Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: RAHASIA MASA LALU DAN SALAH PAHAM SANG KAKAK
"Kita bertiga harus hidup bersama dengan baik. Itu jauh lebih penting dari apa pun di dunia ini... benar kan, Kamilah?"
Bisikan lembut dan godaan penuh teka-teki dari Rizky Syah masih bergetar hangat di telinga Kamilah. Namun, belum sempat Kamilah mencerna arti kalimat yang menghanyutkan itu, sebuah raungan penuh amarah mendadak memecah udara sore di taman belakang sanggar tari.
"RIZKY SYAH!"
Langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa menghantam tanah. Roya Ye muncul dengan wajah merah padam dan urat-urat leher yang menonjol tegang. Tanpa mengulur waktu satu detik pun, Roya Ye melangkah lebar dan mendorong tubuh tegap Rizky Syah sekuat tenaga hingga ikatan kedekatan pria itu dengan Kamilah terputus paksa!
Pencuri sialan ini... rupanya selama ini dia benar-benar mengincar Kamilah! raung Roya Ye dalam hatinya dengan kepalan tangan yang bergetar menahan murka.
Rizky Syah yang terdorong mundur beberapa langkah sama sekali tidak terlihat panik atau terpancing amarah. Pria tegap itu hanya merapikan kerah jas mewahnya yang sedikit terlipat, lalu menyunggingkan senyum miring nan santai yang sangat menyebalkan di mata Roya Ye.
"Sampai jumpa lagi, Kamilah," ujar Rizky Syah dengan nada suara yang teramat lembut dan memanjakan, menyengaja mengabaikan amukan calon kakak iparnya. Pria itu mengulurkan tangannya dan melambaikan jemarinya pelan sebelum berbalik badan.
Roya Ye menunjuk punggung Rizky Syah yang makin menjauh dengan tatapan membunuh. "Sebaiknya kamu tidur dengan mata tetap terbuka malam ini, Rizky Syah! Kalau tidak... awas saja, aku akan membunuhmu diam-diam!"
Setelah bayangan Rizky Syah menghilang di balik tikungan lorong taman, Roya Ye memutar tubuhnya menghadap Kamilah. Pria tegap itu memegang kedua bahu adiknya dengan raut wajah sangat cemas dan protektif.
"Kamilah! Pria itu benar-benar tidak pantas untukmu!" tegas Roya Ye dengan suara bersetuju keras. "Nanti kalau kamu mencari pacar, bukalah matamu lebar-lebar! Jangan sampai kamu mudah ditipu atau dimanfaatkan oleh sembarang orang jahat seperti dia!"
Kamilah mendengus pelan, menepis lembut tangan kakaknya dari bahunya. "Kak... aku ini tidak sebodoh yang kamu bayangkan, tahu. Lagi pula, menurut penilaianku sendiri... Rizky Syah tidak seburuk atau sejahat yang diceritakan orang-orang di luar sana."
Kamilah menatap manik mata kakaknya dengan binar penasaran yang sudah lama terpendam. "Sebenarnya... bagaimana bisa kalian berdua menjadi musuh bebuyutan yang selalu ingin saling bunuh seperti ini?"
Roya Ye menggerakkan rahangnya tegas, matanya memancarkan kilat kebencian yang teramat dalam saat mengingat ingatan lama.
"Dia itu... benar-benar seorang pencuri, Kamilah!" sahut Roya Ye dengan penekanan dingin.
Flashback Masa Kecil Roya Ye dan Kamilah
Empat belas tahun yang lalu...
Suasana di kediaman keluarga Ye terasa begitu menderita. Kamilah kecil yang baru berusia enam tahun berdiri terisak di sudut halaman rumah dengan mata membengkak merah. Di tangan mungilnya, ia berusaha mencengkeram erat boneka kelinci kesayangannya—hadiah peninggalan almarhumah ibunya.
Namun, wanita simpanan ayahnya—Laila (yang kini muncul kembali sebagai Guru Besar Tari)—berdiri di hadapan Kamilah kecil dengan senyum culas yang merendahkan. Dengan sengaja, Laila menginjak boneka kelinci itu di bawah heels tingginya, membiarkan kain putih boneka itu kotor terkena lumpur tanah.
"Kembalikan boneka kelinciku! Himpun... kembalikan boneka kelinciku! Kembalikan!" tangis Kamilah kecil histeris, menyedot ingusnya sambil menarik-narik kaki bonekanya yang terjepit di bawah kaki Laila.
Laila mendengus jijik. Dengan gerakan kasar, wanita itu menendang dan melemparkan boneka kelinci yang kotor itu tepat ke wajah Kamilah kecil!
BUK!
Kamilah kecil jatuh tersungkur di atas tanah, memeluk erat boneka kelincinya yang sudah rusak dan kotor sambil menangis sesenggukan tanpa ada seorang pun yang membela.
Tiba-tiba, derap langkah kaki mungil mendekat. Seorang anak laki-laki bertubuh tegap dengan pakaian sangat rapi dan tatapan mata yang tajam nan hangat melangkah menghampirinya. Anak laki-laki itu adalah Rizky Syah kecil.
Di tangan kirinya, Rizky Syah kecil juga memegang sebuah boneka kelinci rajut baru yang sangat indah dan bersih.
Rizky Syah kecil berlutut di tanah, menyapu air mata di pipi Kamilah kecil dengan jemari tangannya yang mungil.
"Mau main bersama Kakak?" tanya Kamilah kecil dengan suara serak bercampur tangis, menunjukkan boneka lamanya. "Ini... ini boneka pemberian ibuku..."
Rizky Syah kecil menggelengkan kepalanya pelan. Dengan penuh kelembutan, ia menarik boneka kotor itu dan memberikan boneka kelinci baru di tangannya kepada Kamilah kecil.
"Ini... ada boneka baru yang lebih cantik untukmu," bisik Rizky Syah kecil dengan senyum hangat yang teramat tulus. "Jangan menangis lagi, ya?"
Kamilah kecil menatap boneka baru itu dengan mata berbinar, lalu menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah..."
Tanpa pamit pada orang-orang dewasa di rumah Ye yang sedang sibuk bertengkar, Rizky Syah kecil menggandeng tangan Kamilah kecil, membawanya keluar dari kediaman yang penuh penderitaan itu demi menghibur dan mengajaknya bermain di tempat yang aman.
Kembali ke Masa Sekarang
Roya Ye mengepalkan tangannya erat-erat saat potongan ingatan masa kecil itu berputar di dalam kepalanya. Di mata Roya Ye yang waktu itu masih sangat muda dan panik, aksi Rizky Syah membawa adiknya pergi adalah sebuah ancaman besar.
Di usianya yang masih sangat muda waktu itu... dia sudah berani membawa Kamilah pergi melarikan diri dan menghilang seharian penuh tanpa jejak! raung Roya Ye di dalam batinnya yang penuh rasa bersalah. Semua orang di rumah waktu itu mencari Kamilah seperti orang gila! Kalau dia bukan pencuri adikku... lantas apalagi namanya?!
Roya Ye menarik napas panjang, berusaha menekan amarah masa lalunya demi tidak membuat Kamilah merasa tertekan. Pria tegap itu mengusap lembut puncak kepala adiknya.
"Sudahlah... tidak usah banyak membahas pria brengsek itu lagi," ujar Roya Ye dengan intonasi suara yang mendadak melunak penuh kasih sayang. "Ayo, kita pergi mengunjungi Kakek di rumah sakit sekarang. Kondisi kesehatannya butuh perhatian kita."
Kamilah tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya patuh. "Ayo, Kak."
Roya Ye lalu menggandeng erat tangan Kamilah, menuntun adiknya melangkah menuju mobil demi pergi menjenguk sang kakek yang sedang terbaring sakit.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam mobil terasa begitu hening. Kamilah memandangi pepohonan dan bangunan yang melintas di balik jendela kaca, sementara pikirannya terus melayang pada bayang-bayang Rizky Syah. Setiap kali mengingat masa kecil mereka, ada rasa hangat sekaligus kekusutan yang sulit ia jelaskan. Apakah Rizky Syah benar-benar bermaksud buruk seperti yang dipikirkan Kak Roya, atau ada rahasia besar lain di balik kejadian masa lalu itu yang belum pernah terungkap?
Roya Ye melirik ke arah adiknya melalui cermin tengah. Melihat raut melamun di paras cantik Kamilah, hatinya kian bertekad untuk melindungi adiknya dari pengaruh pria mana pun dari klan Syah. Ia tak akan membiarkan siapa pun menyakiti adiknya lagi.
Tak berapa lama kemudian, mobil sedan mewah mereka berhenti mulus di area parkir khusus Rumah Sakit Medika Utama. Roya Ye turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Kamilah dengan penuh kehangatan.
Keduanya melangkah masuk menyusuri lorong rumah sakit beraroma antiseptik yang khas hingga tiba di depan ruang perawatan VIP lantai atas. Saat pintu didorong pelan, terlihat sosok kakek tercinta sedang terbaring di atas ranjang medis dengan alat pemantau detak jantung yang berbunyi teratur.
"Kakek..." panggil Kamilah pelan seraya melangkah mendekat dan menggenggam jemari sang kakek yang terasa hangat.
Kakek Ye perlahan membuka matanya, menyunggingkan senyum lemah namun penuh kebanggaan saat melihat cucu kesayangannya datang. "Kamilah... cucuku... kamu sudah datang?"
"Iya, Kakek. Kamilah dan Kak Roya datang untuk menemani Kakek," jawab Kamilah lembut, mengusap punggung tangan kakeknya penuh rasa sayang.
Melihat kehadiran kedua cucunya, raut cemas di wajah Kakek Ye perlahan sirna. Namun, konflik mengenai masa depan keluarga dan ancaman dari pihak luar masih membayang tebal di udara, menanti saat yang tepat untuk kembali menguji keteguhan hati mereka.