NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — Penolakan Total

Pagi pertama setelah aturan '24/7 bersama' diumumkan oleh pelatih Arwin, waktu seolah diseret jauh lebih lambat bagi Rakha. Dia sudah ada di lapangan sejak pukul enam, sesuai jadwal baru. Matanya terus menatap jam tangan, dan detik demi detik, ketenangan Rakha terkikis.

06.10

06.15

06.20

Belum ada tanda-tanda Keenan. Dimas, Olan dan anggota lain mulai berdatangan.

"Keenan belum datang?" tanya Dimas.

"Belum." Jawaban Rakha pendek, tajam.

06.27

Pintu aula akhirnya terbuka.

Keenan terhuyung masuk sambil ngos-ngosan, sepatu masih digenggam erat, belum diikat.

"Sorry, gue telat," katanya pendek.

Rakha menghela napas kasar sambil mengacak-acak rambutnya.

"TELAT?" suara Rakha keras menggema di aula. "Lu tahu kan konsekuensinya?! Kita disuruh 24/7 bareng, Keenan! Coach bilang start jam ENAM!''

"Gue bangun kesiangan," jawab Keenan simpel. Datar. Tanpa rasa bersalah.

Justru itu yang bikin Rakha makin naik darah.

"Lu sengaja ya?"

Keenan menatap balik dengan dingin.

"Kalau iya, kenapa?"

Rakha hampir melempar sesuatu jika tidak ditahan oleh Dimas.

Ancaman Pelatih terngiang keras di kepalanya. 'Kalau satu telat—dua-duanya dihukum.'

Ia sudah bisa membayangkan lari keliling lapangan lima puluh kali.

Semua gara-gara satu orang ini.

Rakha memungut bola yang tidak jauh darinya, lalu melemparkannya ke Keenan dengan sangat kencang daripada yang diperlukan.

"Cepat ganti sepatu. Kita mulai sekarang. Hukuman kita… biar Coach yang nentuin nanti."

Keenan hanya menyeringai kecil, senyum tipis khas orang yang tahu dia baru saja memancing reaksi yang tepat.

Ia mengikat tali sepatunya dengan sengaja lambat, penuh protes pasif, seakan berkata, 'gue selalu suka reaksi lu marah.'

Rakha memalingkan wajah. Pagi baru saja dimulai, tapi ia sudah ingin melempar kursi ke semua orang.

Mereka memulai latihan pertama yang diwajibkan Pelatih Arwin, Passing 15 Meter Sambil Bergerak Cepat.

Keenan mengoper dengan kecepatan wajar. Rakha berlari menerima, lalu tanpa aba-aba ia sengaja mempercepat langkah dan melempar bola kembali jauh sebelum Keenan siap.

DUK!

Bola menghantam dada Keenan dengan keras.

"Aw sakit, brengsek!" Keenan menggosok dadanya sambil memelototi Rakha.

"Lambat," balas Rakha datar. "Timing lu tuh di bawah standar."

"Ck."

Keenan menarik napas tajam, sedangkan Rakha hanya melengos tak peduli. Mereka tepat melanjutkan latihan meski keseimbangan mulai goyah.

Satu operan. Dua. Tiga. Empat.

Di percobaan kelima, mereka memang berhasil menyelesaikan lima kali passing… tapi tidak satu pun terasa benar. Semua dipaksakan, penuh dorongan ego. Gerakan mereka kaku, tidak ada ritme—seolah dua robot rusak yang dipaksa sinkron.

Setiap langkah terasa berat, seolah sedang melakukan ajang balas dendam dalam permainan. Pelatih Arwin belum juga terlihat, tapi atmosfer tim sudah hancur sedari awal.

Latihan lanjut ke Physical Drill Berpasangan, dua orang berlari sambil saling menahan dengan resistance band.

Dan di detik pertama… latihan itu gagal total.

Keenan terpeleset ke belakang karena tarikan Rakha terlalu kuat. Rakha sendiri hampir terjatuh karena Keenan sengaja menahan di waktu yang salah. Band melesat dengan bunyinya yang nyaring, dan keduanya terseret mundur seperti adegan slapstick yang jauh dari kata lucu.

Tim lain langsung menjauh, tidak mau ikut terseret dalam kekacauan itu.

"Woi!" Rakha tersentak saat resistance band di pinggangnya menarik tubuhnya mundur dengan keras. Keseimbangannya hampir hilang.

Keenan hanya terkekeh kecil tanpa rasa bersalah "Capek ah. Gue butuh break bentar."

Rakha menatapnya tanpa berkedip, tatapan yang begitu penuh emosi sampai udara rasanya ikut mendingin.

Di pinggir lapangan, gumaman pesimis mulai terdengar.

"Mereka tuh sebenarnya bukan dribbling bola, tapi dribbling ego," keluh Dimas sambil menepuk dahinya.

"Ini duo tim atau apa sih," sahut Olan tak kalah frustasi. "Sistem 24/7 mah nggak bakal berhasil kalau dua-duanya kayak batu begini. Bebal"

Dalam sesaat, Keenan sengaja memantulkan bola lagi, seolah tak terjadi apa-apa. Sikap santainya itu justru seperti bensin ke bara. Di tengah kegagalan yang jelas-jelas ia ciptakan, Rakha akhirnya pecah.

"Lu tuh kenapa sih selalu bikin ribet?!" bentaknya.

Bola langsung berhenti. Keenan menoleh pelan, tatapannya datar, hampir malas.

"Kenapa?" ulang Keenan. "Lu takut gue ngerusak reputasi lu yang perfect itu? Atau…"

Ia sengaja menggantung, menelisik wajah Rakha yang memerah karena emosi.

"GUE PEDULI KARENA KITA SATU TIM, KEENAN! Ini tuh buat kebaikan kita semua, kenapa sih lu nyusahin banget!" suara Rakha meninggi. Ada getar frustrasi yang bahkan ia sendiri tidak sadari—dan kata-kata terakhir itu terdengar jauh lebih pribadi dari seharusnya.

Keenan membalas lirih, tapi tajam, "Cuma karena itu lu berisik banget, tau nggak? Lu tuh paling heboh kalau soal gue."

Diam.

Sepersekian detik yang rasanya panjang.

Rakha menelan ludah, napasnya berat, dada naik-turun. Bukan hanya marah—tapi juga tersinggung, tersentuh di tempat yang tidak ingin ia akui.

"Ck."

Ia membalikkan badan. Suaranya kembali datar, tapi jelas terpaksa.

"Latihan selesai. Yang masih mau latihan silakan dilanjut. Yang enggak, balik ke kelas."

Rakha keluar aula paling dulu. Begitu pintu berat itu menutup di belakangnya, ia langsung menarik napas panjang yang terdengar seperti orang yang sedang menahan amarah.

Lorong sekolah terasa begitu senyap, hanya lampu neon yang berdengung pelan. Ia menahan rambutnya ke belakang, rahangnya mengeras.

Lalu duk—ia menendang tembok kecil di samping rak sepatu. Tidak keras, tapi cukup untuk meluapkan sesuatu yang hampir meledak.

"Bangsat…" gumamnya. Kata itu pecah sedikit, seperti suara yang setengah tertahan.

Ia menggosok wajahnya, frustasi. "Kenapa harus ngomong gitu sih…" Ia terdengar marah, tapi juga… kecewa.

Kesal pada Keenan, kesal pada diri sendiri. Kesal karena peduli.

Rakha menunduk, menatap lantai, lalu berjalan cepat menyusuri lorong tanpa menoleh lagi.

Di dalam aula, Keenan masih tergeletak di tengah lapangan. Anggota lain sudah keluar dan hanya menyisakan dirinya seorang.

Ia menutup mata dengan tangan di atas dahi, napasnya masih berat setelah adrenalin tadi.

"Ck…" Ia mendecak, tapi bukan sinis—lebih ke kesal pada dirinya sendiri.

Ia bangun perlahan lalu duduk dengan rambutnya yang sudah berantakan, menatap langit-langit.

"Kenapa sih susah banget ngomong normal sama dia…"

Nada suaranya bukan marah… tapi frustrasi. Karena setiap kali buka mulut, hasilnya melesat jauh. Dan ia tahu itu.

Perlahan Ia mengambil botol minumnya yang tak jauh, meneguk sedikit, lalu menatap pintu besar yang sudah tertutup.

"Harusnya gue diem aja tadi," bisiknya.

Lalu membanting botol kecil itu ke lantai pelan, lebih ke putus asa daripada marah.

Di lorong dan di aula, dua kepala keras itu memikirkan hal yang sama. Hanya saja... tak satupun dari mereka siap untuk mengakuinya.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!