Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pukul dua dini hari. Hujan deras mengguyur perbukitan yang mengelilingi markas klan Argantara, menciptakan dentuman ritmis yang konstan di atas atap kaca ruang komando utama. Di dalam ruangan bernuansa serba hitam itu, pencahayaan diredupkan hingga menyisakan pendar biru dan putih dari layar-layar monitor gergasi yang memancarkan peta digital interaktif.
Di tengah ruangan, Devan Argantara, Aria, Marco, dan Erick berdiri mengelilingi meja konsol utama. Suasana begitu hening dan sarat akan ketegangan—jenis ketegangan yang selalu hadir beberapa hari sebelum sebuah operasi besar dieksekusi.
Aria melangkah mendekati konsol tengah, jemari lentiknya menari cepat di atas papan ketik mekanis.
TAP-TAP-TAP.
Proyeksi holografis tiga dimensi beresolusi tinggi mendadak membumbung tinggi dari tengah meja. Sebuah maket bangunan megah bertingkat tujuh melayang di udara, berkilau dalam warna emas dan merah—Kasino Royale Vane. Bangunan itu adalah simbol kejayaan, kekayaan, sekaligus benteng pertahanan paling mengerikan milik klan Vane, musuh bebuyutan klan Argantara selama lebih dari dua dekade.
"Inilah target utama kita," suara Aria memecah keheningan, tenang, bening, dan sarat akan keahlian teknis. "Kasino Royale Vane. Terletak di jantung distrik hiburan malam yang paling ketat pengawasannya di pusat kota. Secara kasat mata, tempat ini cuma pusat perjudian kelas atas tempat para konglomerat dan politisi korup menghabiskan jutaan dolar dalam semalam."
Aria mengusap layar gawainya, memutar proyeksi holografis hingga memperlihatkan bagian lantai paling bawah gedung.
"Tapi bagi kita," lanjut Aria, tatapan matanya mengeras, "kasino ini adalah benteng penyimpan Black Ledger—buku besar rahasia klan Vane yang berisi seluruh daftar pencucian uang, nama-nama pejabat yang mereka suap, jaringan perdagangan senjata ilegal, hingga identitas para pembunuh bayaran yang berada di bawah naungan Hector Vane."
Marco memajukan badannya, menumpukan kedua tangannya yang tegap di tepi meja kaca. "Buku itu adalah jantung dari kekuasaan Hector Vane. Kalau kita berhasil merebut Black Ledger, klan Vane bakal hancur dalam semalam—bukan cuma secara finansial, tapi seluruh pelindung mereka di pemerintahan bakal angkat kaki atau ikut terancam masuk penjara."
"Benar," pungkasi Devan yang sejak tadi berdiri di samping Aria dengan tangan terlipat di dada. Pria itu menatap proyeksi bangunan itu dengan iris mata kelam yang dingin. "Itulah alasan kenapa Hector menaruh buku itu di tempat yang paling dia anggap tak tersentuh."
Aria memperbesar tampilan holografis pada bagian lantai tiga bawah tanah. Bangunan di layar terbelah secara digital, menampilkan sebuah ruangan melingkar yang berdinding baja tebal.
"Lokasi pasti Black Ledger berada di dalam Brankas Pendulum," terang Aria, menunjuk ke titik merah yang berkedip-kedip di pusat lantai bawah tanah. "Brankas ini didesain khusus oleh arsitek keamanan Jerman. Terisolasi total dari sistem kelistrikan umum gedung dan ditopang di atas fondasi hidrolik yang peka terhadap getaran."
Erick mengangkat alisnya. "Sensor getaran?"
"Ya," sahut Aria. "Lantai di sekitar lorong utama brankas dilengkapi sensor tekanan mekanis. Kalau ada pergerakan bobot yang tidak sesuai dengan toleransi profil biometrik Hector Vane—sekitar tujuh puluh delapan kilogram—atau kalau ada upaya peledakan paksa pada dinding baja, seluruh sistem brankas akan langsung mengunci permanen. Dalam waktu tiga puluh detik, gas nitrogen cair akan disemprotkan ke dalam ruangan untuk membakar seluruh dokumen kertas dan menghancurkan media penyimpanan digital di dalamnya."
Marco menghela napas berat, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gila. Hector Vane lebih pilih menghancurkan buku itu daripada membiarkannya jatuh ke tangan orang lain."
"Makanya kita tidak bisa masuk seperti serdadu liar yang cuma tahu memberondongkan senjata, Marco," sindir Aria halus, melirik kepala divisi taktis itu dengan senyum tipis.
Marco meringis kaku, namun kali ini ia menanggapi sindiran itu dengan anggukan setuju. "Lalu, bagaimana skenario pembobolannya?"
Aria menekan satu tombol lagi, menampilkan alur garis-garis hijau yang saling terhubung di sekujur proyeksi gedung.
"Malam penyerangan bertepatan dengan pesta ulang tahun tahunan Kasino Royale Vane," jelas Aria. "Ada lebih dari lima ratus tamu undangan kelas atas yang hadir. Perhatian sistem keamanan mereka akan terbagi dua antara menjaga para pejabat penting dan mengawasi area meja judi utama."
Aria mengarahkan pandangannya ke arah Devan.
"Rencananya terbagi menjadi tiga fase utama," lanjut Aria. "Fase pertama: Infiltrasi Tingkat Atas. Devan dan dua pengawal menyamar sebagai tamu VIP berkaliber tinggi yang diundang langsung oleh manajemen kasino. Kehadiran Devan di lantai dansa dan area judi utama akan menarik seluruh perhatian tim pengaman internal klan Vane dan radar Hector sendiri."
"Umpan yang sangat megah," gumam Devan dengan tawa rendah yang dingin. "Aku suka menjadi pusat perhatian musuhku."
"Fase kedua: Sabotase Siber," sambung Aria, menunjuk ke saluran komunikasi pendingin udara di lantai dua bawah tanah. "Saat perhatian tertuju pada Devan, aku akan membobol peladen pendingin ruangan independen kasino dari dalam bus komando kita yang terparkir dua blok dari gedung. Lewat celah enkripsi jaringan lama itu, aku bakal menginjeksi virus Overdrive untuk meretas jaringan internal brankas. Aku akan memalsukan data biometrik retina Hector Vane dan mematikan fungsi sensor getaran lantai selama tepat empat menit."
"Cuma empat menit?" tanya Erick menegaskan.
"Tiga menit lima puluh sembilan detik, tepatnya," tegas Aria dengan presisi mutlak. "Lebih dari itu, sistem backup otomatis kasino bakal menyadari adanya manipulasi data dan memicu alarm darurat."
Aria beralih menatap Marco. "Fase ketiga: Eksekusi Taktis. Dalam rentang waktu empat menit itu, Marco dan tim kecilnya yang sudah menyusup lewat jalur pasokan logistik dapur akan menerobos masuk ke dalam Brankas Pendulum, mengambil Black Ledger dari tempat penyimpanannya, lalu mundur kembali sebelum sistem keamanan reset otomatis."
Marco menepuk kedua telapak tangannya kencang, matanya berkilat penuh semangat bertarung. "Empat menit. Cukup buat timku menguras brankas itu sampai bersih."
"Jangan terlalu percaya diri, Marco," pungkasi Aria memperingatkan, suaranya kembali berubah tajam. "Hector Vane punya satu tim algojo pribadi yang dipimpin oleh Victor—orang kepercayaannya yang terkenal sadis dan tidak pernah ragu menembak kepala siapa pun yang mencurigakan. Kalau kamu membuat satu kesalahan kecil saja di dalam lorong, empat menit itu bakal berubah jadi kuburanmu."
Atmosfer di ruangan itu kembali mendingin. Nama Victor sudah tak asing lagi bagi klan Argantara—seorang pembunuh berdarah dingin yang telah mengeksekusi puluhan rival politik klan Vane.
Devan melangkah maju, memangkas jarak hingga berdiri tepat di samping meja konsol Aria. Pria itu menumpukan tangannya di tepi meja, menatap proyeksi Kasino Royale Vane yang masih berputar lambat di udara.
"Skema yang sangat rapi, Aria," puji Devan, suaranya berat, dalam, dan dipenuhi kepastian mutlak. "Setiap sudut terlindungi, setiap celah dimanfaatkan."
Devan lalu mengalihkan iris mata kelamnya tepat ke dalam manik mata Aria. Tatapannya begitu dalam hingga seolah sanggup membaca ketegangan terselubung yang disembunyikan wanita itu di balik topeng profesionalnya.
"Tapi ada satu hal yang belum kamu sebutkan," ujar Devan pelan, namun sanggup membuat jantung Aria berdesir kencang.
Aria menyipitkan matanya. "Apa?"
"Apa yang akan kamu lakukan kalau Hector Vane menyadari kehadiranmu sebagai peretas di balik operasi ini?" tanya Devan, nada suaranya berubah protektif secara halus. "Hector tahu siapa kamu, Aria. Dia tahu keahlianmu, dan dia tahu kalau kamu adalah ancaman terbesar bagi sistem keamanannya."
Aria mempertahankan tatapan matanya, menolak menunjukkan keraguan sedikit pun di depan para petinggi Argantara.
"Dia tidak akan pernah tahu sampai Black Ledger berada di tanganmu, Devan," balas Aria datar namun penuh keyakinan. "Karena saat dia menyadari sistemnya dibobol... kita semua sudah berada jauh dari gedung itu."
Devan mengulas senyum tipis—senyuman yang sarat akan intrik, rasa kagum, dan dominasi yang tak tergoyahkan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit mendekati Aria, membiarkan aroma woody hangat dari tubuhnya menyelimuti indra penciuman wanitanya.
"Bagus," bisik Devan pelan, suaranya hanya ditujukan untuk konsumsi pendengaran Aria seorang. "Karena aku tidak berencana meninggalkan milikku di dalam gedung musuh."
Aria menahan napasnya sejenak saat kata 'milikku' meluncur begitu alami dari bibir pria itu. Sebelum Aria sempat memprotes atau membalas kata-kata yang memicu percikan panas di dadanya itu, Devan sudah berbalik menghadap Marco dan Erick.
"Operasi Kasino Royale resmi dimulai dalam empat puluh delapan jam," perintah Devan dengan suara bergema tegas yang mengikat kepatuhan seluruh ruangan. "Persiapkan seluruh perlengkapan taktis, kunci jaringan komunikasi, dan pastikan tidak ada satu pun kebocoran informasi ke luar. Jika ada yang berani mengkhianati rencana ini... kalian tahu apa konsekuensinya."
"Siap, Tuan Devan!" sahut Marco dan Erick serempak seraya membungkuk hormat.
Marco dan Erick segera melangkah keluar dari ruang komando untuk mengeksekusi instruksi akhir. Pintu ganda tertutup rapat kembali, menyisakan Devan dan Aria berdua di bawah pendar redup proyeksi holografis yang masih berdenyar.
Aria menyandarkan pinggulnya pada meja konsol, menghembuskan napas panjang sembari mematikan proyeksi gedung. Peta tiga dimensi itu memudar, meninggalkan kegelapan yang menenangkan di antara mereka.
"Kamu terlalu sering memicu ketegangan di depan bawahannmu, Devan," gumam Aria pelan, merapikan beberapa berkas digital di layarnya.
Devan tidak langsung menjawab. Pria itu justru melangkah mendekat, berdiri sangat rapat di depan Aria hingga bayangan tubuhnya yang jangkung menutupi tubuh wanita itu sepenuhnya.
"Aku cuma menegaskan fakta, Little Bird," ujar Devan rendah, jemarinya bergerak teratur menyelipkan sehelai rambut hitam Aria ke belakang telinganya—sebuah sentuhan yang teramat lembut dan kontras dengan reputasinya sebagai bos mafia yang kejam. "Kamu adalah kunci dari seluruh operasi ini. Keberhasilan klan Argantara... dan keselamatanmu... ada di tanganmu sendiri."
Aria menatap lurus ke dalam iris mata kelam Devan. Di balik ketegangan misi mematikan yang menanti mereka dua hari lagi, Aria menyadari satu hal yang pasti: pertempuran di Kasino Royale Vane bukan hanya akan menentukan nasib Black Ledger dan klan Vane, tetapi juga akan menguji sejauh mana ikatan berbahaya yang telah terjalin di antara dirinya dan Devan Argantara.