Sebelum lanjut membaca, boleh mampir di season 1 nya "Membawa Lari Benih Sang Mafia"
***
Malika, gadis polos berusia 19 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah hanya dalam satu malam. Dijual oleh pamannya demi sejumlah uang, ia terpaksa memasuki kamar hotel milik mafia paling menakutkan di kota itu.
“Temukan gadis gila yang sudah berani menendang asetku!” perintah Alexander pada tangan kanannya.
Sejak malam itu, Alexander yang sudah memiliki tunangan justru terobsesi. Ia bersumpah akan mendapatkan Malika, meski harus menentang keluarganya dan bahkan seluruh dunia.
Akankah Alexander berhasil menemukan gadis itu ataukah justru gadis itu adalah kelemahan yang akan menghancurkan dirinya sendiri?
Dan sanggupkah Malika bertahan ketika ia menjadi incaran pria paling berbahaya di Milan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Alexander yang sudah setengah mabuk, tanpa pikir panjang melepaskan kemeja hitam yang sudah basah oleh keringat, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai.
Sebuah lukisan indah sekaligus mengerikan terpampang di dada atletisnya. Tato naga dari bahu hingga tulang rusuk seolah bergerak mengikuti naik-turunnya napas sang mafia muda itu.
Malika yang sejak tadi berdiri kaku, kini benar-benar terpaku. Matanya membelalak dan bibirnya menganga lebar.
“Astaga!” Gadis itu buru-buru memalingkan wajah sambil menutup mata dengan kedua tangan, tetapi gambaran siluet tubuh berotot yang dipahat sempurna itu sudah tercetak di dalam ingatannya.
“Apa itu roti sobek?” batin Malika dengan panik. Ini pertama kalinya Malika melihat tubuh polos seorang pria.
“Kenapa diam saja, makhluk jadi-jadian?!” bentak Alex. Tatapannya berubah tajam. “Apa kau jadi bisu sekarang?”
“Jangan panggil aku makhluk jadi-jadian! Sudah kukatakan, kalau aku ini manusia!” bentak Malika dengan suara gemetar dan wajah memerah hingga ke telinga. “Aku berdandan seperti ini juga karena dipaksa!”
Alex tidak peduli dengan pembelaan gadis itu. Ia merengkuh pinggang Malika dan menariknya mendekat. Hingga jarak wajah mereka tinggal beberapa inci.
“Aku tanya sekali lagi, siapa yang menyuruhmu masuk?” tanya Alex, suaranya berubah dingin. Seperti boss yang menginterogasi bawahan.
“S–seorang wanita berpesan kalau aku harus menemani seseorang di kamar 230,” jawab Malika dengan terbata.
230? Alex memukul kepalanya sendiri. Bukankah ini kamar 203?
“Dia juga bilang, aku hanya perlu duduk dan tersenyum padamu, Om. Tidak lebih,” ujar Malika.
Alex berkedip beberapa kali, mencoba memproses ucapan gadis itu.
“Om?” Ia menatap Malika dengan wajah datar. Bagaimana bisa gadis ini memanggilnya om?
“Iya. Om om.”
“Apa aku terlihat tua bagimu?” tanya Alex.
“T-tidak!” seru Malika. “Hanya, ya, cukup tua untuk dipanggil Om.”
Beberapa detik kemudian, Malika merutuki mulutnya yang tidak bisa disaring.
Alexander mendengus. Harga diri yang jauh lebih mahal dari jet pribadinya, langsung tercabik-cabik. Alex menyapu tubuh Malika dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Nama,” ucapnya dingin.
Malika terdiam.
“Aku bertanya namamu makhluk aneh!” ulang Alex dengan meninggikan suara.
Malika cemberut. Kenapa pria ini selalu memanggilnya begitu?
Jujur sana dandanannya ini memang sangat mencolok. Eyeshadow tebal, lipstik merah menyala, dan dress pendek pinjaman. Tapi bukan berarti dia alien kan?
“Mau jawab atau aku lempar kau ke sungai supaya disantap buaya?” ancam Alex.
“Lucy! Namaku Lucy!” jawab Malika spontan. Ia sengaja tak mengatakan nama aslinya pada pria ini.
“Pekerjaan.”
“E-eh, aku?” Malika menunjuk dirinya sendiri.
“Memangnya ada siapa lagi di sini selain kau?!” Alex mulai terpancing emosi bicara dengan gadis yang terlalu polos tapi nampak bodoh ini.
“Pekerjaanku menyapu, mengepel lantai, cuci piring dan—”
“Cukup!” potong Alex cepat sembari menggelengkan kepalanya. “Aku menanyakan pekerjaanmu di klub ini, bukan sedang menginterogasi tukang kebersihan.”
Malika manyun, hatinya kesal karena lagi-lagi dihina.
“Kau tampak seperti anak ayam yang kehilangan induknya,” lanjut Alex sambil memijat pelipisnya. “Kebohonganmu, sekitar tujuh puluh persen. Sisanya panik dan loading lama!”
“Hah? Memang ada hitungannya segala?”
“Tentu saja ada!” Alex tiba-tiba melepaskan pegangannya di pinggang Malika, lalu duduk di sofa besar dan menepuk pahanya. “Kemari, makhluk jadi-jadian. Duduk di pangkuanku.”
“Tidak mau! Aku mau pulang!”
“Kubilang duduk!” itu adalah kalimat perintah yang dingin dan mutlak itu membuat bulu kuduk Malika berdiri.
Dengan wajah pasrah, Malika duduk di pangkuan Alex. Ia berusaha menjaga jarak sejauh mungkin, seolah ada dinding tak kasatmata di antara mereka. Namun, Alex langsung mencengkeram pinggang rampingnya. Seolah tidak rela gadis itu kabur.
“Paman Jimmy, akan kubuat kau menyesal. Memberi wine murahan pada otak seharga jutaan dolar,” lirih Alex dengan napas naik turun.
“Otak? Benarkah harganya semahal itu?” tanya Malika dengan mata terbuka lebar.
“Dalam beberapa kasus, iya. Bahkan lebih mahal dari harga tubuhmu,” sahut Alex sembari memutar bola mata malas.
Malika menggerutu pelan. Ia merasa diremehkan, tapi terlalu takut untuk membalas.
Tanpa peringatan, Alex menyandarkan kepala pada bahu Malika. Aroma tubuh Malika yang harum bunga wildflower bercampur parfum murahan entah mengapa terasa menenangkan.
“Berat! Awas!” seru Malika dengan wajah panik sembari berusaha mendorong kepala Alex.
“Diamlah sebentar. Kepalaku berputar-putar,” gumamnya lemah.
“A–apa?”
“Kalau kau berani kabur dari sini tanpa izin dariku, aku akan mencarimu. Dan mempermalukanmu di depan semua orang di klub.” Alex mendongak dan menatap tajam Malika.
“Maksudnya?”
“Aku akan membuatmu melepaskan semua pakaianmu dan memaksamu berlari di depan pengunjung pria.” seringai tipis terukir dari sudut bibir Alex.
Malika langsung diam. Sorot mata tajam berwarna biru itu benar-benar membuat Malika seperti tersihir, lumpuh tak berkutik.
“Baiklah, aku akan duduk diam dan tidak ke mana-mana,” ucap Malika akhirnya. Jauh dalam hatinya, ia terus mengumpat sikap pria pemaksa ini.
“Bagus.” Alex kembali memejamkan mata. “Sampai aku bangun, tetap di sini.”
Aroma Malika membuat Alex merasa sedikit tenang. Ia merasa lebih nyaman berpegangan pada gadis asing yang mencolok ini, daripada bersama tunangannya sendiri.
Dan dalam hitungan detik, terdengar suara dengkuran halus. Alex tertertidur.
“Lika harus kabur sekarang.” Malika perlahan menggeser lengan Alex yang mencengkeram pinggangnya.
Sulit, tetapi setelah berjuang beberapa detik, ia berhasil berdiri. Malika berjalan mengendap-endap menuju pintu.
Sebelum ia sempat memegang gagang pintu, tarikan yang cukup kuat menyeretnya kembali. Alex, yang masih setengah sadar, menahan pinggangnya dan menjatuhkan Malika ke atas ranjang.
Gadis itu terjatuh dengan posisi membelakanginya. Punggungnya terpampang jelas, gaun tipisnya tersingkap sedikit ke atas.
Tatapan Alex mengeras ketika melihat sebuah tanda hitam kecil di punggung kiri Malika. Bentuknya seperti kupu-kupu kecil yang sangat indah dan membuat Alex terpaku untuk sesaat.
“Tunggu?” Alex mendekat, meneliti tanda itu. “Apa ini? Jelek sekali.”
Bugh!
“Argh!” Alexander langsung berguling sambil memegang aset berharganya yang baru saja ditendang telak oleh Malika.
Malika beranjak dari sana, jantungnya hampir meloncat keluar, lalu lari sekencang mungkin tanpa menoleh.
Nafasnya tersengal, tapi adrenalin membuat kakinya bergerak lebih cepat dari logika.
“Lari Lika, lari!!!” seru gadis itu pada dirinya sendiri, meninggalkan Alexander yang kini meringis kesakitan.