NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Nadira

Ratna berjalan mengelilingi apartemen putra dan menantunya dengan wajah puas. Sesekali perempuan paruh baya itu berhenti untuk melihat perabotan yang tertata rapi, sebelum akhirnya melangkah menuju kamar tamu. Ia membuka pintunya dan melihat tempat tidur yang tertata begitu rapi.

“Nanti kali Ayah kalian dinas ke luar kota, ibu mau nginap di kamar ini ya, Al.”

“Boleh, Bu. Nanti kabari Alya kalau Ibu mau nginap, biar Alya ganti sepreinya.” Jawab Alya.

Ibu Ratna mengangguk senang. Setelah itu, ia beralih menuju kamar utama. “Boleh ibu masuk?” Tanyanya sebelum membuka pintu kamar utama.

Alya yang sedang berdiri di samping Arga menoleh. Ia menatap laki-laki itu sebentar. “Boleh, Bu.” Jawabnya.

Ibu Ratna tersenyum, lalu membuka pintu kamar utama. Begitu masuk, pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan. Bersih dan tertata dengan sangat rapi. Ada buku dan kitab-kitab keagamaan di atas meja di sudut ruangan. Perlengkapan shalat juga terlihat begitu menyejukan matanya.

Benar-benar seperti yang dia bayangkan. “Ibu tidak salah memilih menantu.” Ucapnya kemudian sambil mengusap pipi Alya dengan lembut. “Ibu pikir pernikhan dadakan ini membuat kalian memilih tidur di kamar berbeda,” ucapnya terdengar sedih.

Arga yang berdiri di samping Alya langsung merangkul bahu istrinya, kemudian menarik tubuh gadis itu sedikit mendekat.

“Ya, enggak bisa begitu dong, Bu. Punya istri secantik ini, masa aku harus tidur sendirian di kamar tamu?” jawabnya santai.

Ratna tertawa kecil. “Iya, iya. Ibu cuma bertanya.”

Alya mempertahankan senyum di wajahnya, meskipun dalam hati ia ingin menyikut laki-laki yang sedang merangkulnya.

Ih, apa-apaan sih laki-laki ini? Dasar pendusta! Kemarin bicara soal pernikahan seperti dua orang teman, sekarang mendadak sok romantis.

Sayangnya, Alya tidak mungkin mengungkapkan isi pikirannya. Ia hanya membiarkan Arga merangkulnya selama Ratna masih berada di sana.

“Bagaimana, Alya? Kamu nyaman tinggal di sini?” tanya Ratna.

“Alhamdulillah, nyaman, Bu.”

“Syukurlah. Kalau ada yang kurang atau kamu butuh sesuatu, bilang saja kepada Ibu.”

“Baik, Bu. Terima kasih.”

Ratna tersenyum puas. Sejak awal, ia memang berharap Arga dan Alya bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik. Meski pernikahan mereka terjadi melalui perjodohan keluarga, Ratna percaya kedekatan bisa tumbuh seiring waktu.

Setelah melihat-lihat ruangan, mereka kembali ke ruang makan. Alya sudah menyiapkan hidangan sederhana yang cukup untuk makan siang bersama. Ratna duduk di sampingnya, sementara Arga mengambil tempat di seberang mereka.

Suasana makan siang berlangsung hangat. Ratna beberapa kali bertanya tentang kegiatan Alya di apartemen, mulai dari memasak hingga mengatur kebutuhan rumah tangga. Alya menjawab dengan santun, sesekali tersenyum ketika Ratna menceritakan kebiasaan Arga sejak kecil.

“Dari dulu Arga itu kalau sudah sibuk bekerja, suka lupa waktu shalat dan makan,” ujar Ratna sambil melirik putranya. “Jadi, sekarang ada Alya yang bisa mengingatkan.”

Arga mengangkat wajah. “Ibu ini, kebiasaan lama terus yang diceritakan.”

“Memangnya salah? Ibu kan mengenalmu sejak kecil.”

Alya tertawa pelan mendengar percakapan mereka. Ia bisa melihat bahwa Ratna sangat menyayangi putranya. Tidak mengherankan jika perempuan itu begitu berharap kehidupan rumah tangga Arga berjalan bahagia.

“Ibu tahu kalian baru saja menikah. Sebelumnya kalian juga belum terlalu dekat,” katanya sambil meletakkan sendok. “Tidak apa-apa, namanya juga belajar mengenal pasangan setelah menikah. Kalian bisa membangun kedekatan sedikit demi sedikit.”

Alya mengangguk. “Iya, Bu. Kami masih belajar menyesuaikan diri.”

“Yang penting saling menghormati dan menjaga komunikasi.” Ratna tersenyum, kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih serius. “Tapi kalian harus ingat, kalian berdua sama-sama anak tunggal. Jadi, jangan menunda kehamilan terlalu lama, ya, Al. Kami sebagai orang tua tentu berharap yang terbaik untuk kalian.” Ibu Ratna mengusap lembut tangan Alya yang ada di atas meja.

Sementara Arga, tangannya langsung terhenti saat mendengar kehamilan. Ia tahu ibunya mengharapkan cucu dari pernikahan mereka. Namun, mendengar pembicaraan itu secara langsung membuatnya semakin menyadari betapa jauh kenyataan pernikahannya dari harapan ibunya ini.

Alya sendiri terdiam sebentar sebelum kemudian menjawab. “Insyaallah, Bu. Semoga nanti diberikan yang terbaik pada waktu yang tepat.”

Ratna mengangguk. “Amin. Ibu tidak bermaksud mendesak kalian. Ibu hanya berharap kalian bisa membangun keluarga yang bahagia.”

“Iya, Bu,” jawab Alya lembut.

Arga tidak banyak bicara setelah itu. Ia hanya kembali menyantap makanannya, sesekali menanggapi percakapan mereka. Ia tidak mungkin menceritakan kenyataan yang sebenarnya, tetapi juga tidak bisa mengabaikan rasa bersalah yang muncul setiap kali ibunya membicarakan masa depan mereka.

Setelah makan siang selesai, Alya membantu membereskan meja. Ibu Ratna sempat menawarkan bantuan, tetapi Alya memintanya duduk saja karena ia hanya perlu membawa beberapa piring ke dapur.

Arga membantu membawa gelas dan peralatan makan. Setelah semuanya selesai, ia melihat jam tangannya.

“Bu, aku harus kembali ke kantor. Ada beberapa pekerjaan yang perlu kuselesaikan.”

Ibu Ratna mengangguk. “Ya sudah, jangan sampai pekerjaanmu terbengkalai. Hati-hati di jalan.”

“Iya, Bu.”

Arga mengambil tas kerjanya, lalu berpamitan. Sebelum melangkah ke pintu, ia menoleh kepada Alya.

“Al, antar aku ke lobi, ya.”

Alya mengangguk. “Baik, Mas.”

Ratna tersenyum melihat mereka. Ia merasa senang karena putranya tampak semakin dekat dengan istrinya.

Arga kemudian menggenggam tangan Alya dan mengajaknya keluar dari apartemen.

“Ibu tunggu di sini sebentar, ya,” ucap Arga. “Aku pinjam menantu ibu sebentar.” Ia mengangkat tangannya yang mengenggam tangan Alya ke udara, seakan sedang memamerkan kemesraan itu.

“Tidak perlu terburu-buru. Ibu juga tidak akan langsung pulang.”

Arga mengangguk, lalu membawa Alya menuju lift.

Sepanjang perjalanan turun, tangan mereka masih saling menggenggam. Alya tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu Arga sedang berusaha menjaga kesan harmonis yang telah mereka tampilkan di depan ibu.

Beberapa saat kemudian, pintu lift di lantai dasar terbuka. Arga melangkah keluar sambil terus menggenggam tangan Alya. Namun, baru beberapa langkah, kakinya mendadak berhenti. Di dekat area tempat duduk, seorang perempuan sedang berdiri, juga menatap lurus ke arah mereka.

“Nadira.” Gumamnya pelan, namun bisa didengar oleh Alya. Arga merasa seolah seluruh suara di sekitarnya mendadak menghilang. Ia tidak pernah membayangkan perempuan itu masih berada di sana, apalagi ketika ia sedang menggenggam tangan Alya.

Nadira pun tidak bergerak. Tatapannya berpindah dari wajah Arga ke tangan Arga yang saling bertaut. Perlahan, matanya kembali menatap laki-laki yang selama ini dicintainya, seolah sedang berusaha memahami apa yang baru saja ia lihat.

Melihat pandangan Nadira ke arah tangannya, Alya langsung menarik tangannya yang masih berada di dalam genggaman Arga. Ia lalu melangkah ke samping, memberi sedikit jarak antara tubuhnya dengan Arga.

“Arga?” Suara Nadira terdengar pelan, tetapi cukup untuk membuat Arga tersadar.

Arga membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu. Namun, tidak ada satu kalimat pun yang bisa keluar dari mulutnya.

Alya menoleh kepada Nadira, kemudian melirik Arga yang mendadak kehilangan kata-kata. Meskipun ini pertama kalinya ia melihat wajah Nadira, namun nama wanita ini tidak lagi asing di telinganya.

Nadira melangkah semakin mendekat ke arah Arga dan Alya. “Siapa dia?” tanya Nadira.

Arga tidak bisa menjawab. Kali ini, dua kehidupan yang selama ini ia pisahkan akhirnya bertemu tepat di. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan satu perempuan dari perempuan lainnya, dan ia tidak bisa meminta Alya berpura-pura tidak mengenalnya karena Nadira sudah terlanjur melihat mereka.

“Arga!” Melihat Arga hanya terdiam, suara Nadira kembali terdengar. Tidak keras, tapi terdengar sangat tegas.

1
Setyowati Setyowati
dari kemarin ngintip trs sy kira keman Thor ...tp syukurnya up juga ..jangan Hiatus Thor 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kalau bisa jangan simpan semua sendiri Nadira...karena kamu akan banyak pikiran jadi akan berimbas pada janinmu dan dirimu ..bagi bebanmu pada Arga juga ..biar sama " mencari solusinya
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!