Menampar si muka dua, menginjak si pria berengsek, cara belas dendam yang berbeda dengan biasanya. Mau liat bagimana sang ratu menyiksa pria berengsek dan si muka dua sampai ketakutan tapi tidak bisa kabur?
Namun kenapa kali ini, dia tidak bersembunyi atau menghindar? Kenapa dia malah terus mengikuti ku?
perhatian!!!
"Ratu" tanda kaya gini artinya itu percakapan bisa
'Ratu' tanda ini tanda nya si tokoh lagi berpikir dalam hati atau bicara di dalam hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelie Valaska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 20
Para penggemar terus menyoraki kepergian Yuni saat dia melangkah anggun menuju mobil limosin mewah yang sudah menunggu di lobi luar. Kenzie Alfariz mengantarnya dengan pandangan mata yang penuh damba, seolah-olah seluruh dunianya baru saja berporos pada wanita berambut perak itu. Yuni melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum pintu mobil tertutup rapat, menyembunyikan senyum malaikatnya dari publik.
Begitu berada di dalam mobil yang kedap suara, senyum manis di wajah Yuni langsung lenyap. Wajahnya berubah menjadi sedingin es. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi kulit yang empuk, lalu melirik ke arah kursi kosong di sebelahnya. Di sana, si rubah oranye kecil sedang berguling-guling gembira di atas jok.
"Pertunjukan yang sangat impresif, Pemain! Kau benar-benar tahu cara memanipulasi hati manusia," puji si rubah kecil dengan suara melengking yang hanya bisa didengar oleh Yuni
Yuni mendengus meremehkan sambil menatap kuku-kukunya yang terawat. "Pria seperti Kenzie Alfariz tumbuh dengan segala kemudahan. Wanita-wanita di sekitarnya selalu melemparkan diri mereka demi uang dan statusnya. Jika aku langsung menerima ajakannya, aku hanya akan menjadi salah satu dari sekian banyak wanita membosankan di matanya. Penolakan halus yang dibalut dengan alasan profesionalitas akan membuatnya penasaran setengah mati."
Sebuah panel hologram kembali muncul di hadapan Yuni, menampilkan profil tiga pria lainnya yang menjadi target utama dalam misi sistem ini. Wajah-wajah tampan dengan latar belakang kekuasaan yang luar biasa terpampang jelas.
"Lalu, siapa target kita selanjutnya?" tanya si rubah, matanya berbinar menatap panel. "Kau harus membagi perhatianmu dengan hati-hati. Ingat, jika salah satu dari mereka mengetahui keberadaan yang lain sebelum rasa suka mereka mencapai 100%, reputasimu sebagai 'Dewi' bisa hancur dalam semalam."
Yuni tersenyum miring, kilatan dingin memancar dari matanya. "Hancur? Jangan meremehkan kemampuan aktingku. Target kedua adalah Raditya Vance, sang CEO berdarah dingin dari Vance Group. Aku dengar dia akan menghadiri acara amal malam ini. Pria sekaku Raditya tidak akan mempan dengan pesona wanita lembut yang disukai Kenzie. Dia butuh sesuatu yang menantang, seorang wanita yang memiliki otoritas dan kecerdasan yang setara dengannya."
"Bagaimana dengan sisa dua lainnya?" rubah itu bertanya lagi sambil mencatat strategi Yuni.
"Dokter Adrian, sang jenius medis yang penyendiri, dan kapten tim nasional Aiden yang berjiwa bebas," jawab Yuni santai. "Mereka semua memiliki celah psikologis yang sangat mudah dieksploitasi. Aku akan membiarkan Kenzie merana merindukanku selama beberapa hari ini, sementara aku menanam benih ketertarikan pada Raditya malam nanti."
Limosin itu membelah jalanan kota metropolitan yang padat. Yuni menatap keluar jendela, melihat papan reklame raksasa yang menampilkan wajah cantiknya sebagai duta merek global. Di dunia ini, semua orang mengira dia adalah perwujudan dari kesempurnaan—baik hati, anggun, dan tanpa cela. Namun bagi Yuni, dunia ini tak lebih dari sebuah panggung sandiwara besar, dan semua pria kuat itu hanyalah bidak catur yang bergerak sesuai dengan keinginannya.
"Sistem," panggil Yuni dalam hati, suaranya terdengar penuh kepuasan yang kejam. "Persiapkan gaun terbaik untuk acara amal malam ini. Gaun hitam formal yang memancarkan aura misterius namun elegan. Mari kita lihat, berapa lama sang CEO gunung es bisa bertahan dari pesonaku."
Rubah kecil itu tertawa cekikikan, merasakan ambisi membara dari tuannya. "Baik, Pemain. Mari kita mulai babak kedua dari permainan hati ini!"