Lima tahun yang lalu dia mengubah identitasnya, membuang jauh masa lalunya karna rasa kecewa pada suaminya.
Dan kini di saat dua buah hatinya menanyakan sang ayah, apakah yang akan di lakukan ALEA, akankah dia berkompromi pada hatinya demi kebahagian buah hati tercinta. Atau dia mengabaikan demi gengsi dan harga dirinya walau sebenarnya dia masih sangat mencintai pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uncle, aku bukan anak kecil
Leea mulai membersihkan luka lebam yang di dapat Ziga akibat pukulan dari Demyan.
Dia menatap wajah Ziga yang sedang terlelap, tangannya bergerak selembut mungkin takut membangunkan Ziga.
Merasakan ada yang menyentuh wajahnya Ziga pun segera membuka kelopak matanya.
Tatapan mereka bertemu saat itu juga, Ziga meraih tangan Leea yang tengah membersihkan wajahnya, seketika Leea pun merasa gugup. Sudah lima tahun berlalu mereka tak pernah sedekat ini. Hati Leea berdegup kencang saat Ziga bangun dari tidurnya dengan masih menggenggam erat tangannya.
"Aku, aku hanya ingin membersihkan lukamu" ucap Leea gugup.
Ziga tak menjawab, dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Leea dan mempererat genggaman tangannya pada Leea. Jantung Leea semakin berdebar kencang, dia merasakan perubahan suhu yang menjadi panas di sekitar mereka. Ziga terus mendekatkan wajahnya ke arah Leea. Dia benar benar merindukan istrinya tersebut, Ziga pun mulai mendekatkan bibirnya ke arah bibir Leea.
"Mom, aku lapar" teriak Aiden sambil membuka pintu kamar tiba tiba membuat Ziga menghentikan aksinya dan Leea pun memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Ziga tersenyum kecut ke arah putranya, bagaimanapun juga bocah kecil tersebut telah merusak momen indahnya.
Sementara Leea sendiri tersenyum penuh kemenangan, kedatangan Aiden telah menyelamatkan Leea. Hatinya memang belum siap untuk menerima Ziga, tapi entah kenapa tubuhnya berkata lain. Dia tak bisa menolak sentuhan pria tersebut. Di hadapan Ziga, Leea ibarat zat cair yang terus mengikuti arusnya.
"Aiden mau makan apa sayang?" tanya Leea sambil menghampiri bocah tersebut.
"Tadi Daddy bilang mau buat sate ayam" jawab Aiden.
"Ok Son, sekarang kita lanjutkan buat satenya" ucap Ziga yang langsung membawa Aiden dalam gendongannya.
Aiden tersenyum cerah mendengar ucapan ayahnya tersebut.
"Tapi lukamu" ucap Leea yang baru teringat dia belum selesai mengobati luka Ziga.
Ziga meraih tangan Leea, kemudian mengecup punggung tangan wanita itu.
"Aku tidak apa apa, ini hanya luka kecil" ujar Ziga kemudian langsung turun kebawah meninggalkan Leea yang masih terpaku menatap tangannya yang baru saja di kecup oleh Ziga. Lagi lagi jantungnya berdegup dengan kencang.
"Ah, kenapa aku selalu saja seperti ini setiap dia menyentuhku" jerit Leea dalam hati, dia merasa frustasi dengan debaran yang tak menentu setiap kali bersentuhan dengan Ziga.
Sementara itu di rumah sakit, Erik mendekati Mia yang tengah duduk di sisi ranjang Neneknya.
"Makanlah, kau belum makan apapun sejak tadi pagi" ucap Erik sambil memberikan sebungkus kolache pada Mia.
"Terima kasih Uncle, tapi aku tidak lapar" ucap Mia berusaha menolak.
"Makanlah sedikit, kau juga harus menjaga kesehatanmu" ucap Erik sedikit memaksa.
"Ayo ikut sebentar" tambah Erik sembari menggandeng tangan Mia menuju keluar ruangan.
Erik membawa Mia menuju ke kantin rumah sakit, Erik memesan capuccino untuk Mia dan black coffe untuk dirinya sendiri.
Erik membuka bungkusan kolache dan meletakkannya di hadapan Mia.
"Makanlah" ucap Erik.
Lagi lagi Mia hanya terdiam, dia sama sekali tidak memiliki nafsu makan.
"Jika kau sakit siapa yang akan menjaga Nenekmu" ucap Erik.
Mia pun akhirnya menuruti perkataan Erik, dia pun mulai memakan kolache yang di belikan Erik secara perlahan.
Erik tersenyum lembut melihat Mia yang akhirnya mau makan walau terpaksa.
"Uncle, terima kasih" ucap Mia.
Erik mengacak lembut rambut Mia, entah mengapa dia merasa iba melihat gadis mungil tersebut.
Mia mengerucutkan bibirnya ketika Erik mengacak rambutnya.
"Uncle, Aku bukan anak kecil" ucap Mia.
"Jadi kau sudah dewasa ?" tanya Erik sambil menatap tajam ke dalam mata Mia.
Mendapat tatapan tajam dari Erik seketika Mia merasa gugup. Wajahnya memerah dengan gugup dia menundukkan kepalanya.
Erik yang melihat tingkah Mia hanya tersenyum lembut, dia merasa Mia benar benar lucu dan menggemaskan.
Sementara itu di rumah, Ziga dan Aiden masih sibuk membuat sate atas permintaan Aiden.
Leea yang menyaksikan pemandangan tersebut tersenyum cerah. Dia bahagia melihat pasangan ayah dan anak yang tampak kompak memasak.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Leea kepada Ziga.
"Coba kau bantu Aiden membakar sate ini, aku akan memasak soto untuk Zeline" ucap Ziga.
Leea pun menganggukkan kepalanya, dia segera membantu Aiden untuk membakar sate. Mereka bertiga tampak kompak di dapur. Sesekali terdengar candaan antara Leea dan Aiden yang membuat Ziga tersenyum bahagia. Dia merasa beruntung kini telah menemukan Via dan juga kedua buah hatinya. Dia tak ingin lagi berpisah dengan mereka.
"Daddy, Daddy" panggil Zeline sambil menangis keras keluar dari kamarnya, ketika tak menemukan Ziga di dalam kamarnya.
Ziga segera keluar dari dapur menghampiri putri kecilnya yang sedang menangis.
"Ada apa litle bunny?" tanya Ziga sembari mengangkat putrinya ke dalam gendongan.
Ziga mengusap air mata yang mengalir deras di pipi putrinya.
"Daddy di sini sayang" ucap Ziga.
Zeline mengeratkan pelukannya di leher Ziga, seolah dia takut kehilangan ayahnya tersebut.
"Ayo kita makan sekarang, soto ayam pesanan tuan putri sudah siap" ucap Ziga .
Zeline pun membelalakkan matanya,
"Benarkah?" tanya Zeline sembari menatap serius wajah ayahnya.
"Benar sayang" jawab Leea yang sudah mulai menghidangkan makanan di atas meja makan.
"Hore" teriak Zeline gembira, bocah kecil itu langsung melompat turun dari gendongan ayahnya dan segera menyerbu ke meja makan.
"Zel, cuci tanganmu dulu" ucap Leea tegas.
Zeline mengerucutkan bibirnya, akan tetapi dia tetap mengikuti perintah ibunya. Ziga hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan putri kecilnya tersebut. Zeline sangat berbeda dengan Aiden, jika Aiden lebih dengan sifatnya yang perfeksionis Zeline justru kebalikannya, gadis kecil itu lebih terkesan sembarangan walaupun dia adalah seorang perempuan.
Mereka pun berkumpul di meja makan untuk makan siang bersama, walau sebenarnya waktu makan siang telah lewat.
Di rumah sakit Mia juga sudah selesai memakan kolache yang di belikan oleh Erik.
Dia pun bergegas kembali keruangan tempat Neneknya di rawat.
"Uncle, terima kasih" ucap Mia saat mereka sedang berjalan menuju kamar tempat Nenek Mia di rawat.
"Untuk apa?" tanya Erik
"Untuk semua yang sudah Uncle lakukan hari ini" jawab Mia.
"Jika tidak ada Uncle, mungkin Nenek,"
Sebelum Mia meneruskan perkataannya tiba tiba Erik menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Jangan berfikir macam macam" ucap Erik sambil mengelus puncak kepala Mia.
Mia yang belum pernah di sentuh oleh seorang pria terkejut dengan pelukan Erik, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat dari tempatnya.
"Ayo kita lihat Nenek" ucap Erik setelah melepaskan pelukannya pada Mia.
Mia sendiri masih terpaku di tempatnya, entah mengapa dia merasa gugup dan canggung setelah mendapat pelukan dari Erik.
Erik sendiri sepertinya tak menyadari hal tersebut, dia melanjutkan langkahnya menuju kamar tempat Nenek Kamila di rawat.