NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 02. Respect

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menyinari jendela kamar Kosannya Vika, karena Acha memang sering menginap disana, namun suasana hati Acha terasa sangat kontras.

Tubuhnya mendadak lemas, kepalanya berdenyut berat, dan tenggorokannya terasa sakit. Akibat akumulasi kelelahan fisik, stres pikiran, serta syok setelah insiden mengerikan di atas motor semalam, Acha jatuh sakit.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Acha memutuskan untuk meminta izin tidak masuk kerja dan memilih pulang ke rumah orang tuanya agar ada yang merawatnya.

Setibanya di rumah, Acha langsung berbaring di kamarnya dengan tubuh berselimut tebal.

Di tengah rasa sakit yang mendera, ada satu hal lagi yang membuat hatinya semakin nyeri—ponselnya yang terus dia genggam sejak pagi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan dari Raka.

Tidak ada pesan masuk, tidak ada panggilan telepon, bahkan sekadar basa-basi menanyakan kabar pun tidak ada dari sang kekasih.

Raka seolah lenyap ditelan bumi, sama sekali tidak peduli bahwa kekasih yang nyaris dia celakakan semalam kini sedang terbaring lemah berjuang melawan sakit di rumahnya.

Acha menatap layar ponselnya nanar, berharap ada satu saja notifikasi muncul dari nama Raka. Namun, yang terlihat hanyalah layar gelap yang mencerminkan kesendiriannya.

Di saat tubuhnya remuk redam dan butuh sedikit perhatian, Raka justru memilih menghilang tanpa jejak, menegaskan betapa acuhnya lelaki itu terhadap keselamatan dan perasaannya.

Ranti yang masuk membawa semangkuk bubur hangat dan air hangat langsung cemas melihat kondisi Acha yang pucat pasi.

Tanpa banyak tanya, Ranti merawat Acha dengan penuh kasih sayang, menyuapinya obat, dan membiarkan gadis itu beristirahat total.

Di balik rasa sakit yang menderanya, kehadiran keluarganya sedikit memberi ketenangan, meski lubang di hatinya akibat sikap egois Raka masih terasa begitu nyeri.

Di tengah suasana rumah yang berangsur hangat karena perhatian dari Ranti, sebuah kejutan tak terduga mendadak terjadi di ruang tamu. Pandu, kekasih Fitri, datang bersama keluarganya untuk melamar Fitri secara langsung.

Melihat prosesi lamaran yang khidmat di depan mata, hati Acha bergemuruh pelan. Dia yang sedang duduk di dekat sana hanya bisa terdiam kaku menyaksikan kebahagiaan adiknya.

Di lubuk hatinya yang paling dalam, terselip secercah harapan agar suatu hari nanti Raka juga datang membawa niat baik untuk melamarnya. Namun, bayangan itu seketika buyar.

Mengingat bagaimana sikap Raka selama ini—yang jangankan memikirkan pernikahan, dihubungi saat sakit saja tidak mau—membuat Acha sadar bahwa mimpinya itu hanyalah angan belaka. Raka sama sekali tidak memiliki niatan serius untuk membina masa depan bersamanya.

Mata Acha berkaca-kaca, memendam rasa iri dan sesak yang teramat dalam.

Fitri, yang sedari tadi sibuk dengan acara lamarannya, menyadari perubahan ekspresi di wajah sang kakak. Dia melihat sorot mata sedih, lelah, dan terluka yang terpancar jelas dari diri Acha.

Fitri tahu betul betapa berat beban hidup yang ditanggung kakaknya itu, serta betapa tidak adilnya perlakuan Raka selama ini.

Didorong oleh rasa sayang yang besar kepada kakaknya, Fitri tiba-tiba mengambil keputusan yang mengejutkan seluruh ruangan.

Di hadapan Pandu dan keluarganya yang tengah berbahagia, Fitri menggelengkan kepala tegas dan menolak lamaran tersebut.

"Maafkan aku, Pandu, Om, Tante... Aku belum bisa menerima lamaran ini sekarang," ucap Fitri lugas.

"Aku masih ingin fokus bekerja dan mengejar karier aku dulu, aku belum mau terikat pernikahan dalam waktu dekat."

Seketika suasana ruang tamu mendadak hening dan tegang. Pandu tampak sangat terpukul dan kecewa mendengar penolakan mendadak itu, sementara keluarganya tak dapat menyembunyikan rasa kaget dan malu.

Tak lama kemudian, dengan perasaan sedih dan hampa, Pandu beserta keluarganya pamit undur diri dan meninggalkan rumah.

Selepas kepergian mereka, Fitri langsung bergegas menghampiri Acha yang masih terdiam kaku di tempatnya, lalu memeluk kakaknya erat-erat penuh pengertian.

Pelukan hangat Fitri seketika meruntuhkan benteng pertahanan terakhir Acha. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah ruah di bahu sang adik.

Di dalam dekapan itu, Acha merasa seolah seluruh beban hidup, rasa sakit akibat diabaikan Raka, dan kelelahan yang menderanya tumpah bersama isak tangisnya.

Ranti yang menyaksikan kejadian itu turut mendekat, menyelimuti keduanya dengan tatapan penuh iba dan kasih sayang.

Mereka tahu persis pengorbanan besar yang selama ini telah diberikan Acha untuk keluarga mereka, termasuk merelakan kebahagiaannya sendiri demi melihat orang lain tersenyum.

"Udah, Kak... jangan dipikirin lagi ya. Loh udah terlalu banyak berkorban buat gue kak, buat keluarga kita. Sekarang giliran loh yang harus mikirin kebahagiaan loh sendiri kak," bisik Fitri tulus di telinga kakaknya, mengusap punggung Acha dengan lembut.

Mendengar kata-kata itu, hati Acha semakin perih sekaligus terenyuh. Dia sadar, di saat kekasih yang selama ini dia harapkan justru memilih untuk mencampakkannya dalam kesakitan, keluarganya lah satu-satunya tempat dia pulang dan mendapatkan cinta yang tulus.

Di tengah keheningan yang masih menyelimuti ruang tamu usai kepergian Pandu dan keluarganya, Yanto melangkah mendekati Acha yang masih duduk di sofa dengan mata sembab.

Sebagai seorang ayah yang sangat memperhatikan nasib anak-anaknya, Yanto menatap Acha lekat-lekat dengan sorot mata penuh selidik sekaligus kekhawatiran.

"Acha," panggil Yanto pelan namun tegas.

Acha mendongak, menatap sang ayah dengan perasaan campur aduk.

"Sebenarnya, hubungan kamu sama Raka itu sudah sejauh mana sekarang? Dan apa pemuda itu sudah benar-benar mendapatkan pekerjaan tetap seperti yang dia janjikan sebelumnya?" tanya Yanto tanpa basa-basi.

Mendengar rentetan pertanyaan itu, lidah Acha mendadak kelu. Dia ingin membela Raka, namun kenyataannya pemuda itu jangankan menanyakan kabar saat dirinya sakit, batang hidungnya pun tidak terlihat sejak malam ugal-ugalan kemarin. Raka masih menganggur dan enggan berusaha serius.

Acha hanya bisa tertunduk bisu dalam diam. Ragu merayapi hatinya, membuat kerongkongannya terasa tercekat.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Acha sendiri kini sudah tidak tahu lagi ke mana arah hubungan mereka akan dibawa.

Sikap dingin, egois, dan tiadanya kepastian dari Raka membuat Acha kehilangan keyakinan yang selama ini dia pegang erat-erat.

Yanto menghela napas panjang melihat kebisuan putrinya. Sebagai seorang ayah, dia bisa membaca dengan jelas gurat-gurat kepedihan dan keraguan yang terpampang di wajah Acha.

Tanpa perlu mendengar jawaban lisan, Yanto sudah tahu bahwa hubungan itu tidak berjalan ke arah yang baik.

"Kalau dia memang tidak punya niat baik dan tidak bisa menghargai kamu, jangan teruskan, Cha," ucap Yanto dengan nada tegas namun sarat akan kelembutan seorang ayah.

"Kamu berhak bahagia, bukan malah tersiksa seperti ini."

Acha semakin terdiam, air matanya kembali menetes pelan tanpa suara. Kata-kata sang ayah telak menghujam hatinya, membuka matanya lebar-lebar pada kenyataan pahit yang selama ini berusaha dia sangkal.

Mamah yang melihat putrinya kembali menangis langsung bergerak cepat. Dia merengkuh pundak Acha, menarik kepala gadis itu bersandar di bahunya dengan penuh kelembutan.

"Udah, Nak, jangan disiksa terus pikiran kamu. Kalau memang dia bukan lelaki yang tepat untuk masa depan kamu, lepaskan. Jangan takut," hibur Ranti sambil mengelus rambut Acha penuh kasih.

Fitri yang berdiri di dekat mereka turut menggenggam tangan kakaknya erat-erat, menyalurkan kekuatan dan dukungan moral.

Di kelilingi oleh keluarga yang begitu mencintai dan melindunginya, Acha perlahan merasakan kehangatan yang selama ini hilang dari sisinya.

Kehangatan yang membuktikan bahwa dia tidak pernah benar-benar sendirian, meskipun pria yang dia harapkan memilih untuk mengabaikannya.

Setelah suasana ruang tamu sedikit tenang, Acha memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.

Tubuhnya memang masih terasa lemas karena demam, namun pikirannya terusik dengan jadwal pekerjaannya yang akan segera dimulai lagi besok.

Dia merasa perlu segera kembali ke rumah Suci, kakak iparnya, tempat dia dan Alfian kakaknya Acha, tinggal.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Acha membuka ponselnya. Dia mencoba mengesampingkan rasa sakit hatinya demi kebutuhan yang mendesak.

Dia mengetik pesan singkat untuk Raka, berharap pemuda itu mau meluangkan waktu untuk menjemput dan mengantarnya kembali ke sana.

“Raka, kamu di mana? Maaf, aku mau minta tolong, bisa antar aku ke rumahnya teh Suci sekarang atau nanti? Soalnya besok aku harus mulai kerja lagi. Tolong kabari ya, makasih.”

Pesan terkirim. Centang satu berubah menjadi dua, namun tanda centang itu tidak kunjung berubah warna menjadi biru.

Acha menunggu dengan sabar, menatap layar ponselnya berulang kali hingga matanya perih. Menit demi menit berlalu, hingga satu jam berlalu, namun tidak ada satu pun balasan dari Raka.

Ponsel itu tetap bisu. Keheningan yang menyambut pesannya terasa jauh lebih menyakitkan daripada penolakan kata-kata.

Acha menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, memeluk lututnya sendiri, dan kembali merasakan dadanya sesak.

Ternyata, bahkan untuk sekadar memberikan kabar "bisa" atau "tidak" pun, Raka tetap memilih untuk mengabaikannya.

Harapan yang tadi sempat dia coba bangun kembali hancur berkeping-keping.

Melihat jam di dinding yang terus berputar sementara pesannya tak kunjung mendapat respons, Acha akhirnya menghela napas pasrah.

Dia sadar, menunggu Raka sama dengan mengharapkan hujan turun di tengah cuaca terik yang mustahil terjadi. Rasa kecewa yang bertumpuk membuat tekad di dalam hatinya perlahan mengeras.

Di tengah kebingungannya, suara ketukan pintu kamar terdengar pelan, disusul oleh kemunculan Ranti yang membawakan segelas air hangat.

"Kak... kenapa mondar-mandir gitu? Masih pusing ya?" tanya Suci cemas melihat kakaknya tampak gelisah.

Acha menggeleng pelan, lalu menatap adiknya dengan sendu. "Nggak apa-apa, kok. Cuma... Gue lagi mikirin gimana caranya balik ke rumah teh Suci malam ini. Besok kan gue harus kerja, tapi nge-chat Raka dari tadi nggak dibales-bales sama sekali."

Mendengar nama Raka disebut, dahi Fitri langsung berkerut kesal. "Dih, nyebelin banget sih tuh orang! Giliran dibutuhin pas lagi sakit dan mau kerja, malah ngilang kayak hantu. Udah, Kak, loh nggak usah ngarep sama si Raka lagi. Kalau loh maksain balik malam ini karena besok kerja, biar Papah atau nanti gue bantu pesenin ojek online aja, ya?"

Penuturan polos namun penuh perhatian dari adiknya itu membuat Acha tertegun. Di balik rasa sakit hatinya, dia merasa bersyukur karena keluarganya selalu ada untuk melindunginya.

"Nggak usah repot-repot pesan ojek online, Fit. Nanti gue coba hubungi si Aa deh atau gak si teh Suci aja, barangkali mereka bisa jemput atau kasih solusi gitu," balas Acha sambil mencoba tersenyum tipis, berusaha menenangkan adiknya sekaligus mengubur dalam-dalam rasa sakit karena diabaikan oleh Raka.

Melihat waktu yang semakin malam dan kondisi tubuhnya yang masih belum pulih sepenuhnya, Acha akhirnya memutuskan untuk mengurungkan niatnya menghubungi siapa pun lagi.

Pusing di kepalanya semakin berdenyut, dan energi yang dia miliki sudah terkuras habis untuk menghadapi kekecewaan bertubi-tubi hari ini.

"Udah malam juga, ya, dek. Dari pada pusing mikirin Raka atau repot malam-malam, mendingan gue istirahat aja dulu yah," ucap Acha pasrah sambil menarik selimutnya hingga sebatas dada.

"Urusan balik ke rumah si teh Suci nanti dipikirkan besok pagi aja. Lihat situasi nanti bagaimana."

Fitri mengangguk mengerti, lalu merapikan gelas air hangat di nakas. "Ya udah, Kak. Betul kata loh, istirahat dulu gih biar besok enakan badannya. Biar nanti urusan besok dibantu sama Papah atau gue."

Acha memejamkan matanya, membiarkan keheningan malam menyelimuti kamar sederhananya. Di tengah rasa lelah fisik dan hati yang masih perih akibat diabaikan oleh kekasihnya.

Dia mencoba memasrahkan segalanya dan melelapkan diri, berharap hari esok membawa kejelasan serta kekuatan baru untuk menjalani hidupnya.

Sementara Acha memilih untuk memejamkan mata dan beristirahat dalam lelah serta sakitnya, situasi yang sangat kontras terjadi di tempat lain.

Raka sama sekali tidak memikirkan kondisi kekasihnya yang sedang terbaring lemah. Dia justru sedang duduk santai di sebuah warung kopi langganannya.

Sedang asyik bermain game online di ponselnya bersama segerombolan teman setongkrongannya yang bernasib sama—pengangguran dan tidak punya masa depan yang jelas.

Ponsel Raka sempat bergetar menampilkan pesan dari Acha, namun pemuda itu hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus ke layar permainan tanpa ada niat sedikit pun untuk membalas.

Melihat Raka memegang ponsel, salah satu temannya meledek dengan nada mengejek. "Wih, itu handphone loh bunyi terus tuh. Di kekepin sama pawang ya, Rak? Jangan-jangan loh disuruh pulang sama si doi lagi, emang yah dasar bucin!"

Mendengar ejekan itu, alih-alih membela atau menghargai Acha, Raka justru mendengus sinis. Harga dirinya sebagai lelaki yang merasa paling hebat tersulut.

Lalu dia melontarkan kata-kata penghinaan yang sangat telak untuk kekasihnya sendiri di hadapan teman-temannya.

"Bucin? Ogah banget!" cerca Raka angkuh seraya tertawa remeh.

"Si Acha tuh cuma anak mamih yang cengeng. Dikit-dikit nangis, manja banget! Dia kan emang bucin akut sama gua, tergila-gila setengah mati."

Raka sama sekali tidak merasa bersalah saat melanjutkan ucapannya dengan nada yang semakin merendahkan.

"Lu pada tahu sendiri kan? Kalau bukan karena dia royal, suka ngasih gua duit, dan sering beliin gua barang-barang mahal, males banget gua sebenarnya pacaran sama dia. Untung aja dia bucin dan mau ngurusin kebutuhan gua, jadi ya manfaatin aja selagi bisa!" tandas Raka tanpa beban, disambut gelak tawa riuh dari teman-temannya yang membenarkan kelakuan benalu tersebut.

Gelak tawa riuh dari teman-teman setongkrongannya bergemuruh di sudut warung kopi remang-remang itu. Di antara kepulan asap rokok dan sorot lampu neon yang berkedip-kedip.

Raka merasa seolah dirinyalah pria paling berkuasa dan keren di dunia. Setiap ejekan dan pujian palsu dari teman-teman penganggurannya semakin memupuk keangkuhan di dalam diri pemuda itu.

Bagi Raka, Acha bukan lagi seseorang yang harus dihargai, disayangi, atau dilindungi. Gadis yang selama ini banting tulang bekerja keras, menyisihkan uang gajinya untuk membantu keluarga, dan selalu sabar menghadapi tabiat kasarnya.

Di mata Raka hanyalah sekadar sapi perah berjalan. Dompet berjalan yang siap membiayai gaya hidup malasnya tanpa ia harus mengeluarkan keringat sedikit pun.

"Mantap emang loh, kak! Bisa-bisanya dapet cewek bucin tapi royal begitu," puji salah satu temannya sambil menepuk bahu Raka keras-keras.

Raka menyeringai bangga, menaikkan sedikit kerah jaketnya lalu kembali menatap layar ponselnya untuk melanjutkan permainan game online yang sempat tertunda.

Dia sama sekali tidak peduli bahwa di saat dirinya asyik tertawa di atas penderitaan orang lain, Acha sedang berjuang melawan sakit di kamarnya sambil menahan perih akibat pengabaian yang dia terima.

Sementara itu, malam semakin larut. Di kamar sederhananya, Acha terlelap dalam lelah yang teramat sangat, tidak tahu menahu bahwa pria yang selama ini dia pertahankan dengan segenap ketulusan hati justru sedang memperlakukannya dengan begitu hina di belakangnya.

Kejamnya dunia luar seolah teredam oleh lelap, namun badai yang sesungguhnya perlahan-lahan sedang bersiap menghancurkan segalanya.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!