NovelToon NovelToon
OUR WEDDING CONTRACT

OUR WEDDING CONTRACT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fio Purple

Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.

Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.

Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.

Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?


Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART.33 (,)

Ponsel Vellano masih berdering di tangannya. Alessia menatapnya penasaran, sementara Vellano menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangkat panggilan.

“Ya, Ma?”

Suara Nyonya Anne langsung terdengar dari seberang dengan volume yang membuat Vellano spontan menjauhkan ponsel dari telinganya.

“VELLANO! JADI KALIAN BENAR-BENAR BERANGKAT LUSA?!”

Alessia yang berdiri di sampingnya langsung menahan tawa.

Vellano memejamkan mata. “Iya, Ma. Kami berangkat lusa. Mama sudah menanyakan ini berkali-kali.”

“Ya ampun, tentu saja! Ini bulan madu pertama kalian sebagai suami istri sungguhan!”

Alessia langsung tersipu.

“Ma, jangan terlalu heboh.”

“He­boh bagaimana? Mama sudah memberi tahu Papa, bahkan Fabiola juga! Semua orang sudah tahu!”

Vellano menatap Alessia dengan tatapan pasrah.

Alessia berbisik, “Aku rasa berita ini lebih cepat menyebar daripada berita perusahaanmu.”

Vellano hampir tertawa.

Nyonya Anne kembali bertanya panjang lebar tentang hotel, penerbangan, pakaian Alessia, bahkan makanan yang akan mereka makan.

“Dan jangan lupa kirim foto!”

“Ma, kami pergi untuk bulan madu, bukan konferensi pers.”

“Justru karena bulan madu! Mama mau lihat kalian romantis!”

Alessia akhirnya tak mampu menahan tawa. Vellano meliriknya dengan wajah sebal.

“Alessia, kamu dengar, kan? Tolong awasi anak saya. Dia itu kalau sudah sibuk kerja bisa lupa bahwa dia sedang bulan madu!”

Alessia tersenyum jahil. “Tenang, Ma. Saya akan pastikan dia tidak membuka laptop.”

Vellano langsung menoleh tajam.

“Alessia!”

Tawa mereka pecah di balkon.

Namun sebelum panggilan berakhir, Nyonya Anne tiba-tiba berkata, “Oh, satu lagi… ada sesuatu yang harus kalian ketahui sebelum berangkat.”

Vellano terdiam.

Alessia pun berhenti tertawa.

“Apa, Ma?”

Suara Nyonya Anne berubah serius.

“Ini tentang seseorang yang akan ikut datang ke Maladewa.”

Alessia dan Vellano sama-sama terdiam mendengar ucapan Nyonya Anne.

“Ada seseorang yang akan ikut datang ke Maladewa,” ulang Nyonya Anne dengan nada serius.

Vellano langsung mengerutkan kening. “Siapa, Ma?”

Tiba-tiba terdengar tawa Nyonya Anne dari seberang telepon.

“Hahaha! Tidak ada siapa-siapa! Mama cuma bercanda!”

Vellano menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Mama…”

Alessia langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi suaminya.

“Ma, jangan bercanda seperti itu. Aku hampir pingsan,” gerutu Vellano.

“Ah, kamu ini terlalu serius. Nikmati saja bulan madu kalian!”

Belum sempat Vellano menjawab, terdengar suara seseorang memanggil Nyonya Anne dari kejauhan.

“Oh, ternyata tamu Mama sudah datang. Mama tutup dulu, ya!”

“Baik, Ma.”

“Jangan lupa kirim foto!”

“Ma!”

Tuut!

Panggilan terputus.

Vellano menatap layar ponselnya dengan wajah pasrah. Alessia masih tertawa sambil memegang perut.

“Sekarang aku tahu dari mana sifat heboh keluargamu berasal.”

Vellano menghela napas. “Aku korban di rumah sendiri.”

Alessia mendekat lalu menggandeng lengannya.

“Kasihan sekali suamiku.”

Vellano meliriknya. “Jangan mengejek.”

“Tidak. Aku sedang menghibur.”

Mereka pun kembali menikmati sore di balkon, tertawa bersama sebelum akhirnya bersiap menyambut perjalanan mereka ke Maladewa dua hari lagi.

......................

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh kejutan, mansion terasa benar-benar damai. Tidak ada telepon mendadak dari keluarga, tidak ada tamu yang muncul tanpa pemberitahuan, dan tentu saja tidak ada drama.

Setelah sarapan, Vellano sudah bersiap dengan jas hitamnya untuk pergi ke kantor. Sementara itu, Alessia muncul dengan pakaian balapnya.

Vellano langsung berhenti memasang jam tangan.

“Kamu mau ke mana?”

“Ke sirkuit.”

“Tidak.”

Alessia mengangkat alis. “Aku bahkan belum selesai bicara.”

“Tidak perlu. Aku sudah tahu.”

“Aku cuma latihan, bukan balapan.”

“Justru latihan juga bisa membuatmu kecelakaan.”

Alessia mendengus. “Aku sudah biasa.”

Vellano menatapnya datar. “Itu bukan alasan.”

“Aku akan hati-hati.”

“Tidak.”

“Vellano…”

“Alessia.”

Keduanya saling menatap seperti sedang beradu mental.

Akhirnya Vellano menghela napas panjang. “Kamu memang keras kepala.”

Alessia tersenyum menang. “Aku anggap itu pujian.”

“Bukan.”

“Sudah terlambat.”

Vellano hampir tertawa melihat istrinya.

Akhirnya ia menyerah. Sebelum masuk mobil, ia mendekati Alessia dan merapikan sedikit rambut istrinya yang berantakan.

“Baik. Kamu boleh pergi. Tapi jangan kehujanan.”

Alessia mengangguk. “Iya.”

“Kalau hujan, langsung pulang.”

“Iya.”

“Jangan memaksakan diri.”

“Iya, Tuan CEO.”

Vellano terkekeh. Ia kemudian menarik Alessia mendekat dan mengecup keningnya cukup lama.

“Hati-hati, istriku.”

Alessia tersenyum lembut. “Kamu juga. Jangan terlalu sibuk sampai lupa makan.”

“Kalau aku lupa?”

“Aku telepon dan marahi.”

“Ancaman?”

“Peringatan.”

Vellano tertawa, lalu mencium pipinya sebelum berbalik menuju mobil.

Namun baru beberapa langkah, Alessia memanggilnya.

“Vellano.”

Ia menoleh.

Alessia berlari kecil menghampirinya dan memeluknya sebentar.

“Semangat kerja.”

Vellano tersenyum dan membalas pelukannya.

“Kamu juga. Jangan bikin aku khawatir.”

Setelah itu Vellano berangkat ke kantor, sementara Alessia menuju sirkuit.

Namun sebelum mobil Vellano meninggalkan gerbang, kaca mobilnya kembali turun.

“Alessia!”

“Apa lagi?”

“Jangan hujan-hujanan!”

Alessia tertawa sambil melambaikan tangan.

“Bawel!”

Vellano tersenyum. “Keras kepala!”

Dan pagi yang tenang itu pun dimulai.

...****************...

Di sirkuit, latihan Alessia berjalan cukup lancar. Ia melaju dengan motor balapnya, melewati setiap tikungan dengan kecepatan tinggi dan gerakan yang terampil. Karen berdiri di area pit sambil memperhatikan sahabatnya.

Namun, langit yang sejak tadi mendung tiba-tiba berubah gelap.

“Alessia, sepertinya hujan!” teriak Karen melalui radio komunikasi.

Belum sempat Karen selesai bicara, hujan turun begitu deras.

Alessia segera memperlambat motornya dan masuk ke pit. Ia melepas helm sambil menghela napas lega.

Karen menghampirinya. “Tumben berhenti sendiri. Biasanya kamu harus dipaksa dulu.”

Alessia menunjuk langit. “Aku masih punya otak.”

Karen tertawa. “Wah, perkembangan besar.”

Alessia memelototinya. “Aku tidak mau sakit lagi.”

Ia langsung teringat kejadian beberapa hari lalu ketika dirinya kehujanan hingga demam tinggi. Terbayang pula wajah Vellano yang panik sekaligus mengomel.

“Besok kita berangkat ke Maladewa,” kata Alessia. “Aku tidak mau bulan madu malah membawa termometer dan obat.”

Karen terkekeh. “Jadi kamu lebih takut sakit atau takut dimarahi Vellano?”

Alessia berpikir sejenak.

“Dua-duanya.”

Mereka tertawa.

Tak lama kemudian ponsel Alessia berbunyi. Pesan dari Vellano muncul.

Jangan kehujanan.

Alessia menunjukkan layar itu kepada Karen.

Karen langsung tertawa. “Dia punya radar khusus untukmu!”

Alessia tersenyum sambil mengetik balasan.

Aku sudah masuk pit. Aku tidak mau sakit lagi. Besok kita ke Maladewa.

Balasan Vellano datang cepat.

Bagus. Sekali ini kamu menurut.

Alessia mendengus.

“Dasar CEO cerewet.”

Karen menunjuk wajahnya.

“Tapi kamu senyum.”

Alessia terdiam, lalu tersenyum semakin lebar.

“Diam, Karen.”

......................

Hujan semakin deras, membuat Alessia dan Karen akhirnya berteduh di ruangan khusus dekat pit. Mereka berniat menunggu sebentar sebelum pulang.

Namun satu jam berlalu.

Lalu dua jam.

Hujan masih turun tanpa tanda-tanda akan berhenti.

Alessia mulai gelisah sambil melihat jam tangannya. “Kalau begini terus, kita bisa bermalam di sini.”

Karen tertawa. “Tenang. Besok kamu masih bisa berbulan madu. Kalau Vellano tahu kamu masih di sirkuit, mungkin dia yang datang membawa payung sekaligus ceramah.”

Alessia mendengus. “Jangan panggil dia.”

Tepat saat itu, suara kendaraan terdengar dari luar.

Dua mobil berhenti di depan area sirkuit.

Alessia menoleh dan langsung terdiam ketika melihat seseorang turun dari salah satu mobil.

“Jangan-jangan…..

...****************...

1
Verawati Naycyl
penasaran nich thor.....Axel kamu blak blak abis..karen sampai malu tuch🤣🤣
Rho Fioca Purple: Wkwkwk,sabar ya kak Nanti ada part khusus untuk Axel dan Karen.Pantengin terus ya kak😁
total 1 replies
Verawati Naycyl
itu pasti vellano dan Axel...
Verawati Naycyl
lanjut thor
Enz99
Bagus
Rho Fioca Purple: Trimakasih kak🥰
total 1 replies
Rho Fioca Purple
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!