NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Simpanan CEO

Terpaksa Menjadi Simpanan CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Balas Dendam / Badboy / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Lintang

Karna ini adalah novel pendek jadi babnya gak terlalu panjang ya..

Mengandung cerita 21+

Ayunanda saputri harus terima kalau, mama yang ia cintai harus rela memilih lelaki yang baru saja menikahinya. Lelaki itu bernama Thomas Killer dia adalah sahabat papanya dahulu.

Dengan penuh perjuangan dia hidup sebatang kara, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Suatu hari dia bekerja di sebuah Bank swasta dan terpaksa menjadi simpanan CEO untuk membalas dendam kepada lelaki yang sekarang menjadi suami mamanya.

Adakah cinta di antara keduanya, simak terus kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi kamar nomor 1887

Asisten HideYoshi meminta Yuna untuk datang sendiri ke hotel yang mereka janjian ketemu kemarin untuk melanjutkan perundingannya. Namun karna Rendi tidak bisa menghadiri undangan HideYoshi dengan sangat terpaksa dia harus pergi sendiri ke hotel itu.

Sebelum pergi Yuna berpamitan kepada Lian, karna Rendi sedang tidak berada di tempat. Lian yang mengetahui kalau Yuna sudah pergi ke hotel segera memberitahu Ellena.

Ternyata yang di telpon sekarang sudah berada di hotel tersebut, tempat HideYoshi dan Daichi menginap. Ellena menyuruh Daichi untuk mengelabui Yuna, dengan menyuruh meminum minuman yang telah ia bawa dari rumah. Selain itu Ellena juga sudah mengubah dokumen penting yang di bawa Yuna atas bantuan Lian juga.

Yuna yang baru saja sampai di restoran menunggu HideYoshi dengan duduk di bagian ujung restoran, agar dirinya mengetahui siapa saja yang keluar dan masuk di restoran ini.

Yuna melihat Daichi turun seorang diri dari kamar, dengan lambaian tangan Yuna Daichi menangkap sosok Yuna dari kejauhan.

"Maaf harus menunggu lama Nona." Daichi menundukkan tubuhnya tanda ia sungguh meminta maaf.

"Tidak apa-apa Tuan Daichi, oiya kemana Tuan HideYoshi kenapa tidak bersama dengan anda?." Tanya Yuna sambil mencari-cari keberadaan HideYoshi.

"Tuan sedang tidak enak badan Nona, bagaimana kalau kita melakukan pembicaraan di kamar Tuan HideYoshi saja. Supaya beliau bisa berpendapat nantinya." Daichi mencoba meyakinkan Yuna agar mau menuruti keinginannya.

"Kenapa harus di sana, bukannya beliau sedang sakit. Lebih baik saya pergi, dan akan kembali lagi besok. Bagaimana?." Yuna merasa tidak enak dengan perasaannya.

"Ayolah Nona, yakinlah kalau kita tidak akan melakukan apa pun yang membuat anda malu atau semacamnya, saya dan Tuan orang baik-baik di sini ingin bekerja sama dengan Bank anda. Dan besok sepertinya tidak bisa Nona, karna istri Tuan HideYoshi meminta agar kami segera kembali ke Jepang."

"Owh.. begitu ya rupanya, baiklah kalau begitu saya akan mengikuti anda." Dengan ragu Yuna melangkahkan kakinya mengikuti arah kemana asisten itu membawanya.

Kamar 1887 adalah nomor HideYoshi menginap.

Tok.. Tok...

Daichi masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Yuna di belakangnya. Kamar itu sepi seperti tak berpenghuni, cuma ada beberapa dokumen yang berserakan di atas meja.

"Silahkan duduk Nona, maaf dokumen Tuan berserakan. Tunggulah sebentar mungkin Tuan sedang mandi." Daichi membersihkan meja tersebut lalu masuk ke dalam dan mengambilkan air mineral untuk Yuna.

"Silahkan di minum Nona, maaf hanya air mineral." Daichi menyuguhkan minuman yang tadi di bawa Ellena.

"Trimakasih Tuan." Yuna membuka botol air minuman itu lalu meminumnya sedikit.

' Kok botol minumannya sudah terbuka lebelnya, lalu kenapa rasanya aneh begini ya?. Apa mungkin tadi Daichi yang sudah membukakannya untukku?, ah.. iya mungkin dia tidak mau aku kesusahan membukanya sendiri.' Yuna sedikit berbicara dalam hati.

Tak lama HideYoshi keluar dari kamar mandi dan memakai baju mandinya.

"Maaf menunggu lama Nona." ucapnya tanpa sungkan dan tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.

Yuna sedikit canggung saat HideYoshi duduk bersebelahan dengannya, melihat kepalanya yang botak serta perutnya yang buncit makin membuat Yuna ketakutan.

"Em, i..iya Tuan. Apa tidak sebaiknya anda berganti pakaian dulu." Yuna berbasa basi untuk menghilangkan ketegangannya.

"Kenapa harus ganti pakaian dulu, kitakan mau menandatangani dokumen kesepakatan yang kemarin kita sudah bicarakan. Ayo silahkan di minum dulu airnya biar mengurangi rasa kecanggungan anda terhadap saya." Yuna menurut saja apa yang di katakan oleh HideYoshi, siapa tau dengan minum, ketakutan dan kecanggungannya berkurang.

Bukannya perasan itu hilang ia malah sedikit mengalami kantuk yang luar biasa, bahkan ia sendiri tidak bisa mengalahkan perasaannya sendiri.

"Anda baik-baik saja Nona?." tanya Daichi yang sudah duduk di sampingnya.

"Saya merasa pusing dan ngantuk Tuan." jawabnya sambil terbata-bata karna melawan rasa kantuk yang mendera dan juga pusing yang secara tiba-tiba.

"Tidurlah Nona, saya dan Daichi akan menemani anda tidur di sini." Yuna mendengar perkataan Tuan HideYoshi sungguh menegangkan ingin rasanya ia pergi dari sana, tapi apa daya tubuhnya sudah tidak bisa di gerakkan. Dan akhirnya tidak sadarkan diri.

Saat HideYhosi ingin melancarkan serangannya kepada Yuna, Dhaici menunggunya di luar untuk menunggu gilirannya.

"Kamu di luar saja, katakan padaku kalau ada seseorang yang ingin menemuiku. Katakan kalau aku sedang ada keperluan."

"Baik Tuan."

Pada saat itu juga Arya datang untuk mencari Yuna, ia bertanya kepada recepsionis yang berada di depan.

"Nona apa di sini ada orang yang menginap asal negara Jepang?."

"Namanya siapa Tuan?."

'Sial, kenapa aku bisa lupa namanya ya?.' Arya terlihat sedang menghubungi Rendi yang berada di kantor.

"Bagaimana Tuan, siapa namanya?."

"Sebentar Nona saya bertanya kepada saudara saya dulu."

"Baik Tuan saya tunggu."

"Rendi siapa nama klien kamu kemarin?."

"HideYoshi Ar, memangnya kenapa?."

Begitu mendengar nama HideYoshi Arya sedikit mengingat-ingat kalau sebenarnya dia adalah orang yang berpengaruh di Jepang, tapi kelakuannya selalu minus karena menghalalkan segala cara untuk mengikat hati perempuan apa bila ada yang ingin dia miliki.

"Namanya HideYoshi Nona?."

"Sebentar ya, saya cek dulu Tuan."

Pada saat menunggu hasil dari pencarian orang, Arya berdoa dalam hati. Agar kedatangannya bisa menyelamatkan Yuna yang sedang berada di dalam kamar hotel, tak lama pegawai hotel memberitahu Arya nomor kamar hotelnya.

"Bagaimana Nona?."

"Kamarnya nomor 1887 Tuan."

"Trimakasih."

Dengan cepat Arya mencari kamar yang nomornya tadi di beri tahu oleh pegawai hotel, di ujung lorong terlihat seorang laki-laki berada di depan pintu kamar hotel.

"Maaf Tuan, nomor 1887 itu sebelah mana ya?." Arya tidak melihat nomor yang berada di belakang Daichi.

"Itu nomor kamar Tuan HideYoshi, ada apa Tuan?."

"Oh ini kamarnya, tolong minggir saya ingin menjemput kekasih saya yang sedang berada di dalam kamar ini kan?." Arya terpaksa harus melakukan kekerasan karna Daichi terus saja menghalanginya untuk masuk.

Karena merasa dirinya kalah dalam bertarung, terpaksa dia masuk ke dalam kamar bosnya.

Saat itu HideYoshi sedang menelanjangi pakaian Yuna bagian atas tapi masih tersisa bra yang menutupi bagian dadanya, HideYoshi menunduk dan menikmati aroma tubuh Yuna di sana sambil sesekali menciumnya.

"Kurang ajar lepaskan wanitaku!!." Arya kalap dan langsung memukul tubuh HideYoshi. Bahkan mukanya sudah babar belur karena pukulan Arya, bahkan Daichi yang berusaha menolong bosnya ikut terkena serangan dari Arya.

Di lihatnya Yuna yang tak sadarkan diri, langsung membenarkan bajunya yang sempat di buka oleh lelaki tua kurang ajar tersebut.

"Awas kalian berdua, tunggu pembalasan dariku yang sudah berani menyentuh dan menciumnya." Arya kembali memukul mulut HideYoshi yang tadi menciumnya, dia juga memutar lengan tangannya karena telah berani menyentuh tubuh kekasihnya.

"Jangan harap kau bisa lepas dariku, sebelum kau kembali ke negaramu!!." Ancaman itu sungguh membuat HideYoshi dan Daichi ketakutan.

Setelah puas memukul, Arya menggendong tubuh Yuna untuk di bawa pulang. Tak lupa dia juga membawa tas serta dokumen yang tadi sempat di bawa oleh Yuna.

1
Safa Almira
,yey
Wirda Wati
kerennn👍👍👍
Wirda Wati
mampuslah
Wirda Wati
semakinnn seru...👍👍👍👍
Wirda Wati
Luna,elena sama sama matrey
Wirda Wati
💪💪💪💪
Wirda Wati
syukur Arya cepat datang...
Dasar Mak lampir...
ngga bisa lihat orang bahagia.
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
visualnya thort
Wirda Wati
😂😂😂💪💪
Wirda Wati
😂😂😂😂😂
Wirda Wati
💪💪💪💪
Wirda Wati
👍👍👍
Wirda Wati
Syukron semoga tambah bangkrut.
Wirda Wati
visualnya thort...
Wirda Wati
Jangan mau yuna
Wirda Wati
kerennn
Wirda Wati
ceo-nya digudang....
Titik Novrianti
gudang t4 favorit seorang ceo🤣🤣🤣🤣🤣🤭
Yuli Silvy
d buat baik la Thor
Yuli Silvy
ceritanya bgus n keren ga' pnjg x ga' bertele2 jg suka dgn karya mu Thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!