"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PERJANJIAN BERDARAH
Ujung belati itu terasa dingin di leher Gwen, mengirimkan sensasi ngeri sekaligus memacu adrenalinnya hingga ke titik tertinggi. Di dalam kamar yang remang-remang itu, Gwen bisa merasakan deru napas Elang yang tenang namun mengancam.
"Nona, aktingmu sungguh luar biasa. Bahkan suamimu yang bodoh itu percaya kamu hanya sebongkah daging tak berguna," bisik Elang. Suaranya terdengar seperti gesekan logam, tajam dan dingin. "Tapi bagiku, kamu adalah pembohong paling cantik yang pernah kutemui."
Gwen tahu, tidak ada gunanya lagi bersembunyi. Jika dia terus berakting buta di bawah ancaman senjata, Elang mungkin benar-benar akan menggores lehernya hanya untuk membuktikan teori pria itu.
Perlahan, Gwen membuka matanya lebar-lebar. Dia menatap langsung ke dalam manik mata Elang yang gelap dan tajam. Tidak ada lagi pandangan kosong. Yang ada hanyalah kilat kebencian dan ambisi yang membara.
"Lepaskan tanganmu dari daguku, Elang. Atau aku akan memastikan kamu membusuk di penjara sebelum sempat membalaskan dendammu pada ayahku," ucap Gwen dengan nada suara yang berubah total. Dingin, berwibawa, dan penuh kuasa.
Elang tertegun sejenak. Seringai tipis muncul di bibirnya. Dia menarik belatinya, tapi tidak menjauh. "Ah, akhirnya sang ratu menunjukkan taringnya. Jadi benar, kamu bisa melihat segalanya? Termasuk... apa yang dilakukan suamimu dengan wanita simpanannya di ranjang ini tadi siang?"
Gwen mengepalkan tangannya. Luka itu masih basah, tapi dia tidak akan membiarkan Elang melihat kerapuhannya. "Aku melihat semuanya. Dan karena itulah kamu ada di sini."
Gwen berjalan melewati Elang menuju sofa beludru di sudut kamar. Dia duduk dengan anggun, menyilangkan kakinya, dan menatap Elang seolah pria itu hanyalah pelayan rendahan, bukan ancaman nyawa.
"Kamu bilang kamu punya urusan dengan ayahku?" tanya Gwen sambil menuangkan air ke gelas dengan presisi sempurna—tanpa meraba.
"Ayahmu, almarhum Pak Adiguna, bukan orang suci yang dunia kira, Nona. Dia menghancurkan keluarga saya demi sepetak tanah dan ambisi bisnisnya," jawab Elang, matanya berkilat penuh amarah saat menyebut nama Adiguna.
"Aku tahu ayahku punya sisi gelap," sahut Gwen tenang. "Tapi ayahku sudah mati. Jika kamu membunuhku sekarang, kamu hanya akan menjadi pembunuh bayaran yang berakhir di tiang gantungan tanpa mendapatkan keadilan apa pun. Apa itu yang kamu mau?"
Elang mendekat, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, mengurung Gwen. "Lalu apa tawaranmu? Kenapa aku tidak menyerahkan rahasia 'sembuh'mu ini pada Reno? Dia pasti akan memberiku hadiah besar jika tahu istrinya sedang merencanakan sesuatu."
Gwen tertawa sinis. "Reno? Pria itu pelit. Dia bahkan menghitung setiap rupiah yang dia keluarkan untuk pengobatanku. Jika kamu bersekutu dengannya, kamu hanya akan menjadi anjing penjaga yang akan dia buang setelah hartaku habis."
Gwen menatap Elang tepat di matanya. "Bekerjalah denganku. Bantu aku menghancurkan Reno dan Siska sampai mereka memohon kematian. Sebagai imbalannya, aku akan memberikan akses ke dokumen rahasia ayahku. Di sana ada bukti keterlibatan orang lain yang menjebak keluargamu—orang yang jauh lebih berkuasa daripada ayahku."
Suasana kamar menjadi sunyi senyap. Elang tampak menimbang-nimbang. Tawaran Gwen sangat masuk akal, tapi harga dirinya sebagai pria yang menyimpan dendam selama belasan tahun merasa terusik.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu?" tanya Elang.
"Kamu tidak perlu percaya padaku. Kita hanya perlu saling membutuhkan," Gwen berdiri, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Elang. "Kamu butuh kebenaran, dan aku butuh pedang untuk memenggal kepala pengkhianat di rumah ini. Apakah kita punya kesepakatan?"
Gwen mengulurkan tangannya. Elang menatap tangan putih mulus itu, lalu beralih ke mata Gwen yang penuh tekad. Tanpa diduga, Elang meraih tangan Gwen, tapi bukannya menjabat, dia justru menarik tubuh Gwen hingga menempel di dadanya yang bidang.
"Baiklah, Nona Gwen. Saya akan menjadi pengawalmu... sekaligus malaikat mautmu. Tapi ingat, jika kamu mengkhianatiku, aku tidak akan segan-segan membutakan matamu secara nyata."
Gwen tidak gentar. Dia justru tersenyum kemenangan. "Kesepakatan tercapai, Elang."
Keesokan harinya, drama dimulai kembali.
Di meja makan, Reno dan Siska sedang asyik bercanda. Siska dengan berani menyuapi Reno sepotong buah, sementara Gwen duduk di ujung meja dengan perban yang kembali menutupi matanya.
"Mas, buahnya manis sekali," ucap Siska manja, sengaja mengeraskan suaranya agar Gwen mendengar.
"Semanis orang yang menyuapinya," balas Reno sambil mengelus tangan Siska di atas meja.
Gwen merasa mual, tapi dia tetap berakting dengan tenang. Di belakangnya, Elang berdiri tegak seperti patung, memperhatikan setiap detail dengan mata elangnya.
"Mas, bolehkah aku minta tolong?" suara Gwen terdengar lembut dan rapuh.
"Apa itu, Sayang?" tanya Reno tanpa melepaskan pandangannya dari belahan dada Siska.
"Aku merasa perhiasanku di brankas butuh dibersihkan. Bisakah Siska membantuku mengambilnya? Aku tidak ingin pelayan lain yang menyentuhnya," ucap Gwen.
Siska dan Reno saling berpandangan. Kilat keserakahan muncul di mata mereka. Perhiasan Gwen bernilai miliaran.
"Tentu, Gwen! Aku akan membantumu," sahut Siska cepat.
Gwen tersenyum di balik perbannya. "Terima kasih, Siska. Kamu memang sahabat terbaikku."
Gwen memberikan kunci brankas pada Siska. Namun, apa yang tidak Siska dan Reno ketahui adalah bahwa Elang sudah menukar beberapa perhiasan asli dengan replika yang sangat mirip, dan di dalam brankas itu Gwen sudah memasang kamera tersembunyi berukuran mikroskopis.
Saat Siska masuk ke dalam ruang penyimpanan, dia tidak tahu bahwa setiap gerakannya—termasuk saat dia menyelinapkan sebuah kalung berlian langka ke dalam tasnya sendiri—sedang direkam dan dikirim langsung ke ponsel rahasia Gwen yang dipegang oleh Elang.
Di meja makan, Elang sedikit menunduk ke arah Gwen, memberikan kode lewat sentuhan ringan di bahunya. Target masuk perangkap.
Gwen menyesap tehnya dengan tenang. Nikmatilah kemenangan sesaatmu, Siska. Karena setelah ini, aku akan membuatmu merangkak di kakiku.
Tiba-tiba, Reno memegang tangan Gwen. "Gwen, setelah perhiasannya dibersihkan, bagaimana kalau kita pindahkan semua asetmu ke perusahaan baru yang kubuat? Agar lebih aman, Sayang. Kamu tahu sendiri, mengelola harta sebesar ini sulit bagi seseorang dalam kondisimu."
Gwen merasakan kemarahan yang meluap, tapi dia hanya mengangguk pelan. "Tentu, Mas. Apapun yang menurutmu terbaik. Aku percaya padamu sepenuhnya."
Reno tersenyum puas, tidak menyadari bahwa Elang yang berdiri di belakang Gwen sedang menatapnya dengan tatapan meremehkan, seolah sedang melihat orang mati yang sedang berjalan.
Malam itu, setelah Reno dan Siska pergi ke pesta—meninggalkan Gwen sendirian (pikir mereka)—Gwen masuk ke ruang kerjanya bersama Elang.
"Ini rekamannya, Nona," Elang menunjukkan video Siska yang sedang mencuri perhiasan. "Apa langkah selanjutnya? Menyerahkannya ke polisi?"
"Jangan sekarang," sahut Gwen sambil menatap layar ponsel. "Itu terlalu cepat. Biarkan dia memakai perhiasan itu di acara amal minggu depan. Aku ingin dia merasa berada di puncak dunia sebelum aku menjatuhkannya di depan semua orang paling berpengaruh di kota ini."
Gwen menoleh ke arah Elang. "Dan kamu, Elang. Pastikan kamu menyelidiki perusahaan baru yang Reno sebutkan tadi. Aku yakin itu hanya perusahaan cangkang untuk mencuci uangku."
Elang menatap Gwen dengan tatapan yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Ada rasa hormat yang mulai tumbuh di balik kebenciannya. "Anda sangat kejam untuk seorang wanita yang baru saja kehilangan dunianya, Nona Gwen."
"Dunia yang kutinggalkan adalah dunia penuh kebohongan, Elang," jawab Gwen tegas. "Dunia baruku dibangun di atas puing-puing kehancuran mereka."
Elang melangkah mendekat, auranya yang intimidatif kembali terasa. "Lalu bagaimana jika setelah Reno hancur, saya memutuskan untuk menghancurkanmu juga?"
Gwen mendongak, menantang mata Elang tanpa rasa takut. "Maka aku akan memastikan kamu jatuh cinta padaku lebih dulu, sehingga kamu tidak akan sanggup melakukannya."
Suasana mendadak menjadi panas. Elang terdiam, terpaku oleh keberanian dan kecantikan Gwen yang terlihat begitu mematikan di bawah cahaya lampu temaram. Untuk pertama kalinya, sang pengawal bermata elang itu merasa dialah yang sedang menjadi buruan.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia