🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah menilai
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
"Maafkan ibu, Nak."
Seorang wanita berdiri di balkon lantai atas. Rambutnya tergerai acak, wajah cantiknya basah oleh air mata yang jatuh tanpa jeda.
Gaun tipis yang dikenakannya berkibar tertiup angin malam. Tangannya terangkat, melambai pelan, bukan sebagai salam, melainkan sebagai perpisahan yang sudah diputuskan.
Lalu…
Alexa memejamkan mata. Mimpinya semalam kembali lagi. Kenangan itu, yang selama ini ia simpan jauh di dasar ingatannya, kembali muncul tanpa ampun. Terlalu nyata. Terlalu utuh.
Dadanya mengencang, napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya terlepas berat.
Ia membuka mata.
Botol parfum kecil itu berada di hadapannya.
Alexa berdiri. Ia sudah mengenakan pakaian kerjanya. Namun ada sesuatu yang terasa asing. Ia menatap bayangannya sendiri di kaca lemari, lalu menyadari hal yang membuat rahangnya mengeras.
Pagi ini, ia telah berganti pakaian lebih dari sekali, tanpa sadar, ia ingin terlihat lebih baik.
Hal yang tidak pernah ia pedulikan sebelumnya.
Alexa meraih obat dari Leonard dan menelannya dengan air. Ia menunggu. Beberapa menit berlalu. Denyut di pelipisnya tidak mereda. Kepalanya masih terasa berat, pikirannya tetap penuh.
Ia menghela napas perlahan, kemudian hampir tanpa pertimbangan, tangannya meraih botol parfum itu.
Aroma itu menyebar lembut.
Dalam hitungan detik, tekanan di kepalanya mereda. Napasnya kembali teratur. Bahunya mengendur, seperti malam tadi.
Alexa terdiam.
"Tidak," gumamnya pelan.
Ini bukan sugesti. Ia mengenali batas itu. Efeknya terlalu cepat. Terlalu tepat. Obat yang bertahun-tahun menemaninya kini kalah oleh sesuatu yang seharusnya tidak memiliki pengaruh apa pun.
Ketergantungan.
Kesadaran itu membuat perutnya mengeras. Namun bukan hanya itu.
Wajah lain muncul di benaknya,
Yura.
Semua yang dilakukan Yura terbayang-bayang terus di kepalanya, dan susu itu.
Alexa menoleh ke meja. Botol susu kecil itu masih utuh, belum tersentuh.
Ia teringat bagaimana Yura memberikannya. Tanpa maksud mengikat, kesederhanaan yang justru membuatnya gelisah.
Alexa mengepalkan tangan.
Ia tidak menyukai kenyataan bahwa pikirannya dipenuhi satu nama. Ia tidak menyukai bahwa ia tidak mampu menghentikannya. Setiap kali mencoba menjauh, bayangan itu justru semakin jelas.
Ia membenci bahwa kendali tidak sepenuhnya berada di tangannya.
"Apa benar…" suaranya hampir tak terdengar, "Aku telah jatuh cinta?"
Alexa memejamkan mata, jawaban itu tidak datang. Namun perasaan itu tetap tinggal.
Alexa membuka matanya kembali dan bergegas merapikan pakaiannya sekali lagi. Jemarinya menarik kerah jas, meluruskan lipatan yang sebenarnya sudah sempurna sejak awal.
Ia berhenti, menatap dirinya sendiri di cermin, lalu menghela napas pendek.
Cukup.
Tidak ada yang perlu diperbaiki.
Ia meraih tas kerjanya, lalu melangkah keluar dari kamar mewah itu dengan langkah cepat dan terukur, seolah keterlambatan sekecil apapun adalah kesalahan fatal.
Di meja berukuran sedang berlapis kayu gelap, seorang pria tua duduk rapi sambil membaca koran pagi. Kacamatanya bertengger rendah di hidung, ekspresinya tenang namun waspada.
Di sisi lain, istrinya duduk dengan majalah di tangan, sesekali membalik halaman dengan gerakan santai.
Denales dan Arshena.
Keduanya menoleh hampir bersamaan saat menyadari kehadiran cucu kesayangan mereka.
Denales menurunkan korannya sedikit, memperhatikan Alexa yang melintas tanpa menoleh ke meja makan. "Kau selalu terburu-buru," ucapnya dengan suara rendah namun penuh perhatian. "Apa perutmu baik-baik saja jika terus melewatkan sarapan?"
Alexa berhenti melangkah, rahangnya mengeras tipis sebelum akhirnya ia berbalik setengah badan. "Aku baik-baik saja," jawabnya singkat.
Arshena menutup majalahnya perlahan. Tatapannya lembut, tetapi menyimpan kekhawatiran yang tidak sepenuhnya ia sembunyikan. "Setidaknya jelaskan pada kami," katanya pelan, "Kenapa kau menemui Leonard semalam. Apa kondisimu belum sepenuhnya pulih? Atau perlu kami mencarikan dokter lain."
Alexa menghela napas, lebih panjang kali ini. Namun ada satu hal yang lebih mengusiknya. "Apa Leonard mengatakan sesuatu?" tanyanya dengan nada suaranya terdengar tenang, meski matanya menyimpan kehati-hatian.
Ia teringat jelas permintaannya semalam agar Leonard tidak membicarakan apapun, terutama tentang Yura.
Denales dan Arshena saling berpandangan sekilas.
Lalu Arshena tersenyum. Senyum yang lembut, tipis, dan penuh pengertian. "Jika bukan tentang kesehatanmu," jawabnya pelan, "Lalu tentang apa lagi?"
Alexa merasakan ketegangan di dadanya mengendur.
Leonard menepati janjinya.
"Aku ada rapat pagi ini," kata Alexa kemudian. "Aku akan sarapan di perjalanan. Kalian makanlah dengan tenang. Jangan mengkhawatirkanku." tanpa menunggu jawaban, Alexa melangkah pergi.
Denales menurunkan koran sepenuhnya. "Dia tidak pernah benar-benar berubah," gumamnya lirih.
Arshena menghela napas pelan dengan tangannya terangkat, menepuk punggung tangan suaminya dengan lembut. "Bersabarlah," ucapnya. "Setidaknya kini ia mulai bergerak. Walau perlahan."
Denales terdiam.
"Trauma itu," lanjut Arshena dengan suara hampir berbisik, "Masih disimpan terlalu rapat. Tapi mungkin… celah kecil itu akhirnya mulai terbuka."
Denales mengangguk pelan, walaupun ia masih belum benar-benar tenang.
......................
"Nasibku hari ini sepertinya tidak akan baik-baik saja."
Yura menggumam pelan sambil menatap jalanan yang mulai ramai. Bus yang seharusnya ia tumpangi sudah lama menghilang di tikungan. Ia bangun kesiangan lagi, dan kali ini tidak ada alasan yang bisa ia gunakan untuk membela diri.
Yura menjatuhkan tubuhnya ke bangku halte, lalu mengayun-ayunkan kakinya dengan kesal. Ujung sepatunya sesekali membentur aspal, menghasilkan bunyi kecil yang tidak cukup untuk melampiaskan kegelisahannya.
"Kalau nunggu bus berikutnya, aku benar-benar tamat," desisnya lirih.
Wajah Alexa terlintas di benaknya. Tatapan dingin itu. Nada suara datar yang sulit ditebak. Yura menelan ludah. Ia sudah bisa membayangkan akhir dari hari ini, keputusan yang tidak bisa ditawar.
Kariernya.
Yura menghela napas panjang, menundukkan kepala.
Suara mesin mendekat.
Sebuah vespa matic berhenti tepat di depannya. Pengendaranya mengenakan helm berwarna krem dan pakaian kerja yang rapi. Pria itu menurunkan kaki, lalu sedikit mencondongkan tubuh ke arah Yura.
"Permisi," ucapnya ramah. "Apa kau tahu perusahaan D.A. Meart?"
Yura mendongak cepat. "D.A. Meart?" Ia berkedip, jelas terkejut. "Itu… tempat kerjaku."
Alis pria itu terangkat. "Benarkah?"
"Iya," jawab Yura spontan, lalu menatap pria itu lebih saksama. "Apa kau karyawan baru?"
Pria itu tersenyum lebar di balik helm. "Iya. Hari pertama. Sepertinya aku salah alamat. Soalnya aku orang baru di sini."
Yura tertawa kecil, meski kegelisahan di dadanya belum sepenuhnya hilang. "Kalau begitu, kau benar-benar beruntung."
"Kenapa?"
"Karena kau bertanya pada orang yang tepat," jawab Yura ringan.
Pria itu terkekeh. "Kalau begitu, bolehkah aku meminta bantuan? Kita bisa berangkat bersama."
Mata Yura berbinar. Tanpa banyak pertimbangan, ia langsung berdiri. "Tentu. Dengan senang hati."
Ia naik ke vespa itu dengan gerakan cepat, hampir tanpa ragu.
"Mungkin semesta masih berpihak padaku," gumamnya pelan, nyaris tersenyum.
Tidak jauh dari halte itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti.
Di dalamnya, Alexa duduk di kursi belakang, tubuhnya tegak, pandangannya semula tertuju lurus ke depan. Namun sesuatu di luar jendela menarik perhatiannya.
Ia melihat Yura.
Alexa tidak berniat mencari.
Pandangannya hanya sekilas, namun cukup untuk menangkap satu adegan yang membuat dadanya mengencang tanpa peringatan.
Yura tertawa sambil duduk di belakang seorang pria menggunakan vespa melaju meninggalkan halte.
Rahang Alexa mengeras.
Ada sesuatu yang tidak ia sukai dari pemandangan itu. Perasaan yang datang tiba-tiba, kasar, dan tidak beralasan.
Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena marah, melainkan karena sesuatu yang lebih gelap dan tidak ingin ia akui.
Jadi begitu.
Alexa memalingkan wajah, namun bayangan itu telanjur tertanam. Sebuah pikiran dingin melintas di kepalanya bahwa mungkin ia kembali telah salah menilai. Bahwa Yura bukan berbeda, hanya pandai memainkan peran.
"Jalan," ucap Alexa singkat.
Mobil itu kembali bergerak.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺