Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Kotak Makan Dan Kalimat Yang Terlambat.
Pagi itu aku buka lapak seperti biasa.
Jam tujuh kurang, kompor sudah menyala, air sudah mendidih, tusuk sate sudah siap. Perut masih kosong dari semalam karena tidak jadi makan, tapi aku tidak berpikir terlalu jauh soal itu. Lapar sudah jadi teman lama yang tidak banyak komplin.
Anak-anak sekolah mulai berdatangan.
Jam delapan lebih sedikit, dari kejauhan aku lihat tiga orang remaja putri jalan ke arah lapakku. Satu di antaranya aku kenali dari cara jalannya sebelum aku sempat melihat wajahnya dengan jelas.
Sonia.
Dua temannya ikut, ketiganya masih pakai seragam. Sonia jalan di depan dengan langkah yang tidak ragu-ragu.
"Cilok, Bang. Tiga bungkus."
"Sepuluh ribu satu bungkus."
"Iya." Dia menyerahkan lima puluh ribu.
Aku ambil kembaliannya, mau aku ulurkan.
"Ambil aja." Sonia menolak dengan tangan.
"Ini lebih dua puluh ribu."
"Iya, ambil aja."
Aku tidak melanjutkan perdebatan itu. Disimpan. Nanti berguna entah untuk apa.
Dua temannya sudah mulai makan sambil jalan ke arah sekolah. Sonia tidak ikut langsung. Dia merogoh tas ranselnya, mengeluarkan sesuatu.
Kotak makan. Plastik bening, bisa aku lihat isinya dari luar. Nasi. Lauk. Sepertinya masih hangat dari cara uapnya yang masih ada di dalam kotak.
"Ini buat Abang."
Aku menatap kotak itu.
Lalu menatapnya.
"Dari mana kamu tahu aku belum makan?"
Sonia sedikit mengerutkan alis. "Gue gak tahu. Gue cuma beli dua porsi tadi pagi, satu buat gue, satu buat... ya buat siapa aja yang mungkin butuh."
Kebetulan. Atau mungkin bukan. Aku tidak bisa memastikan yang mana.
"Ambil, Bang. Mubazir kalau gak dimakan."
Aku ambil kotaknya.
Bukan karena tidak ada pilihan. Tapi karena perutku sudah dari semalam kosong dan ada orang yang mengulurkan makan dengan cara yang tidak merendahkan, dan itu sesuatu yang terakhir kali aku rasakan dari tangan orang lain sudah sangat lama.
"Makasih."
Sonia mengangguk. Lalu, "Semalam batrainya low ya?"
Aku berkedip.
"Chat gue gak dibalas."
"Oh. Iya, low."
Dia menatapku dengan cara yang agak terlalu tahu untuk anak kelas dua belas SMA. Cara yang bilang dia tidak sepenuhnya percaya jawabanku tapi memilih untuk tidak mempersoalkannya sekarang.
"Kalau ada rezeki, Sonia beliin HP baru deh buat Abang."
"Jangan." Aku langsung jawab. "Ini sudah terlalu berlebihan. Kotak makannya saja sudah lebih dari cukup."
"Tapi—"
"Sonia. Jangan."
Dia menutup mulut. Mengangguk pelan.
Lalu pergi ke arah sekolah menyusul temannya.
Aku menatap punggungnya sampai hilang di balik gerbang sekolah.
Lalu menatap kotak makan di tanganku.
Gadis itu siapa sebenarnya. Apa maunya. Apakah ini kasihan. Apakah ini sesuatu yang lain. Apakah dia tahu atau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang kondisiku.
Dan darimana dia bisa tahu aku lapar.
Pertanyaan yang tidak aku temukan jawabannya. Aku buka kotak makanan itu dan makan di jok motor, sendirian, di pinggir lapak yang mulai sepi karena anak-anak sudah masuk semua.
Nasi hangat. Ayam goreng. Tempe. Sambel.
Aku makan pelan-pelan.
Dan satu hal yang tidak aku lakukan pagi itu adalah memberitahu Sonia bahwa aku sudah beristri.
Bukan karena tidak ingat. Aku ingat. Tapi setiap kali momennya ada, ada sesuatu yang menunda. Sesuatu yang belum mau keluar. Sesuatu yang malu diakui namanya tapi ada.
Sore, setelah lapak tutup, aku pulang...kasih uang ke nirmala dan langsung ke lapangan untuk latihan.
Pak Rudi sudah ada. Beberapa anggota tim sudah ada. Latihan berjalan seperti biasa, dua jam, dan aku pulang dengan kaki yang pegal tapi kepala yang agak lebih jernih dari pagi.
Sampai di depan lapangan, ada seseorang duduk di kursi tribun yang masih tersisa.
Sonia.
Tidak pakai seragam lagi, sudah ganti baju kasual, rambut dilepas. Di tangannya ada sesuatu dalam kantong plastik.
Aku berjalan ke arahnya.
"Kamu masih di sini?"
"Nunggu." Dia berdiri. Mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik itu.
Kotak. Lebih besar dari tadi pagi. Bukan kotak makanan kali ini.
Kotak HP.
Aku menatapnya.
"Sonia—"
"Abang bilang tadi kalau ada rezeki. Ini ada rezeki."
"Aku bilang jangan."
"Abang bilang kalau ada rezeki. Ini ada rezekinya." Dia mengulurkan kotak itu dengan cara yang tidak bisa dibantah karena caranya terlalu tenang dan terlalu yakin.
Aku tidak mengambilnya.
Kami berdiri berhadapan di tribun lapangan yang sudah sepi itu, dengan lampu lapangan yang mulai redup karena sudah hampir malam.
Dan di situlah, akhirnya, kalimat yang sudah terlalu lama aku tunda keluar juga.
"Sonia."
"Apa?"
"Aku sudah beristri."
Sunyi.
Angin lapangan. Suara jauh dari jalan raya. Lampu yang makin redup.
Sonia menatapku.
Satu detik. Dua detik. Tiga.
Lalu senyumnya muncul. Bukan senyum kaget. Bukan senyum yang runtuh. Tapi senyum yang aneh, senyum yang sudah ada sebelum kalimat ini keluar.
"Aku udah tau kok."
Tiga kata.
Dan aku tidak tahu harus merespons apa karena ada terlalu banyak pertanyaan yang muncul sekaligus di balik tiga kata yang sangat tenang itu.
Dia tahu.
Dari kapan. Dari siapa. Dan kalau dia sudah tahu, lalu kenapa kotak makan pagi tadi. Lalu kenapa HP ini sekarang. Lalu kenapa dia masih di sini, di tribun lapangan yang sudah sepi, menungguku selesai latihan.
Aku menatap kotak HP di tangannya yang masih diacungkan ke arahku.
Dan aku belum menjawab.
Bersambung.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain