Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Ting
Ponsel Alif berbunyi. Menandakan ada pesan masuk. Pesan singkat dari Asya yang membuatnya tersenyum.
'Adakah aku dalam jawaban istikharah mu?'
Alif mengotak-atik ponselnya. Ia membalas pesan Asya dengan semangat.
^^^Tentu saja. Tapi aku takut untuk melangkah^^^
Kenapa?
^^^Gelar nasabmu terlalu tinggi untuk ku gapai^^^
Manusia dinilai dari ketakwaan bukan gelar
^^^Gimana kalo nanti aku ditolak?^^^
Belum mencoba kok udah pesimis
^^^Aku insecure ning^^^
Aku tidak peduli karena yang terpenting adalah tanggungjawab suami
^^^Tunggu aku ning. Secepatnya akan ke sana^^^
Baiklah
Alif tersenyum kegirangan. Ia melempar ponselnya ke kasur. Alif berjalan keluar kamar untuk menemui orang tua nya.
"Papa Mama," ucap Alif berteriak
Kedua pasangan paruh baya yang sedang menonton acara televisi itu menoleh ke asal suara. Mereka melihat Alif berlari kecil dengan wajah sumringah.
"Kenapa Kak? Kok kelihatannya senang sekali," ucap mama Nia
"Kayak baru menang lotre kamu, Kak," ucap papa Fian terkekeh
"Cintaku diterima," ucap Alif sambil memeluk kedua orang tua nya itu
"Kamu pacaran? Baru aja ketuk palu kok sudah ada pengganti? Papa kan dari dulu udah larang kamu ataupun Farah untuk pacaran. Tidak ada faedahnya sama sekali Kak," tanya papa sinis
"Ih bukan gitu Pa. Dengar penjelasan Alif dulu dong. Papa marah-marah mulu ih," ucap Alif kesal
"Terus gimana, Kak?," sahut mama Nia
"Sebenarnya selama kuliah di Kairo, aku akrab sama temen sekamarnya Rania. Orangnya idaman banget. Kami juga satu organisasi di kampus. Kami sering sharing entah tentang masalah pribadi ataupun yang lainnya. Aku nyaman banget sama dia karena dia itu karakternya kayak mama banget. Bagiku dia itu duplikatnya mama. Tapi setelah tau latar belakangnya beberapa hari lalu, aku jadi insecure jika bersanding dengannya," ucap Alif lalu menunduk
"Insecure? Kamu kan orangnya kelewat percaya diri banget? Perempuan sehebat apa yang buat kamu jadi insecure Kak?," tanya papa lalu terkekeh
"Iya nih. Kok mama penasaran ya," sahut mama
"Dia itu ternyata adik bungsu dari gus Raffa," ucap Alif
"Apa?!," ucap papa dan mama terkejut
"Kalian pasti nggak percaya. Alif aja kaget saat berkunjung ke ndalem," ucap Alif
Papa memijit pelipisnya. Mama tampak seolah berpikir kemudian tersenyum.
"Ilmu kamu emang kuat untuk bersanding dengan ning-ning?," tanya papa
"Tapi dia yang selalu muncul saat aku selesai istikharah, Pa," ucap Alif
"Mama akan selalu dukung kamu, Kak. Asalkan kamu bahagia," ucap mama sambil mengelus kepala Alif
Alif tersenyum mendengar penuturan mamanya. Ia beralih menoleh ke arah papanya.
"Apa dia tau tentang masa lalu kamu? Apa alasan kenapa kamu bercerai?" tanya papa
"Dia bahkan tau semua tentang aku," jawab Alif
"Baiklah, lusa kita ke sana temui keluarganya. Langsung lamaran aja," ucap papa lalu tersenyum
"Makasih Pa, Ma. Kalian adalah orang tua terbaik di dunia," ucap Alif
Alif tersenyum sambil memeluk erat kedua orang tua nya. Ia merasa beruntung mempunyai orang tua yang sangat mendukungnya.
"Eh ada acara apa nih kok pelukan nggak ngajak sih?," sahut seorang perempuan muda
"Adek, salamnya mana?," tegur papa
"Astaghfirullah maaf. Assalamualaikum orang tua terhebat dan kakak the best," ucap Farah
"Waalaikumsalam," jawab ketiga orang itu
Farah Zahira Alfarabi, itulah nama adik dari Alif. Gadis cantik berusia 19 tahun itu sedang menempuh pendidikan keguruan. Beda dengan Alif yang mengambil manajemen bisnis untuk melanjutkan perusahaan keluarga. Dibanding terjun ke dunia bisnis, ia lebih memilih mengajar. Karena bagi Farah, tanpa seorang guru takkan ada yang namanya dokter, tentara, polisi, ceo dan sebagainya.
"Ayo ceritakan kenapa kalian berpelukan kayak bahagia banget gitu," desak Farah
"Kakak mau lamaran," ucap mama
"Lamaran? Alhamdulillah masih ada yang mau sama kakak," ucap Farah tengil
"Maksud kamu apa? Kakak kurang ganteng gitu?," ucap Alif sambil menjewer telinga adiknya
"Aduh lepasin dong. Sakit nih telinga aku," ucap Farah histeris
"Kakak udah itu kasihan itu adiknya," ucap mama
"Kalo bukan ibunda ratu yang minta nggak akan aku lepas," ucap Alif sinis
Farah menjulurkan lidahnya mengejek Alif. Papa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya.
Di sisi lain, keluarga Asya tengah berkumpul. Asya sengaja mengumpulkan mereka karena ada sesuatu yang ingin disampaikan.
"Ada apa, Nak? Kamu kok kayak ingin bahas masalah serius?," ucap abi mengawali pembicaraan
Asya menatap abangnya seolah minta persetujuan. Tanpa ragu Raffa menganggukkan kepalanya.
"Ada seorang pemuda yang ingin mengambil alih tanggungjawab Abi dan Abang terhadap Asya," ucap Asya
Semua orang terkejut kecuali Raffa. Asya memandangi satu per satu keluarganya yang tampak bahagia.
"Siapa lelaki itu? Siapa yang berhasil mendobrak hati Adek?," tanya abi
"Tentu saja kita semua mengenalnya," sahut Raffa terkekeh
"Abang tau semuanya?," tanya umi penasaran
"Tentu saja. Bahkan dia berkunjung ke sini beberapa hari lalu," jawab Raffa
"Kenapa selalu Abang yang tau lebih dulu?," protes abi
"Dia ke sini saat abi dan umi kan sedang ada acara," ucap Asya
"Ayo ceritakan siapa orangnya!," ucap umi antusias
"Abi mau dengar langsung dari putri bungsu abi," ucap abi
"Asya mengenalnya di kampus. Kami menjadi teman dekat karena sering sharing bareng. Kami juga satu organisasi. Dia juga sepupu dari Rania, teman sekamar Asya," jelas Asya
"Lalu kenapa abang bilang kalo kita mengenalnya?," ucap abi
"Karena dia salah satu santri abi. Lebih tepatnya alumni. Asya baru tau saat dia berkunjung ke sini beberapa hari lalu," ucap Asya sambil menunduk
"Siapa dia?," ucap umi antusias
"Kalian pasti akan kaget saat tau orangnya," ucap Raffa terkekeh
"Emang siapa sih?," tanya Lisa
"Biar Asya deh yang jawab," ucap Raffa tengil yang membuat Lisa mencubit perut suaminya itu
"Siapa Nak? Siapa orang yang mengutarakan niat baik itu?," desak abi
Asya menatap abangnya seolah meminta persetujuan. Raffa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sambil menatap adiknya itu.
"Alif Zayyan Alfarabi," ucap Asya sambil menunduk tersenyum
"Alif? Apa kamu tau masa lalunya, Nak?," tanya abi
"Asya tau kok. Tapi Asya nggak peduli karena yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan," jawab Asya
"Umi seneng banget dengar itu. Alif adalah salah satu santri teladan," ucap umi sambil memeluk putri bungsunya
"Kami mendukung apapun keputusan kamu asalkan kamu bahagia," ucap abi sambil mengelus kepala Asya
Asya memeluk kedua orang tua nya erat. Ia terisak pelan atas kebahagiaan ini. Dukungan keluarga sangatlah penting.
"Terima kasi karena sudah mendukung keputusan Asya," ucap Asya sambil terisak
"Sama-sama," jawab abi dan umi
Raffa tersenyum haru menatap adik bungsunya. Ia menjadi saksi saat Asya patah hati dan memutuskan pergi ke luar negeri begitu lamanya.
"Kapan Alif akan bawa keluarganya ke sini?," tanya abi
"Katanya lusa mereka akan ke sini," jawab Asya
Semua keluarga bahagia mendengar kabar baik ini. Berita ini bahkan sudah sampai ke Anisa dan gus Kafka. Mereka ikut bahagia mendengarnya.