Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.
Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.
Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.
Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.
Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?
Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Michelle dengan cepat mendapat kabar tentang kematian Venny Cornelia yang sudah tersebar luas. Tanpa disangka-sangka pemilik Cornelia Group tersebut pergi untuk selama-lamanya.
Dia masih di lokasi pemotretan. Ia tersenyum menyeringai mendengar kabar tersebut dari rekan kerjanya. Namun, ia tak ingin dicurigai oleh yang lainnya.
"Aku izin ya. Aku sepertinya harus segera ke rumahnya Pak Frans. Istrinya itukan bundanya temanku. Jadi aku harus menemani temanku yang lagi berdukacita itu."
"Iya, kamu benar banget. Aku setuju sama kamu. Ya udah, kamu duluan aja. Nanti kita nyusul." timpal teman perempuan Michelle di sana.
Michelle akhirnya sudah tiba di rumah Frans. Dia memasuki bagian dalam rumah mewah itu. Dia tidak melihat keberadaan Kim di sana.
"Kim mana ya? Kenapa dia tidak ada?"
Kepalanya melongo kemana-mana mencari keberadaan Kim. Namun ia tetap tak melihat dimana gadis itu berada.
Dia justru melihat Claudie berada di sana. Dia menghampiri Claudie menatap sinis gadis itu. Sementara yang ditatap sinis itupun segera berdiri.
"Berdasarkan berita yang aku dengar-dengar, Tante Venny meninggal setelah makan sup ayam yang dibuat oleh gadis yang bernama Claudie. Bukan tak mungkin, kalau penyebab di balik kematian Tante Venny ini adalah sup ayam buatan orang yang sedang berhadapan denganku. Menurutmu bagaimana?"
"Apa maksudmu? Aku tidak pernah berniat ingin mencelakai apalagi menghabisi nyawa tante Venny. Dia adalah bundanya Kim. Temanku sendiri. Tidak mungkin aku mencelakainya." jelas Claudie.
"Kamu enggak perlu mengelak lagi. Buktinya sudah jelas walau tanpa autopsi. Tante Venny meninggal karna habis makan sup ayam yang dibuat sama kamu dan disuap sama kamu. Jelas-jelas pembunuh masih aja cari alasan."
"Dan aku enggak nyangka sih ternyata kamu sejahat itu." tambahnya.
Claudie seakan ingin menampar mulut gadis di hadapannya itu dengan kuat hingga pecah dan berdarah. Dadanya kini sedang penuh dengan gejolak amarah.
Namun sayangnya sekarang bukan waktunya. Bisa-bisa nanti dia semakin dicurigai oleh orang-orang jika ia menampar dan berkelahi dengan Michelle.
"Kenapa? Kamu enggak suka aku bicara seperti itu? Aku tau kamu marah. Kalau memang kamu enggak suka, aku persilahkan kok kalau kamu mau nampar atau bahkan meracuni aku juga." ucapnya dengan tersenyum menyeringai.
"Lebih baik kamu diam! Kalau kamu datang kesini cuma untuk memanasiku saja lebih baik kamu tadi enggak usah datang. Suasana semakin runyam dengan kehadiranmu." ucap Claudie penuh dengan penekanan.
"Lah, bukannya kehadiran kamu ya yang malah mendatangkan maut bagi Tante Venny? Kok malah nyalahin aku? Haha, lucu juga ya seorang pembunuh berani berbicara seperti itu."
Claudie segera berlalu dan meninggalkan Michelle di sana. Namun, ia terjatuh karena kakinya tersandung oleh kaki Michelle yang dengan sengaja menghadang langkahnya tanpa ia sadari.
"Rasain! Emang enak?" ucap Michelle mengejek dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Akhirnya Michelle bertanya kepada pembantu yang ada di ruang belakang tentang keberadaannya Kimberly. Dia penasaran karena tak melihat gadis itu sedari tadi.
Dia tadi juga sudah masuk ke kamarnya Kim namun tak ada siapapun di sana. "Bu, saya mau nanya. Kim nya mana ya? Soalnya saya enggak melihat dia dari tadi."
"Nona Kim lagi honeymoon ke luar negeri sama suaminya. Pak Frans sengaja tidak ingin memberi kabar kepadanya." sahut salah seorang dari tujuh orang pembantu itu.
"Oke, terimakasih infonya ya Bu." dia segera meninggalkan para pembantu yang sedang bersedih itu.
Dia kembali duduk di antara para tamu yang lainnya.
'Benar-benar keterlaluan Kimberly jahanam itu. Hebat sekali dia jadi anak. Bundanya sakit dia malah asyik-asyik honeymoon sama suaminya. Arghh!! Sama Edward lagi.' batinnya.
'Aku ada ide. Bagaimana kalau aku aja yang menghubungi Kim? Biar dia gagal honeymoon sama Edward. Mampus kamu, Kim.' batinnya lagi.
Dia mengambil handphone di dalam tas selempangnya. Kemudian berniat memberi pesan teks kepada temannya itu.
'Bahkan berita kematian bundanya sendiri saja sudah menyebar dengan cepat. Tidak menutup kemungkinan dia sudah tau mengenai kabar ini.' batinnya.
*Tiga hari kemudian*
Jenazah Venny sudah dikembalikan dan siap untuk dimakamkan. Kimberly dan Edward juga sudah kembali dari honeymoon di luar negeri.
Hasil autopsi nya akan keluar besok pagi. Di pemakaman, semua orang memakai pakaian serba hitam dan tangisan Kim masih belum mereda juga.
Dia menyaksikan orang-orang menguburkan bundanya. Setelah jenazah dimasukkan, kemudian segera ditimbun dengan tanah. Jenazah mulai tertutupi dengan tanah.
Edward merangkul istrinya tersebut. Michelle dapat melihat itu dari kejauhan. Dia sengaja tidak terlalu berada dekat di sana. Ia berada di jarak sekitar sepuluh meter dari yang lainnya.
"Hmm, akhirnya satu orang udah mati juga. Kan kalau begini hidup aku di dunia seakan rasa di surga." gumamnya puas.
"Itu si Claudie masih saja menampakkan wajahnya disini. Enggak malu apa dia? Sebentar lagi juga bakalan mendekam di balik jeruji besi."
"Aku memang pantas disebut berasal dari neraka jahanam. Aku sangat kejam. Tidak ada kata ampun kalau sudah berhadapan denganku, hahaha."
Setelah acara pemakaman selesai, semua orang telah kembali ke rumah mereka masing-masing. Begitu pula dengan Michelle. Sekarang dia sudah berada di rumahnya.
Dia bercermin di cermin pemberian makhluk jelek di hutan waktu itu. Dia bercermin sambil tersenyum bahagia. Bahkan sesekali terdengar dia memuji-muji kecantikannya tersebut.
Saat dia bercermin, tiba-tiba ada sosok buruk rupa itu kembali muncul di belakangnya. Ia dapat melihat itu dengan jelas dari cermin. Ia menelan ludahnya dengan kasar.
Dia sungguh ketakutan saat ini. Bahkan tubuhnya juga terasa kaku seperti saat pertama kali dia menyaksikan makhluk itu.
"Tenang, jangan takut. Bukankah kita teman? Aku sudah membantumu menghabisi nyawa Venny Cornelia. Jadi aku ingin meminta imbalan kepadamu. Aku juga ingin cantik sepertimu."
"T,t-tapi, bagaimana caranya?"
"Ambil jasad Venny dan bawa kepadaku. Aku ingin mengambil organnya yang kubutuhkan."
"Hanya itu? Tapi ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Bagaimana caraku mencuri jasad yang sudah dikubur?"
"Aku tidak mau tau bagaimana caranya. Aku hanya akan menerima hasil. Cepat laksanakan perintahku. Besok pagi aku akan kembali kesini."
Malam-malam sekali, Michelle dengan tiga orang tangan kanannya mencuri jasad Venny yang sudah dikuburkan. Dia merasakan ketidaknyamanan ketika berada di sana sendirian.
Jasad Venny berbau sangat busuk layaknya aroma bangkai dan sangatlah menyengat. Bahkan mereka berempat yang sedang berada di sana merasa seperti ingin muntah dibuatnya.
Setelah berhasil membawa pergi jasad Venny, Michelle dan yang lainnya segera memasukkan jasad tersebut ke dalam mobil. Mereka akan membawa jasad itu ke rumahnya Michelle.
Mayat itu diberi pengawet agar tidak cepat membusuk dan mengering. Tubuh Venny itu sudah sangat kurus seperti tengkorak. Bau bangkainya juga sangat menyengat.
Michelle kembali ke kamarnya. Dia mandi lagi karena tubuhnya sudah sama dengan baunya mayat Venny. Dia merasa takut harus tinggal seatap dengan mayat.
Setelah mandi, dia keluar dari toilet dengan bathrobe nya. Rambutnya masih dibalut dengan handuk. Dia kembali bercermin dengan cermin tua itu.
Dia baru menyadari bahwa antingnya hilang sebelah saat sedang bercermin. Dia merasa panik. Itu adalah anting mahal yang terbuat dari berlian.
Bukan hanya panik karena anting berlian, tapi takut jika anting itu terjatuh di area pemakaman. Semua orang akan menyadari bahwa anting itu bisa menjadi bukti pencurian mayat Venny.
"Aduh, ini gawat. Bagaimana kalau nanti ada seseorang yang menemukan anting itu?"
Dia menelepon tangan kanannya kembali. Dia tidak ingin jika anting itu ditemukan oleh orang yang salah.
[Halo, kenapa bos?]
"Cepat kamu ajak teman-temanmu cari anting aku yang hilang di area pemakaman. Cari sampai dapat."
[Siap bos!]
Dia menutup sambungan teleponnya. "Semoga mereka bisa menemukannya. Ini bisa berakibat fatal kalau enggak ketemu."
"Tapi, mayat Venny ini akan kembali dikubur, kan? Enggak mungkin kan mayat itu berada di dalam rumahku selama-lamanya." gumamnya.
Dia memijat pelipis matanya. Kepalanya terasa berat dan pusing. Akhirnya dia memilih untuk naik ke atas ranjang dan segera tidur. Malam memang sudah larut. Dia melewatkan jam tidurnya hanya untuk mencuri mayat.