NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka dan Rahasia di Gubuk Bambu

Aroma minyak kayu putih dan rebusan akar-akaran menyengat indra penciuman Subosito bahkan sebelum dirinya mampu membuka mata sepenuhnya.

Kesadarannya kembali datang perlahan, seperti riak air yang tenang setelah dihantam badai besar.

Hal terakhir yang Subosito ingat adalah pilar api yang membubung ke langit, pekikan elang yang memekakkan telinga di dalam kepalanya, dan wajah pucat Sekar yang ketakutan.

Saat kelopak matanya kembali terbuka, dan kesadarannya telah kembali, Subosito disambut oleh temaram cahaya lampu minyak yang menari-nari di dinding anyaman bambu.

Subosito mencoba bangkit, tetapi seluruh persendiannya seolah terkunci oleh rasa lemas yang luar biasa. Punggungnya—tempat Segel Garuda Paksi berada—terasa berdenyut pelan, hangat, seolah tidak lagi membakar.

"Jangan dipaksakan, Nak. Tubuhmu butuh waktu untuk mendingin."

Subosito menoleh dengan kaku. Di sudut dipan, Pak Modin duduk dengan raut wajah yang tampak lebih tua sepuluh tahun dari biasanya. Di sebelahnya, Ibu Sekar sedang menyiapkan kain kompres dengan tangan yang sedikit gemetar.

Ada pemandangan kontras di sana: rasa terima kasih yang tulus karena putri mereka telah selamat dari cengkeraman preman, juga ada ketakutan yang tak bisa disembunyikan saat mereka mengungkap pemuda yang baru saja mengumpulkan api neraka di hutan tadi siang.

"Di mana... Sekar?" bisik Subosito, suaranya seperti batu.

"Dia sudah tidur, Subosito. Dia kelelahan setelah membantuku membawamu ke sini dan menghabiskan sisa api di sekitarmu," jawab Pak Modin lembut.

Pak Modin menarik napas panjang, lalu melanjutkan perkataannya, "Kau menyelamatkannya. Jika kau tidak ada, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan orang-orang biadab itu pada putriku!"

Ibu Sekar mendekat, meletakkan kompres baru di dahi Subosito. Matanya berkaca-kaca dan berucap, "Terima kasih, Nak. Meskipun... meskipun apa yang kulihat di hutan tadi melampaui nalar kami, tapi hatimu tetaplah hati manusia!"

Subosito tak menjawab, perkataan ayah dan ibu sekar adalah obat yang lebih manjur daripada ramuan apa pun.

Untuk pertama kalinya, ada orang yang memisahkan antara dirinya dengan kutukannya.

Di sisi lain, ketenangan itu tidak bertahan lama, Subosito bisa merasakan kegelisahan yang mendalam dari cara Pak Modin sesekali melirik ke arah jendela yang tertutup rapat dan terkunci.

“Pak Modin,” panggil Subosito pelan. "Kenapa mereka menculik Sekar? Siapa orang-orang itu? Mereka bukan preman pasar biasa?"

Pak Modin terdiam cukup lama, lalu bangkit, memastikan pintu benar-benar terkunci, dan kembali duduk di samping Subosito dengan suara yang diturunkan hingga hampir menyerupai bisikan.

"Desa Hargodalem ini tidak lagi desa indah yang kau lihat dari gubukmu di pinggiran hutan, Subosito. Kau mungkin merasa terasing karena dikucilkan, tapi sebenarnya kami semua sedang hidup dalam penjara yang tak kasat mata," Pak Modin memulai ceritanya dengan nada getir.

"Kepala Desa kita, Kromo Widjojo, ayah Kalingga... dia bukan lagi pemimpin seperti yang kita kenal dulu. Sejak tiga tahun lalu, dia telah menjual leluhur—dan desa ini—kepada Padepokan Gagak Hitam!"

Mendengar nama itu, Subosito merasakan denyut di belakangnya tiba-tiba mengencang. Nama itu sering terdengar dalam bisik-bisik ketakutan para pengelana yang melintasi lereng Lawu.

Padepokan Gagak Hitam dikenal sebagai perkumpulan praktisi ilmu hitam dan tentara bayaran yang kejam, pusatnya berada di lembah tersembunyi di sisi utara gunung.

“Mereka meminta upeti yang tidak masuk akal,” lanjut Pak Modin seraya memandang ke langit-langit rumahnya. "Bukan hanya hasil panen atau ternak, tapi juga kesetiaan mutlak. Kromo Widjojo menggunakan kekuasaan mereka untuk menyingkirkan siapa pun yang menentangnya. Hutang yang mereka katakan tadi? Itu hanya akal-akalan saja. Aku menolak memberikan dukungan saat Kromo meminta warga untuk menyerahkan lahan hutan lindung untuk digunduli oleh pihak Padepokan. Menculik Sekar adalah cara mereka untuk membungkamku!"

Subosito menggenggam tangan di bawah selimut. Kemarahan mulai meninggi, membuat suhu di ruangan itu naik satu atau dua derajat secara perlahan.

“Lalu kenapa warga begitu membenciku?” tanya Subosito pahit. “Apakah Kromo Widjojo juga yang menghasut mereka?”

Pak Modin mengangguk sedih, "Kromo Widjojo membutuhkan 'kambing hitam' untuk setiap kegagalan panen dan bencana yang sebenarnya disebabkan oleh eksploitasi hutan oleh orang-orang Gagak Hitam. Keberadaanmu dan segel di punggungmu adalah alat yang sempurna untuk dijadikan sumber masalah. Dia menyebutmu pembawa kutukan agar warga tidak menyadari bahwa kutukan yang sebenarnya adalah dia sendiri!"

"Tapi sekarang, keadaan menjadi jauh lebih berbahaya bagi kita semua, Subosito," Pak Modin menatap mata emas Subosito yang mulai meredup. "Pilar api yang kau lepaskan di hutan tadi, itu terlihat sampai ke lembah utara. Orang-orang Gagak Hitam bukan hanya pencuri atau preman. Mereka adalah pemburu kekuatan. Mereka telah lama mencari sisa-sisa kekuatan kuno Gunung Lawu!"

Subosito tersentak. “Maksud bapak, sekarang mereka mengincarku?”

"Bukan hanya mengincarmu, Nak. Mereka akan menganggapmu sebagai ancaman sekaligus mangsa yang sangat berharga. Jika mereka tahu kau ada di sini, mereka tidak akan ragu untuk membakar seluruh rumah ini—bahkan seluruh desa ini—hanya untuk menyeretmu ke padepokan mereka!"

Suasana mendadak menjadi sangat mencekam. Di luar, angin malam Lawu menderu, mengguncang dinding bambu rumah Pak Modin. Subosito menyadari satu hal yang mengerikan: tindakannya menyelamatkan Sekar, meski benar secara moral, secara tidak langsung telah memicu perhatian pihak yang salah.

Subosito bukan lagi sekadar pemuda terkutuk yang dijauhi; kini dirinya adalah target bagi organisasi yang paling ditakuti di tanah ini.

Malam itu, Subosito kembali tak bisa tidur. Pikirannya melayang pada kenyataan pahit yang baru saja didengarnya. Di gubuk bambu yang sederhana ini, Subosito melihat betapa rapuhnya keluarga Sekar karena melindunginya.

Jika Subosito tetap tinggal, maka dirinya akan membawa kehancuran bagi satu-satunya orang yang pernah baik di dalam hidupnya. Jika pemuda itu lari, mereka akan tetap menjadi sasaran karena dianggap menyembunyikan si ‘Anak Terkutuk.’

Pikiran Subosito terus berputar hingga fajar mulai menyingsing. Pemuda itu menatap telapak tangannya. Masih ada sisa-sisa jelaga hitam di sela-sela jarinya.

Subosito teringat bagaimana rasanya saat kekuatan Garuda Paksi mengambil alih dirinya sendiri. Sangat menyakitkan, sangat menghancurkan, tapi juga terasa begitu murni.

Kekuatan ini tidak boleh digunakan hanya untuk bertahan, batin Subosito. Jika aku terus bersembunyi, mereka akan terus menindas orang-orang lemah seperti Pak Modin dan Sekar.

Subosito menoleh ke arah belakang, ke arah punggungnya sendiri, meski tak bisa melihat segel itu secara langsung, pemuda itu bisa merasakannya berdenyut—seolah-olah kekuatan di dalamnya sepakat dengan pemikirannya.

Selama ini Subosito hanya menganggap api itu sebagai penjara, tetapi akhir-akhir ini Subosito mulai melihatnya sebagai satu-satunya senjata untuk meruntuhkan penjara yang lebih besar: ketakutan yang disebarkan oleh Padepokan Gagak Hitam.

Pagi harinya, saat Sekar masuk ke kamar dengan membawa bubur hangat, Sekar menemukan Subosito sudah duduk di tepi tempat tidur. Meski wajahnya masih pucat, matanya telah berubah. Tidak ada lagi keraguan atau kesedihan yang mendalam di sana. Yang tersisa hanya tekad yang keras, sekeras batu karang.

“Subosito, kamu belum boleh banyak bergerak,” ujar Sekar cemas.

Subosito menatap gadis itu, tersenyum tipis—sebuah senyuman yang jarang sekali terlihat. "Sekar, terima kasih untuk semuanya. Tapi aku tidak bisa membiarkan kalian hidup dalam ketakutan selamanya karena ulah Kepala Desa dan sekutunya!"

Sekar meletakkan mangkuk buburnya, hatinya sedikit gelisah, "Apa maksudmu?" ucapnya.

Subosito tidak menjawab secara langsung, dia berdiri, merasakan kekuatan mulai kembali ke kakinya. Subosito tahu, selama Padepokan Gagak Hitam masih berdiri dan selama Kromo Widjojo masih memegang kendali, tidak akan ada tempat yang aman bagi siapa pun yang memiliki hati nurani di desa ini.

Mendengar kekejaman pemimpin desa yang tega mengorbankan rakyatnya sendiri dan menebar ancaman terhadap keselamatan keluarga Sekar yang telah merawatnya, tiba-tiba sebuah rencana gila mulai terbentuk di kepala Subosito.

Subosito tidak akan menunggu mereka datang menjemputnya. Subosito tidak akan membiarkan api di dalam tubuhnya meledak tanpa arah lagi.

Subosito berencana mendatangi Padepokan Gagak Hitam sendirian. Subosito akan menyeret kegelapan itu keluar dari persembunyiannya, meski dirinya sendiri belum tahu apakah api di nadinya akan menjadi penyelamat atau justru menjadi pembinasa di sana.

***

Rencana Subosito untuk mendatangi sarang musuh bagaikan menyerahkan diri ke mulut harimau. Namun, apa yang akan terjadi saat dirinya sampai Padepokan Gagak Hitam?

Simak kelanjutannya dalam 'Amuk Sang Jagoan Api.'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!