Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Pergi ke butik
Iya, cincin yang ada di jari manis Casandra sangat mirip dengan cincin yang Bagas punya.
"Ah... Ini hanya kebetulan saja. Cincin seperti itu pasti diproduksi lebih dari satu..." ucap Suzan dalam hati.
Namun dalam hatinya Suzan merasa kecewa karena cincin yang akan menjadi hadiah ulang tahun pernikahannya sama persis dengan Casandra. Padahal biasanya Bagas selalu memberikan hadiah yang limited edition.
Suzan, ayo katakan, kamu mau gaun yang seperti apa...? Biar Casandra yang merancang desainnya..." ucap nyonya Hartanto.
"Dia ini desain yang sangat handal, para customernya selalu puas dengan hasil karyanya..." nyonya Hartanto tak segan- segan memuji Casandra.
"Mama juga sudah beberapa kali memesan baju sama Casandra, dan mama selalu puas..." sambung nyonya Hartanto yang sudah menjadi salah satu langganan di butik Casandra.
"Nyonya terlalu memuji..." sahut Casandra tersipu mendapat pujian dari salah satu orang terkaya di Jakarta.
"Eh memang iya kok, kamu ini desainer yang hebat..." jawab nyonya Hartanto.
"Terima kasih nyonya Hartanto..." ucap Casandra.
"Jangan panggil nyonya, panggil saja tante... " jawab nyonya Hartanto.
"Kamu ini kan anak dari rekan bisnis suami saya..." sahut nyonya Hartanto.
"Iya tante..."
Suzan lalu memberitahu Casandra gaun seperti apa yang dia inginkan untuk acara spesialnya nanti.
"Tapi waktunya kurang satu minggu lagi, apa bakalan keburu...?'' tanya Suzan.
"Ya, nanti akan saya usahakan..." jawab Casandra.
"Eh, kamu jangan khawatir, Casandra ini kan orangnya profesional. Karyawannya juga banyak. Jadi kamu nggak usah khawatir. Gaun kamu pasti akan jadi sebelum acara..." ucap nyonya Hartanto.
"Iya mah..." jawab Suzan.
Sedangkan Casandra tersenyum senang karena sejak tadi dia mendapatkan pujian dari nyonya Hartanto sekaligus ibu dari kekasih gelapnya.
"Oya Casandra, aku juga mau pesan jas untuk suamiku. Tapi suamiku masih sibuk. Apa kamu bisa kasih contoh model jas terbaru, untuk ukurannya nanti biar menyusul saja..." ucap Suzan.
"Baiklah..." jawab Casandra lalu memperlihatkan beberapa contoh desain setelan jas.
"Aduh semuanya bagus. Aku jadi bingung mau pilih yang mana..." ucap Suzan sambil melihat model jas yang semuanya bagus.
"Bagaimana kalau yang ini...? Aku rasa ini yang paling cocok dengan suami anda..." sahut Casandra sambil menunjuk salah satu desain.
"Benarkan...?'' tanya Suzan.
"Iya... Suami anda kan tinggi dan badannya kekar, jadi model ini lah paling cocok..." jawab Casandra.
"Memang kamu sudah pernah melihat suami saya...?'' tanya Suzan.
"Bukan hanya melihat, tapi hampir setiap hari aku berbagi peluh dengan suamimu..." jawab Casandra di dalam hati.
Casandra terkekeh.
"Keluarga tuan Hartanto itu terkenal dengan keberhasilannya di dunia bisnis. Jadi tak heran kan jika banyak orang yang tahu tentang anggota keluarganya..." sahut Casandra sambil tersenyum.
"Aku juga beberapa kali melihat mbak Suzan di beberapa event, hanya saja mbak Suzan tidak mengenalku..." sambung Casandra sambil menatap wajah Suzan.
Suzan hanya tersenyum mendengar perkataan Casandra.
Setelah selesai memilih desain baju, dan Suzan juga sudah diukur, mereka berdua pamit pada Casandra untuk pulang.
"Besok aku akan usahakan membawa suamiku untuk diukur..." ucap Suzan ketika Casandra mengantarnya hingga ke luar butik.
"Baiklah mbak Suzan..." jawab Casandra.
Casandra menatap kepergian Suzan dan nyonya Hartanto dengan mobilnya masing- masing.
"Oh ya ampun, jadi aku harus membuatkan baju untuk acara ulang tabun pernikahan kekasihku..." ucap Casandra sambil mengusap- usap cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Keesokan harinya Suzan mengantar Bagas ke butik Casandra guna untuk mengukur jas pesanannya. Dan Bagas nampak kaget ketika mobilnya berhenti di depan butik Casandra.Iya, Suzan dan nyonya Hartanto memang memberi tahu Bagas bahwa mereka sedang memesan gaun pesta.Namun Bagas tidak menyangka jika butik yang mereka ceritakan itu adalah butik milik Casandra.
Tentu saja Bagas sedikit merasa gugup.
"Sayang... Ayo turun..." ucap Suzan yang sudah turun dari mobil, sedangkan Bagas masih duduk di kursi kemudi menatap ke arah butik Casandra.
"I...iya sayang..." jawab Bagas yang masih gugup.
"Kamu kenapa sih sayang...?'' tanya Suzan yang heran melihat sikap Bagas.
"Nggak papa sayang, aku hanya sedang mikirkan kerjaan saja..." jawab Bagas sambil tersenyum simpul.
"Ayo..." Suzan menggandeng tangan sang suami lalu mereka berdua masuk ke dalam butik.
Mereka pun disambut ramah oleh karyawan di sana dan langsung diantar ke ruangan Casandra.
"Selamat siang Casandra..." ucap Suzan.
"Siang... Eh mbak Suzan, masuk mbak..." jawab Casandra menyambut Suzan dan Bagas dengan senyum ramahnya.
"Casandra... Ini aku bawa suamiku untuk diukur..." ucap Suzan.
"Iya mbak..." jawab Casandra lalu mengambil alat ukur.
"Sayang, kamu mau lihat desain jas kamu...?'' tanya Suzan.
"I..iya boleh..." jawab Bagas nampak gagap.
"Casandra boleh lihat desain jas yang kemarin...?" tanya Suzan.
"Tentu saja boleh mbak..." jawab Casandra.
Casandra lalu mengambil kertas bergambar desain baju lalu memberikannya kepada Suzan.
"Lihat sayang, bagus kan...? Ini Casandra sendiri lho yang memilihkannya untuk kamu. Katanya model ini yang paling cocok dan pas di badan kamu..." ucap Suzan sambil memperlihatkan desain setelan jas.
Bagas melihat sekilas ke arah gambar desain tersebut lalu mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Kamu suka, sayang...?'' tanya Suzan.
"Iya... Saya suka..." jawab Bagas sambil mengangguk.
Suzan pun tersenyum merasa senang karena tidak salah pilih desain.
"Oya Casandra... Kamu mulai saja mengukurnya..." ucap Suzan.
"Baik mbak... Maaf ya..." sahut Casandra lalu mengukur badan Bagas.
Bagas merasa canggung dan jantungnya seolah berdebar lebih kencang saat Casandra menempelkan alat ukur ke dadanya dan otomatis jari tangannya ikut menyentuh.
Apa lagi Casandra sempat menggodanya dengan mengedipkan satu matanya pada Bagas. Tak hanya itu, Casandra juga memperlihatkan senyuman nakalnya pada Bagas.Tentu saja muka Bagas terlihat panik, takut Suzan melihat apa yang dilakukan oleh Casandra.
Bagas melirik ke arah Suzan. Dan ternyata Suzan sedang fokus melihat- lihat gambar desain baju hasil karya Casandra sambil duduk di sofa yang disediakan untuk tamu. Bagas sedikit merasa lega.
Casandra lanjut mengukur bagian punggung. Namun lagi- lagi dia melakukan sesuatu yang membuat jantung Bagas seakan mau copot.
"Kenapa kamu nggak datang ke apartemenku tadi pagi...?'' tanya Casandra berbisik di telinga Bagas.
Tentu saja sentuhan bibir Casandra dan juga nafasnya yang mengenai telinga Bagas membuatnya merinding.
"Tega sekali kamu nggak datang dan nggak mau mengabariku. Atau jangan- jangan kamu sudah puas bercumbu dengan mbak Suzan tadi malam....?'' bisik Casandra sambil menjulurkan lidahnya dengan gerakan sensual hingga mengenai daun telinga Bagas.
"Hentikan Casandra..." bisik Bagas yang mulai keringat dingin karena takut jika Suzan mengetahui apa yang dilakukan oleh Casandra padanya.
Iya, tentu saja jika Suzan sampai tahu, akan jadi masalah besar buat rumah tangganya.
Lagi- lagi Casandra tersenyum nakal dan kali ini sambil meraba jada bidang Bagas dengan lembut.
"Sepulang kantor, aku tunggu di apartemen... Kalau nggak datang, aku marah..." bisik Casandra sambil menujuk dada Bagas dengan jari tunjuknya.
"Iya, tapi tolong jaga sikap kamu, kalau Suzan lihat bisa gawat..." bisik Bagas antara kesal sekaligus gemas pada Casandra yang terus mengodanya.
"Benar ya aku tunggu lho..." jawab Casandra sambil berbisik pula.
"Sudah selesai..." ucap Casandra setelah selesai mengukur.
Bagas menghela nafas. Suzan yang duduk di sofa lalu bangun dan melangkah ke arah Bagas dan Casandra yang berdiri di dekat meja kerja Casandra.
"Makasih ya Casandra..." ucap Suzan sambil tersenyum.
"Sama- sama mbak..." jawab Casandra.
"Jangan lupa ya, acaranya tanggal lima belas..." ucap Suzan.
"Iya, mbak pokoknya sebelum tanggal empat belas,pasti jas dan gaunnya sudah siap dan dan akan diantar ke rumah mbak Suzan..." sahut Casandra.
"Makasih ya..." jawab Suzan. Casandra pun mengangguk.
"Ayo sayang kita balik ke kantor..." ucap Suzan sambil merangkul tangan Bagas dengan mesra.
"Iya sayang..." jawab Bagas sambil tersenyum manis pada Suzan.
Dan Casandra yang melihat keromantisan mereka pun diam- diam merasa cemburu sambil memanyunkan bibirnya.
"Baiklah Casandra, kami pamit ya..." ucap Suzan.
"Oh iya mbak... Hati- hati di jalan ya..." jawab Casandra.
Suzan dan Bagas lalu keluar dari ruang kerja Casandra sambil terus berpegangan tangan. Dan sesampainya di mobil Bagas membuka ponselnya karena ada pesan yang masuk.
Dan ternyata pesan itu dikirim oleh Casandra.
"Babbyyyyy.....aku cemburuuuuuuu.... Tega sekali kamu bermesraan dengan mbak Suzan di depan akuuuu... 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭..."
"Ada apa sayang...?'' tanya Suzan karena Bagas terlihat bengong setelah menerima pesan.
"Oh... Nggak...nggak papa..." jawab Bagas terlihat sedikit gugup.
"Itu pesan dari siapa...?'' tanya Suzan sambil melirik ponsel yang ada di tangan sang suami.
"Oh...ini... Pesan dari Fikri... Biasalah dia suka rese... Masa cuma gara- gara suruh bikin laporan saja, banyak sekali pertanyaan. Padahal sudah saya jelaskan sebelumnya. Dia memang kadang menyebalkan...." jawab Bagas yang justru malah mengkambing hitamkan Fikri.
Suzan pun tersenyum.
"Sayang, kamu nggak boleh galak- galak sama Fikri. Dia sudah banyak bantu kamu lho..." ucap Suzan sambil mengusap lengan Bagas.
"Iya aku tahu, tapi dia tuh suka ngeselin. Orangnya kepo, ah pokoknya dia suka nyebelin..." sahut Bagas.
"Sabar ya sayang..." ucap Suzan.
Bagas hanya menghela nafas.
"Udah yuk kita balik ke kantor, jam istirahat hampir habis...." ucap Suzan sambil melirik jam tangannya.
"Iya..." jawab Bagas lalu menyalakan mesin mobil dan melajukannya ke perusahaan keluarga Hartanto.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sore harinya sekitar pukul empat, Bagas yang masih ada di ruang kerja berkemas- kemas dan ingin segera pergi dari kantor.Namun baru saja Bagas bangun dari kursi meja kerja, tiba- tiba pintu ruang kerjanya diketuk dari luar dan masuklah sang asisten yaitu Fikri.
"Maaf pak Bagas, ini ada laporan yang belum bapak cek..." ucap Fikri memberikan berkas pada Bagas.
"Kamu kan bisa mengeceknya..." sahut Bagas yang sudah tidak sabar ingin pergi.
"Ehm...baiklah pak... Tapi ini..."
"Apa lagi...?'' tanya Bagas.
"Itu pak, soal, tuan Roy yang kemarin menanyakan soal...
" Kenapa...? Apa dia komplen lagi...? Sudah kamu urus saja dia, dan tanyakan dia maunya seperti apa...saya harus pergi, ada urusan mendadak..." Bagas segera pergi dari ruang kerjanya meninggalkan Fikri.
"Oh astaga....pak Bagas lagi- lagi bikin saya pusing..." ucap Fikri sambil menepuk dahinya sendiri.
Sementara itu Bagas yang sudah sampai di depan apartemen Casandra langsung masuk ke dalam. Iya, Bagas sengaja buru- buru pergi menemui kekasih gelapnya karena sejak Bagas dan Suzan meninggalkan butik, Casandra terus mengirimi pesan kepada Bagas yang memperlihatkan bahwa dia sedang kesal dan cemburu pada Suzan.
Iya, Casandra begitu cemburu melihat Bagas dan Suzan yang terus berpegangan tangan dan saling memanggil dengan sebutan sayang saat di butik tadi siang.
Ketika Bagas masuk ke apartemen Casandra, Bagas langsung menuju ke kamarnya. Dan di dalam kamar Casandra sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Babby..." ucap Bagas lalu duduk di pinggir tempat tidur.
Sedangkan Casandra berbaring memunggungi Bagas.
"Kamu masih ngambek...?'' tanya Bagas sambil mengusap lengan Casandra.
Namun Casandra masih diam seribu bahasa.
"Maafkan aku ya, aku nggak bermaksud pamer kemesraan di depan kamu, babby..." ucap Bagas.
"Lalu...?'' tanya Casandra membalikkan tubuhnya menghadap Bagas.
"Oke, aku salah aku minta maaf..." jawab Bagas.
"Aku harus melakukan apa biar kamu nggak marah lagi sama aku...?'' tanya Bagas pasrah.
Casandra diam beberapa saat sambil menatap Bagas.
"Puaskan aku..." jawab Casandra.
Bagas tersenyum mendengar jawaban Casandra. Dan tanpa menunggu waktu lagi, Bagas langsung membungkam bibir Casandra dengan bibirnya. Dan tentu saja setelah itu adegan panas pun terjadi di antara keduanya.
Bersambung...