NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Pagi di depan club terasa jauh berbeda dibandingkan beberapa jam sebelumnya.

Bangunan yang semalam dipenuhi cahaya warna-warni kini terlihat biasa saja. Dinding luarnya berwarna gelap, tanpa kilau lampu neon yang berkedip cepat, tanpa antrean panjang orang-orang yang tertawa keras, tanpa suara musik yang terasa sampai ke dada.

Hanya ada satu petugas keamanan yang berdiri tidak jauh dari pintu samping, memegang gelas kopi kertas, tampak masih mengantuk.

Yusallia berdiri beberapa detik di dekat mobil Rionegro yang baru saja pergi meninggalkannya.

Udara pagi terasa sedikit lebih dingin dari yang ia bayangkan. Mungkin karena semalam hujan turun cukup lama. Aspal di depan club masih terlihat sedikit basah, meninggalkan pantulan samar dari cahaya matahari pagi yang belum sepenuhnya tinggi.

Ia menarik napas pelan. Perasaannya terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang berubah, tetapi belum bisa ia pahami sepenuhnya.

Ia memeluk tasnya sedikit lebih erat sebelum berjalan menuju area parkiran yang tidak sepenuhnya kosong. Beberapa mobil masih terparkir, mungkin milik orang-orang yang terlalu mabuk untuk pulang semalam.

Langkahnya tidak terlalu cepat, tapi juga tidak lambat.

Pikirannya masih dipenuhi potongan-potongan kecil dari malam sebelumnya.

Lampu redup.

Suara hujan di kaca jendela.

Tatapan Rionegro yang terlalu dekat.

Ciuman yang awalnya terasa ragu.

Lalu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Ia menelan pelan, mencoba menghentikan pikirannya kembali ke arah sana.

Ia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh.

Tidak sekarang.

Ia akhirnya menemukan mobilnya di sudut parkiran yang cukup jauh dari pintu utama. Mobil itu terlihat baik-baik saja. Tidak ada goresan. Tidak ada sesuatu yang terlihat aneh.

Ia menekan tombol kunci. Lampu mobil berkedip dua kali, disertai bunyi kecil yang terasa sangat biasa.

Sangat normal.

Sangat kontras dengan perasaannya yang tidak sepenuhnya normal.

Ia membuka pintu mobil, lalu duduk di kursi pengemudi.

Beberapa detik ia hanya diam, membiarkan tangannya berada di atas kemudi tanpa benar-benar menyalakan mesin.

Ia menghela napas pelan. Lalu akhirnya meraih ponselnya dari dalam tas.

Layarnya langsung menyala. Dan saat itulah ia melihat banyak notifikasi yang belum sempat ia periksa sejak semalam.

Sebagian besar berasal dari Bryan.

Ada beberapa panggilan tak terjawab. Dan beberapa pesan.

Ia membuka pesan tersebut.

Pesan pertama dikirim sekitar pukul satu dini hari.

Bryan:

>Yusa, lo udah sampe rumah?

Pesan berikutnya tidak lama setelah itu.

Bryan:

>Yusa, lo aman kan?

Beberapa menit kemudian.

Bryan:

>Yusa, lo udah tidur?

Lalu satu pesan lagi sekitar hampir pukul dua.

Bryan:

>Nanti hubungi gue besok pagi kalo lo udah bangun.

Dan pesan terakhir.

Bryan:

>Selamat malam, Yusa.

Yusallia terdiam beberapa detik. Ada rasa hangat kecil yang muncul di dadanya.

Bryan memang selalu seperti itu. Selalu memastikan ia baik-baik saja. Selalu memperhatikan detail kecil yang sering diabaikan orang lain.

Ia mengetik balasan perlahan.

Yusallia:

>gue aman kok Bryan, gue telpon ya...

Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar dua kali sebelum akhirnya diangkat.

“Halo?” suara Bryan terdengar sedikit serak, seperti baru bangun tidur.

“Bryan…”

“Yusa, lo sudah bangun tidur?” tanya Bryan dari telpon.

“Iya.” Nada suara Yusallia terdengar sedikit lebih pelan dari biasanya. Namun ia berusaha tetap terdengar normal.

“Lo gapapa kan?” tanya Bryan cepat.

“Aman kok.” jawab Yusallia.

“Serius?” tanya Bryan memastikan.

“Iya serius.” jawab Yusallia meyakinkan.

Bryan terdengar menghela napas panjang dari seberang sana. “Gila, gue sempet kepikiran macem-macem semalem.”

“Kenapa?” tanya Yusallia heran.

“Ya lo mabuk banget, Yus.” jelas Bryan.

Nada suaranya terdengar setengah khawatir, setengah menegur dengan lembut. “Jarang banget gue liat lo sampe segitu.” lanjutnya

Yusallia tersenyum kecil meskipun Bryan tidak bisa melihatnya. “Iya… kebanyakan minum kayaknya.”

“Kayaknya?” Bryan terkekeh pelan.

“Lo hampir ga bisa jalan, tau.” lanjut Bryan masih sambil terkekeh pelan.

“Iya ya…” Jawab Yusallia.

“Lo pulang naik apa semalem?” Pertanyaan itu datang lebih cepat dari yang ia harapkan dari Bryan.

“Taxi online,” jawab Yusallia cepat berbohong, hampir terdengar seperti refleks.

Ia menatap lurus ke depan, seolah parkiran kosong di depannya bisa memberinya jawaban atas perasaan kecil yang tiba-tiba muncul di dalam dada.

“Oh... Soalnya gue liat mobil lo masih di parkiran pas gue mau pulang,” lanjut Bryan.

“Iya… gue ga bawa mobil pulang.” jawab Yusallia jujur.

“Ya ampun, untung lo ga maksa nyetir.” kata Bryan bersyukur Yusallia tidak nekat pulang bawa mobil sendiri.

“Engga lah,” jawab Yusallia pelan.

“Sekarang gue lagi di club, mau ambil mobil.” Jelas Yusallia.

Bryan menghela napas lega. “Syukurlah.”

Nada suaranya benar-benar terdengar lebih ringan. “Gue takut lo kenapa-kenapa.”

“Gue gapapa kok.” jawab Yusallia.

“Bener?” tanya Bryan lagi memastikan.

“Iya Bryan.” jawab Yusallia.

“Lo inget semua yang terjadi semalem?” tanya Bryan.

Yusallia terdiam sepersekian detik.

“Iya… sebagian,” jawabnya hati-hati.

“Sebagian?” tanya Bryan lagi.

“Iya… ya lo tau sendiri gue mabuk." balas Yusallia.

Bryan tertawa kecil.“Iya sih.”

“Next time jangan ikut minum sebanyak itu lagi.” lanjut Bryan mengingatkan.

“Iya dokter Bryan,” jawab Yusallia bercanda pelan.

“Enak aja,” balas Bryan cepat.

“Gue cuma ga mau lo kenapa-kenapa.” lanjutnya lagi.

Ada jeda kecil.

“Lo hari ini kerja?” tanya Bryan lagi.

“Engga."

“Libur?” tanya Bryan.

“Ga ada shift hari ini.”

“Bagus.” Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang baru saja mendapat ide.

“Ketemuan yuk.” ajak Bryan kepada Yusallia lewat telpon.

“Sekarang?” tanya Yusallia.

“Iya.” balas Bryan cepat.

“Kemana?” tanya Yusallia lagi.

“Ke cafe aja, santai.” balas Bryan menentukan.

Yusallia ragu sebentar. Namun entah kenapa, ia juga merasa tidak ingin langsung pulang ke rumah.

Ia butuh distraksi kecil. Butuh sesuatu yang terasa normal.

“Boleh.” Balas Yusallia mengiyakan.

Bryan langsung terdengar lebih bersemangat. “Oke, gue share lokasi ya.”

“Iya.” balas Yusallia.

“Lo nyetir sendiri kan?” tanya Bryan kembali.

“Iya.” Balas Yusallia cepat.

“Hati-hati ya.” kata Bryan.

“Iya.”

“Gue tunggu.” kata Bryan lagi.

“Iya.”

“See you nanti di cafe.” kata Bryan terakhir sebelum telpon ditutup.

“See you.” kata Yusallia, kemudian menutup telpon diantara mereka.

Telepon pun berakhir.

Yusallia menatap layar ponselnya beberapa detik.

Lalu perlahan menurunkannya ke pangkuannya.

Ia menghembuskan napas panjang.

Perasaan bersalah kecil muncul di dalam dadanya karena berbohong. Namun ia belum siap menjelaskan apa pun. Bahkan pada dirinya sendiri.

Ia menyalakan mesin mobil.

Suara mesin yang halus terdengar sangat biasa dan normal.

Ia keluar dari area parkiran club dengan perasaan yang masih belum sepenuhnya stabil.

Jalanan pagi sudah mulai ramai. Orang-orang berangkat kerja. Beberapa pejalan kaki terlihat terburu-buru. Lampu lalu lintas berubah secara teratur.

Segalanya berjalan seperti biasa.

Seolah dunia tidak tahu bahwa hidupnya baru saja berubah sedikit.

Lokasi cafe dari Bryan masuk ke ponselnya tidak lama kemudian. Tidak terlalu jauh dari tempatnya berada sekarang.

Ia memutar setir perlahan, mengikuti arah navigasi.

Selama perjalanan, pikirannya beberapa kali kembali ke pagi tadi.

Ke suasana kamar yang terlalu rapi. Ke cara Rionegro berbicara yang tetap sopan namun terasa berjarak. Ke sarapan sederhana yang ia siapkan. Ke kalimat singkat. Ke tatapan yang hanya bertemu sepersekian detik. Ke permintaan maaf yang terasa tidak lengkap.

Ia menelan ludah pelan. Entah kenapa, ia merasa semuanya terasa terlalu cepat.

Pertemuan mereka baru beberapa kali. Namun situasi yang terjadi terasa seperti sesuatu yang terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.

Mobilnya berhenti di lampu merah. Ia menatap lurus ke depan. Berusaha menenangkan pikirannya.

Mungkin semuanya memang hanya kebetulan. Mungkin tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Mungkin semuanya bisa kembali normal.

Lampu berubah hijau. Mobil kembali berjalan.

Cafe yang dimaksud Bryan terlihat cukup ramai meskipun masih pagi.

Tempat itu memiliki jendela besar dengan cahaya matahari yang masuk dengan leluasa.

Suasana terlihat santai. Beberapa orang duduk dengan laptop. Beberapa lainnya berbicara pelan.

Tempat yang cukup nyaman untuk mengalihkan pikiran.

Yusallia memarkir mobilnya dengan hati-hati.

Sebelum turun, ia menatap bayangannya sebentar di kaca spion.

Ia memakai jaket panjang yang dia bawa di belakang mobil, untuk menutupi gaunnya yang belum ia ganti semalam.

Ia terlihat normal. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang berbeda. Namun hanya ia yang tahu bahwa pagi itu terasa tidak sepenuhnya sama seperti biasanya.

Ia membuka pintu mobil.

Udara pagi menyambutnya dengan lembut.

Dan tanpa ia sadari, langkah kecil menuju cafe itu menjadi langkah menuju perubahan lain dalam hidupnya.

1
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
Rose Mizuki
lanjut💪
Rieza05
lanjut kak
Reva456: lanjut
total 1 replies
@RearthaZ
boleh kok, kak
Unparalleled: haii aku mampir nih..
btw semangat okee buat The continuation of the story nyaaa🤩
total 1 replies
sayang kamu
gw nyicil bacanya ya min bagus gw baca setiap hari 1 bab krn sibuk sendiri di realita gk bisa maraton semangat
Ocean Blue
ceritanya seru
Rose Ocean
ceritanya keren
Yogitha Ratnajyoti ❤
menarik 👌🔥
Reva456
lanjut thorr
Rieza05
lanjut thor
@RearthaZ
ayo kita lihat nanti, kira-kira bagaimana hehehe
Lisa
Apakah hal ini yg membawa mereka ke arah pernikahan..🤔
CHEN DEV
lanjut kk
CHEN DEV
sudah mampir kk
Rei_983
lanjutin thor
Reilient
lanjutkan thorr
Hiccup Toothless
lanjutin thorr
Rose Mizuki
lanjutin trus thorr
@RearthaZ
aman kok bryan cuman teman hehehe🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!