~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]
Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.
Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 - Sidang Strein: Menyerah atau Bertarung
Ilustrasi gambar dari para figur Klan Strein
...----------------...
Di sebuah aula di dalam istana Klan Strein.
Suhu ruangan dinaikan oleh kerumunan di dalam. Jumlah total penghuninya tidak terlalu tinggi, tetapi ruangan itu bukan yang paling luas, gravitasi situasi memastikan tidak ada seorang pun di dalamnya yang merasa nyaman.
Ada meja panjang di tengah ruangan, dan Dai Hideo—sebagai ketua klan duduk di kepala, di sebelah kanannya adalah Dai Hitoshi—putra pertama dari Dai Hideo.
Bergabung dengan mereka adalah figur-figur penting dari Klan Strein, kebanyakan dari mereka adalah pendekar-pendekar kuat yang memegang peranan penting dalam kemiliteran Klan Strein. Para kepala dari setiap divisi militer dan organisasi.
Biasanya, pertemuan apapun akan dimulai dengan semua kecuali pemimpin klan yang berdiri, sebagai tanda hormat formal-namun, mereka tidak hanya tetap duduk tetapi juga para pelayan mengisi cangkir di depan mereka. Tanda yang jelas bahwa pertemuan ini akan berlangsung lama.
Hitoshi melihat ke sekeliling ruangan, memastikan semua orang dilayani, dan kemudian membuat bola bergulir.
"Kalian telah menerima kabar itu, topik hari ini adalah deklarasi perang dari Sang Naga Hitam, Yoru Anzai."
Deklarasi perang adalah ungkapan yang kuat, tetapi dia menggunakannya justru karena dia ingin semua orang di sini memahami maknanya.
Memang, para figur penting—semuanya termasuk ayahnya—mengerutkan dahi meraka, menggambarkan kemarahan mereka.
Hitoshi melirik ke samping, ke arah ayahnya. Tunduknya dua klan—Spaide dan Acellian, adalah perhatian terbesarnya di sini. Sangat penting dia mengesankan betapa seriusnya perkembangan ini dan mendorongnya untuk membuat pilihan yang tepat.
"Mengingat siapa yang dibunuh oleh Anzai, aku yakin ini sulit untuk ayahku..." Gumam Hitoshi seraya memandang raut wajah ayahnya yang penuh kemarahan serta kekhawatiran.
Beberapa hari yang lalu, Hitoshi berada tepat di samping ayahnya, ketika ia mendapat perkamen yang berisikan kabar bahwa Mamoru Isamu—pemimpin dari Klan Acellian, telah tewas di tangan Anzai, serta Klan Spaide yang tunduk menyerah sebelum pertarungan dimulai.
Kemudian disusul dengan kabar bahwa klan yang akan ditundukkan selanjutnya adalah klan mereka. Dia belum pernah melihat ayahnya kehilangan dirinya sendiri saat gelombang kemarahan sekaligus kekhawatiran menggulungnya.
Setelah pukulan seperti itu, dapatkah ayahnya memberikan keputusan yang baik untuk clan mereka sebagai penanggung jawab? Menyerah atau melawan? Sebuah pertanyaan yang ia sendiri segan untuk menanyakannya—setidaknya, tidak di situasi seperti ini.
Di tengah atmosfir yang di penuhi rasa tegang, suara bernada berat dan tegas terdengar, "Kalian telah mendengar beritanya, bicaralah... aku ingin mendengar pendapat kalian." Seru Dai Hideo.
Semua orang di ruangan itu telah mengetahui kabar fakta dari perkamen tersebut, terlebih rumor bahwa penyerangan terhadap Klan Acellian benar-benar mengerikan—bukan hanya sekedar penyerangan, melainkan sebuah pembantaian.
"Yoru Anzai, apa dia sekuat itu?" Sebuah pertanyaan terlontar dari salah satu menteri bernama Zach, menyiratkan keraguannya akan informasi tentang kematian Mamoru Isamu. Pemikirannya yang kritis telah menempatkannya sebagai menteri hukum.
Siapa seseorang ini—nama Yoru Anzai ada di benak semua orang.
Masing-masing mata di ruangan itu membawa emosi yang berbeda, tapi satu sentimen yang sama diantara mereka semua adalah rasa penasaran yang diselimuti amarah.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi sejauh yang aku tahu, sang Naga Hitam adalah salah satu dari tujuh pendekar legendaris. Tujuh pendekar yang telah mencapai Oubaitori." Jawab Asano Obura, figurnya tua dan berwibawa, wawasan yang luas serta kemampuan bertarungnya yang handal telah menempatkannya sebagai komandan militer Klan Strein.
Oubaitori—Idiom Jepang kuno yang berasal dari kanji, untuk empat pohon yang mekar di musim semi, yang adalah bunga sakura, persik, prem, dan aprikot. Setiap bunga mekar pada waktunya sendiri, dan makna di balik idiom tersebut adalah bahwa kita semua tumbuh dan berkembang dengan kapasitas serta kecepatan kita sendiri.
Oubaitori—menjadikannya sebuah julukan bagi mereka yang telah mencapai puncak tertinggi dalam pemahaman ilmu bela diri dan spritual.
Mendengar penjelasan tersebut, beberapa petinggi nampak terkejut, dan mulai saling melirik serta memandang. Mereka teringat akan satu nama, seorang pendekar dari klan mereka yang juga telah mencapai Oubaitori.
Seakan mengetahui apa yang ada di benak para bawahannya, Dai Hideo merespon dengan mengangguk pelan, "Iya, benar. Kemampuannya mungkin setara dengan guru besar kita, Akio Senju."
Sangat ironis jika kita membenturkan sejarah dan fakta yang ada. Para pemegang gelar Oubaitori diketahui selalu memegang teguh akan nilai-nilai budi yang luhur. Nilai-nilai yang bekerja sebagai hukum alam dalam mengesampingkan ambisi serta nafsu akan keduniawian.
Bagaikan serigala penyendiri, para Oubaitori biasanya selalu hidup mandiri, tidak terikat, dan tidak terintervensi oleh siapa pun. Mereka senantiasa selalu berbuat kebajikan dan hanya akan bertarung jika diperlukan. Sama halnya seperti Akio Senju, guru besar mereka yang menghilang 20 tahun yang lalu.
Sebelum pembicaraan menjadi semakin dalam dan penuh atensi. Guocha yang merupakan seorang menteri perdagangan mencoba mengutarakan pendapatnya lebih awal. Bukan karena terlalu bersemangat, tetapi ia ingin menggiring para petinggi kepada opininya.
"Fuee—aku mendapat informasi dari teman lamaku, kepala birokrasi serikat pedangan dari clan Spaide. Fuee—Yoru Anzai tidak datang kepada mereka setelah pengumuman penyerahan diri. Setidaknya, sampai saat ini. Maksudku, jika sekuat itu, tidak ada gunanya bertarung." Sarannya, dengan suara sedikit gemetar.
Gendut—tidak, sejujurnya, pada dasarnya seluruh tubuhnya memang gendut. Perutnya penuh dengan lemak yang menggelambir, dan bahkan dagunya terdiri dari lemak berlebih. Karena tertutupi oleh lemak, wajahnya terlihat seperti anjing bulldog yang gemuk luar biasa.
"Fuee—jika kita bisa menghindari resiko korban dan kerugian materil, lebih baik untuk menyerah dan menyelesaikan masalah secara damai, bukan begitu?"
Entah karena hidungnya yang sedang tersumbat atau tidak, sebuah suara "fuee" akan sering terdengar selama dia berbicara. Itu juga bisa karena dia menggunakan mulutnya untuk bernafas dan nadanya hampir tidak berirama. Rasanya sedikit aneh, seakan dia memainkan sebuah skrip kata demi kata.
Di sisi lain, figur serta pendapatnya telah membuatnya layak untuk dicurigai. Pejabat gendut yang korup—mungkin terlalu kasar, tapi... dia layak diselidiki.
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?
Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/