"Jodoh putriku ada diantara kedua putramu." Itu kalimat terakhir yang dikatakan Verharg kepada Johan sebelum meninggal.
Leah Gracella, setelah kematian kedua orang tuanya ia diangkat menjadi bagian dari keluarga bangsawan Royce. Johan meyakini apa yang dikatakan Verharg, sehingga setelah Leah dewasa ia menjodohkan nya dengan putra sulung yaitu Austin Royce.
Johan sudah yakin pilihannya tepat. Namun tanpa sepengetahuannya suatu hal besar telah terjadi, Leah terlibat one night stand dan diam-diam tengah mengandung anak dari putra kedua Johan yaitu Alister Royce.
Lalu siapakah jodoh yang tepat untuk Leah? Austin atau Alister?..
.
SIMAK KISAH SELENGKAPNYA>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilla_Nurpasya_Aryany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Sudah lima tahun sejak musim semi berlalu, akhirnya Leah kembali bertemu dengan putra kedua Johan. Ia sering mendengar tentang kabar Ali dari keluarga mansion, tapi tak disangka pertumbuhannya sangat luar biasa.
Cukup gugup bagi Leah saat berhadapan dengannya. Bukan tanpa alasan, tetapi jika itu Austin, ia tahu bagaimana sikap dan tindakannya. Tapi ini? Ali mungkin berbeda dengan Austin.
Sebisa mungkin Leah akan cepat adaptasi dan melakukan negosiasi perdamaian dengan baik.
"Aku masih mengingatnya, tapi sepertinya orang ini sudah lupa." Batin Leah.
"Mari kita mulai."
Dengan ditengahi meja, pihak perusahaan Relax dan Nexora Group berhadap-hadapan.
Ketua Jay langsung memulai pembicaraan, menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Mengenai tindakan menyimpang sekretarisnya, ia akan bertanggung jawab asal perusahaan Relax tak dilengserkan.
"Berdamai ya? padahal Nexora Group sudah dirugikan karena sekretaris mu berani mencuri data rahasia." Lirih Ali.
Pernyataan itu berhasil membuat ketua Jay berkeringat dingin terlihat dari tangannya, Leah menyadari itu.
"Apa yang akan kami dapatkan jika menyetujui perdamaian ini?."
"Izin masuk direktur." Ujar Leah.
Semua mata tertuju kepadanya. Sekretaris Ali mempersilahkan.
"Pertama, kami tidak ada rencana untuk melakukan hal hina itu seperti yang dijelaskan ini murni tindakan bejat sekretaris ketua Jay. Kedua, untuk mengganti kerugian kami akan memberikan tebusan finansial dan jika masih belum cukup ketua Jay akan menyerahkan 60% sahamnya kepada Nexora." Jelas Leah.
Ali menatap wanita yang sedang bicara di hadapannya. Rambut coklat bergelombang dengan mata hazel yang indah berbinar.
"Kau pandai berbahasa Spanyol?."
Leah mengangguk, ia akan menyesuaikan bahasa lawan bicaranya sehingga memudahkan dalam negosiasi.
Ali tak langsung menjawab.
"Baiklah, biarkan kami bicara dulu nona." Ujar sekretaris Han, kaki tangan Alister.
"Silahkan."
Mereka beranjak dari kursi dan berdiskusi di tempat yang agak jauh. Leah menatap ketua Jay yang tampak berkeringat, sejak masalah ini terjadi dirinya hilang ketenangan sampai mengalami panik berlebih. Mentalnya sedikit terganggu.
Leah menggenggam tangan atasannya itu berusaha menenangkan, karena bagaimanapun juga ketua Jay orang baik yang berhasil membantunya mewujudkan bisnis restoran.
"Tenanglah pak, kita juga sudah bertanggung jawab."
"Harapanku begitu Leah."
Tak lama kemudian, Ali dan sekretarisnya muncul kembali. "Baiklah, sudah kami putuskan."
Ketua Jay dan Leah menatap penuh harap.
"Apa masih ada pilihan lain selain tebusan finansial dan saham?." Tanyanya.
Leah dan ketua Jay saling tatap.
"Itu jaminan terakhir yang saya miliki direktur Ali, tidak ada lagi hal berharga selain itu." Balas ketua Jay yang sudah cemas. "Jika belum cukup ku naikkan 10% lagi bahkan jika perlu semuanya.."
"Ketua!.." Bantah Leah.
"Sayangnya aku tak tertarik bahkan jika semua saham di berikan, perusahaan kotor yang licik." Dingin Ali.
Mendengar itu jantung ketua Jay bak ditikam, Leah terkejut dengan apa yang diucapkan Alister.
"Jika tak ada pilihan lain yang memuaskan negosiasi ini berakhir." Ali berucap tanpa menoleh, ia melangkah pergi keluar dari ruangan tersebut.
"Apa!?." Leah tak bisa berkata-kata. Bukankah ini sangat kejam sekali?.
Sekretaris Han menghampirinya. "Nona mungkin ini akan ada negosiasi kedua, jadi persiapkan sesuai keinginan direktur Ali atau jeruji besi sebagai gantinya untuk pertanggung jawaban." Setelah berucap ia pun berlalu.
Leah terdiam hatinya terasa berat.
Sementara ketua Jay tak bisa menahan diri lagi ia terisak. "Leah bagaimana ini? jika perdamaian tak terjadi dan kompensasi tetap tak diterima aku akan mendekam di penjara. Bagaimana istri dan anak-anakku? bagaimana masa depan mereka?."
"Ketua ini bukan salah anda, sekretaris anda lah yang harus menerimanya. Sebagai pimpinan anda sudah bertanggung jawab. Saya akan bicara langsung dengan Austin, dia pemilik Nexora Group dalam negeri ini bukan Alister. Saat ini mungkin ia sedang mewakilkan kakaknya." Ujar Leah. Ia cukup marah juga karena Ali tak harus sejahat itu.
Ketua Jay menunduk. "Terimakasih Leah."
Sepulangnya dari negosiasi hati Leah cukup berat, ia kembali pada malam hari setelah mengunjungi restorannya.
Di rumah kosong tidak ada siapa-siapa, bibi Maria pasti sedang di mansion untuk menyiapkan jamuan makan malam.
Karena tak mau membuang waktu lagi, Leah keluar dan pergi jalan kaki ke mansion yang tidak jauh dari rumah. Ia akan langsung menemui Austin sekaligus bertemu dengan Johan.
Sesampainya di sana.
Leah bertemu dengan beberapa pelayan yang tampak sibuk tak seperti biasa, dan terlihat di mansion juga sedang ramai.
"Paman.." Sapa Leah pada penjaga gerbang keluarga Royce.
"Eh nona Leah."
"Ramai sekali tak seperti biasanya."
"Benar, ini penyambutan atas kembalinya tuan Alister setelah 5 tahun tak berkunjung." Jawabnya.
Leah tak langsung menjawab, di sana banyak tamu-tamu dari kalangan bangsawan juga. Dapat dipastikan Alister juga ada di dalam.
"Baiklah aku duluan paman."
"Silahkan non."
Wanita itu melangkah masuk ke dalam lewat pintu belakang, ia ingin langsung menemui Johan setelah itu Austin.
Terlihat di sana Johan sedang mengobrol dengan seseorang, Leah mempercepat langkah kakinya.
"Om."
Johan menoleh. "Ah Leah! aku melihatmu lagi."
"Maaf akhir-akhir ini aku sibuk diluar om. Bibi menyampaikan pesannya kepadaku, jadi ada apa?."
Pria paruh baya itu menatap intens gadis cantik yang sudah bukan anak-anak lagi. "Saat ini sepertinya om belum bisa bicara karena sedang ada tamu, ditambah Austin juga masih di luar kota Leah."
Mendengar Austin tidak ada, Leah sedikit kecewa.
"Ya sudah kalau begitu."
"Apa kau mau langsung pulang?." Tanya Johan.
"Iya, om juga tak jadi bicara sekarang."
"Dasar kau ini. Lebih lama lah di mansion. Apa kau lupa saat ini sedang ada acara apa?."
Leah melihat sekeliling. "Kata paman sedang ada penyambutan atas datangnya Alister."
"Benar, kau sudah bertemu dengannya?."
Seketika Leah teringat negosiasi perdamaian.
"Belum." Leah sengaja bohong karena tak mau menjelaskan masalah panjang lebar disaat Johan sedang banyak tamu.
"Ya sudah mari ikut om." Johan membawa Leah.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Tidak om! mungkin lain kali saja."
"Orangnya sudah ada di depanmu."
"Ha?."
Leah menoleh mata keduanya saling bertemu.
Deg!.
Dalam beberapa detik tak ada yang bersuara, Leah segera mengalihkan pandangan.
"Wanita ini." Batin pria itu.
"Ah Ali apa kau masih ingat? dia Leah Gracella putri mendiang om Verharg." Ujar Johan.
Leah memberi salam penyambutan, walaupun dalam hatinya ia ingin melaporkan tindakan kejam Ali pada Johan.
"Selamat datang kembali Alister." Lirih Leah.
"Kau tumbuh dengan baik rupanya."
Hanya itu yang diucapkan Ali, setelah itu ia berlalu pergi dengan teman bangsawan lain.
Leah tak berucap apa-apa lagi.
Karena masih banyak tamu yang menghampiri Johan, Leah memilih pamit saja. "Kalau begitu aku pulang dulu om."
"Tidak bisakah lebih lama di sini dan nikmati segelas minuman?."
"Lain kali."
"Dasar kau ini, ya sudah kalau begitu istirahat dengan baik."
"Iya."
Leah pun keluar dari banyaknya orang yang sedang menikmati jamuan, ia lewat melalui pintu depan.
"Nona Leah!.." Panggil seseorang.
Wanita itu menghentikan langkahnya. Terlihat seorang pria asing menghampiri.
"Siapa dia?."
"Hallo nama saya Chris, biasa dipanggil nengok."
Loading beberapa detik namun akhirnya Leah terkekeh.
Melihat Leah tersenyum pria itu merasa senang. Sikap humorisnya melekat. "Saya Chris kita pernah bertemu sebelumnya saat negosiasi."
"Ah, anak buah Ali ya?."
"Benar."
Dari atas balkon. Alister yang tengah minum-minum dengan tamu lain melihat ke halaman bawah. Terlihat di sana Chris sedang mengobrol dengan Leah. Tatapan Ali terkunci, entah apa isi pikirannya.
"Senorita~."
Mksh udah update lagi
Lanjut thor...makin seru critanya
Mksh othor...UP nya yg byknya dong, krg kalau cuma 1 mah
Mksh othor atas up nya, gak sabar nunggu part selanjutnya