NovelToon NovelToon
Mantan Tuan Muda

Mantan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nakal yg berbeda

Setelah menyelesaikan urusan membersihkan dapur, Bayu melangkah menuju ruang tengah. Di sana, Mita pun duduk santai di ruang TV. Tubuhnya bersandar nyaman di sofa kulit yang empuk, menikmati suasana pagi yang tenang tanpa beban pekerjaan kantor. Merasa membutuhkan sesuatu untuk menemani waktu santainya, dia pun memanggil Bayu.

"Bay..." panggil Mita dengan suara yang cukup keras agar terdengar sampai ke lorong.

Bayu yang posisinya tidak jauh dari sana langsung datang menemui bos barunya. Dia berdiri dengan tegap di dekat sofa. "Iya, Bos?"

"Bay, kamu suka kopi?" tanya Mita, menatap pelayan pribadinya dengan santai.

"Suka," kata Bayu singkat.

"Bikin dua, bawa kesini," perintah Mita.

Baik, Bos." Bayu segera pergi ke dapur dan membuat kopi. Dengan cekatan, dia menyeduh bubuk kopi premium pilihan yang aromanya langsung menyeruak memenuhi ruangan dapur. Tak lama kemudian, Bayu sudah membawa dua gelas kopi panas di atas nampan dan menaruhnya di meja depan Mita.

Bayu baru saja hendak melangkah mundur untuk memberikan ruang pribadi bagi bosnya, namun gerakan tangan Mita menghentikannya. Wanita itu meraih sebuah kotak kecil di atas meja.

"Mau...?" kata Mita yang menyodorkan bungkus rokoknya pada Bayu.

Bayu sempat tertegun melihat sebuah pemantik dan bungkus rokok ramping terpampang di depannya. Namun, tanpa sungkan, Bayu pun mengambil sebatang rokok dari bungkus tersebut dan langsung membakarnya menggunakan pemantik. Dia menarik kursi kecil di dekat sofa dan mengembuskan asap rokoknya perlahan ke udara, membiarkan tubuhnya sedikit rileks.

Mita menyalakan rokoknya sendiri, mengembuskan asap tipis ke langit-langit sebelum menatap Bayu yang duduk tidak jauh darinya. "Beginilah aku, Bay," kata Mita yang membuka obrolan dengan nada suara yang terdengar lebih serius dari biasanya. Ada jeda beberapa detik di antara mereka, hanya ditemani suara rendah dari televisi yang menyala.

"Apa kamu menilai saya sebagai wanita nakal?" tanya bosnya dengan blak-blakan, menatap langsung ke dalam manik mata Bayu, seolah menuntut sebuah penilaian jujur tanpa embel-embel kepalsuan pelayan.

"Ya," kata Bayu singkat, tanpa ada keraguan sedikit pun dalam nadanya.

Mendengar jawaban yang sangat jujur dan frontal tersebut, Mita langsung mengarahkan pandangannya pada Bayu yang duduk di sampingnya. Matanya menyipit, menuntut kejelasan atas cap yang baru saja disematkan pria itu pada dirinya. Di dunia bisnis, tidak ada yang berani menyebutnya wanita nakal secara langsung.

Bayu mengetukkan abu rokoknya ke asbak dengan tenang sebelum kembali menatap Mita.

"Untuk urusan di sini, Anda terlalu nakal bagi saya," kata Bayu dengan jujur.

"Dan Anda terlalu menguji saya."

Mita tertegun sejenak memproses kalimat Bayu, sebelum akhirnya langsung tertawa lepas. Suara tawa renyahnya menggema di ruang TV yang luas itu.

Dalam hati Mita, dia sempat mengira bahwa setelah dia dicap nakal oleh Bayu, pria itu akan menganggapnya sebagai wanita gampangan atau murahan karena tindakannya di kamar mandi dan ruang makan sebelumnya. Namun, rupanya nakal versi Bayu beda lagi.

Pria itu menyebutnya nakal hanya karena merasa kewalahan menghadapi godaan mental yang sengaja dia berikan untuk menguji batas kesabarannya sebagai seorang lelaki normal. Penilaian itu justru terasa sangat menghormati dirinya sebagai wanita.

Di tengah suasana yang mulai mencair setelah tawa Mita mereda, tak lama bel rumah megah itu berbunyi dengan nyaring dari arah gerbang depan. Mita mematikan puntung rokoknya di asbak, lalu meraih dompetnya di atas meja dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.

"Ini, Bay... uangnya kamu bayar aja sama dia. Itu pasti kurir paket belanjaan kita yang kemarin malam," kata Mita sambil menyerahkan beberapa lembar uang tunai kepada pelayan pribadinya.

"Baik, Bos," jawab Bayu seraya berdiri, menerima uang tersebut dan melangkah tegap menuju pintu depan untuk menyambut kurir paket pakaian barunya.

Setelah menyelesaikan urusan pembayaran paket dengan kurir di gerbang depan, Bayu kembali ke ruang TV dengan membawa beberapa kotak belanjaan. Namun, Mita tampaknya sudah bosan berdiam diri di dalam ruangan. Wanita itu melirik ke arah luar jendela, di mana matahari pagi mulai menghangatkan air kolam renang di taman belakang.

"Bay, bawa ini semua ke kolam," kata Mita sambil berdiri dari sofanya, menunjuk ke arah cangkir kopi dan bungkus rokok mereka di atas meja.

Bayu pun membawa dua gelas kopi dan rokok, melangkah tegap mengekor di belakang mengikuti langkah Mita menuju area luar. Angin pagi yang segar menyambut mereka begitu pintu kaca besar digeser terbuka.

Sesampainya di tepi kolam, tanpa memberikan peringatan atau aba-aba apa pun, Mita langsung melepas kimono sutranya dan membiarkannya merosot begitu saja di atas rumput. Dengan hanya berbalut setelan pakaian dalam hitamnya yang minimalis, dia langsung masuk ke dalam kolam renang. Gerakan tubuhnya yang luwes membelah air yang jernih.

Mita mulai berenang dengan gaya dada yang anggun, menyeberangi kolam hingga sampai di seberang dekat bangku panjang khusus berjemur. Lalu, dia keluar dari dalam air dengan tubuh yang basah kuyup dan langsung rebahan di sana, membiarkan kulit mulusnya diterpa hangatnya sinar matahari pagi.

"Bawa sini, Bay..." panggil Mita dengan suara yang agak keras, menatap ke arah pelayan pribadinya.

Tentu saja Bayu hanya bisa mengikuti perintah bosnya. Dia berjalan memutari tepi kolam dengan hati-hati, membawa nampan berisi kopi dan rokok, lalu meletakkannya di atas meja kecil di samping kursi berjemur Mita.

Mita menyugar rambutnya yang basah ke belakang, lalu menatap Bayu lekat-lekat. "Kamu bisa renang, Bay?"

"Bisa," kata Bayu singkat.

"Kenapa tadi enggak ikut masuk ke kolam?" tanya Mita, menaikkan sebelah alisnya.

"Aku sudah mandi," kata Bayu beralasan, mencoba menjaga jarak profesional di antara mereka agar tidak terlalu larut dalam situasi yang intim ini.

"Kalau aku suruh?" tantang Mita dengan kilat mata yang tegas.Bayu menarik napas pendek, berdiri tegap di samping kursi.

"Aku lakukan," kata Bayu patuh pada perjanjian awal mereka.

"Masuk," perintah Mita mutlak.

Tanpa banyak membantah, Bayu langsung melepas bajunya yang kusam dan menaruhnya di sandaran kursi.

Kini tubuhnya hanya tersisa celana pendek kain saja. Dengan gerakan yang tangkas, dia pun menceburkan dirinya ke dalam kolam renang. Air dingin kolam seketika meredam gejolak panas di dalam pikirannya.

Tak lama... setelah menyeberang satu kali, dia pun langsung naik kembali ke permukaan, berdiri dengan tubuh kekar yang basah di dekat tempat Mita berbaring.

Mita memperhatikan setiap tetesan air yang mengalir di otot dada bidang Bayu, sebelum akhirnya dia membalikkan tubuhnya menjadi posisi telungkup.

"Bay, apa kamu bisa mijit?" tanya Mita dengan suara yang sedikit terredam oleh bantal kursi.

"Belum pernah," kata Bayu jujur. Selama ini dia hanya terbiasa bekerja keras, bukan merawat tubuh orang lain.

"Pijitin aku," perintah Mita, tidak memedulikan pengakuan jujur pelayannya.

"Baik," kata Bayu patuh.

"Tapi maaf kalau pijatannya nanti asal-asalan."

Mita pun tiarap di kursi panjangnya dengan santai, menutup matanya bersiap untuk relaksasi. Bayu pun mulai mengolesi tangannya dengan lotion pelembab yang tersedia di sana. Setelah meratakan cairan licin itu di telapak tangannya, dia melangkah mendekat dan mulai memijat.

Bayu mulai menggerakkan jemari kasarnya dari area bahu, memberikan tekanan lembut pada otot-otot Mita yang tegang karena urusan kantor, lalu perlahan bergerak ke bawah sampai ke area pinggang. Namun, gerakan tangan Bayu terasa kaku karena dia harus berulang kali mengangkat tangannya demi menghindari pengait bra hitam yang melintang di tengah punggung mulus Mita. Hal itu membuat irama pijatannya terputus-putus. Mita yang peka merasakan keanehan tersebut dan merasa sedikit kurang nyaman karena pijatan Bayu yang melompat-lompat.

"Kenapa, Bay?" tanya Mita tanpa membuka matanya. "Terhalang ya...?"

Bayu menghentikan gerakan tangannya sejenak, wajahnya kembali terasa memanas.

"Iya, Bos."

"Tarik aja talinya, Bay," perintah Mita dengan nada suara yang sangat santai, seolah hal yang dia minta bukanlah hal yang tabu bagi seorang wanita di depan pelayan prianya.

Bayu tertegun di tempatnya berdiri, matanya menatap lekat pada pengait kain hitam tersebut.

"Yakin, Bos...?" tanya Bayu memastikan sekali lagi, memberi kesempatan bagi bosnya untuk berpikir ulang.

"Udah... tarik aja," desak Mita, terdengar sedikit tidak sabar karena ingin menikmati pijatan yang sempurna.

Bayu menelan ludahnya yang terasa kering. Dengan ujung jemarinya yang sedikit gemetar, dia memegang simpul pengait tersebut. Dan akhirnya... tali bra itu pun mulai lolos dari kaitannya, membiarkan seluruh punggung putih bersih Mita terekspos tanpa sekat di bawah terik matahari pagi.

Bayu menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol pikirannya, lalu terus melanjutkan pijatannya dengan ritme yang kini jauh lebih lancar dan berurutan dari atas ke bawah. Tekanan tangan kekar Bayu yang hangat di atas kulit mulusnya ternyata terasa sangat pas. Seiring dengan gerakan tangan Bayu yang menelusuri lekuk tubuhnya, sesekali terdengar lenguhan kecil yang lolos dari mulut Mita, menandakan rasa nyaman yang teramat sangat di bawah sentuhan tangan pelayan pribadinya hari itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!