Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Hutang Darah di Dasar Kegelapan
Angin dingin berembus di dasar Jurang Sembilan Nether.
Lolongan Roh bergema di antara ribuan rantai besi kuno yang menjuntai dari tebing. Rantai-rantai itu begitu besar hingga mampu menahan tubuh seorang manusia.
Mo Xie berdiri di pangkal Rantai Pendakian sambil menggenggam besi tua itu dengan cakar obsidiannya.
Racun Yin mendesis setiap kali menyentuh dadanya. Tiga Tulang Rusuk Zhao Feng yang tertanam di dalam tubuhnya memancarkan Qi Yang murni dan menahan racun tersebut.
Mo Xie baru saja hendak mendaki ketika terdengar suara benturan dari belakang.
Bruk!
Ia menoleh.
Xue Ling'er telah jatuh di atas karang hitam. Jubah merahnya tampak kusam, tubuhnya gemetar, dan kulit pucatnya mulai retak.
"Jangan... sentuh aku."
Suaranya begitu lemah hingga hampir tertelan angin.
Namun, Mo Xie tetap mendekat. Ia mencengkeram bahu wanita itu dan langsung merasakan dingin yang menusuk telapak tangannya.
"Ini akibat terlalu banyak menggunakan Seni Penenun Darah?"
Xue Ling'er tidak menjawab.
Mo Xie segera memahami keadaannya.
Untuk membantunya menempa Kerangka Besi Hitam Kegelapan, Xue Ling'er telah menghabiskan terlalu banyak esensi darah. Tubuhnya kini kehilangan tenaga untuk menahan hawa dingin Jurang Sembilan Kegelapan.
Lebih buruk lagi, kontrak darah mereka ikut melemah.
Mo Xie merasakan nyeri menusuk di dadanya. Benang darah di dalam tubuhnya bergetar, seolah memperingatkan bahaya yang akan datang.
Jika Xue Ling'er mati, kontrak itu akan runtuh. Dua tulang iblis dan tiga tulang Yang di dalam tubuhnya akan kembali bertentangan.
Tubuhnya pun akan hancur.
"Kau tidak boleh mati."
Mo Xie mengangkat tubuh Xue Ling'er dengan lengan kirinya.
"Sebelum aku duduk di Tahta Tulang, kau tidak boleh mati."
Ia membawa Xue Ling'er menuju sebuah rongga tengkorak binatang purba yang berada tidak jauh dari sana. Tempat itu cukup terlindung dari angin Racun Yin.
Mo Xie membaringkannya di dalam rongga tersebut.
Wajah Xue Ling'er semakin pucat.
Mo Xie segera berbalik dan menatap kegelapan di kejauhan.
"Di sini tidak ada obat." Ia mengepalkan cakar obsidiannya. "Kalau begitu, aku akan mencari obat sendiri."
Tanpa membuang waktu, Mo Xie melesat ke arah timur.
Tulang Naga Bumi membuat indranya semakin tajam. Getaran tanah yang samar dapat ia rasakan melalui telapak kakinya, bahkan aroma darah makhluk hidup mampu ia tangkap dari kejauhan.
Setelah menempuh dua li, ia menemukan sebuah gua besar.
Dari dalam gua tercium bau darah busuk.
Mo Xie melangkah masuk.
Ratusan pasang mata merah tiba-tiba terbuka di langit-langit.
Kawanan Kelelawar Mata Enam telah terbangun.
Wuuuu!
Kepakan sayap mereka memenuhi gua. Pekikan tajam mengguncang Lautan Kesadaran, tetapi Mo Xie hanya tersenyum.
"Bagus."
Ia menjejakkan kakinya.
Bum!
Tubuhnya melesat ke tengah kawanan kelelawar.
Pertempuran seketika berubah menjadi pembantaian.
Puluhan kelelawar menukik dari segala arah. Taring mereka menancap ke tubuh Mo Xie.
Krak!
Taring-taring itu justru patah.
Kulit Mo Xie telah ditempa menjadi sekeras besi.
Cakar obsidiannya bergerak.
Swish!
Sayap terkoyak, tulang hancur, dan darah panas berhamburan memenuhi udara.
Mo Xie tidak membutuhkan senjata. Tubuhnya sendiri telah menjadi senjata.
Dalam waktu singkat, lantai gua dipenuhi bangkai kelelawar.
Namun, dari kedalaman gua terdengar pekikan yang jauh lebih keras.
Sepasang mata besar terbuka di tengah kegelapan.
Seekor Kelelawar raksasa keluar perlahan.
Rentang sayapnya mencapai lima meter, sementara aura yang dipancarkannya setara dengan kultivator Pembentukan Inti tahap menengah.
Raja Kelelawar.
Makhluk itu menukik dengan kecepatan tinggi. Cakarnya mengarah langsung ke leher Mo Xie.
Mo Xie tidak menghindar. Saat cakar itu hampir mencapai lehernya, ia mengangkat tangan kanannya.
Cakar Raja Kelelawar menembus telapak tangannya.
Darah mengalir.
Namun, Mo Xie justru memanfaatkan kesempatan itu untuk mencengkeram sayap sang raja.
"Menangkapmu."
Cakar obsidian di tangan kirinya langsung menghantam dari bawah.
BOOM!
Dada Raja Kelelawar hancur. Mo Xie mencengkeram tubuhnya dan merobek salah satu sayapnya.
Raja Kelelawar menjerit kesakitan. Namun, Mo Xie tidak membunuhnya.
Ia justru menyeret makhluk itu keluar dari gua.
"Aku membutuhkan darahmu."
Mo Xie membawa Raja Kelelawar kembali ke rongga tengkorak.
Xue Ling'er sudah hampir tidak bernapas.
Qi Yin telah menjalar hingga ke lehernya, sementara benang darah di dalam tubuh Mo Xie semakin lemah.
Mo Xie segera melemparkan Raja Kelelawar ke tanah.
Cakar obsidiannya menebas leher makhluk itu.
Darah panas menyembur.
Mo Xie mengangkat kepala Xue Ling'er, lalu menuangkan darah tersebut ke mulutnya.
Xue Ling'er tersedak, tetapi insting bertahan hidup membuatnya tetap menelan.
Darah Raja Kelelawar mengalir ke dalam tubuhnya.
Asap putih mengepul dari kulitnya. Qi Yin yang membekukan tubuhnya mulai mencair.
Namun, beberapa saat kemudian, tubuh Xue Ling'er kembali bergetar hebat.
"Belum cukup?"
Mo Xie mengerutkan kening.
Darah Raja Kelelawar terlalu liar. Tubuh Xue Ling'er tidak mampu menyerapnya dengan sempurna.
Tatapan Mo Xie kemudian jatuh pada tangan kanannya yang terluka.
Tanpa ragu, ia menggigit pergelangan tangannya sendiri.
Darah mengalir.
Darahnya telah berubah setelah ditempa oleh tulang Yang dan dua tulang iblis. Ia bukan lagi darah manusia biasa.
Mo Xie menempelkan pergelangan tangannya ke bibir Xue Ling'er.
"Minum."
Beberapa tetes darah masuk ke mulut wanita itu.
Seketika, benang darah di tubuh Xue Ling'er bergerak.
Aura Yin dan Yang bertemu.
Darah Mo Xie menjadi jembatan yang menyatukan kekuatan Raja Kelelawar dengan tubuh Xue Ling'er. Qi Yin yang menutupi kulitnya mulai mencair, digantikan hawa panas yang perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya.
Xue Ling'er membuka matanya.
Cahaya merah berkilat di dalam irisnya. Ia menarik napas panjang, lalu terbatuk beberapa kali.
Setelah beberapa saat, napasnya kembali stabil. Tatapannya jatuh pada pergelangan tangan Mo Xie.
"Kau memberiku darahmu."
"Kalau tidak, kau akan mati."
Xue Ling'er terdiam sejenak. "Kau tahu akibatnya?"
"Ya."
Mo Xie menarik tangannya. "Dengan darah ini, ikatan kita menjadi lebih dalam."
Xue Ling'er menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata,
"Mulai sekarang, hidup dan mati kita benar-benar terikat."
Mo Xie mengangguk. "Itu lebih baik."
Xue Ling'er perlahan bangkit. Tatapannya kemudian kembali menuju Rantai Pendakian yang menjulang di kejauhan.
"Bagian tengah rantai itu jauh lebih berbahaya."
Ia menunjuk ke atas.
"Racun Yin di sana beberapa kali lebih pekat. Kakimu masih belum ditempa. Kalau memaksa naik sekarang, tulangmu mungkin hancur sebelum mencapai setengah jalan."
Mo Xie menatap rantai tersebut.
Xue Ling'er benar.
Ia memang telah mencapai kesempurnaan Kerangka Besi Hitam Kegelapan, tetapi kedua kakinya masih memiliki tulang fana.
Mendaki sekarang sama saja dengan mencari mati.
"Kita tidak naik malam ini."
Xue Ling'er menoleh. "Lalu?"
Mo Xie mengangkat kepala dan memandang bagian timur laut jurang.
Di sana, kegelapan tampak jauh lebih pekat. Bahkan binatang Yin tidak berani mendekat.
"Aku mencium sesuatu."
"Apa?"
"Bau karat." Mo Xie menyipitkan matanya. "Bukan karat biasa."
Ia mulai berjalan menuju kegelapan.
"Itu bau darah dan besi yang telah terkubur selama ribuan tahun."
Xue Ling'er mengikuti dari belakang.
"Jangan bilang... Medan perang kuno."
Mo Xie tersenyum tipis.
"Kalau benar ada tulang makhluk kuat di sana, kita tidak perlu terburu-buru mendaki."
Cakar obsidiannya mengepal. "Kita akan menempa kaki iblisku lebih dulu."
Ia menatap kegelapan di hadapan mereka.
"Kalau dunia atas ingin menunggu kematianku... Biarkan mereka menunggu."
Mo Xie dan Xue Ling'er berjalan semakin dalam menuju kegelapan.
Di belakang mereka, Rantai Pendakian tetap menjulang menuju langit.
Namun, sebelum kembali ke dunia atas, Mo Xie harus menyelesaikan satu hal.
Ia membutuhkan lebih banyak tulang.
Dan kali ini, buruannya berada di dalam Makam Dewa.