Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Beban di Balik Wasiat
Malam itu, kediaman Arlan terasa begitu sunyi setelah riuh rendah pelayat mereda. Di ruang tengah, Arlan duduk bersandar dengan mata terpejam, sementara Umi dan Abi-nya duduk berhadapan, menatap putra mereka dengan raut prihatin. Di atas meja kayu itu, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal surat wasiat yang ditinggalkan Inggit.
"Inggit sudah memikirkan semuanya, Lan," suara Abi memecah keheningan.
"Bukan hanya lisan di depan kamu dan Hana kemarin, seperti yang kamu ceritakan, tapi dia menuliskannya secara legal. Dia ingin kamu menikahi Hana."
Arlan membuka mata, tatapannya kosong.
"Tapi ini gila, Bi. Hana masih sangat muda. Dia punya masa depan, dan aku... aku baru saja kehilangan istriku."
"Ada hal lain yang harus kamu tahu," lanjut Abi sambil menyodorkan secarik dokumen dari bank.
"Sebagian besar aset dan tabungan yang selama ini kalian kumpulkan telah dibekukan oleh Inggit. Uang itu hanya bisa dicairkan jika pernikahanmu dengan Hana terlaksana. Inggit menuliskan bahwa sebagian besar dana itu harus diserahkan kepada keluarganya kepada adik-adiknya dan orang tuanya sebagai bentuk bakti terakhirnya."
Arlan memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Jadi, secara tidak langsung, Inggit menyandera harta itu agar aku tidak punya pilihan selain menikahi Hana? Karena jika tidak, keluarga Inggit tidak akan mendapatkan bagian mereka, dan mereka akan menyalahkan aku seumur hidup."
"Atau mereka akan menyalahkan Hana, Lan," timpal Umi lembut, mengusap punggung tangan putranya.
"Siska sudah mulai menyerang gadis itu. Jika mereka tahu Hana adalah kunci untuk harta tersebut, Hana akan makin dipojokkan. Mereka akan menuduh Hana merayu Inggit untuk mengatur wasiat ini demi menguasai uang."
Arlan menghela napas panjang, suaranya terdengar sangat lelah.
"Umi, aku tidak punya cukup tenaga untuk ini. Kehilangan Inggit saja sudah membuatku hancur. Bagaimana aku bisa membela Hana di depan badai fitnah keluarga Siska? Aku merasa tidak sanggup melihat wajah Hana yang ketakutan setiap kali mereka memaki."
Umi mengangguk paham, ia tahu putranya sedang berada di titik terendah.
"Kita harus tetap menyampaikan amanat ini, Lan. Ini bukan cuma soal harta, tapi soal ketenangan arwah Inggit. Apapun respon keluarga Siska nanti, kamu harus hadapi sebagai laki-laki."
"Haruskah Hana ikut dalam pertemuan itu?" tanya Arlan ragu.
"Tidak," jawab Abi tegas.
"Membawa Hana ke tengah keluarga Inggit saat ini sama saja dengan melemparkannya ke kandang singa. Biar kita yang bicara pada mereka. Biar mereka tahu bahwa ini murni keputusan Inggit, bukan rencana Hana."
Arlan terdiam, menatap surat itu dengan benci sekaligus haru. Di satu sisi, ia merasa Inggit terlalu mengatur hidupnya bahkan setelah tiada. Namun di sisi lain, ia tahu Inggit melakukannya karena ia tahu Arlan butuh seseorang, dan Inggit merasa Hana adalah satu-satunya yang layak.
"Aku bingung, Umi..." Arlan berbisik lirih.
"Di satu sisi aku ingin melindungi Hana dengan menjauhinya, tapi di sisi lain, satu-satunya cara melindunginya dari fitnah lebih jauh justru dengan menikahinya sesuai wasiat ini. Tapi apakah itu adil bagi Hana?"
***
Suasana ruang tamu kediaman Arlan terasa begitu mencekam. Di satu sisi, Arlan duduk didampingi Abi dan Umi-nya yang berusaha tetap tenang. Di hadapan mereka, keluarga besar almarhumah Inggit duduk dengan wajah-wajah yang memerah karena amarah.
Ada Mama dan Papa Inggit yang tampak terpukul, Siska yang terus bersedekap dada didampingi suaminya, Roy, serta Romi yang menatap lantai dengan tangan mengepal kuat.
"Jadi, apa maksud semua ini, Mas?" Siska membuka suara, suaranya melengking membelah kesunyian.
"Mbak Inggit belum genap tiga hari di liang lahat, dan kalian memanggil kami untuk bicara soal wasiat pernikahan? Benar-benar tidak punya hati!"
"Siska, tolong tenang sedikit," tegur Mama Inggit dengan suara lemah, namun Siska justru makin meledak.
"Tenang bagaimana, Ma? Tuduhanku selama ini terbukti! Mas Arlan memang sudah bermain dengan mahasiswi itu di belakang Mbak Inggit. Kalau tidak, mana mungkin Mbak Inggit yang sedang sakit bisa menulis wasiat segila ini? Hana pasti sudah mencuci otaknya!"
"Jaga bicaramu, Siska!" Arlan akhirnya bersuara, nada suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Inggit menulis ini dalam keadaan sadar sepenuhnya. Dia mencintai Hana seperti adiknya sendiri, dia ingin rumah ini tetap ada yang mengurus."
"Mengurus rumah atau mengurus tempat tidurmu, Mas?" sahut Roy, suami Siska, dengan senyum mengejek yang membuat suasana makin panas.
Romi, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri. Napasnya memburu. Ia melangkah mendekati Arlan dengan mata yang menyala penuh kebencian.
"Jadi ini alasannya, Bang? Abang pakai pengaruh Abang sebagai dosen untuk menarik hati Hana? Abang rebut dia dari aku dengan tameng wasiat istri sendiri?"
"Romi, duduk!" perintah Abi Arlan tegas, namun Romi tidak peduli.
"Aku sudah lama curiga, tapi aku tidak menyangka Abang seberengsek ini!" Romi mengangkat tangannya, siap melayangkan pukulan ke wajah Arlan.
"ROMI, BERHENTI!" teriak Mama Inggit. Ia berdiri dan menarik lengan putra bungsunya itu.
"Ingat di mana kamu berada! Jangan buat malu almarhumah kakakmu!"
Romi menurunkan tangannya perlahan, namun tatapannya tetap menghujam Arlan dengan dendam yang nyata.
Abi Arlan kemudian berdehem, mencoba mengembalikan situasi ke tujuan utama.
"Ada hal lain yang harus kalian ketahui. Inggit membekukan sebagian besar aset gono-gini di bank. Uang itu yang jumlahnya sangat besar, hanya bisa dicairkan setelah pernikahan Arlan dan Hana dilaksanakan. Dan dalam wasiatnya, Inggit meminta sebagian besar dana itu diserahkan kepada kalian, sebagai bentuk baktinya terakhir."
Seketika, ruangan itu menjadi sunyi senyap. Siska yang tadinya ingin berteriak lagi, tiba-tiba terdiam. Roy, suaminya, langsung menoleh dengan mata berbinar penuh minat. Serakah adalah obat yang paling cepat membungkam kemarahan.
"Maksud Abi... uang itu baru bisa kami terima kalau mereka menikah?" tanya Roy, memastikan.
"Benar," jawab Abi singkat.
Siska mendengus, mencoba menyembunyikan rasa haus akan hartanya di balik topeng harga diri.
"Jadi, Mbak Inggit benar-benar menjebak kita semua. Dia tahu kita butuh uang itu untuk menutupi kerugian bisnis Papa."
"Aku tidak sudi menerima uang dari pernikahan hasil zina!" teriak Romi, meski suaranya mulai terdengar ragu.
"Diam kamu, Romi!" Siska menyikut adiknya. Ia menatap Arlan dengan pandangan yang masih penuh kebencian namun penuh perhitungan. "Baik. Kalau memang itu maunya Mbak Inggit, lakukan saja. Menikahlah dengan pelakor itu. Tapi jangan harap aku akan menganggapnya sebagai perempuan baik-baik. Dia tetaplah sampah yang menusuk mbak Inggit dari belakang."
Siska berdiri, diikuti oleh Roy yang tampak puas.
"Segera urus pernikahannya. Semakin cepat mereka menikah, semakin cepat hak kami cair. Dan satu hal lagi, Mas Arlan... beri tahu mahasiswi kesayanganmu itu, dia mungkin memenangkan kamu, tapi dia tidak akan pernah memenangkan kehormatan di mata kami."
Keluarga Inggit melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan Arlan yang kini tertunduk lesu. Ia merasa baru saja menjual dirinya dan Hana demi sebuah amanah yang terasa seperti kutukan. Di sisi lain, ia tahu, mulai saat ini Hana akan menghadapi neraka yang lebih panas dari sebelumnya.