Menikah dengan pria usia matang, jauh di atas usianya bukanlah pilihan Fiona. Gadis 20 tahun tersebut mendadak harus menerima lamaran pria yang merupakan paman dari kekasihnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembawa Sial
Dengan kondisi hamil tua, Fiona duduk di depan ruang operasi. Hatinya tak berhenti berdoa untuk keselamatan sang suami. Di sebelahnya juga ada Azka, anak itu menyusul ke rumah sakit setelah tidak mau dibujuk di rumah oleh para pelayan di rumahnya.
Operasi sudah berjalan berjam-jam, tapi pintu ruangan tersebut tak kunjung terbuka. Tidak ada yang keluar sekedar mengabari bagaimana kondisi sang suami. Dalam kondisi kepanikan itu, Fiona hanya bisa berdoa.
Fiona menatap wajah putranya yang tidur dengan mengunakan jaket sebagai banyak. Anak itu tidak mau dipulangkan. Ingin ikut menunggu sang mama.
Kabar kecelakaan Arga, juga sampai di telinga Bu Sasmita. Malam itu, beliau datang dengan tergesa-gesa.
"Kamu memang pembawa sial untuk anak saya!" ujar Bu Sasmita ketika baru tiba.
Datang-datang langsung menyalakan Fiona.
"Andai anak saya tidak menikahi kamu! Hal buruk seperti ini tidak mungkin terjadi!"
Bu Sasmita terus saja mengintimidasi, Azka yang tadinya tidur pulas, malah sampai terbangun karena suara keras dari Omanya itu. Dengan polos, Azka menggosok kedua matanya, menatap sang mama dan sang Oma bergantian.
"Kamu juga ceroboh! Membiarkan cucu saya terlantar tidur di kursi rumah sakit!" oceh Bu Sasmita. Seakan-akan tidak puas memarahi Fiona.
Sementara itu, Fiona yang mentalnya sedang kacau balau, ditambah hormon kehamilan, dia pun hanya bisa diam. Kali ini tidak membantah sama sekali ucapan mertuanya itu. Fiona seperti sudah kehabisan tenaga untuk bertengkar.
"Azka! Sekarang kamu pulang dan istirahat di rumah! Rumah sakit bukan untuk anak-anak. Biar sopir Oma yang antar. Kamu pulang dulu ya!" titah Bu Sasmita.
Azka langsung memegang tangan Fiona, dia memilih dengan ibunya, meskipun sang Oma baik pada Azka, kalau disuruh memilih, jelas dia akan memilih ibunya itu.
"Azka! Jangan bandel! Ikuti kata Oma!" Bu Sasmita mulai kelihatan tegas di depan cucunya itu.
"Azka mau sama mama," jawab Azka lalu memeluk Fiona.
"Maaa ... Sudah! Biarkan Azka tetap di sini!" sela Fiona kemudian saat melihat anaknya merasa tidak nyaman.
"Bagus! Ibu dan anak sama-sama keras kepala! Tidak bisa dinasehati!" oceh Bu Sasmita kemudian duduk dengan gusar.
Tak lama setelah itu, lampu operasi berganti. Dokter muncul dan para keluarga pasien langsung menghampiri.
"Bagaimana suami saya, Dok?"
"Anak saya bagaimana kondisinya sekarang?" sela Bu Sasmita.
Dokter menjelaskan singkat, kemudian dua wanita di depannya terlihat lemas.
"Kamu memang pembawa sial dalam keluarga saya!" ujar Bu Sasmita sambil mendorong bahu Fiona.
Sebenarnya tidak begitu keras, tapi dorongan itu mampu membuat tubuh Fiona tumbang. Ini karena perasaan Fiona sedang tak baik-baik saja, badannya seperti tidak punya kemampuan untuk berdiri tegap. Beruntung ada perawat, badan Fiona langsung ditangkap nya.
"Bu, ini rumah sakit. Jangan menciptakan keributan," ucap perawat.
Bu Sasmita tak peduli, dia tetap saja memarahi Fiona. Seakan-akan musibah kecelakaan ini adalah kesalahan Fiona. Seolah-olah nasib buruk yang menimpa Arga adalah Fiona dalangnya.
...****************...
Polisi telah melakukan penyelidikan, hasilnya belum keluar. Ini karena ada kekuatan sama besar di balik kasus tersebut.
Sementara itu, Arga telah dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik. Tidak lagi dirawat di negara ini. Ya, Bu Sasmita telah membawa Arga untuk berobat ke luar negeri.
Sadar pasca koma lima hari, Arga tidak bisa diajak komunikasi. Masih mengunakan alat bantu pernapasan juga.
Fiona juga tak diberikan kesempatan untuk menemui suaminya. Bu Sasmita membatasi siapa saja yang bisa bertemu dengan sang putra.
Sampai di bawa ke luar negeri, itupun Fiona tidak bisa menahannya. Bu Sasmita benar-benar memutus hubungan komunikasi dengannya. Kalah kuasa, bahkan Azka pun tak dibiarkan ketemu dengan papanya tersebut.
...----------------...
Tig bulan berlalu
Fiona sudah melahirkan bayi perempuan yang cantik, tanpa ditemani sang suami. Belum ada kabar jelas tentang keberadaan Arga sampai hari ini. Semua akses telah di blokir oleh keluarga besar Arga tersebut. Bahkan sekertaris Arga telah dipecat oleh Bu Sasmita. Fiona hanya bisa menunggu, hanya bisa menanti Arga mencarinya.
Hari demi hari terasa berat, belum lagi Azka bertanya kenapa papanya tak kunjung datang. Fiona bingung untuk menjelaskan, karena semua akses sudah ditutup. Entah suaminya telah kembali atau masih berobat di luar negri, sampai saat ini dia tidak tahu.
Beruntung masih ada hunian yang masih bisa ditempati, jika itu masih atas nama Arga, Fiona yakin, sang mertua akan mengusirnya cepat atau lambat.
Fiona pun bertahan dengan tabungan yang ada, ia tidak takut kelaparan. Sebab dia tahu juga sandi brankas milik suaminya. banyak barang berharga tersimpan di sana. Namun, bukan itu sebenarnya yang membuat Fiona merasa hampa. Ketidakhadiran Arga, membuat hidupnya terasa kosong.
Waktu terus berlalu, tidak terasa bayi yang dia lahirkan sendiri tanpa sang suami, kini sudah belajar jalan.
Anak keduanya sudah hampir setahun, dan sampai saat ini, jejak Arga sama sekali belum ada. Fiona sengaja tidak pindah, ia tidak mau Arga akan bingung saat mencarinya.
Fiona juga sudah mulai bekerja, meskipun cuma di perusahaan kecil. Art di kediamannya dikurangi, hanya ada satu baby sitter dan satu Art. Padahal, sebelumnya ada koki, ada art lebih dari satu. Rumah itu benar-benar menjadi lebih sepi setelah Arga tidak pernah kembali.
Jam 5 sore
Fiona baru saja pulang dari tempat kerja, ia langsung pergi ke kamar anak dan melihat balitanya yang tersenyum saat melihat kedatangannya.
"Anak Mama ... Sini!"
Fiona mengendong balita yang sudah mulai banyak giginya itu.
"Apa dia rewel hari ini, Sus?" tanya Fiona
"Tidak, Bu. Non Bia pinter, makannya juga lahap."
"Baguslah."
Fiona merasa lega, tapi pandangannya terasa kosong. Hampa di hatinya semakin meluas, entah sampai kapan dia akan menunggu Arga datang mencari mereka.
...----------------...
Di tempat lain
Di sebuah jamuan makan di hotel bintang lima.
Duduk seorang pria dengan pakaian jas rapi, di sebelahnya duduk pula wanita paruh baya yang elegan, dia adalah Bu Sasmita.
Di depan meja mereka, duduk satu keluarga. Salah satu keluarga pebisnis yang memiliki latar belakang sangat bagus dan terpandang.
"Jadi kapan acara pertunangan segera digelar?" tanya Bu Sasmita antusias.
"Kita serahkan pada anak-anak saja," ucap calon besan sambil tersenyum ramah.
"Bagiamana Dona? Jangan terlalu mengulur waktu, kalian sudah sama-sama dewasa," sela Bu Sasmita. Matanya menatap calon mantu yang sesuai dengan ekspektasi nya.
"Mama tanya sama Mas Arga saja, Dona terserah Mas Arga."
Belum sah menjadi menantu, tapi sudah memanggil mama. Ini karena Bu Sasmita yang memintanya sendiri.
"Tuh, Arga ... tunggu apa. Jangan lama-lama," ucap Bu Sasmita.
Arga cuma tersenyum tipis. Tidak banyak bicara, acara ini juga yang merencanakan adalah ibunya sendiri.
Pasca sembuh dari kecelakaan, dia memang mengalami benturan hebat di kepalanya. Sampai sempat koma, dan saat sadar, ia bahkan lupa siapa dirinya.
Yang terpenting semua nya baik2 sajah