NovelToon NovelToon
Dewi Angin Utara

Dewi Angin Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.

Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.

Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.

Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.

Sementara Utara tetap mengingatnya.

Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 : KEMBALI KE AGARTHA

---

Feng Yao perlahan membuka matanya. Napasnya masih teratur setelah meditasi yang cukup panjang. Namun pikirannya justru semakin penuh.

Dalam meditasinya tadi, ia kembali melihat sosok yang sangat ia kenal. Zhuin. Ia melihat Zhuin berlari di tengah hutan, seperti sedang dikejar sesuatu. Seekor babi hutan berlari mengejarnya dari belakang.

Feng Yao mengerutkan kening. "Zhuin..."

Namun penglihatan itu tiba-tiba menghilang. Kemudian muncul penglihatan lain. Seorang pria berjubah putih terbaring di tengah hutan pinus. Beberapa ekor ular merayap menjauh dari tubuhnya.

Feng Yao menatap bingung. "Siapa dia?"

Penglihatan itu kembali menghilang.

Feng Yao membuka matanya sepenuhnya. "Apakah Zhuin sudah hidup kembali?" Ia terdiam. "Tapi di mana dia?"

Tatapannya kembali kosong. "Terus tadi itu siapa?" Ia tidak tahu kenapa, tetapi penglihatan kedua itu membuatnya merasa tidak tenang. "Kenapa ada ular yang menyerangnya?"

Feng Yao duduk diam beberapa saat. Kemudian ia teringat sesuatu yang pernah dikatakan ayahnya dahulu.

*"Jika suatu hari kau melihat sesuatu yang seharusnya tidak bisa kau lihat, jangan mencari jawabannya di dunia luar."*

Feng Yao menunduk. *"Kembalilah ke tempat asalmu."*

Agharta.

Ia mengambil sebuah batu kecil yang selama ini disimpannya salah satu benda yang berasal dari Agharta. Tiba-tiba permukaannya mulai bercahaya.

Feng Yao terkejut. Di atas batu itu muncul sebuah simbol kuno: sebuah lingkaran yang dikelilingi tiga kelopak bunga, dengan satu garis melengkung di tengahnya seperti aliran angin.

Feng Yao menatapnya. Ia belum pernah melihat simbol itu bercahaya sebelumnya. Garis di tengah simbol perlahan bergerak dan membentuk sesuatu seperti sebuah jalan. Namun hanya sesaat. Cahaya itu kemudian menghilang.

Feng Yao menggenggam batu tersebut. "Sepertinya... aku harus kembali ke Agharta."

Ia ingin menemui ayahnya. Mungkin hanya dari sanalah ia bisa mendapatkan jawaban tentang semua penglihatan yang muncul dalam meditasinya.

---

Sebelum matahari benar-benar terbit, Feng Yao sudah meninggalkan pondok. Ia membawa beberapa barang seperlunya dan berjalan menuju lembah tengah Agharta.

Sebelum pergi, ia sempat menatap pondok kecil yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Kemudian ia meninggalkan sebuah surat di atas meja.

*Untuk siapa pun yang datang ke pondok ini,*

*Aku pergi ke Agharta untuk mencari beberapa jawaban.*

*Jangan khawatir. Aku akan kembali jika sudah menemukan apa yang kucari.*

*Beifeng Yao.*

Setelah itu, Feng Yao pergi.

---

Beberapa waktu kemudian, Xiong Yan datang ke pondok dengan langkah cepat. Di tangannya ada sebuket bunga dan sebuah wadah berisi madu. Wajahnya terlihat cukup bersemangat.

Ia membuka pintu pondok. "Yao'er?"

Tidak ada jawaban.

Xiong Yan masuk. Pondok itu terlihat sangat rapi. Ia meletakkan madu dan bunga di atas meja. "Yao'er?"

Ia melihat ke sekeliling. Tidak ada Feng Yao. Xiong Yan mulai merasa aneh. Ia kemudian melihat sebuah surat di atas meja.

"Ini apa?"

Ia mengambilnya dan membacanya. Setelah selesai membaca, wajahnya langsung berubah. "Agharta?"

Tak lama kemudian, ia bertemu dengan Mo Xuan dan Mei Ruyan.

"Apa yang kau cari, Xiong Yan?" tanya Mo Xuan.

"Yao'er... tidak ada."

Mo Xuan mengangkat alis. "Tidak ada? Apa maksudmu?"

"Mungkin dia pergi sebentar," jawab Mei Ruyan.

"Ini masih pagi. Untuk jalan-jalan?"

Mo Xuan melirik Xiong Yan. "Dan kau pagi-pagi sudah kemari?"

Xiong Yan langsung menjawab. "Aku mengantar madu."

Ruyan menahan senyum. Mo Xuan hanya menggelengkan kepala.

Xiong Yan kemudian menunjukkan surat Feng Yao. "Agharta berada di lembah tengah," ucapnya. "Tidak ada siluman yang berani mendekati wilayah itu." Ia mengerutkan kening. "Aku pernah mendengar cerita tentang tempat itu. Katanya penjaganya adalah makhluk yang sangat kuat."

Xiong Yan menatap surat itu lagi. "Apa yang dicari Feng Yao di sana?"

Mo Xuan hanya tersenyum tipis.

Mei Ruyan memperhatikan wajahnya. "Apa yang kau pikirkan, Xuan?"

"Tidak ada." Mo Xuan kembali tersenyum.

Sementara itu, Xiong Yan sudah mulai berpikir keras. "Aku harus menemukan cara untuk menyusul Feng Yao."

Mei Ruyan menghela napas lagi. "Menyusul ke Agharta sama saja dengan mengantarkan nyawa," desis Ruyan.

Xiong Yan langsung menoleh. "Aku tetap harus menyusulnya."

Mo Xuan hanya menunduk sambil menuangkan teh ke dalam cangkirnya.

"Apa yang kau tertawakan, Xuan? Feng Yao dalam bahaya, dan kau masih tenang duduk menuang teh?" geram Xiong Yan.

"Jangan khawatirkan Feng Yao. Dia akan baik-baik saja." Mo Xuan meneguk tehnya dengan santai. "Siapa tahu nanti dia kembali malah membawa sesuatu."

"Kau... kau..." Xiong Yan mengepalkan tangannya. "Ahh... sudahlah! Aku akan menyusul Feng Yao pokoknya!"

Ia langsung berbalik dan pergi meninggalkan pondok.

Mo Xuan masih menatap punggung Xiong Yan yang semakin jauh. "Terserah..." Ia kembali duduk santai dan menikmati tehnya.

Mei Ruyan menatapnya dengan wajah dingin. "Apakah kita juga akan pergi?"

Mo Xuan terdiam sebentar. Kemudian ia tersenyum tipis.

"Sepertinya... kita tidak bisa membiarkan beruang bodoh itu sendirian."

1
Aralum
ikuti terus yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!