Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
"Gak usah ikut campur lo! Ini urusan gue sama cewek di dalam!" balas Raka, suaranya terdengar meninggi menantang orang tersebut.
"Gue bilang pergi, ya pergi! Ini lingkungan rusun, semua orang lagi istirahat! Kalau lo gak cabut sekarang juga, gue teriakin maling biar digebukin satu RT lo mau?!" ancam suara itu dengan nada yang sangat berani dan tidak ada takut-takutnya.
Mendengar ancaman massa, nyali Raka tampaknya menciut. Terdengar suara langkah kakinya yang dihentak kesal menjauh, pergi meninggalkan koridor sambil memaki-maki sumpah serapah.
Suasana di luar mendadak hening. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran dadaku yang menggila. Perlahan, aku berjalan ke pintu depan. Suara orang yang mengusir Raka tadi terasa sangat tidak asing di telingaku. Sangat familiar.
Dengan tangan yang masih gemetar, aku membuka kunci selot dan membuka pintu sedikit untuk mengintip.
Begitu pintu terbuka, mataku terbelalak terkejut. Seorang wanita dengan pakaian daster santai sedang berdiri membelakangiku sambil berkacak pinggang, menatap ke arah tangga rusun. Saat dia membalikkan badan mendengar suara pintuku—
"M-Mbak Dian?!" seruku tidak percaya.
Mbak Dian menoleh ke arahku dengan wajah yang sama terkejutnya.
"Loh? Aruna?! Jadi lo yang tinggal di nomor tiga ini?!" tanya Mbak Dian dengan mata membelalak. Dia menunjuk rumah tepat di sebelahku. "Gue tinggal di nomor empat, Runa! Astaga, ternyata kita tetangga sebelahan?!"
Aku terpaku di ambang pintu. Dunia rasanya sempit sekali. Di tengah rasa takut yang menderu, aku tidak menyangka kalau pahlawan penolongku sore ini ternyata adalah teman satu kubikelku sendiri di kantor.
"Ya ampun, Runa, untung lo gak apa-apa," ujar Mbak Dian dengan suara yang masih menyisakan sisa kekesalan pada Raka. Dia lalu melirik pintu rumah nomor satu dan dua di ujung koridor yang lampunya mati total. "Kemarin malam tuh ada yang laporan ke gue. Rumah nomor 1 dan 2 lagi ga ada. Dan rumah nomor 5 itu pemalu gak berani buat datangin…"
Aku menelan ludah, rasa takutku perlahan berganti jadi rasa penasaran. "Emang... kemarin malam ada yang dengar ya, Mbak?"
Mbak Dian mengangguk cepat. Dia mendekat selangkah lalu setengah berbisik. "Nah, itu dia! Tadi sebelum si cowok berandalan itu datang gedor-gedor, penghuni lantai atas ada yang ngomong ke gue. Dia bilang, semalam itu sebenarnya ada keributan besar di bawah, dekat gang masuk rusun kita."
Jantungku langsung berdesir hebat. Itu kan waktu kejadian aku dikejar Raka dan penamparan dari Pak Adrian!
"Terus dia sempat dengar suara teriakan cewek sama hantaman keras banget, kayak ada yang lagi berantem," lanjut Mbak Dian menggebu-gebu. "Cuma ya gitu, pas dia keluar ke balkon dan mau ngecek ke bawah, suasananya udah sepi banget. Gak ada tanda-tanda orang lagi. Makanya dia gak lanjut nyari kebenaran dan langsung masuk lagi ke rumah."
Aku hanya bisa mengangguk-angguk kaku, pura-pura tidak tahu padahal dalam hati sudah ketakutan setengah mati kalau sampai ketahuan akulah utama dari keributan itu.
"Dia cerita ke gue karena emang kemarin malam gue lagi gak ada di sini. Gue nginep di rumah nyokap, jadi gak tahu situasi di sini beberapa hari kebelakang," Mbak Dian berkacak pinggang lagi, matanya menatapku dengan penuh selidik tapi penuh perhatian khas seorang kakak. "Tapi melihat kelakuan cowok tadi... semalam itu yang ribut sebenarnya lo sama dia, kan?"
Pertanyaan Mbak Dian langsung membuatku bungkam. Aku meremas ujung bajuku, bingung harus menjawab apa. Rasanya rahasiaku yang kusembunyikan seharian di kantor tadi perlahan mulai terkelupas di depan tetangga baruku ini.
Aku menengok ke kanan dan ke kiri koridor rusun dengan cemas. Menyadari posisi kami yang berdiri di ambang pintu bisa memancing perhatian atau kuping tetangga lantai atas yang kepo, aku langsung menarik pelan lengan Mbak Dian.
"Mbak, masuk ke dalam dulu yuk. Enggak enak kalau ada yang dengar di luar," bisikku pelan, hampir memohon.
Mbak Dian mengangguk paham. "Oh, iya, iya. Yuk."
Begitu Mbak Dian melangkah masuk, aku segera menutup pintu dan menguncinya kembali dengan rapat. Kami berdua duduk lesehan di atas karpet tipis ruang tengah kontrakanku. Di suasana yang tenang ini, pertahananku akhirnya runtuh. Mengalir begitu saja, aku menceritakan semua kejadian mengerikan semalam dari awal sampai akhir.
Aku cerita bagaimana Raka mencegatku, kasarnya dia saat memaksaku, dan bagaimana trauma yang kurasakan saat hampir ditiduri. Namun, saat bagian pahlawan yang menolongku datang, aku sengaja mengerem bicaraku. Aku memutuskan untuk menyembunyikan identitas Pak Adrian.
"Terus... untung ada cowok lain yang lewat, Mbak. Dia nolongin aku. Dia marah banget denger omongan kasar Raka, langsung ditampar tuh si Raka sampai tersungkur di aspal. Terus cowok itu juga yang nganterin aku sampai depan pintu ini," ucapku, memodifikasi kebenaran.
Aku terpaksa tidak menyebut nama Pak Adrian karena aku takut setengah mati kalau ini bocor ke anak-anak kantor. Bisa-bisa jadi gosip liar yang menghancurkan karierku di perusahaan itu. Lagipula, kalau aku jujur bilang bahwa CEO berwajah sedingin es batu itu rela masuk gang becek demi menolong karyawannya, Mbak Dian pasti tidak akan percaya dan mengira aku halusinasi karena syok.
Mendengar ceritaku, mata Mbak Dian berkaca-kaca karena iba. Tanpa banyak bicara, dia langsung condong maju dan memeluk tubuhku erat-erat.
"Astaga, Aruna... Gue gak nyangka lo ngalamin kejadian se-traumatik itu semalam, pantesan tadi di kantor lo keliatan lemes banget," bisik Mbak Dian sambil menepuk-nepuk punggungku yang kembali bergetar. "Untung Tuhan masih melindungi lo lewat cowok itu."
Kami berpelukan beberapa saat sampai tangisku mereda. Mbak Dian kemudian melepaskan pelukannya, lalu mengeluarkan ponselnya.
"Sini, tukeran nomor kita. Di kantor cuma ngobrol doang. Mulai sekarang, kalau bajingan itu datang gedor-gedor lagi atau lo butuh apapun tengah malam, langsung telepon atau misscall gue, ya!" tegasnya sambil menyodorkan layar ponsel untuk mengetik nomor.
Aku mengangguk terharu, mengetik nomor ponselku di sana.
Setelah bertukar nomor, ekspresi wajah Mbak Dian berubah menjadi sangat serius. Dia memegang kedua pundakku dengan tatapan yang sangat tajam.
"Dan satu hal lagi yang paling penting, Runa. Putusin cowok kayak gitu! Jangan pernah kasih kesempatan kedua buat laki-laki berandalan, mabuk-mabukan, dan main tangan. Hubungan kalian itu udah toxic. Nggak ada untungnya mempertahankan bajingan kayak Raka. Ngerti?"
Aku menunduk, meresapi nasihat tegas dari Mbak Dian yang terasa menampar logikaku sendiri. "Iya, Mbak. Aku ngerti. Emang udah ada niatan buat putusin dia.”
“Bagus! Lo berhak dapetin yang lebih baik dari b*jingan itu.”
Aku mengangguk. Kali ini aku sudah punya teman jadi tanpa Raka pun sekarang gak perlu khawatir lagi.