"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 20 Selamat tinggal
Begitu pintu kamar Fadlan tertutup di belakangnya, Kaia sedikit terlonjak. Hardja dan Farida ternyata sudah berdiri di depan pintu.
Tatapan mereka dipenuhi kesedihan.
Mata Farida bahkan sudah sembap, seolah air matanya telah lebih dulu jatuh sebelum Kaia keluar. Jantung Kaia mencelos.
Mungkinkah... mereka mendengar semua percakapannya dengan Fadlan?
"Nak..." Suara Farida bergetar. Tanpa menunggu jawaban, wanita paruh baya itu langsung menarik tubuh mungil Kaia ke dalam pelukannya. "Ара yang terjadi dengan rumah tanggamu, Sayang?"
Kalimat sederhana itu seketika meruntuhkan benteng yang sejak tadi berusaha Kaia bangun. Air mata yang sempat ia tahan kembali mengalir.
Tubuhnya bergetar hebat, Ia menangis di ceruk leher neneknya. Farida memeluknya semakin erat. "Menangislah... Tidak apa-apa."
Hardja membuang napas panjang. Kerutan di wajah tuanya tampak semakin dalam. "Ayo ke ruang keluarga saja."
Dengan langkah pelan, mereka bertiga berjalan menuju ruang keluarga yang lengang. Kaia duduk di sofa tengah, diapit oleh dua orang yang selama ini paling tulus mencintainya.
Farida terus mengusap punggung cucunya dengan lembut. "Pelan-pelan saja..." bisiknya. "Ceritakan sama Nenek."
Hardja mengambil kotak tisu di atas meja, lalu menyodorkannya kepada Kaia.Kaia segera menerimanya.Tangannya gemetar saat mengusap pipi yang basah.
Butuh beberapa saat sebelum akhirnya ia sanggup bersuara. "Kaia..." Ia menarik napas panjang. "...ingin bercerai dari Kak Elio." Kalimat itu terdengar lirih. Nyaris tenggelam bersama isakan yang kembali pecah.
Hardja menatap cucunya lekat. Sorot matanya dipenuhi kecemasan. "Apa Elio menyakitimu?"
Kaia terdiam. Ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan. Tentang malam-malam yang dipenuhi air mata.
Tentang penghinaan yang terus-menerus diterimanya. Tentang anak yang kini sedang bertumbuh di dalam rahimnya namun tak diinginkan oleh suaminya.
Namun ia akhirnya menggeleng pelan. Ia tidak ingin dua keluarga besar yang selama ini masih saling menghormati berubah menjadi musuh. Biarlah luka itu berhenti padanya.
"Kami..." suaranya serak.
"Tidak saling mencintai, Kek. Kak Elio masih mencintai Kak Kiara."
Ia tersenyum getir. "Dan aku..." Kaia menunduk. "...tidak akan pernah bisa menjadi Kak Kiara."
Farida kembali memeluknya, air mata wanita itu ikut jatuh. "Maafkan kami..." Suaranya bergetar. "Maafkan Papa kamu yang memaksakan pernikahan itu. Semua berawal dari permintaan terakhir Kiara."
Farida mengusap pipi Kaia."Kiara ingin kamu bahagia. Ia tahu selama ini hidupmu tidak mudah. Dia percaya... hanya Elio yang bisa menjagamu setelah dia pergi."
Kaia menggeleng pelan. "Kaia tidak menyalahkan Kak Kiara, Nek. Kaia tahu Kak Kiara menyayangiku. Tapi..." Air mata kembali jatuh. "Hatinya Kak Elio..." Ia tersenyum pahit. "... bukan untuk ku."
Suasana kembali hening. Yang terdengar hanya suara isakan Kaia. Hardja memandang cucunya lama, dadanya terasa sesak.
"Lalu..." Ia bertanya hati-hati. "Kamu ingin pergi ke mana? Kakek mendengar semua pembicaraanmu dengan Papamu tadi."
Kaia menundukkan kepala.Sejujurnya... ia sendiri belum tahu, yang ia tahu hanya harus pergi sejauh mungkin.
Menyelamatkan anak yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Selama Elio belum mengetahui kehamilan itu, bayinya masih aman.
Namun jika pria itu tahu...
Kaia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi.Hardja dan Farida saling berpandangan. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Seolah keduanya sedang memikirkan tempat paling aman untuk cucu mereka.
Tiba-tiba Farida tersenyum kecil. "Bagaimana kalau... Slovenia?"
Kaia mengangkat wajah. "Slovenia?"
Farida mengangguk. "Dulu, saat Kakek masih mengembangkan bisnis ekspor impor di Eropa, kami memiliki sahabat lama di sana. Pasangan suami istri itu tinggal di sebuah kota kecil yang tenang. Mereka bahkan pernah beberapa kali meminta kami menetap bersama mereka setelah pensiun."
Farida tersenyum lembut."Tempatnya jauh dari keramaian. Bahkan banyak orang Indonesia yang tidak pernah terpikir mencari seseorang di sana."
Hardja ikut mengangguk."Kalau kamu pergi ke sana, Kakek bisa memastikan semuanya dari jauh. Apalagi Fadlan sudah setuju membantumu. Dengan jaringan yang dimilikinya, akses keberangkatanmu akan dibuat serapi mungkin. Tidak akan mudah bagi siapa pun menemukanmu."
Kaia menggigit bibir bawahnya. Ia sempat ingin kembali ke Melbourne untuk melanjutkan kuliah S2.
Namun kota itu terlalu dekat dengan masa lalunya dan keluarga Meganthara pun akan lebih mudah mencarinya.
Sedangkan Slovenia... Negara kecil yang bahkan jarang disebut orang. Mungkin di sanalah ia bisa memulai hidup baru. Dan yang terpenting membesarkan buah hatinya tanpa bayang-bayang Elio.
Kaia lantas tersenyum kecil.Matanya yang sembab menatap bergantian wajah Hardja dan Farida.
Lalu ia mengangguk pelan. "Kaia mau, Nek." Senyum tipis itu kembali terbit, meski masih menyimpan banyak kesedihan. "Sepertinya Slovenia jauh lebih aman daripada Melbourne."
Hardja dan Farida saling berpandangan. Ada kelegaan yang perlahan menghangatkan dada mereka.
Setidaknya... Kaia mulai memiliki tujuan untuk memulai hidup baru. Farida menggenggam kedua tangan cucunya. "Nanti biar Nenek sama Kakek yang bantu menyiapkan semuanya. Kamu nggak perlu khawatir."
Kaia mengangguk pelan. Namun belum sempat ia menjawab, wajahnya mendadak memucat. Keningnya berkerut. Telapak tangannya refleks menutup mulut.
"Hmmpt..." Rasa mual itu datang lagi, begitu cepat. Kaia buru-buru bangkit dari sofa. "Maaf..." Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Dengan langkah tergesa, ia berlari menuju kamar mandi.
"Kaia!" Farida langsung berdiri.
Begitu pula Hardja.Keduanya saling berpandangan sesaat sebelum bergegas menyusul cucu mereka. Begitu pintu kamar mandi terbuka...
"Huek..."
Suara muntah Kaia menggema di ruangan itu.
Tubuh gadis itu membungkuk di depan kloset. Bahu mungilnya naik turun.
Ia memuntahkan seluruh isi perutnya hingga yang tersisa hanya cairan bening. Farida segera berjongkok di sampingnya.
Dengan penuh kasih sayang, ia mengusap punggung Kaia perlahan. "Tidak apa-apa... pelan-pelan saja."
Tangannya kemudian berpindah memijat tengkuk cucunya agar rasa mual itu sedikit berkurang.
Hardja berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Wajahnya dipenuhi kecemasan. Ia ingin membantu. Namun memilih memberi ruang bagi istri dan cucunya.
Beberapa menit kemudian... Napas Kaia mulai berangsur tenang. Ia meraih tisu, lalu membasuh mulutnya di wastafel.
Wajahnya pucat. Bahkan bibirnya kehilangan warna. Farida memperhatikan semua itu dalam diam.
Tatapannya perlahan turun ke wajah Kaia. Lalu... ke arah perut cucunya. Naluri seorang ibu membuat dadanya tiba-tiba berdebar.
"Kaia..." Suaranya begitu pelan.
"Hm..."
"Kamu..." Ia menggenggam tangan Kaia yang terasa dingin. "...sedang hamil?"
Ruangan seolah membeku.Kaia memejamkan mata sesaat.Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali memenuhi pelupuknya.Ia tidak langsung menjawab.Namun kebungkaman itu sudah cukup menjadi jawaban.
Farida menutup mulutnya sendiri. "Ya Allah..."
Air matanya langsung jatuh. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menarik tubuh Kaia ke dalam pelukan hangat.
Pelukan yang selama ini selalu menjadi tempat Kaia pulang ketika dunia terasa terlalu kejam.
Hardja yang berdiri di ambang pintu ikut terdiam.Tatapannya perlahan turun ke arah perut cucunya.Dadanya terasa sesak. Di balik senyum yang selalu Kaia tunjukkan... ternyata gadis itu sedang memikul beban sebesar ini seorang diri.
Farida mengusap rambut bob Kaia pelan. "Kenapa kamu tidak cerita sama Nenek?"
Kaia menggigit bibir bawahnya. "Nek..." Suaranya pecah. "Please..." Ia menggenggam tangan keriput neneknya erat-erat. "Ini rahasia kita."
Farida mengusap pipinya yang basah. "Kenapa harus dirahasiakan?"
Kaia menggeleng pelan. Air mata terus mengalir. "Kaia cuma ingin anak ini lahir dengan selamat."
Kalimat itu membuat Hardja dan Farida saling berpandangan.
"Nek..." Suara Kaia semakin lirih. "Kalau Kak El tahu..." Ia berhenti. Tenggorokannya terasa tercekat. "Dia pernah bilang..."
Kaia memejamkan mata, mengingat kembali ucapan Elio yang masih terngiang jelas di kepalanya.
"Aku tidak mau punya anak dari rahimmu. Kalau sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan menghilangkannya."
Tubuh Kaia bergetar. "Kaia takut..." Air mata kembali jatuh. "Kaia benar-benar takut kehilangan anak ini."
Farida langsung memeluk cucunya sekali lagi. "Sudah... Nenek janji. Tidak akan ada siapa pun yang tahu."
Hardja menghela napas panjang. Sorot matanya berubah jauh lebih serius. Kini ia akhirnya mengerti...
mengapa Kaia memilih pergi sejauh mungkin. Bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi juga... menyelamatkan calon cicit mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu... Di Rumah Sakit Meganthara. Elio baru saja menyelesaikan pasien terakhirnya.
Ia melepas masker medis, lalu mengusap wajahnya kasar. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul empat sore.
Seharusnya ia sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Namun ia sengaja tetap berada di ruang praktik.
Entah mengapa...
apartemen yang dulu terasa tenang kini justru terasa begitu menyesakkan.Setiap kali pulang, ia akan melihat Kaia.
Dan setiap kali melihat perempuan itu... bayangan foto di Singapura kembali muncul di kepalanya. Kaia dan Sean duduk berhadapan dengan senyum hangat yang jarang ia lihat pada wajah istrinya.
Ditambah suara Rosmalia yang terus berputar di dalam pikirannya.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."
"Ibunya perebut suami orang, merebut kebahagiaan Kiara dan Tante."
"Anaknya juga pasti sama."
"Kaia pasti penyebab kematian putriku."
Elio mengepalkan tangannya. "Tidak..." gumamnya pelan. "Aku tidak boleh luluh."
Ia menutup mata. Wajah Kiara kembali memenuhi pikirannya. Kiara yang tertawa.
Kiara yang menggenggam tangannya. Kiara yang berjanji akan menjadi istrinya.
Lalu... kilasan mobil yang ringsek. Suara monitor jantung yang memekakkan telinga. Dan kabar bahwa perempuan itu tidak bisa diselamatkan.
Andai saja... hari itu Kiara tidak memakai mobil Kaia. Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.Pemikiran itulah yang selalu membuatnya kembali membangun tembok di hatinya.
****
Malam pun tiba. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Elio akhirnya membuka pintu apartemen.
Ruangan itu gelap dan sunyi.
Hanya lampu ruang makan yang masih menyala redup. Di atas meja, sepiring makanan sudah dingin. Tertutup tudung saji.
Ia tahu, Kaia yang menyiapkannya. Namun Elio hanya melirik sekilas. Lalu berjalan melewatinya begitu saja.
Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi.Rambutnya masih basah. Ia membuka pintu kamar.Kaia sudah tertidur
membelakanginya. Tubuh kecil itu meringkuk di balik selimut.
Seperti beberapa malam terakhir.Tak ada lagi percakapan.Tak ada lagi kehangatan setiap malam. Elio mematikan lampu.
Lalu berbaring di sisi lain ranjang. Jarak di antara mereka hanya beberapa puluh sentimeter. Namun terasa sejauh langit dan bumi. Mereka tidur saling membelakangi. Masing-masing memeluk luka yang tak pernah berhasil diucapkan.
***
Hari-hari berikutnya berlalu dalam kesunyian yang sama.Sudah seminggu sejak Kaia meminta bantuan Fadlan.
Apartemen itu tak lagi terasa seperti rumah. Elio tetap berangkat pagi dan pulang larut malam. Namun Kaia tetap memasak, menyiapkan sarapan,menyeduhkan kopi hangat.
Meski ia tahu... semuanya hanya akan dibiarkan dingin di atas meja.
Pagi itu menjadi pagi terakhir. Kaia bangun lebih awal. Ia memasak sarapan sederhana, menggoreng telur dadar dan membuat sup hangat.
Lalu menyeduh secangkir kopi kesukaan Elio. Aroma kopi memenuhi ruang makan. Ia menatap semua hidangan itu lama.
Mungkin... ini adalah terakhir kalinya ia melakukan semua kebiasaan sebagai seorang istri.
Tak lama kemudian Elio keluar dari kamar. Kemeja putih sudah melekat rapi di tubuhnya. Jas dokter tersampir di lengan dan wajahnya tetap datar.
"Kak El..." Kaia memaksakan senyum kecil. "Sarapan dulu."
Elio hanya melirik meja makan sekilas. Lalu kembali menatap Kaia tanpa ekspresi.
Tanpa sepatah kata. Ia berjalan melewati perempuan itu. Pintu apartemen terbuka. Lalu tertutup kembali.
Kaia berdiri mematung cukup lama. Air matanya perlahan jatuh. Tangannya bergerak pelan menyentuh perutnya yang masih rata.
"Sebentar lagi..." bisiknya lirih. "Kita pergi dari sini."
Ia mengangkat wajah ke arah pintu yang sudah tertutup.Senyum tipis terukir di bibirnya, rapuh namun penuh tekad.
"Selamat tinggal..." Ia menarik napas panjang. "...Kak El."
...****************...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁