Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.
Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?
Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: PENYELIDIKAN
DORIAN CERVANTES
Gadis ingusan ini—entah harus kuanggap keponakan karena pernah bersama Iván atau calon istriku—pingsan begitu saja. Norma, kepala pelayanku, mulai berteriak sambil memangkunya.
"Ada keributan apa ini?" Aku bergegas datang, mengira bocah itu sedang melakukan sesuatu yang bodoh, tapi pemandangannya lain. Dia tampak seperti mayat, dan tak mungkin dia berpura-pura, meski sempat juga terpikir olehku.
"Ada apa dengannya, Norma?" Aku mengangkatnya dan membawanya ke kamar utama sementara Norma mengikuti di belakang.
"Saya tidak tahu, Tuan. Saya berikan tasnya, lalu saya ajak bicara, tapi sepertinya dia tak mendengar saya. Ya Tuhan, kasihan sekali gadis ini!" Norma selalu saja cemas dan mengkhawatirkan segala hal.
"Telepon Orlando sekarang juga, suruh dia datang secepatnya." Norma berlari keluar untuk melaksanakan perintahku, sementara aku menatap sosok yang terbaring tak sadarkan diri di ranjangku.
Jelas terlihat dia habis menangis; kelopak matanya bengkak. Tapi ada sesuatu yang lebih menarik perhatianku—bekas-bekas cengkeraman di lengannya. Kuangkat atasannya dan kuperiksa sebagian tubuhnya, mencari tanda-tanda lain. Di bagian dadanya tak ada apa-apa. Kulihat belakang lehernya dan sebagian punggungnya, dan di sana pun kutemukan bekas cengkeraman.
Norma kembali bersama Orlando, yang lalu memeriksanya. Orlando sudah lama mengenalku—dia sahabat baik yang tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Kutunjukkan bekas-bekas yang kutemukan padanya, dan dia balas menatapku dengan serius. Aku tahu apa yang ada di pikirannya.
Dia memasang infus, mengambil sampel darah, lalu berkata gadis itu kemungkinan akan tidur beberapa jam.
"Sudah kau periksa kameranya?"
"Ada lebih dari dua ratus orang di sini, dan dalam beberapa menit kameranya berhenti merekam."
"Kau yakin tidak menyentuhnya?"
"Tentu saja yakin. Mengunci pintu pun aku tak ingat. Aku minum beberapa pil lalu tertidur. Aku terbangun karena keributan yang dibuat orang tuanya, Iván, dan sejumlah orang yang penasaran."
"Ada sesuatu yang terjadi padanya, tapi hasil analisis nanti yang akan memastikannya. Aku rasa dia tidak mabuk. Mungkin ada yang mencoba memperkosanya dan dia berhasil kabur."
"Entahlah, tapi akan kucari tahu, dan siapa pun pelakunya akan menyesal."
"Aku akan meneleponmu begitu hasilnya keluar. Kalau terjadi apa-apa dengannya, hubungi aku."
Aku pergi ke kamar tempat gadis itu berada, dan Norma sedang mengganti pakaiannya.
"Tuan, Nona ini tampak sangat kacau setelah melihat ponselnya."
"Kau tahu apa yang dia lihat?"
"Saya tidak tahu, Tuan, tapi dia tidak berbohong. Dia benar-benar terlihat sangat terpukul."
"Di mana ponselnya tadi?" Aku tahu ponsel itu tak ada di kamarku.
"Di kamar tamu pertama, di dalam tasnya."
Kalau dia terbangun di kamarku, di ranjangku, kenapa tasnya ada di kamar tamu? Ada sesuatu yang terjadi di sini, dan apa pun itu, sama sekali tak kusukai.
Kuambil ponselnya dan kubuka menggunakan sidik jarinya. Kuperiksa pesan-pesannya, riwayat panggilan, WhatsApp-nya, lalu kubuka media sosial di ponselku sendiri—dan kutemukan bahwa sebuah foto kami berdua sudah menjadi viral. Tapi dialah yang dihujat habis-habisan sebagai perempuan jalang, setelah dianggap tidur dengan keponakan sekaligus pamannya.
Menghapus gambar-gambar itu tak akan mengubah apa pun, sebab semua orang sudah terlanjur melihatnya, dan reputasinya sudah hancur.
Kalau bocah ini yang merencanakan semuanya, dia tak akan menghapus sebagian gambar atau mematikan kamera keamanan selama beberapa menit. Dia tak mungkin melakukannya sendirian, dan aku ragu dia akan membius dirinya sendiri.
Iván, aku tahu, tak mengerti cara memanipulasi sistem yang terlalu rumit untuk orang bodoh sepertinya. Tapi kalau aku mulai mencari pelakunya di sini, ada lebih dari dua ratus tersangka, dan lebih dari separuhnya berasal-usul mencurigakan—sama seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Lagi pula, dari kejadian ini kami berdua tak mendapat apa-apa. Satu-satunya yang diuntungkan adalah orang tuanya. Tapi untuk apa mereka menginginkan sejumlah uang? Sebagai seorang ayah, aku berpikir kalau sesuatu menimpa anakku, aku tak akan membeberkannya ke publik apalagi menuntut bayaran—aku akan membuat para pelakunya membayar mahal. Tapi pada akhirnya, di kalangan orang berduit banyak ketidakadilan yang bisa dibayar dengan uang. Aku tahu itu tak masuk akal dan tak berperikemanusiaan, tapi begitulah hidup.
Aku akan mengusut ini sampai ke akarnya, dan orang yang harus membantuku adalah Valentina. Sekarang, di atas semua kekacauan ini, aku malah harus merencanakan pernikahan konyol dengan seorang bocah tolol. Yang kuanggap aneh, baik saudaraku yang menyebalkan itu maupun keponakanku yang bodoh itu, tak satu pun datang menuntut apa-apa padaku.
Aku menunggu dengan sabar sampai bocah itu sadar, sementara dengan tak sabar kunantikan hasil analisis yang harus diberikan Orlando padaku.
📨 Cari tahu semua yang bisa kau temukan tentang keluarga Sierra. Aku ingin tahu segalanya tentang Valentina Sierra terutama, dan aku mau ini dilakukan diam-diam. Perintah itu kuberikan pada Silvio Villanueva, tangan kananku, orang yang kupercaya.