Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Malam itu hujan turun semakin deras, angin menyusup dari celah jendela membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3
Keesokan harinya, di pagi ini angin bertiup lebih kencang dari biasanya, atap rumah kayu berderit pelan tertiup angin utara, di dalam rumah, api tungku menyala kecil. Ibunya Lin Mei Hua duduk di dekatnya, menambal pakaian dengan jarum yang sudah mulai tumpul, kedua adik Yin Yin yang lebih kecil, Lin Meli dan Xiao Lan, duduk berdekatan, saling berbagi selimut tipis.
Yin Yin tidak langsung pergi ke sungai seperti biasanya, pagi itu Dia memperhatikan ayahnya, Yin Guo, yang duduk bersandar pada dinding, wajahnya pucat, kaki kanannya berbalut kain kasar.
"Ayah, masih sakit kakinya?" tanya Yin Yin lembut.
Yin Guo tersenyum tipis, meski keningnya berkerut menahan nyeri. "Tidak apa-apa, hanya terkilir lama, nanti juga sembuh sendiri."
Namun Yin Yin tahu itu bukan sekedar terkilir biasa, sejak ayahnya pergi ke hutan waktu berburu, kaki ayahnya cedera di serunduk babi hutan, karena tidak ada tabib dan tidak punya uang, luka itu hanya dibalut seadanya, musim dingin ini membuat semakin memburuk.
Lin Mei Hua menatap kaki suaminya dengan cemas, "Kalau sampai penagih pajak tiba dan ayahmu belum bisa berjalan normal, bagaimana kita membayar nanti?"
Suasana hening, bahkan Yin Chen yang biasanya ceria ikut diam. Yin Yin menunduk berpikir, dalam benaknya, panel sistem muncul perlahan.
SISTEM PERTANIAN - LEVEL 1
Fitur tambahan:
*Identifikasi tanaman obat liar (terbatas)
Melihat itu, matanya membulat sedikit, "Tanaman obat?'
Malam sebelumnya Dia memang melihat keterangan kecil di sudut panel, tetapi belum memperhatikannya. Dia menahannya napas dan dalam hati bertanya, Sistem, apakah di sekitar sungai ada tanaman untuk mengurangi bengkak dan nyeri?
DING!
[Analisis wilayah sungai]
[Ditemukan akar winter root dapat mengurangi bengkak jika direbus dan ditempelkan]
[Daun pine muda juga dapat menghangatkan dan memancarkan peredaran darah]
Yin Yin hampir tersenyum lebar, tetapi Dia menahan agar tidak terlihat aneh.
"Ibu, aku dan Chen ingin ke sungai lagi, ada kayu bakar yang kemarin tertinggal," katanya tenang.
Lin Mei Hua ragu, "Nak, Angin hari ini terasa kuat, ibu takut kalian kenapa-napa ..."
"Aku akan menjaga kakak," sahut Yin Chen cepat, dadanya dibusungkan kecil.
Yin Guo menatap anak-anaknya dengan lembut, "pergilah, tapi jangan lama."
Di tepi sungai, salju tampak lebih tipis dari hari-hari sebelumnya, Yin Yin langsung menuju batu besar yang kemarin Dia tandai, dengan bantuan sistem, Dia menemukan akar winter root yang tersembunyi di bawah tanah yang tidak sepenuhnya beku.
"Kakak cari apa lagi?" tanya Yin Chen.
"Obat untuk ayah," jawab Yin Yin pelan.
Yin Chen terdiam sejenak, lalu menggali lebih cepat, tangannya memerah karena dingin, tetapi Dia tidak mengeluh.
Selain akar itu, Yin Yin juga memetik daun pine muda dari pohon kecil didekat sungai, Dia menyimpannya hati-hati di keranjangnya.
Sebelum pulang, Yin Yin memeriksa bedengan kecil mereka, jerami masih menutup tanah dengan baik, sistem menunjukkan simbol kecil bahwa benih gandum tahan dingin bisa ditanam dalam waktu tiga hari, saat suhu sedikit naik. Yin Yin mengangguk puas, semua berjalan perlahan, tetapi pasti.
Malam itu, di dalam rumah yang remang-remang, Yin Yin membantu ibunya merebus akar winter root dua kali seperti petunjuk sistem, air rebusan pertama dibuang, yang kedua dibiarkan mengental sedikit.
"Apa ini benar bisa membantu?" tanya Lin Mei Hua, khawatir.
"Ayah dulu pernah bilang akar liar di sungai bisa untuk bengkak," jawab Yin Yin hati-hati, menyelinap kebohongan kecil agar tidak mencurigai.
Yin tertawa pelan, "Sejak kapan Yin Yin tahu soal obat-obatan?"
Yin Yin tersenyum, "Belajar dari ibu."
Lin Mei Hua terdiam, lalu mengangguk perlahan.
Setelah airnya cukup hangat, Yin Yin meremas akar yang sudah lunak, membungkusnya dengan kain bersih, lalu dengan hati-hati menempelkannya pada pergelangan kaki ayahnya, Dia juga menyuruh ayahnya merendam kaki sebentar dengan air hangat daun pine.
Yin Guo menghela napas panjang, "Hangat..."
Lin Meli dan Xiao Lan mendekat, mata mereka membulat penasaran, "Apakah ayah akan sembuh?" tanya Lin Meli lirih.
Yin Yin menoleh pada kedua adiknya, "kalau ayah cepat sembuh, nanti kita bisa berburu lagi. Xiao Lan mengepalkan tangan kecilnya, "Aku juga mau bantu! Aku bisa mengumpul ranting!"
Suasana yang semula muram berubah sedikit hangat.
Beberapa hari kemudian, bengkak di kaki Yin Guo mulai berkurang, Dia masih belum bisa berjalan jauh, tetapi sudah bisa berdiri lebih lama tanpa meringis kesakitan.
Lin Mei Hua menatapnya Yin Yin dengan mata yang berbeda, Dia baru tahu anaknya sedikit mengerti tentang obat-obatan.
"Kamu banyak berubah akhir-akhir," gumam ibunya pelan.
Yin Yin hanya tersenyum.
Di luar rumah, badai salju perlahan mereda, Desa Shanyin tetap sunyi tetapi di rumah kecil keluarganya Yin, ada sesuatu yang mulai tumbuh bukan hanya benih gandum tahan dingin di tepi sungai, tetapi juga harapan.
Yin Chen kini setiap hari memeriksa bedengan bersama kakaknya, Lin Meli membantu ibu menyiapkan jerami kering, Xiao Lan dengan bangga membawa ranting-ranting kecil untuk tungku. Dan Yin Guo, meski masih tertatih, mulai melatih kakinya berjalan perlahan di dalam rumah.
Suatu pagi, Yin Yin berdiri di depan pintu memandang hamparan putih mulai mencair sedikit demi sedikit, dalam benaknya, panel sistem menampilkan prediksi cuaca
[Tujuh hari lagi cuaca naik]
Walaupun musim dingin belum benar-benar berakhir, tetapi keluarga ini tidak lagi hanya bertahan, mereka juga mulai bersiap bangkit bersama.
Bersambung....