Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersiap-siap
Sepupu saya, Adnan," potong Ryan, suaranya rendah dan penuh perhitungan, bukan amarah. "Dan, ya. Dia tidak salah paham. Dia ingin merusak reputasi saya di depan Dewan direksi dan keluarga besar."
Ryan mengemudikan mobilnya ke bahu jalan, jauh dari keramaian. Ia mematikan mesin, keheningan total menyelimuti mereka, kali ini jauh lebih berat dan menakutkan.
"Adnan sudah punya gambar, gambar Anda dan saya, berdua, larut malam di mobil saya. Dan dia akan menggunakan untuk menekan saya agar menerima perjodohan bisnis yang selama ini saya tolak mentah-mentah." jelas Ryan, menoleh sepenuhnya pada Aulia. Matanya setajam tadi pagi, tetapi sekarang mengandung determinasi yang dingin dan putus asa.
Aulia merasakan dunia desainnya terancam. "Tapi saya akan jelaskan, Pak. Saya hanya..."
"Tidak ada yang akan percaya, dan penjelasan Anda akan merusak citra perusahaan, dan lebih buruk menciptakan gosip di kantor yang saya larang keras," Ryan memotongnya lagi. Kita butuh solusi yang terbaik."
Ia menghela napas, gestur yang jarang. "Anda terdesak kebutuhan finansial, Nona Aulia. Saya melihat ringkasan gaji Anda. Itu adalah gaji pertama Anda di sini. Dan saya yakin Anda butuh jauh lebih banyak untuk masalah keluarga Anda. Saya dengar dari HRD, Anda menanggung biaya pengobatan Ibu Anda."
Aulia terhenyak, Ryan tahu detail pribadinya. "Bagaimana, Bapak...."
"Tidak penting bagaimana saya tahu," tegas Ryan. Dia mengeluarkan selembar kartu nama platinum dari dompetnya dan meletakkan di konsol tengah.
"Saya akan menawarkan kesepakatan. Kontrak. Pernikahan palsu."
Aulia membelalakan matanya, mengira ia salah dengar.
"Saya butuh perisai dari tekanan keluarga dan perjodohan itu. Saya butuh alasan sah untuk menolak, dan seorang istri yang sudah resmi adalah satu-satunya cara. Dan Anda, Anda butuh uang dan keamanan finansial agar Anda bisa fokus sepenuhnya pada proyek Lavana tanpa terbebani hutang dan masalah pribadi," jelas Ryan, suaranya seperti seorang CEO yang mengajukan proposalnya merger.
"Kontrak ini akan mencakup setiap detail: batas-batas hubungan kita, durasi dan yang paling penting kompensasi finansial yang akan melunasi semua utang dan menjamin pengobatan terbaik untuk Ibu Anda, plus dana bulanan yang sangat besar " lanjutnya, menatap Aulia, dengan tatapan yang menuntut jawaban cepat. "Pikirkanlah, Nona Aulia. "Ini adalah solusi profesional untuk masalah pribadi yang tidak profesional. Anda mendapatkan uang, saya mendapatkan waktu dan perlindungan."
Aulia menatap kartu nama itu. lalu ke wajah Ryan yang karismatik namun dingin. Tawaran itu gila, tapi uang itu bisa menyelamatkan Keluarganya. Ini adalah dilema terbesar dalam hidupnya, sebuah pernikahan palsu, dengan pria yang menganggap romansa karir adalah sampah.
"Anda punya waktu sampai besok pagi untuk memutuskan," tutup Ryan."Setelah ini, Anda kembali ke mode.profesional. Saya akan mengantar Anda ke rumah sekarang."
Ryan menyalakan mobil, melanjutkan perjalanan seolah-olah dia baru saja menawarkan Aulia secangkir kopi lagi, bukan kesepakatan merubah hidup. Aulia duduk membeku, mempertimbangkan harga yang harus ia bayar untuk menyelamatkan Keluarganya.
Ryan mengantar Aulia sampai ke ujung gang perumahan padat yang menjadi tempat tinggalnya. Ia tidak bertanya dan Aulia tidak memberi petunjuk. Tepat ketika Aulia hendak membuka pintu mobil, Ryan menyerahkan sebuah tablet tipis.
"Ini adalah draf kasar kontraknya," ujarnya datar. "Bacalah malam ini. Besok pagi, tepat jam tujuh, sebelum orang lain datang, kita selesaikan ini di ruangan saya."
Aulia menerima tablet itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Pak Ryan, Saya akan..."
"Saya tidak butuh terima kasih, Nona Aulia. Saya butuh keputusan profesional. Selamat malam."
Pintu mobil tertutup dan mobil Ryan melaju cepat, meninggalkan Aulia di tengah malam dengan tablet yang terasa seperti bom waktu di tangannya.
"Aku hak bisa tidur," kata Aulia. Tablet itu tergeletak di meja kecilnya. Menyala, menampilkan dokumen yang menguraikan setiap syarat dan ketentuan 'pernikahan kontrak' mereka.
"Angka yang ditawarkan Ryan, besar banget, cukup untuk melunasi semua utang rumah sakit ibu. Bahkan bisa untuk biaya pengobatan Ibu setahun kedepan dan membeli rumah kecil yang layak untukku dan keluargaku." Monolog Aulia.
"Durasinya satu tahun, dengan opsi perpanjangan tiga bulan atau diakhiri segera, jika ancaman dari pihak keluarga Ryan hilang." Aulia terus membaca.
Peraturan utama: Hubungan fisik dilarang. Kerahasiaan total. Di kantor, mereka adalah CEO dan desainer junior. Di hadapan publik, mereka adalah pasangan yang saling menghormati. Dan yang paling penting, tidak ada emosi pribadi yang diijinkan.
Aulia menatap ibunya yang tertidur pulas di kamar sebelah. Keputusannya bukan lagi tentang dirinya, tetapi tentang hidup ibunya. Dengan perasaan beku dan air mata yang kering, Aulia mengambil keputusan.
Tepat pukul 06.55 keesokan paginya, Aulia sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Ryan. Ia mengenakan blazer yang sama seperti kemarin, tapi kali ini ia membawanya dengan aura yang berbeda. Bukan gugup melainkan ketetapan hati yang dingin.
"Saya sudah menunggu kamu," kata Ryan tanpa basa basi saat Aulia masuk. Ia duduk di balik meja. Di hadapannya ada dua salinan kontrak dan pulpen.
'Kamu sudah membacanya?"
"Sudah Pak Ryan," jawab Aulia berdiri tegak di depannya.
"Dan?"
"Saya setuju dengan sebagian besar isinya," Kata Aulia mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.
"Hanya ada dua poin yang perlu saya bahas."
Ryan mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan ketegasan Aulia. "Silahkan, kita disini untuk negosiasi, bukan untuk bertepuk tangan."
"Pertama, kompensasi untuk ibu saya harus dibayarkan segera sebelum pengumuman pernikahan palsu ini. Saya butuh kepastian itu hari ini," kata Aulia.
"Puas dengan aturan itu," Ryan mengangguk dan mengambil pulpennya. Saya akan instruksikan pengacara saya untuk segera mentransfer uangnya. Poin kedua?"
"Kedua, pekerjaan saya di Aditama & Partners harus tetap berjalan normal. Status saya tidak boleh diubah karena pernikahan ini. Saya tidak mau dipromosikan atau dipindahkan ke divisi yang lebih mudah cuma karena saya adalah istri Bapak. Saya mendapatkan pekerjaan ini karena bakat saya dan saya ingin membuktikannya di proyek Lavana., tanpa bantuan dari nama Bapak."
Ryan menatapnya lama, tatapan elangnya meneliti kejujuran di mata Aulia. Ada jeda panjang yang sunyi, dimana Aulia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
"Menarik," ujar Ryan akhirnya, dengan seringai tipis hangat jarang terlihat. "Kamu meminta tantangan bukan perlindungan, saya menghargai profesionalisme itu, Nona Aulia."
Ia mengambil pulpen dan membuat catatan cepat di dokumen itu. "Baik, status Kamu di kantor tetap sebagai Desainer Junior. Dan saya akan bersikap lebih menuntut dari sebelumnya. Jika kamu membuat kesalahan, kamu akan tetap menanggung konsekuensinya. Di luar kantor kita adalah suami istri. Disini, kamu adalah karyawan saya."
"Setuju," kata Aulia lega.
'Sempurna," Ryan memutar kontrak itu ke hadapan Aulia dan menunjuk ke baris tanda tangan. "Mulai detik ini, hidup kita akan berubah menjadi lakon sandiwara. Aturan nomor satu: jangan pernah melupakan naskahnya. Kamu harus benar-benar menyukai saya di depan umum."
Aulia mengambil pulpen, menarik napas dalam-dalam. Ia melihat nama Ryan Aditama di atasnya, calon 'suami'-nya. Ia membayangkan uang itu, dan wajah ibunya.
Ia menandatangani.
Ryan juga menandatangani, dengan gerakan cepat dan tegas, seolah sedang menyetujui kontrak pembelian gedung. Ia mengambil satu salinan dan memberikannya pada Aulia.
"Selamat, Nona Aulia," kata Ryan, tanpa emosi. Kamu baru saja mendapatkan pekerjaan terberat dalam hidup Kamu. Sekarang, kita harus bergerak cepat."
Ia menekan tombol interkom di mejanya. "Mira, batalkan semua rapat saya sampai siang hari. Lalu, hubungi tim Humas dan pengacara keluarga saya. Minta mereka untuk menyiapkan konferensi pers mendadak jam sepuluh pagi. Judulnya: Pengumuman Pernikahan Ryan Aditama."
Di seberang sana, Mira terkejut mendengar perkataan Ryan. "Hah. Pernikahan Ryan? Menikah dengan siapa?"gumam Mira.
"Kenapa, Mira? ada yang kamu katakan?" tanya Ryan.
"Eh, maaf Pak. Terus terang saya terkejut, karena Bapak tidak pernah terlihat dengan gadis manapun, lalu tiba-tiba menikah. Siapa gadis beruntung itu?" Mira memberanikan diri untuk bertanya.
"Dia, Aulia. Jadi kamu tolong bantu segala persiapan dan apa pun yang dibutuhkannya tolong kamu siapkan." kata Ryan tegas tanpa ragu sedikitpun.
"A...Aulia, desainer Junior itu?" tanya Mira meyakinkan dirinya.
"Iya, Aulia, si Desainer Junior." Jawab Ryan lagi.
"Oh...Oke. Siap Pak. Saya akan bantu mempersiapkan segala kebutuhan Nona Aulia." jawab Mira cepat.
"Ya Ampun, ternyata Aulia itu kekasihnya Pak Ryan?" Mira masih kurang percaya dengan kenyataan ini. Tapi dengan sigap ia menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh Aulia.
Ryan berdiri mengambil jasnya. Ia kini menatap Aulia, bukan sebagai karyawan, melainkan sebagai partner dalam kejahatan profesional ini. "Pulang. Bersiap-siap. Kita akan mengumumkan sandiwara ini pada dunia."
Aulia mengangguk kaku, memegang erat-erat kontrak itu. Sandiwara baru saja dimulai.
Bersambung....