untuk membantuku duduk, "Apakah sakit?" tanyanya dengan lembut.

Sebenarnya beginilah sikapnya setiap aku tidak melakukan kesalahan. Dia selalu memperlakukanku dengan baik dan lembut. Walaupun pastinya selama ini, aku tidak pernah dianggap ada oleh Mas Ivan.

Aku hanya berani menundukkan kepala ku. Dengan gerakan lembut, Mas Ivan melepaskan kaca mata dadaku.

Membuat tubuhku sekarang ini dalam keadaan polos. Lalu dia terlihat membersihkan luka luka di tubuhku dengan waslap yang sudah di masukan ke air hangat.

"Dek, maaf jika Mas tadi kasar dan juga menyakitimu. Mas cuman cemburu Dek, saat kamu bersama dengan pria lain, apalagi pria itu terlihat jauh lebih kaya dari Mas," ucapnya dengan nada suara penuh penyesalan. Tangannya dengan cekatan terus membersihkan luka luka akibat cambukan yang dia lakukan tadi.

Melihat Mas Ivan yang menyesal, seketika rasa sakit di hatiku pun menghilang. Apakah aku seorang bucin bodoh? Ya mungkin saja, apalagi sekarang Mas Ivan mengeluarkan air mata. Semakin membuatku merasa tidak tega melihat wajah suamiku itu menangis.

Mungkin karena salahku juga, selama ini Mas Ivan selalu semena mena dan melakukan hal seenaknya padaku, tapi aku tidak pernah sama sekali menegur atau memarahinya. Karena mungkin aku selalu mengatakan tidak apa apa untuk kesalahan yang dia perbuat.

Karena aku pikir, Mas Ivan itu seperti almarhum bapak kandungku, yang begitu mencintai ibukku. Jadi sama sama tahu diri dan tidak saling menyalahkan ataupun saling menyakiti.

Tapi ternyata Mas Ivan dengan almarhum bapak itu berbeda, mungkin karena almarhum bapak begitu mencintai ibukku dan Mas Ivan mungkin .. akh sudahlah. Nyatanya tegas dan marah dengan Mas Ivan saja aku tidak mampu.

Dengan sekuat tenaga, aku pun meletakkan kedua tanganku di atas tangannya. Aku hanya bisa menjawab ucapannya itu dengan menggeleng gelengkan kepalaku. Untuk memberikan kode kalau aku tidak apa apa.

"Tapi tadi yang Mas lakukan sebenarnya tidak salah Dek, itu bukti karena Mas sangat menyayangimu. Makanya Mas itu harus menghukummu, karena memang kamu itu salah, karena melakukan dosa besar, dari pada Tuhan menghukummu nanti, kan mendingan Mas yang menghukummu. Tapi Mas mohon, besok kamu harus ikut Mas ke bidan ya, buat aborsi janin yang sedang kamu kandung. Karena itu bukan anak Mas," ucap Mas Ivan dengan nada santai. Seperti orang yang sama sekali tidak mampunyai beban.

Aku hanya membulatkan mataku sembari menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku sebenarnya ingin menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi, tapi mengeluarkan sepatah katapun, aku sangatlah kesulitan.  Karena tenggorokan ku yang sangat kering.

"Mas, aku haus," ucapku dengan nada terbata bata.

"Oh." Mas Ivan terlihat berdiri dan mengambilkan ku air minum.

Reyhan tadi kembali tidur dengan pulas, ntah dia tidur atau hanya pura pura. Itulah hal yang membuatku kadang tidak bisa lepas dari Mas Ivan. Karena dia mengancam akan membuatku tidak bisa melihat Reyhan lagi, jika aku kembali mengajukan gugatan cerai padanya.

Tak berselang lama, Mas Ivan pun datang dengan segelas air putih. Lalu dia menyerahkan segelas air putih itu padaku untuk aku minum. Melihat tanganku yang tidak kuat memegang segelas air putih itu. Mas Ivan pun akhirnya membantuku minum. Walaupun hanya melakukan hal yang kecil seperti ini, tapi Mas Ivan selalu dapat meluluhkan hatiku.

"Lihat kalau tubuhmu tidak berdaya seperti ini! Kalau bukan Mas yang membantumu itu siapa lagi? Terus kamu jangan lupa ya Renata, saat kamu dulu jadi sebatang kara karena ditinggal mati oleh kedua orang tuamu itu. Hanya Mas dan kedua orang tua Mas yang mau menerima mu dan merawatmu dengan baik. CAMKAN ITU!" ucap Mas Ivan dengan nada penuh penekanan.

Ucapan Mas Ivan yang selalu di ulang ulang setiap harinya sepanjang 10 tahun pernikahan kami.

Aku hanya mengangguk patuh. Setelah melihat jawabanku, dia berdiri ke arah lemari usang milikku, lalu mengambilkan sebuah daster untuk aku pakai.

Dengan hati hati dan juga telaten dia memakaikan ku daster itu.

"Kamu pasti lapar kan, karena belum makan. Biar Mas belikan makanan dulu ya? Mas inget deh, dulu waktu kita belum menikah, kamu suka banget kan sama mie ayam. Mas pergi dulu buat beliin ya," ucap Mas Ivan lembut sembari mengelus elus pucuk kepalaku.

Aku memandangnya dengan pandangan mata berbinar, sungguh bukanya aku membisu saat suamiku itu mengajakku untuk berbicara. Tapi memang rasanya aku tidak punya tenaga sama sekali. Sekedar untuk menjawab apa yang dia ucapkan. Perasaanku sekarang ini benar benar membaik.

Tak berselang lama Mas Ivan pun benar benar pergi meninggalkan rumah, aku bisa dengar dari suara pintu rumah yang di tutup.

Tok

Tok

Aku mendengar suara jendela ku pun diketuk dari arah luar. Karena tenagaku sekarang ini terasa sudah sedikit terisi. Mungkin akibat mood ku yang sudah membaik.

Aku pun mempunyai sedikit tenaga untuk merangkak ke arah jendela. Aku takut jika ketukan jendela itu terus dibiarkan, akan membuat Reyhan terbangun dari tidurnya.

Aku pun merangkak naik dengan bertumpu pada tembok, untuk membuka kaca jendela itu.

"Dion," gumam ku lirih. Mungkin dia tidak bisa mendengar suaraku.

"Mbak Rena, ini ada air mineral, bubur dan juga roti dari Rihana. Dia sudah tak anter pulang Mbak, soalnya Keyla nangis terus, mungkin anakku itu lelah dan pengen tidur di rumah," ucap Dion sembari menyerahkan 2 bungkus roti satu cup bubur dan juga air mineral.

"Makasih," ucap ku sangat lirih, tapi ku pikir Dion mengerti saat melihat pergerakkan bibirku.

"Ya udah Mbak, kalau gitu permisi. Takutnya Mas Ivan salah paham, dia kan pencemburu berat," ucap Dion pamit, aku pun mengangguk paham.

Aku teringat dulu, Mas Ivan sering memarahi Dion karena terlalu dekat dengan ku. Membuat hubungannya dengan Dion merenggang sampai sekarang ini.

Saat aku ingin menutup kembali jendelaku, tiba tiba ada suara Mas Ivan yang memanggil Dion dengan suara marah dari arah luar.

"Ya Allah apa lagi ini," gumam ku.

1
Uthie
Gak sabar terus mantau kelanjutan cerita yg penuh nguras emosi ini 👍👍😆
Uthie
dasar laki Lucknut 😡
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
Uthie
Nahhh lohhhhh.... 🤨
Uthie
Ada udang di balik batu kah itu 😏😏
Uthie
Ini masih POV ke belakang kan ya???
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
Uthie
Yaaa ampun.... miris banget dan ikut sakit bacanya Thor 👍😭
Uthie
dasarnya wanita jahat 😡😤
Uthie
hmmmm... lucknut banget emangnya si Ivan😡😤
Uthie
makaya jangan jadi wanita bodoh dan malah menyakiti diri sendiri 😤
Uthie
istrinya terlalu pasrah dan lemah!
Uthie
suami lucknut 😡
Uthie
Duhhhh... terlalu lemah sihhhh tokoh utamanya 😤😤
Uthie
suami lucknut 😡😡😡😡
Uthie
Sukkkkaaa 👍👍
Uthie
Ada baiknya hati melihat kebaikan orang lain....
Uthie
Jangan terlalu percaya orang yg tidak pantas di percayai 👍😡
Uthie
Baru baca aja udah nyesek😭
dasar suami lucknut 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!