NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Pelajaran Pertama dari Pedang Patah

Malam pertama di Hutan Bisu terasa lebih panjang dari biasanya.

Xiao Chen duduk bersila di depan gua, Yue Que terbaring di pangkuannya. Pedang patah itu tidak lagi memancarkan cahaya seperti saat pertama kali dicabut, tapi kehangatannya tetap ada—seperti bara api yang tertutup abu, menunggu angin untuk menyala kembali.

Hui tidur melingkar di sampingnya. Bulu hitam serigala itu naik-turun mengikuti irama napas. Kadang-kadang, telinganya bergerak-gerak, menangkap suara-suara hutan yang tidak bisa didengar Xiao Chen.

Xiao Chen tidak tidur. Ia tidak bisa.

Terlalu banyak yang terjadi dalam tiga hari. Dilempar ke jurang. Menemukan warisan Ras Dewa Patah. Mempelajari Teknik Tubuh Naga Chaos. Mendapatkan cincin Ruang Warisan. Dan sekarang... pedang yang pernah membunuh Bencana Surgawi.

"Kau tidak akan bisa tidur malam ini," suara Yue Que tiba-tiba terdengar di benaknya. Bukan suara yang keras, lebih seperti bisikan angin. "Energi Chaos di tulangmu sedang beradaptasi dengan keberadaanku. Tidur hanya akan mengganggu prosesnya."

Xiao Chen menatap pedang di pangkuannya. "Kau bisa bicara?"

"Aku tidak bicara. Aku menyampaikan maksud. Ada perbedaan."

Xiao Chen mengerutkan kening. "Kedengarannya seperti bicara bagiku."

"Kalau kau mau mendebat definisi komunikasi di tengah malam di hutan berbahaya, silakan. Tapi aku sarankan kau menggunakan waktumu untuk sesuatu yang lebih berguna."

Pedang ini... galak.

Xiao Chen menghela napas. "Baiklah. Apa yang harus kulakukan?"

"Keluarkan aku dari sarungnya."

"Kau tidak punya sarung."

"Itu kiasan, anak bodoh. Pegang aku. Angkat. Dan mulailah belajar."

Xiao Chen menggenggam gagang Yue Que. Begitu tangannya menutup di sekitar kain lusuh yang membalut gagang itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan aliran energi seperti sebelumnya. Tapi... informasi. Seperti seseorang menuangkan air ke dalam cangkir kosong.

"Ini adalah Jurus Pedang Tanpa Nama—satu-satunya jurus yang kuizinkan kau pelajari untuk saat ini," kata Yue Que. "Tuanku dulu tidak memberi nama jurus-jurusnya. Katanya, nama hanya membatasi. Pedang sejati tidak butuh nama."

Di dalam benak Xiao Chen, bayangan mulai terbentuk. Sebuah siluet manusia—Leluhur Pertama, mungkin—berdiri di atas lautan bintang yang sama seperti di ruang kesadaran sebelumnya. Tangannya memegang Yue Que dalam bentuk utuhnya, sebelum pedang itu patah.

Siluet itu bergerak.

Satu ayunan. Sederhana. Dari atas ke bawah. Seperti anak kecil yang pertama kali memegang pedang kayu.

Tapi saat ayunan itu mencapai titik terendah, bintang-bintang di bawahnya terbelah.

Xiao Chen tersentak. "Apa—"

"Itu Jurus Pertama. Tanpa nama. Hanya ayunan. Tapi lihat lagi."

Bayangan itu mengulangi gerakan yang sama. Kali ini lebih lambat. Xiao Chen memaksakan matanya untuk mengikuti setiap detail. Posisi kaki. Sudut pergelangan tangan. Putaran pinggang. Tarikan napas.

Dan di situlah ia melihatnya.

Saat siluet itu mengayunkan pedang, ada sesuatu yang terjadi di dalam tubuhnya. Bukan Qi. Tapi sesuatu yang mengalir dari tulang-tulangnya—dari seluruh tubuhnya—menuju bilah pedang. Seolah-olah tubuh dan pedang adalah satu kesatuan, dan ayunan itu hanyalah perpanjangan dari kehendak.

"Itulah perbedaan antara kultivator pedang biasa dan Ras Dewa Patah," kata Yue Que. "Mereka menggunakan Qi dari Dantian. Kami menggunakan Energi Chaos dari setiap retakan tulang. Satu sumber melawan ratusan sumber. Kau lihat perbedaannya?"

Xiao Chen mengangguk pelan. Ia mengerti sekarang. Ketika seorang kultivator biasa mengayunkan pedang, kekuatannya berasal dari satu titik, lalu disalurkan melalui meridian. Tapi Ras Dewa Patah... setiap tulang adalah sumber kekuatan. Setiap retakan adalah meridian.

"Bagaimana cara melakukannya?" tanyanya.

"Berdiri. Coba sendiri."

Xiao Chen bangkit. Yue Que di tangan kanannya. Ia menutup mata, mengingat gerakan siluet tadi. Posisi kaki direnggangkan selebar bahu. Lutut sedikit ditekuk. Pinggang rileks tapi siap berputar. Pedang diangkat ke atas kepala.

Tarik napas dengan tulang dada.

"Jangan hanya tulang dada. Libatkan semua."

Xiao Chen mengerutkan kening. Tulang rusuknya yang patah—yang sudah mulai pulih tapi masih terasa retakannya—ia coba bangunkan. Tulang belakangnya, meskipun belum dibangkitkan secara resmi, ia coba rasakan. Tulang lengan, tulang bahu, tulang jari-jemari.

Satu per satu, ia mencoba membuat mereka... bernapas.

Hasilnya kacau.

Energi Chaos mengalir tidak beraturan. Ada yang terlalu cepat, ada yang terlalu lambat. Ada yang tidak mengalir sama sekali. Xiao Chen merasakan tubuhnya seperti orkestra yang semua pemainnya bermain dengan partitur berbeda.

Tapi ia tetap mengayunkan pedang.

Swoosh!

Ayunan itu... payah. Tidak ada bintang yang terbelah. Bahkan daun di depannya tidak bergerak. Yue Que hanya memotong udara dengan suara yang terdengar seperti keluhan.

"Hm."

"Apa itu 'hm'?" tanya Xiao Chen, sedikit tersinggung.

"Untuk percobaan pertama... kau tidak langsung mati. Itu sudah lumayan."

"Mati? Memangnya bisa mati hanya karena mengayunkan pedang?"

"Energi Chaos yang tidak terkendali bisa merobek tubuhmu dari dalam. Kau beruntung retakanmu masih sedikit. Kalau kau sudah membangkitkan lebih banyak tulang dan tetap sekacau tadi, tubuhmu akan meledak."

Xiao Chen menelan ludah. Baiklah. Setidaknya ada kemajuan.

Ia mengulangi gerakan itu. Lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Setiap ayunan, ia mencoba menyelaraskan aliran Energi Chaos dari tulang-tulangnya. Tulang dada dulu, sebagai jangkar. Lalu tulang rusuk, mengikuti irama yang sama. Lalu tulang lengan, menyambung aliran dari dada ke tangan ke pedang.

Satu jam. Dua jam. Langit mulai memucat di ufuk timur.

Pada ayunan ke seratus sekian—Xiao Chen sudah tidak menghitung—sesuatu terjadi.

Wuzzz...

Bukan suara pedang memotong udara. Tapi suara udara yang menyingkir dari pedang. Seolah-olah bilah Yue Que tidak memotong, tapi memerintahkan udara untuk minggir.

Dan di ujung ayunan, sehelai daun yang kebetulan melayang turun di hadapannya... terbelah dua. Bukan terpotong. Tapi terbelah dengan sendirinya, seperti takut pada pedang yang mendekat.

Xiao Chen terpaku. "Itu..."

"Jurus Pertama belum selesai," potong Yue Que. "Itu baru langkah pertama dari seribu langkah. Tapi untuk malam ini... cukup."

Xiao Chen ingin protes. Tapi tubuhnya tiba-tiba terasa lelah luar biasa. Seolah-olah seluruh Energi Chaos di tulang-tulangnya terkuras habis. Ia terjatuh terduduk, napas tersengal.

Hui terbangun. Serigala itu menatapnya dengan mata merah yang penuh tanya, lalu mendekat dan menjilat wajahnya.

"Kau benar," gumam Xiao Chen pada Yue Que. "Cukup untuk malam ini."

Ia merebahkan diri di tanah, Yue Que di sampingnya, Hui di kakinya. Langit di atasnya mulai berubah dari hitam menjadi biru keunguan. Burung-burung hutan mulai berkicau.

Untuk pertama kalinya sejak dilempar ke jurang, Xiao Chen merasa... hidup.

Bukan hidup karena jantungnya berdetak. Tapi hidup karena ia punya tujuan. Karena setiap hari mulai sekarang adalah langkah menuju sesuatu yang lebih besar.

Matanya terpejam. Tidur akhirnya datang.

Dan dalam tidurnya, ia bermimpi tentang lautan bintang, tentang siluet yang membelah galaksi, dan tentang seorang wanita berambut putih yang menatapnya dari kejauhan dengan mata abu-abu yang tak terbaca.

---

Di Sekte Langit Pedang, pagi itu, Lin Er terbangun lebih awal dari biasanya. Ia berjalan ke tepi Jurang Naga Pemakaman, seperti yang dilakukannya setiap pagi sejak Xiao Chen dilempar ke sana.

Nasi yang ia letakkan tiga hari lalu sudah basi. Dupa sudah padam.

Tapi hari ini, saat ia menatap ke dasar jurang, ia melihat sesuatu yang aneh.

Tidak ada kabut racun.

Kabut ungu yang biasanya menyelimuti dasar jurang—kabut yang membuat tempat itu menjadi kuburan bagi siapa pun yang jatuh—telah menghilang. Seolah-olah sesuatu di bawah sana telah menyerapnya habis.

Lin Er memiringkan kepala. "Kakak Xiao Chen... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

Ia tidak tahu jawabannya. Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, anak itu merasakan sesuatu.

Firasat.

Bahwa suatu hari nanti, Xiao Chen akan kembali.

Dan hari itu, tidak ada yang akan sama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!