NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: DIUSIR

Hujan.

Kenapa harus malam ini? Kenapa harus hujan sederas ini tepat di malam hidupku hancur?

Aku berdiri mematung di depan gerbang besi hitam setinggi dua meter itu. Gerbang rumahku sendiri. Rumah tempat aku tumbuh selama 22 tahun, tempat aku belajar sepeda, tempat aku diwisuda TK, SD, SMP, SMA. Tempat yang selalu kukira akan menerimaku apa pun yang terjadi.

Sekarang gerbang itu terkunci dari dalam. Dengan gembok besar yang biasanya hanya dipakai kalau kami sekeluarga pergi mudik lebaran.

Koper kain berwarna biru dongker yang resletingnya sudah jebol di sudut ada di samping kakiku. Isinya tidak banyak. Hanya beberapa baju, daster, mukena, dan ijazah SMA yang Ibu lempar tadi. Air hujan sudah merembes masuk ke dalamnya. Bajuku basah. Hijabku basah dan lengket di leher. Sepatu kets putihku sudah penuh lumpur.

Dinginnya bukan main. Tapi rasa dingin itu tidak ada apa-apanya dibanding dinginnya suara Ibu dari balik gerbang tadi.

"Pergi, Kirana! Bawa aib kamu itu pergi! Jangan pernah injakkan kaki kamu lagi di rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Aku masih ingat jelas bagaimana semuanya berawal tiga jam yang lalu.

Sore itu aku baru pulang dari klinik. Tanganku gemetar memegang kantong plastik hitam kecil. Di dalamnya ada dua buah testpack. Dua-duanya sama. Dua garis merah yang sangat jelas. Tidak samar sama sekali.

Usia kandunganku 8 minggu.

Delapan minggu. Artinya sudah dua bulan Rendo tidak bisa dihubungi.

Rendo. Pacarku selama tiga tahun. Senior di kampus yang semua orang bilang anaknya baik, sopan, rajin sholat. Kami sudah berencana menikah setelah aku lulus semester depan. Ibu dan Ayah sudah mengenalnya. Bahkan Ibu sudah sempat bilang, "Rendo itu calon menantu idaman."

Kami... kami kelewatan batas. Sekali. Hanya sekali saat aku ulang tahun ke-22 di kosnya. Dia menangis dan berjanji akan bertanggung jawab. Dia bilang, "Aku sayang kamu, Kir. Aku mau nikahin kamu secepatnya."

Aku percaya. Bodohnya aku percaya.

Sebulan setelah itu, dia mulai dingin. Dua minggu kemudian, nomornya tidak aktif. Instagramnya hilang. Teman-temannya bilang dia sudah pindah ke luar kota mengikuti orang tuanya.

Aku pikir mungkin dia ada masalah. Aku masih mencoba berpikir positif sampai mual-mual pagi itu datang, sampai telat dua bulan, sampai akhirnya aku memberanikan diri ke klinik.

Dokter perempuan itu menatapku iba. "Selamat ya, Mbak. Positif hamil."

Dunia seakan runtuh saat itu juga.

Aku pulang dengan harapan terakhir: Ibu. Ibu pasti akan memelukku. Ibu pasti akan membantuku mencari Rendo. Ibu adalah perempuan paling kuat yang kukenal.

Aku masuk ke ruang tamu dengan isak tangis yang sudah kutahan sejak klinik.

"Bu... Ibu..."

Ibu yang sedang menonton TV langsung menatapku heran. "Kamu kenapa, Kir? Kok nangis? Berantakan begitu?"

Ayah juga keluar dari kamar.

Aku tidak sanggup bicara. Aku hanya menyodorkan testpack itu ke atas meja.

Senyap.

Hening selama sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh tahun.

Wajah Ibu yang tadinya bingung, perlahan pucat, lalu memerah. Tangannya gemetar mengambil testpack itu.

"Kamu... kamu hamil?"

Aku mengangguk sambil terisak. "Aku hamil, Bu... anaknya Rendo, Bu... Rendo hilang, Bu... tolong..."

Yang terjadi selanjutnya bukan pelukan.

PLAK!

Tamparan pertama mendarat di pipiku. Keras sekali sampai kacamata Ibu hampir terlepas.

"Bodoh! Anak bodoh! Kamu itu kuliah! Mau jadi sarjana! Kamu malah bunting di luar nikah! Hah?! Mau ditaruh di mana muka kami?! Bapak kamu itu Ketua RT! Semua orang kenal kita di kampung ini!"

Ayah tidak menampar. Ayah lebih kejam. Dia diam, lalu masuk ke gudang dan menyeret koper besar itu.

"Masukkan baju kamu. Sekarang," katanya dingin.

"Ayah... Yah, jangan usir Kirana, Yah... Kirana mohon..."

"Masukkan. Atau Bapak yang masukkan tapi dengan membuang semua baju kamu ke selokan."

Adikku, Dinda, yang baru kelas 2 SMA, hanya mengintip dari balik pintu kamarnya. Matanya takut. Dia tidak berani membelaku.

Dalam 15 menit, aku dipaksa memasukkan apa pun yang bisa kumasukkan ke dalam koper. Ibu terus mengumpat, menangis, memaki Rendo, memaki aku, memaki nasibnya punya anak sepertiku.

"Kamu sudah buat malu! Kamu sudah bikin kami jadi bahan omongan tetangga! Mulai malam ini, kamu bukan anak Ibu lagi! Anggap saja Ibu tidak pernah melahirkan kamu!"

Lalu aku didorong keluar. Koper dilempar. Gerbang dibanting. Digembok.

Dan sekarang aku di sini. Menggedor-gedor gerbang yang tidak akan pernah dibukakan lagi.

"Ibu... tolong Bu... aku kedinginan... perutku sakit..."

Tidak ada jawaban. Lampu ruang tamu dimatikan dari dalam. Mereka benar-benar ingin aku hilang.

Aku menyerah. Aku menyeret koperku yang roda sebelahnya sudah rusak itu menyusuri gang sempit. Air hujan masuk ke mataku, entah air hujan atau air mata, aku sudah tidak bisa membedakannya. Aku mengelus perutku yang masih rata.

"Maaf ya, Nak... Mama belum bisa jadi mama yang baik buat kamu... Maaf..."

Aku tidak tahu harus ke mana. Kos teman sudah tidak mungkin, aku malu. Semua teman kampus pasti akan menghakimiku.

Di ujung gang, sebuah mobil pick-up tua berhenti. Lampu seinnya menyala.

Kaca jendela penumpang turun. Seorang pria muncul. Wajahnya basah oleh hujan, rambutnya sedikit gondrong, jenggot tipisnya tidak dicukur. Usianya mungkin sekitar 28 atau 30 tahun. Di kursi belakang, ada seorang anak perempuan kecil berusia sekitar 4 tahun yang tertidur memeluk boneka kelinci.

"Kamu Kirana?" tanyanya. Suaranya berat dan serak.

Aku terkejut. "Iya... kok... kok tau nama saya?"

"Ibumu telepon Mbah Sarti. Katanya cucunya mau tinggal di rumah kosong ujung desa. Disuruh jemput. Naik."

Mbah Sarti adalah nenekku dari pihak Ibu yang tinggal di desa Wonorejo, sekitar satu jam dari kota. Rumahnya memang sudah kosong dua tahun sejak nenek meninggal. Ibu sering bilang rumah itu angker dan tidak mau mengurusnya.

Ternyata Ibu tidak benar-benar membuangku ke jalanan. Ibu masih memberiku atap, meski atap yang bocor dan berdebu.

Aku naik ke pick-up itu dengan sisa tenagaku. Koperku diangkatnya dengan satu tangan saja ke bak belakang. Kuat sekali.

Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Hanya suara hujan yang menghantam atap mobil dan suara napas anak kecil itu.

Rumah nenek ternyata jauh lebih menyedihkan dari yang kubayangkan. Gelap total. Tidak ada listrik. Halaman penuh rumput liar setinggi lutut. Atap gentengnya banyak yang pecah.

Pria itu menyalakan senter dari HP-nya. Dia membukakan pintu kayu yang sudah lapuk itu.

"Masuk."

Di dalam, bau debu dan apek menyengat. Ada satu tikar pandan yang digulung di sudut.

"Namaku Arga," katanya akhirnya. Dia menurunkan anaknya yang masih tertidur itu dan membaringkannya di tikar. Anak itu menggeliat tapi tidak bangun. "Aku tetangga sebelah. Rumahku di sebelah rumah ini."

Dia menatapku. Lama. Dari hijabku yang basah kuyup, bajuku yang basah dan menempel, sampai ke jaket oversize kebesaran yang kupakai untuk menutupi perutku.

Tatapannya bukan tatapan mesum. Tatapannya... tatapan menilai. Tatapan kasihan yang dingin.

"Aku dengar dari ibumu," katanya pelan. "Kamu hamil. Tanpa suami."

Tubuhku langsung kaku. Tanganku refleks memegangi perutku.

"Jangan takut," lanjutnya. "Di desa ini, gosip cepat menyebar. Ibumu tadi nangis-nangis telepon Mbah Sarti, kedengeran sama istriku... eh, maksudku, kedengeran sama warga."

Dia menghela napas panjang. Dia jongkok agar sejajar denganku yang duduk di lantai.

"Aku duda. Istriku meninggal dua tahun lalu waktu melahirkan Salsa," dia melirik anak kecil itu. "Anakku butuh ibu. Aku butuh istri untuk urus rumah."

Jantungku berdegup sangat kencang sampai terasa sakit.

"Aku tahu ini gila," lanjutnya. Matanya menatap lurus ke mataku. Hujan masih deras di luar, atap bocor menetes tepat di antara kami. "Tapi aku akan menikahimu, Kirana."

Aku membelalakkan mata.

"Apa... apa maksudnya?"

"Biar anakmu punya ayah. Biar kamu tidak jadi bahan omongan. Biar Salsa punya ibu. Pernikahan di atas kertas. Aku tidak akan menyentuhmu kalau kamu tidak mau. Tapi di depan orang desa, kamu istriku. Anakmu, anakku."

Air mataku yang sudah berhenti, tumpah lagi. Kali ini lebih deras.

Ini tawaran paling gila yang pernah kudengar. Seorang pria asing, duda beranak satu, yang bahkan tidak kukenal namanya sepuluh menit yang lalu, menawarkan diri untuk menanggung aib terbesar dalam hidupku.

Harusnya aku senang. Harusnya aku langsung mengiyakan. Karena ini satu-satunya jalan keluar agar anakku tidak lahir tanpa ayah.

Tapi kenapa... kenapa tatapan pria ini begitu gelap? Kenapa senyum tipisnya terasa seperti menyimpan seribu rahasia?

Dan kenapa firasatku bilang, jika aku menerima lamaran ini, aku justru akan masuk ke dalam lubang penderitaan yang jauh lebih dalam?

"Bagaimana, Kirana? Kamu mau jadi istriku?"

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!