[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Gabby belum juga membuka matanya setelah George masuk ke dalam.
Diletakkannya semua kantung ke atas meja. Segera mengeluarkan ponselnya untuk mencari cara membangunkan orang pingsan.
Ia berfikir jika lebih lama lagi tubuh itu tak diberi asupan, akan semakin parah nantinya.
George keluar lagi setelah membaca hasil pencariannya dan kembali lagi dengan membawa minyak kayu putih.
Dioleskannya minyak itu di bawah lubang hidung.
Tak berselang lama, Gabby langsung mengerjabkan matanya. “Ssshh ...,” desisnya. Tangannya memegang kepalanya yang terasa pusing.
Wanita itu belum sadar jika di dalam sana ada George, ia langsung duduk dan bersandar.
“Brengsek! Gara-gara manusia dingin itu aku jadi seperti ini,” umpat Gabby lirih membuat George yang masih berada di ambang pintu kamar mandi setelah membersihkan tangannya dari bau minyak kayu putih itu memicingkan matanya.
“Siapa yang kau hina itu?”
Gabby terperanjat mendengarnya, ia tatap sumber suaranya. George sudah berdiri dengan angkuhnya di sana.
Wanita itu baru menyadari jika ia tak berada di kamar yang ia sewa. Kamar ini jauh lebih luas.
Apa dia yang membawaku kemari? Tidak mungkin, pasti dia menyuruh orang lain, manusia seperti dirinya mana punya rasa kemanusiaan.
“Siapa lagi kalau bukan kau,” tuding Gabby. Matanya terus mengikuti kemana arah George bergerak.
George berjalan ke arah meja. Mengambil obat dan air mineral. “Minum itu.” Ia melemparkannya tepat mendarat di paha Gabby.
Shit! Apa dia tak bisa lembut sedikit.
Ingin sekali Gabby mengumpati George. Tapi ia hanya berucap dalam hati saja. Sudah sangat lemas dan sakit perutnya, sebab akan panjang urusannya jika berdebat. Ia hanya mendelik menatap pria dingin yang berdiri sangat angkuh itu.
Diraihnya obat dan botol plastik di selimut yang menutupi pahanya. Membaca petunjuk peminuman obat dan segera menenggaknya.
George hanya menatap apa yang dilakukan oleh Gabby. Ia mendekati ranjang dan meletakkan nasi kotak yang ia beli ke atas nakas. “Makan.” Langsung kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa dan bermain ponselnya.
Wanita itu menatap makanan di atas nakas, lalu beralih ke George.
*Apa dia juga membelikanku obat, minuman, dan makanan ini? *Gabby menggeleng. Tidak mungkin, itu mustahil!
Perutnya yang memang sudah sangat membutuhkan asupan langsung mengambil kotak putih itu dan melahapnya.
Ekor mata George sekilas melirik Gabby. Dasar rakus!
Hanya butuh waktu lima menit Gabby menghabiskan makanannya. Pantas saja George menyebutnya rakus.
“Apa kau yang membelikan aku semua ini?” Pertanyaan itu akhirnya lolos juga dari mulut Gabby setelah ia dilanda rasa penasaran yang teramat dalam.
George memberhentikan dramanya yang seolah sedang bermain ponsel, padahal tidak. Ia hanya tak ingin tertangkap basah jika matanya sesekali tertuju pada Gabby.
“Menurutmu?” George balik bertanya, menurutnya tak perlu menjelaskan apa yang sudah ia lakukan.
“Tentu saja tidak, mana mungkin manusia sepertimu memiliki rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap orang lain,” jawab Gabby yakin.
George hanya menanggapi dengan menyunggingkan senyum sinisnya. Tak perlu mengumbar kebaikannya kepada orang lain, toh dia tak membutuhkan pujian atau semacamnya.
Gabby berdiri, ia membuang sampah lalu duduk di sofa yang sama dengan George namun sedikit menjauh.
“Boleh aku memohon padamu satu hal?” pinta Gabby dengan lembut.
George merasa aneh, biasanya Gabby selalu ketus, kasar, dan galak. Mengapa tiba-tiba saja menjadi begitu lembut?
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor