NovelToon NovelToon
Sistem Sultan Tanpa Batas

Sistem Sultan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eido

Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.

Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.

Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.

[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]

Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.

Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.

Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: PENINGKATAN KEKUATAN

Keesokan paginya, matahari menyingsing perlahan di ufuk Lampung Selatan.

Cahaya pagi menembus celah-celah atap seng kontrakan, menyinari kamar kecil Dion dengan kehangatan yang jarang ia rasakan. Udara pagi terasa lebih segar dari biasanya, seolah dunia ikut berubah bersama dirinya.

Dion berdiri di depan kasur, mengenakan seragam SMA biru miliknya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seragam itu tampak rapi di tubuhnya.

Setiap siswa SMA setidaknya diwajibkan memiliki dua pasang seragam biru, dan hari ini, salah satunya terasa berbeda di tubuh Dion. Lebih pas. Lebih hidup.

Dengan perasaan yang sulit digambarkan, Dion memanggil kembali Panel Atribut di benaknya.

[Nama: Dion Arvion]

[Usia: 17 Tahun]

[Kekuatan: 100/100]

[Kecepatan: 100/100]

[Pertahanan: 100/100]

[Stamina: 100/100]

[Keterampilan: Tidak Ada]

[Poin Atribut: 100]

Dion menghembuskan napas panjang.

“Tadi malam… aku meningkatkan semua Atributku,” gumamnya pelan, “dan rasanya… benar-benar menyakitkan.”

Ingatan itu kembali menghantamnya.

Malam sebelumnya, Dion memulai dengan Atribut Kekuatan. Lima puluh poin sekaligus, sebuah angka yang bahkan sistem sendiri telah peringatkan.

[Peningkatan dalam jumlah besar akan menyebabkan rasa sakit ekstrem.]

Peringatan itu ia dengar. Ia pahami. Namun Dion tetap melangkah.

Baginya, rasa sakit bukanlah hal asing. Ia sudah terlalu sering dihajar oleh para Penindas, tubuhnya terbiasa remuk, jiwanya terbiasa diinjak.

Ia mengira, sungguh mengira, bahwa apa pun yang diberikan sistem takkan lebih menyakitkan dari itu. Ia keliru.

Saat peningkatan dimulai, rasa sakit meledak dari dalam tubuhnya. Bukan pukulan dari luar, melainkan sesuatu yang merobek dari dalam, ototnya seakan diremas, tulangnya berderak, darahnya mendidih. Dion menjerit, suara itu tertahan di tenggorokan lalu pecah, menggema di kamar sempitnya.

“AAAAAGH!!”

Dinding kontrakan sampai bergetar. Bahkan tetangga sebelah menggedor tembok dengan panik, mengira terjadi sesuatu yang mengerikan.

Dion terkejut, tubuhnya gemetar hebat. Ia segera menggigit bibirnya, mengatupkan rahang sekuat tenaga. Tak boleh ada suara lagi. Tak boleh ada yang tahu, Ia hanya bisa bertahan.

Menit demi menit terasa seperti siksaan tanpa akhir. Sepuluh menit penuh rasa sakit itu bertahan, sepuluh menit yang terasa lebih panjang dari semua pukulan yang pernah ia terima. Lalu… semuanya berhenti.

Tubuh Dion ambruk di lantai, napasnya tersengal. Namun perlahan, rasa hangat menyelimuti setiap sendi. Otot-ototnya terasa ringan, aliran darahnya lancar, napasnya dalam dan stabil. Sebuah kesegaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menyebar dari ujung kaki hingga ke kepalanya.

[Kekuatan: 50]

Dengan rasa penasaran, Dion bangkit. Ia melirik kursi kayu tua berlengan di sudut kamar, kursi yang biasanya saja sudah membuatnya kelelahan hanya dengan menggesernya.

Ia mengulurkan satu tangan, dan mengangkatnya. Kursi itu terangkat begitu saja, ringan seperti mainan. Dion terdiam.

Sebelum peningkatan, ia bahkan tak sanggup menggeser kursi itu tanpa terengah-engah. Sekarang, satu tangan saja sudah cukup. Di sanalah, kegilaan dimulai.

Dengan mata berkilat dan napas memburu, Dion terus meningkatkan atributnya. Rasa sakit datang berulang, namun kali ini ia siap. Ia menggertakkan gigi, menahan semuanya, hingga satu per satu, kekuatan, kecepatan, pertahanan, stamina, menyentuh batas yang sama.

Seratus poin, kembali ke pagi ini. Dion berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, dan nyaris tak mengenali sosok di sana.

Seragam biru yang dulu kebesaran kini terasa sempit. Bahunya lebih lebar, dadanya lebih bidang. Tubuhnya kini memiliki tinggi 172 sentimeter, dengan berat 55 kilogram, padat dan seimbang. Sebelumnya, ia hanya 158 sentimeter dengan berat 45 kilogram, kurus dan rapuh.

Kulitnya tampak lebih bersih, cerah. Wajahnya lebih tegas, garis rahangnya jelas, matanya jernih dan segar.

“Hm…” Dion mengusap dagunya, masih tak percaya, “ini semua karena peningkatan atribut semalam?”

Ia menggeleng pelan. “Kalau begini terus, jangan-jangan aku malah melihat monster di cermin,” gumamnya heran, “cuma dengan peningkatan atribut… tinggi dan berat badan bisa berubah sejauh ini.”

Selama ini, ia selalu kekurangan makan. Meski kadang ia memaksakan diri makan lebih banyak, tubuhnya tak pernah berubah. Ia pikir itu hanya masalah waktu, bahwa pertumbuhan akan datang perlahan.

Tapi sistem… tidak mengenal kata perlahan.

Dion menghela napas, lalu meraih tas sekolahnya. Ia menyampirkannya ke bahu, melangkah keluar dari kontrakan, menyusuri gang sempit yang masih basah oleh embun pagi.

Langkahnya ringan. Punggungnya tegak. Di ujung gang, jalur bus sudah menunggu. Dan SMA Cahaya Senja, tempat penderitaan dan awal kebangkitan nya, kini berada di depan mata, tanpa ia sadari.

.....

Para Penindas, mereka yang hidup dari ketidakseimbangan kekuatan. Tindakan mereka sederhana namun kejam, agresif, menekan, dan menyakiti, dilakukan berulang-ulang hingga korban kehilangan keberanian untuk melawan.

Di dunia seperti SMA Cahaya Senja, kekuatan bukan sekadar otot, melainkan reputasi, jaringan, dan rasa takut yang ditanamkan perlahan.

Bak!

Buk!

Buaaak!

Suara pukulan bertubi-tubi menggema di sudut halaman belakang sekolah, jauh dari pengawasan guru. Lima siswa tergeletak di tanah, sebagian meringkuk, sebagian lagi hanya mampu menahan erangan pelan.

Di hadapan mereka berdiri tiga sosok yang bahkan tanpa berseragam rapi pun memancarkan aura dominasi.

Andri berdiri paling depan. Tingginya sekitar 178 sentimeter, tubuhnya cukup berisi, bahunya lebar. Wajahnya keras, garis rahangnya tegas dengan tatapan yang selalu tampak garang, seolah dunia memang diciptakan untuk diinjak olehnya.

Di sampingnya, Bima menyeringai. 180 sentimeter, tubuh atletis hasil latihan rutin, entah di gym atau di jalanan. Rambutnya dicat merah menyala, kontras dengan wajah tampannya yang sering menipu orang. Ia terlihat seperti siswa populer, namun di balik senyum itu tersembunyi kekerasan yang tak kalah kejam.

Kevin berdiri paling belakang, namun justru paling mencolok. 183 sentimeter, tinggi semampai dengan tubuh ideal, tidak kurus, tidak gemuk, ototnya terdefinisi rapi. Wajahnya paling tampan di antara keduanya, dengan sorot mata licik yang selalu menilai orang lain layaknya barang dagangan.

Mereka bertiga, Andri, Bima, Kevin. Nama-nama yang cukup untuk membuat, siswa kelas tiga SMA Cahaya Senja menunduk dan menyingkir.

“Pergi kalian semua!” teriak Andri sambil menunjuk ke arah gerbang kecil, “besok jangan lupa uang setorannya!”

Lima siswa itu segera bangkit tertatih, sebagian berlari, sebagian terpincang, tak satu pun berani menoleh kembali.

Bima tertawa kecil, lalu mulai menghitung uang di tangannya.

“Sepuluh… dua puluh… tiga puluh… empat puluh… lima puluh,” katanya puas, “lumayan. Hari ini panen.”

Kevin mengangkat bahu santai. “Enak banget hidup begini,” ujarnya sambil menyeringai, “tinggal hajar orang, duit datang sendiri. Mereka juga nggak bakal berani ngelawan.”

Tak ada yang membantah.

Di SMA Cahaya Senja, ketiganya memang tak tersentuh. Kekuatan fisik mereka berada jauh di atas siswa lain. Bahkan ada bisik-bisik di kalangan murid, bahwa Andri, Bima, dan Kevin hanyalah tangan kanan. Anak buah dari seseorang yang benar-benar menguasai sekolah ini dari balik layar.

Saat tawa mereka belum sepenuhnya reda.

Tap… Tap… Tap…

Suara langkah kaki terdengar dari koridor samping. Koridor sempit dan panjang, jarang dilewati siswa maupun guru. Tempat favorit untuk urusan kotor.

Ketiga Penindas itu saling pandang, lalu senyum licik muncul serempak di wajah mereka.

Andri melangkah maju, menghadang sosok yang baru muncul.

“Woi,” katanya kasar sambil mengangkat tangan, “kalau mau lewat sini, bayar dulu!”

Bima ikut menimpali, nadanya mengejek, “Andri bener. Setoran dulu baru boleh jalan.”

Kevin menyipitkan mata, menilai orang di depan mereka dari ujung kepala sampai kaki.

“Wah… sepertinya orang ini kaya,” katanya sambil tersenyum tipis, “lihat wajahnya. Tampan juga. Siswa pindahan, ya?”

Sosok yang mereka hadang adalah Dion.

Ia memang sering melewati koridor samping itu, sepi, tenang, jauh dari hiruk-pikuk sekolah. Ia hanya ingin segera masuk kelas setelah menunggu bus yang datang terlambat. Namun pagi ini, jalannya terhenti oleh tiga bayangan yang dulu begitu ia kenal… dari posisi korban.

Dion menghela napas pelan. Tatapannya dingin, lurus menembus Andri.

“Kalian ini preman?” tanyanya tenang, “memaksa minta uang dari siswa lain.”

Nada suaranya membuat ketiganya sedikit terdiam, bukan karena takut, melainkan karena tak biasa mendengar perlawanan sekecil itu.

Kevin tertawa kecil.

“Kami bukan preman,” katanya santai, “tapi kalau mau hidup tenang di sekolah ini, ada uang pengamannya. Iya kan?”

Ia menoleh ke Andri dan Bima, meminta persetujuan.

Bima mengepalkan tinjunya, buku jarinya berbunyi pelan.

“Kau nggak mau bayar?” katanya mengancam, “kalau tidak…”

Ancaman itu menggantung di udara.

Ketiganya menatap Dion seperti predator menilai mangsa. Ada kilat keserakahan di mata mereka. Siswa tampan seperti ini, berwajah bersih, rapi, dan entah kenapa memancarkan kesan mahal, jarang mereka temui, bahkan di SMA Cahaya Senja yang dipenuhi anak-anak orang berada.

Mereka belum tahu satu hal. Bahwa pemuda yang kini berdiri di hadapan mereka, bukan lagi Dion yang dulu tergeletak tak berdaya di lantai toilet. Dan koridor sepi itu… akan segera menjadi saksi perubahan keseimbangan kekuatan.

1
iky__
I keep reading
iky__
up trus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!